Posts Tagged ‘ teladan ’

target di bulan maulid

Saya sangat bersyukur, malam tahun baru kemarin Allah menggerakkan hati saya untuk datang ke majelis maulid dan dzikir di ponpes alfath, asuhan kyai muda KH. Khoirul Anwar. Beliau adalah salah satu murid Alhabib Zain bin Sumaith, salah satu ulama hijaz yg saya kagumi keistiqomahan dan ilmunya. Dalam acara itu juga hadir KH. Mahdi Akbar dari Kalimantan. Beliau adalah kawan dekat KH. Khoirul anwar sekaligus senior ketika nyantri dulu. Beliau yang akan membawakan tausyiah pada acara ini.
Singkat cerita, acara yg dihadiri oleh ratusan jamaah ini berlangsung sangat khidmat, mulai dari pembacaan Ratib Alhaddad, maulid Simthuddurar, sampai berakhirnya tausyiah.

Salah satu poin tausyiah yang cukup mengena adalah ketika beliau menyampaikan bahwa di bulan Maulid (Rabi’ul-Awwal) pun kita perlu punya target sebagaimana target yang kita pasang di awal bulan Ramadhan. Kalau di bulan Ramadhan kita biasa menargetkan khatam Al-Qur’an sekian kali, atau bersedekah sekian, menghafal sekian, full tarawih, dll, maka di bulan Maulid jangan sampai kalah. Apa tutur beliau? “Maka di bulan Maulid yang mulia ini, hendaknya kita targetkan di bulan ini kita bisa bermimpi bertemu Baginda Nabi saw.” MaasyaaAllaah, bergetar hati saya, begitu lalainya kita selama ini tentang arti kerinduan kepada Nabi kita Muhammad saw. “Maka hendaknya kita perbanyak shalawat kepada beliau, kita hidupkan sunnah-sunnah beliau, kita tumbuhkan di dalam hati anak2 kita tentang kerinduan dan cinta kepada sosok agung Nabi Muhammad saw.” Begitu pentingnya rasa cinta dan rindu sehingga kata beliau, jangan sampai kita melakukan amalan-amalan sunnah tapi sama sekali tidak ada kerinduan untuk bertemu dengan Rasul saw. Pernahkah kita dengar kisah Sayyidina ‘Umar, yg oleh Nabi dikatakan belum sempurna imannya sebelum cintanya kepada Nabi lebih besar daripada keluarga yg dimilikinya bahkan dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Sudahkah tumbuh rasa cinta dan rindu kepada Nabi kita saw.? Sudahkah tercermin akhlak beliau di dalam perilaku kita? Perilaku anak-anak kita? Berapa banyak sunnah yang kita hidupkan?
Allaahu Akbar, sebuah nasihat yang sangat berharga bagi saya pada khususnya dan bagi kawan2 semua. Mudah-mudahan Allah memberi kita taufik agar kita semakin dekat dengan RasulNya sehingga kita mendapatkan syafaatul-‘uzhma nanti di hari Kiamat. Aamiin.
Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat.

Advertisements

Serba Terbalik

entah mengapa akhir2 ini saya melihat ada banyak sekali hal2 yang saya rasa mulai “terbalik”. maksud saya, terbalik dari fitrah yang sebenarnya. atau keluar dari fitrahnya. tidak perlu jauh-jauh, kita lihat saja di lingkungan kita sendiri, lingkungan kampus, kerja, rumah, dunia maya, dan keluarga barangkali.

Jalan Yuk!

coba lihat, masalah pergaulan misalnya. cowok-cewek (non-mahram, blm nikah) berduaan, sudah menjadi pemandangan yang biasa. kalo gak punya pacar/pacaran dikira gak gaul, gak laku, gak keren, kasian. yee justru mereka2 ini orang yang terjaga. Allah yang menjaga mereka agar tidak dekat2 dengan zina. Allah sendiri kan yang melarang dekat2 dengan zina. deket2 aja dilarang. berarti kalo ada orang yang dijauhkan dari zina, berarti orang itu spesial dong. tau kan kalo berduaan, atau (bahasa kerennya) khalwat itu dosa. dan ngundang sesuatu yang lebih dosa, bahkan hina. kalo berduaan, datang setan sebagai orang ketiganya, yang godain agar terjadi macem2. pegang2 kek, cium2 kek, “itu” kek, dan apapun yang dilarang oleh Allah. hiiii serem. na’uudzu billaah min dzaalik.

