Posts Tagged ‘ Zuhud ’

Nasihat Guru Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu guru dari Syekh Abul Hasan asy-Syadzili adalah Syekh al-Quthub al-Ghouts Sayyid Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al-Hasani, rodhiyAllahu ‘anhu, seorang wali Quthub saat itu pengganti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Pada suatu hari dikatakan oleh Syekh Abdus Salam kepada beliau (Syekh Abul Hasan), “Wahai anakku, hendaknya engkau semua senantiasa melanggengkan thoharoh (mensucikan diri) dari syirik. Maka, setiap engkau berhadats cepat-cepatlah bersuci dari ‘kenajisan cinta dunia’. Dan setiap kali engkau condong kepada syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu.”

Berkata pula Syekh Abdus Salam, “Pertajam pengelihatan imanmu, niscaya engkau akan mendapatkan Allah; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; Meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan itulah sifat-Nya; Dengan meliputi itulah bentuk keadaanNya.”

Di lain waktu guru beliau, rodhiyallahu ‘anhu, mengatakan, “Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : KECINTAAN demi untuk Allah; RIDHO atas ketentuan Allah; ZUHUD terhadap dunia; dan TAWAKKAL atas Allah.

Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni MENEGAKKAN fardhu-fardhu Allah; MENJAUHI larangan-larangan Allah; BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan WARO’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan”.

Asy-Syekh juga pernah berpesan kepada beliau, “Wahai anakku, janganlah engkau melangkahkan kaki kecuali untuk Allah, sesuatu yang dapat mendatangkan keridhoan Allah, dan jangan pula engkau duduk di suatu majelis kecuali yang aman dari murka Allah. Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu terhadap Allah”.

***

Pun, setelah berguru sekian lama, dan tiba saatnya berpisah, Syekh Abul Hasan meminta wasiat terakhir dari sang Guru. “Wahai Tuan Guru yang mulia, berwasiatlah untukku.”Asy-Syekh pun kemudian berkata, “Wahai ‘Ali, takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap manusia. Sucikanlah lisanmu daripada menyebut akan keburukan mereka, serta sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu (dari segala yang maksiat, pen.) dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu, maka sempurnalah Allah mengasihani dirimu.”

Lanjut asy-Syekh lagi, “Jangan engkau memperingatkan kepada mereka, tetapi utamakanlah kewajiban yang menjadi hak Allah atas dirimu, maka dengan cara yang demikian akan sempurnalah waro’mu.” “Dan berdoalah wahai anakku, ‘Ya Allah, rahmatilahlah diriku dari ingatan kepada mereka dan dari segala masalah yang datang dari mereka, dan selamatkanlah daku dari kejahatan mereka, dan cukupkanlah daku dengan kebaikan-kebaikanMu dan bukan dari kebaikan mereka, dan kasihilah diriku dengan beberapa kelebihan dari antara mereka. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah atas segala sesuatu Dzat Yang Maha Berkuasa.”’

***

FYI. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah pendiri Thariqah Syadziliyyah. Seusai berguru, dakwah beliau dimulai di Kota Syadzilah, tempat beliau dilahirkan. Kemudian beliau ber’uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah selama beberapa tahun di bukit Zaghwan. Dan kembali lagi ke masyarakat sebelum akhirnya melanjutkan dakwahnya di Tunis dan Mesir. Keadaan di Mesir sangat mendukung sehingga dakwah beliau sangat berkembang. Banyak ulama’ besar yang dihasilkan, salah satunya adalah Sulthonul ‘Ulama Sayyid asy-Syekh ‘Izzuddin bin Abdis Salam, rahimahullah. 

Hingga kini thariqah Syadziliyyah termasuk salah satu thariqah yang tetap tumbuh subur, karena dikenal sebagai thariqah yang termudah dalam hal ilmu dan amal, ihwal dan maqam, ilham dan maqal, serta dengan cepat bisa menghantarkan para pengamalnya sampai ke hadirat Allah SWT. Di samping juga terkenal dengan keluasan, keindahan, dan kehalusan doa dan hizib-hizibnya.