Macem2 dikit, Bunuh!

ada lagi, rasanya sekarang tuh mbunuh orang udah jadi satu-satunya solusi untuk orang yang marah/kesel ya. entah itu suami marah sama istri, majikan marah sama pembantu, kakak marah sama adiknya, ayah sama anaknya, dll. suami kesel sama istrinya yang gak ngijinin sertifikat tanahnya digadaikan untuk beli motor, istrinya dibunuh. <– ini pernah ada di berita. orang pacaran, salah satu selingkuh, bla bla bla, tiba2 pacarnya dibunuh. belum lagi kasus TKW di luar sana yang suka disiksa oleh majikannya. kok ya bisanyaaa bunah-bunuh orang, enteng gitu kayanya, padahal membunuh itu termasuk dosa buuuesar. heu, na’uudzu billaah.

Enak (?), tapi Modar!

kalau tadi mbunuh orang, sekarang mbunuh diri sendiri. ada yang gantung diri, minum baygon, adapula yang sebenernya gak pengin bunuh diri, tapi aksinya itu menunjukkan bahwa dia sedang bunuh diri. pernah ada berita beberapa hari yang lalu di Sumedang, sekampung ngoplos semua, cowok-cewek, tua-muda, saya lupa komposisinya apa aja. akhir cerita mereka pada masuk rumah sakit, beberapa tidak tertolong karena saking parahnya, akhirnya satu per satu mati. ya Allaah, betapa kasihannya mereka ini, apakah tidak ada da’i di kampung mereka sehingga semua hobi ngoplos gini. seharusnya udah pada tahu ngoplos itu bukan salah satu solusi mau minum enak, kalau memabukkan sama saja minum khamr, kalau sampe mati gini, yaa sama kaya bunuh diri. na’uudzu billah min dzalik. kalau mau minum enak, dingin, masih banyak tuh di alfamart, kalo gak nemu ya coba cari di indomaret. ngapain harus ngoplos segala. “ngoplos lebih murah mas,” hee.. enak aja, berarti nyawamu masa lebih murah dari teh botol sosro. wkwk.

Asing sama Agama Sendiri (?)

saya ga tau nih berapa persen dari kita yang sudah mulai rada2 jarang belajar agama, jarang baca al-qur’an, jarang wiridan, jarang sedekah, dll. atau malah sering ninggalin sholat. na’uudzu billaah min dzaalik. sepertinya semua tadi mulai kalah pamor sama line, whatsapp, path, instagram, facebook, twitter, pulsa, lagu2, film, drama, dll. sadar gak guys? seharusnya sih kita sadar. waktu yang dulu kita gunain buat baca al-qur’an, udah mulai ilang tuh dipake baca update-an di twitter. tangan kita yang dulunya sering pegang tasbih, ilang tuh tasbihnya ganti gadget. geser-geser-geser sampe 33x. hehe. dulu pas lagi nganggur biasa baca buku2 yang bermanfaat, sekarang ganti mainan game android yang kayanya lumayan seru. kayanya kita sekarang lebih apal kehidupannya artis, pemain bola, musisi, ketimbang Nabi kita Muhammad saw. duit lebih banyak buat beli pulsa paket internet daripada sedekah.

ya, seolah-olah kita udah mulai mentingin bisa eksis di medsos daripada eksis di hadapan Allah. kita lebih kawatir gak naik level di game daripada gak naik derajat di hadapan Allah. kita lebih nikmat baca update-an di dunia maya daripada baca al-qur’an. lebih apal lagu2 daripada al-qur’an. lebih tahu gosip artis daripada kisah para sahabat dan para ulama’ terdahulu.

sebenernya guys, yang terpenting adalah bagaimana pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Allah swt? kita jelas-jelas sedang menjauh dari Allah, padahal yang ngasih semuanya itu Allah, nikmat sehat, harta, teman, dll. Allah juga sudah kirimkan kita manusia paling sempurna untuk dijadikan teladan, Nabi Muhammad saw., yang bahkan kalau para Nabi sebelumnya ditanya, mereka memilih untuk menjadi ummat Nabi Muhammad saw, saking sempurnanya beliau. masih nyari yang lain? jelas gak ada yang setara dengan beliau.