Terakhir, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kita istiqomah mengamalkan thariqah yang kita pegang. Sehingga kita akan sampai kepada Allah robbul ‘izzati. Wallaahu a’lam.

sumber: http://www.ashakimppa.blogspot.com/

Kisah Wanita Shalihah: Zuhud

Sebuah kisah penuh hikmah dari buku “Bidadari Bumi” karangan Ustadzah Halimah Alaydrus. Saya kopas untuk sekedar sharing, semoga semakin banyak orang yang bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Selamat membaca, semoga bermanfaat.  🙂

***

bidadari-bumi

Sebagai upaya menambah materi pelajaran dari apa yang kudapat di Daruzzahro, aku mengambil les privat dari ustadzah Maryam, puteri Habib Ali Masyhur, mufti Tarim saat ini. Beliau adalah seorang ustadzah yang aktif bergerak dalam bidang dakwah dan juga mengajar di Darulfaqih, sebuah madrasah khusus puteri yang ada di Tarim ini juga. Aku belajar memahami tentang hadits-hadits Rosulullah SAW dari beliau seminggu sekali.

Sore ini beliau mengupas hadits:

“Zuhudlah (hilangkanlah dari hatimu kecintaan) terhadap harta dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah (hilangkan dari hatimu keinginan) terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya engkau akan dicintai mereka.”

Ustadzah Maryam kemudian menjelaskan padaku arti zuhud dan gambarannya dalam praktek kehidupan manusia. Seperti keteladanan Nabi Muhammad SAW yang lebih memilih untuk mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar dan rela tidur di atas tikar usang daripada selalu kenyang dan hidup dalam kenyamanan. Atau seperti Nabi Isa AS yang sampai hari beliau diangkat ke langit tak pernah memiliki rumah sebagai tempat tinggal. Begitu juga para hamba-hamba Allah yang memilih untuk meninggalkan kesenangan dunia demi meraih kebahagiaan akhirat.

Aku jadi tertarik dan bertanya, “Ustadzah, masih tersisakah di zaman sekarang ini orang yang bersikap zuhud, sementara godaan untuk mementingkan dunia sedemikian beratnya?”

“Tentu masih ada” jawab beliau.

“Di dunia ini masih akan selalu ada hamba-hamba pilihan Allah yang memahami untuk apa mereka diciptakan, mereka menyadari hakikat dunia yang esok atau lusa akan mereka tinggalkan. Mereka berhasil meyakinkan diri bahwa tak ada yang akan mereka bawa ketika masuk kubur nanti kecuali kain kafan, dan bahwa dunia yang tampak menyenangkan ini hanya akan menyisakan hisab yang panjang. Mereka sungguh orang-orang yang pandai, tak mau senang sesaat namun kemudian membawa petaka yang maha berat. Tak menginginkan kebahagiaan sebentar tetapi membawa penyesalanberkepanjangan.

Sejenak beliau diam dan minum segelas air putih di hadapannya lalu beliau melanjutkan penjelasannya.

“Pertanyaanmu tadi mengingatkanku akan kejadian kemarin, ketika aku sedang berada di madrasah Darulfaqih pada jam istirahat. Kala itu aku sedang berada di ruang kantor dengan beberapa orang guru, tiba-tiba seorang anak remaja memanggilku dan memintaku mendekat, aku lalu mengajaknya menepi di sudut ruangan untuk berbicara dengannya.”

“Ustadzah, aku harap ustadzah berkenan menjadi saksi untuk ibuku.”

Aku mendengarkannya dengan lebih serius. “Saksi atas apa nak?”

“Ibuku sepanjang hidupnya tak memiliki apapun kecuali 2 buah baju. Satu ia kenakan sementara yang lain ia cuci. Ia juga hanya memiliki 2 buah kerudung, mukena, sepasang sandal, sebuah sisir, cermin, piring, al-Qur’an, tasbih dan sejadah. Dia tak memegang satu senpun uang, tak memiliki perhiasan, rumah, barang, atau perabot apapun. Di masa tuanya beliau tinggal dengan kakak tertuaku. Apabila ada yang memberinya uang maka di hari itu pula uang tersebut dishodaqohkan. Dan ketika beberapa hari yang lalu seseorang memberinya hadiah selembar kain, beliau berkata, ‘Jika umurku sampai Ramadhan nanti, jahitkan kain ini untuk baju sholatku sebagai pengganti mukena yang lama. Namun jika tidak, tolong berikan kepada orang yang lebih membutuhkannya sebelum kalian meletakkan jenazahku ke dalam kain kafan.’”