yuk ah, jangan mau dibolak-balik sama orang-orang penguasa teknologi. kalau mau memanfaatkan teknologi, manfaatkan untuk kebaikan. jangan malah bikin “lupa”. yuk, buka lagi al-qur’an-nya, dibaca. mulai isi waktu-waktu luang untuk membaca ilmu2 untuk bekal akhirat. belajar siroh/kisah kehidupan Nabi saw, agar kita bisa menyelami dan menghayati akhlak dan ajaran2 beliau saw. mulai perbanyak kebaikan kita, mumpung di dunia. mati tidak ada yang tahu kapan datangnya kan. yakinlah, kalau kita punya niat kuat untuk bergegas dalam kebaikan Allah pasti memberi jalan. gapapa kok, ketinggalan update-an di medsos. gapapa juga ketinggalan film seru juara oscar. apalagi gak apal lagu2, gapapaa, yang penting apal surah2 al-qur’an. 🙂

semoga kita semua diberi hidayah ya oleh Allah swt., sumber hidayah ada dua, langsung dari Allah tanpa sebab, dan kita sendiri yang mengusahakan sebabnya. terserah Allah mau kasih hidayah lewat jalan yang mana. setelah diberi hidayah semoga Allah memberi kita istiqomah. dikatakan, “istiqomah itu bahkan lebih utama daripada seribu karomah..”. dan yang pasti kita minta agar diberi husnul-khatimah. aamiin. maaf yak curhatan saya malam ini panjang. kita sama2 perbaiki diri lah intinya.

wallaahu a’lam.

Teladan Sempurna

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya  jasad manusia termulia :) meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim 'alaih.

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya jasad manusia termulia 🙂 meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim ‘alaih.

iseng buka twiter, tiba-tiba nemu kultwitan bagus, yaitu kultwit dari KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa gusmus (akun @gusmusgusmu <– monggo difollow). langsung saja, monggo disimak. 🙂

***

BismiLlãhirRahmãnirRahïm…

Pedoman umat Islam itu, ‘secara teori’ ialah Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. ‘Secara praktik’: PERILAKU Pemimpin Agungnya itu. Kenapa?

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu2 Qur’an dan melaksanakannya. Nabi Muhammadlah orang pertama yang mempraktikkan Qur’an.

Sayyidatina ‘Aisyah ra menyebut “Kãna khuluquhu ‘l-Qur’an;”, Perilaku Rasulullah SAW adalah Qur’an. Istilahnya, ‘Qur’an berjalan’.

Tak peduli keturunanmu. Tak peduli kebangsaanmu. Tak peduli ilmumu. Tak perduli kedudukanmu. Tak peduli fasihmu. Tak peduli citramu..

Bila kelakuanmu bertentangan dengan perilaku Rasulullah SAW ~kalau pun engkau mengaku muslim~ bukan saja engkau muslim yang buruk;

lebih dari itu engkau telah mencemarkan agama dan nabimu. FattaqiLlãh! Takwalah kepada Allah!

Maka teruslah berusaha memahami Qur’an dan jangan berhenti mempelajari SIERAH dan SYAMAIL, riwayat hidup dan perilaku, nabimu.

Terutama bila engkau terlanjur dianggap ‘pemimpin Islam’ oleh masyarakat. Kelakuanmu tdk hanya disimak, bahkan diikuti oleh banyak orang.

Pelajari dan berusahalah mengikuti sunnah Pemimpin Agungmu yang mulia budi pekertinya (Q. 68: 4), yang lemah lembut, tidak kasar dan kejam (Q. 3: 159), yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan welas asih. (Q. 9: 128).

Sekian. Wallahu a’lam. AstaghfiruLlãal ‘Azhïm filqauli bilã ‘amal. Wal’afwu minkum.

Mohon maaf, bila Anda merasa kunasihati. Sebenarnya ini aku sedang menasihati diriku sendiri; sebagaimana dlm sajakku “Nasihat Ramadan.”

***

alhamdulillaah. 🙂 semoga nasihat beliau ini bisa kita amalkan. yuk, kita jadikan Rasulullah saw  teladan utama dalam hidup kita. menjadi teladan dalam beragama, dalam hidup bermasyarakat, keluarga, dan berbangsa serta bernegara. semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengikuti jejak beliau saw. aamiiiin. semoga bermanfaat.