Anak remaja di hadapanku menunduk, dia menyembunyikan air matanya yang perlahan menetes sebelum akhirnya kemudian berkata,

“Ustadzah” panggilnya lirih.

“Ibuku meninggal tiga hari yang lalu… kuharap ustadzah berkenan menjadi saksi bahwa beliau telah berhasil menjalani kehidupan seperti yang diinginkannya. Karena setiap kali aku protes dengan caranya menolak harta dunia dia selalu saja berkata,

‘Tahukah kau nak?.. cita-citaku adalah termasuk kelompok orang yang diceritakan Nabi Muhammad SAW bahwa saat proses hisab masih berlangsung, dan shirothol mustaqim masih dibentangkan, ada sekelompok orang yang telah menanti Nabi di pintu-pintu surga, hingga malaikat bertanya,

‘Siapakah kalian yang berada di sini padahal proses hisab masih berlangsung dan belum selesai?’

‘Kami adalah sekelompok orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang keluar dari dunia seperti kami masuk ke dalamnya. Tak ada yang harus dihisab dari kami..’ jawab mereka.

Anakku, aku ingin keluar dari dunia ini tanpa membawa apapun kecuali sekedar yang aku perlukan untuk bertahan hidup sehingga tak harus ada proses hisab yang panjang menantiku di depan.’

Begitu selalu jawab ibuku dan dia berhasil menjalani hidupnya tepat seperti yang dia mau. Aku bercerita padamu agar engkau kelak berkenan manjadi saksi kebaikannya” kata remaja itu mengakhiri ceritanya..”

Aku takjub mendengar cerita ustadzah Maryam dan kagum luar biasa pada wanita yang beliau ceritakan itu.

Betapa sederhana hidup sesungguhnya… ya sangat sederhana, andai kita tidak menganggap penting sesuatu yang sebenarnya memang tidak penting. Harta dunia yang karenanya banyak orang berlomba hingga mau berbuat apapun untuk meraihnya, pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja.

Hidup ini sederhana saja sebenarnya.. Kita sendirilah yang membuat sesuatu menjadi lebih rumit. Cinta dunia seringkali mengelabui kita dari memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Tarim 2000

Sumber: Bidadari Surga, 9 Kisah Wanita Shalihah, karangan Ustadzah Halimah Alaydrus

Selektif : Jalan yang Lurus

Tulisan ini saya peroleh dari http://www.habaib.net dengan judul asli “Selektif dalam Memilih Ulama'”, ditulis oleh Ustadz Taufiq bin ‘Abdul Qadir Assegaf. Berikut tulisan beliau.

***

Assalamualaikum wr.wb.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita.

Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikutip oleh Al-Imam Al-Ghozali rahimahullah dalam kitab beliau Ihya ‘Ulumuddin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: “Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu’an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud.” (HR Ibnu ‘Asyakir dari Jabir RA)

Ilmu itu ibarat pedang. Jika pedang itu dibawa oleh Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu, maka pedang akan sangat bermanfaat dalam melindungi muslimin serta menegakkan agama Allah. Namun jika pedang ini dibawa oleh Abu Jahal, maka pedang justru akan sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Begitu juga ilmu. Jika ilmu didapat dari orang yang baik, maka ilmu akan bermanfaat. Namun apabila ilmu yang sama didapat dari orang-orang yang tak bertanggungjawab, maka ilmu justru akan berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Ilmu ibarat air yang turun dari langit. Apabila air diserap oleh pepohonan yang rindang atau buah-buahan yang lezat, maka air itu akan memberikan manfaat yang bisa dinikmati hasilnya. Tetapi apabila air yang turun justru diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang berbahaya seperti ganja, opium dsb maka air ini justru akan merugikan kesehatan dan berdampak negatif bagi masyarakat. Begitu pula ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat namun ilmu tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh orang-orang yang baik. Terkadang “ilmu yang mulia itu justru diterima oleh orang-orang yang tidak baik. Akibatnya tak jarang ilmu ini justru disalah gunakan untuk kepentingan dunia belaka. Oleh karena itu kita harus barhati-hati dalam mencari ilmu. Selain harus memilih-milih ilmu yang akan kita pelajari, hal yang tak kalah penting adalah selektif kepada orang yang akan kita jadikan panutan dalam mendapatkan ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada kita kriteria ulama yang layak dan aman untuk kita jadikan sebagai panutan dan kita nobatkan sebagai guru religius dalam menuntun kehidupan kita.

Pertama,
Adalah ulama yang menuntun kita dari keragu-raguan menuju keyakinan

Dalam berguru hendaknya kita harus senantiasa mengacu pada orang-orang yang mampu membuat kita semakin mantap dan yakin dengan aqidah kita, yaitu Islam ala ahlussunah wal jama’ah. Jangan sekali-kali berguru pada ulama yang justru membuat keragu-raguan pada keyakinan kita. Sikap serampangan dan asal-asalan dalam memilih guru akan menimbulkan sikap fanatisme berlebihan yang akan membuat kita tidak obyektif dalam menilai sebuah kebenaran. Pada akhirnya kita akan ikut apa pun yang diutarakan oleh sang guru meski ternyata bertentangan dengan keyakinan yang telah kita akui kebenarannya. Oleh karena itu pilihlah ulama yang mampu membawa keyakinan kita menjadi semakin kuat.

Kedua,
Adalah ulama yang menuntun kita dari dari kesombongan menuju ketawadhu’an

Inilah kriteria kedua yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memilih ulama. Para Ulama menerangkan bahwa sifat kibr (kesombongan) yang paling rendah adalah ketika merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Kesombongan memang merupakan sikap yang sangat tercela. Bahkan seseorang yang masih menyisakan kesombongan di hatinya walau hanya satu bji sawi saja, maka ia haram untuk memasuki surga Allah subhanahu wa ta’ala. Disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya masih menyimpan kesombongan walau pun hanya sebiji sawi.” (HR. Abu Ya’la)

Karena sifat ini jugalah maka ‘azazil (asal-usul iblis) yang sudah beribadah ribuan tahun diusir oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari surga. Ketika diperintahkan untuk menghormat kepada Nabi Adam, ia enggan untuk melakukan perintah itu. Ia beranggapan bahwa dirinya lebih mulia karena ia diciptakan dari api yang bersinar terang, sedangkan Adam hanyalah makhluk yang tercipta dari tanah yang kotor dan diinjak-injak oleh siapa saja. Sebagai akibat dari penolakan ini iblis diusir dari surga dan menjadi makhluk terkutuk untuk selamanya. Jika Iblis yang sudah beribadah ribuan tahun saja terkutuk seketika akibat kesombongannya, lantas bagaimana dengan kita yang ibadahnya masih sangat sedikit?

Dikatakan dalam sebuah syair:

Tawadhu’ lah, niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air, padahal dia sangat tinggi
Dan janganlah seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit, padahal dia sama sekali tidak berharga

Orang tawadhu’ ibarat bintang yang terlihat di dasar jernihnya air di tengah malam, meski dia berada tinggi di angkasa. Sedangkan orang yang sombong adalah ibarat asap yang selalu mengangkat dirinya padahal dirinya sama sekali tidak berharga.

Oleh karena itu marilah kita berhati- hati dalam menjaga sikap ini dan mencari guru yang bisa mengantarkan kita menuju ketawadhu’an.

Ketiga,
Adalah ulama yang menuntun kita dari permusuhan menuju perdamaian (kepedulian)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergelar Al-Mu’allim (sang guru). Beliaulah guru bagi setiap insan. Namun gelar itu tidak serta- merta membuat beliau acuh dan berlaku seenaknya. Beliau mempunyai kepedulian yang sangat tinggi kepada para umatnya. Hal ini bisa kita buktikan saat para sahabat kelaparan. Beliaulah yang menyiapkan makanan untuk mereka dan beliaulah yang terakhir menikmati sajian itu. Bahkan ketika beliau merasakan pedihnya sakaratul maut, beliau dengan segera meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan kepada beliau separuh rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya.

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap panutan sejati. Oleh Karena itu hendaknya kita selalu bersikap seperti beliau dan selalu berguru kepada orang alim yang memiliki kepedulian kepada kaum muslimin. Orang alim yang mengajarkan kita sikap tanggap dan kritis terhadap keadaan, bukan ulama yang suka mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka.

Keempat,
Adalah ulama yang menuntun kita dari riya menuju ikhlas

Ada dua syarat penting yang harus kita penuhi agar ibadah kita diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Syarat pertama adalah yang berhubungan dengan hukum-hukum dzohir seperti bagaimana syarat dan cara mengerjakan ibadah dengan baik dan benar sesuai cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syarat kedua adalah keikhlasan mengerjakan semua amalan itu semata- mata karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadah yang kita lakukan adalah ibarat surat yang akan kita kirim kepada saudara kita. Agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan sempurna, maka kita harus benar-benar memperhatikan isi yang termuat di dalam surat itu. Tidak cukup itu saja. Setelah semua pesan kita catat dengan benar, maka kita juga harus teliti dalam menuliskan alamatnya. Meski isinya benar akan tetapi alamatnya salah, maka surat itu akan sia-sia.

Begitu pula ibadah yang kita lakukan. Walau seluruh bacaan dan cara-cara mengagungkan Nama Allah subhanahu wa ta’ala sudah benar, namun jika semua itu kita kerjakan bukan untuk menggapai ridha Allah subhanahu wa ta’ala melainkan untuk mendapat pujian, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu marilah kita pelajari betul-betul sikap ikhlas ini agar ibadah yang kita kerjakan diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Carilah ulama yang mengajarkan kita makna keikhlasan, bukan ulama yang suka berpura-pura demi kepentingan dunia belaka.

Kelima,
Adalah ulama yang menuntun kita dari ketamakan menuju sifat zuhud

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan Allah yang semua permintaannya pasti dikabulkan, tak terkecuali dalam masalah kekayaan. Jikalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mau, maka beliau akan menjadi orang terkaya dalam sejarah dunia. Suatu hari Malaikat Jibril menawarkan kepada beliau untuk menjadikan semua barang yang beliau pilih menjadi emas, termasuk gunung sekali pun. Akan tetapi beliau menolak karena bukan itu yang beliau minta. Nabi paham bahwa semua itu sangat rendah harganya dan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu beliau hanya meminta agar dapat merasakan lapar dalam sehari dan kenyang di hari berikutnya.

Demikianlah sikap hidup yang di­contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada segenap umatnya. Beliau siap hidup miskin padahal beliau mampu untuk menjadi orang terkaya. Bagaimana dengan kita?

Demikianlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mem­berikan pentunjuk kepada kita tentang kiat memilih ulama. Jangan sampai kita salah dalam mengambil ilmu yang mulia ini. Walau semua bersumber kepada Ra­sulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi jika kita salah mengambilnya, boleh jadi ilmu ini akan terkontaminasi oleh berbagai kotoran.

Inilah salah satu tujuan diadakannya haul. Dalam acara ini kita disuguhi nasihat- nasihat dan teladan para salafimassholih. Merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala. Merekalah yang telah berhasil menjalani ujian di atas dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengikuti langkah mereka agar kita menjadi manusia-manusia yang beruntung seperti mereka.

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Al-An’am: 90)


Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy

Zuhud


Dari Abu Said r.a. pula bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya dunia adalah manis dan hijau – yakni menyenangkan sekali – dan sesungguhnya Allah menjadikan engkau semua sebagai pengganti di bumi itu – untuk mengolah dan memakmurkan. Maka Allah akan melihat bagaimana yang engkau semua lakukan -untuk dibalas menurut masing-masing amalannya. Oleh sebab itu, bertaqwalah dalam mengemudikan harta dunia dan bertaqwalah dalam urusan kaum wanita.” (Riwayat Muslim)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

entrance of my mind

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"