Tawadhu’nya Rasulullah SAW

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang makan betis binatang, tentu akan kukabulkan undangannya.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazi’, dari Basyar bin al Mufaddhal, dari Sa’id dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab,

“Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma’il, dari ‘Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yahya bin Sa’id, yang bersumber dari ‘Amrah)

***

maa syaa’Allah jauh sekali dengan kita, ya.. padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan kita kemandirian dan hidup sederhana. kita kadang-kadang males nyucibeli makan siang titip temen, masih dibangunin kalau shubuh, makan diingetin, dan lain-lain. Ah, nyusahin orang pokoknya *hhehe.

Yuk ah, mulai sekarang kita ikuti gaya hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 🙂

Sumber:
Syamaa’il Muhammad oleh Imam Tarmidzi

Yang Lebih Kita Cinta

Kawan, tiba-tiba terpikir oleh saya beberapa pertanyaan berikut. berharap bisa menjadi bahan tafakkur/renungan bersama, meskipun hanya sedikit.

mana yang lebih pilih ketika waktu shalat tiba : melanjutkan pengerjaan tugas besar, atau beranjak untuk sholat berjama’ah?

buat anak muda nih, mana yang lebih kita kenal : pemain bola, para boyband, artis hollywood, atau Allah dan rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

lalu, manapula yang lebih kita ikuti : gaya hidup para artis, atau gaya hidup rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

rada fatal nih, sekarang mana yang lebih kita takuti : telat nonton pertandingan bola, atau kehabisan waktu untuk tahajjud dan dhuha? takut dicela orang di dunia, atau takut akan adzab Allah yang amat pedih?

yang sekarang sedang kritis, mana yang selama ini lebih kita teladani : akhlak orang kafir, atau akhlak rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat ?

mana yang lebih kita percaya : ramalan dukun, paranormal, atau perkataan para ulama’?

mana yang lebih kita hafal : al-quran dan hadits, atau lagu-lagu dan syair-syair yang tiada berguna di dunia dan akhirat?

lalu yang mana yang lebih kita dekati : gerombolan teman yang main kartu, tempat-tempat hiburan, atau majelis-majelis ilmu?

mana yang kita senangi : amal-amal kita dipuji orang, atau biar saja orang tidak ada yang memuji? karena semua amal ini untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

siapa yang lebih kita hormati dan muliakan selama ini : dosen, senior, atau orang tua dan guru-guru kita dalam hal agama?

siapa yang lebih kita sayangi dan perhatikan : saudara dan kerabat-kerabat kita, atau pacar?

Tahukah, kawan, sebenarnya semua itu bermuara pada satu pertanyaan,

apakah kita semua lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, atau kita lebih cinta kepada syetan dan hawa nafsu belaka?

wallaahul-haadiy.. Allah-lah sang maha pemberi petunjuk. jika jalan yang kita tempuh terasa semakin jauh, mohonlah pada-Nya agar dituntun menuju jalan yang benar, lalu mohonlah agar Allah meneguhkan langkah kita di jalan itu.

wallaahul-musta’aan.. Allah-lah sebaik-baik tempat kita meminta pertolongan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai-Nya, dan Dia pun mencintai kita. Aamiin.. 

Kaprodi Super

Suatu hari, saya sholat dhuha di mushola lantai 2 di Labtek X. sebelum mengambil air wudhu’, tentu saja saya melepas sepatu dan kaos kaki. saya tahu di depan mushola terdapat rak sepatu dan di atasnya ada tulisan “alas kaki mohon di simpan di rak”, tapi (entah kenapa) saya tidak menyimpan sepatu saya di situ. hehe.. 😛

*** beberapa menit berlalu ***

setelah saya sholat beberapa raka’at, betapa kagetnya saya ketika saya melihat Kaprodi Teknik Kimia ITB, Pak Walmiki, sedang berdiri di depan pintu mushola dengan tangan bersedekap, seolah beliau menunggu saya selesai sholat. wajah beliau datar, tidak ada senyum sedikitpun. wah.. aya naon ieu teh? pikir saya dalam hati. #panik

saya memberanikan diri menyapa, “pak.. 🙂 ” saya menyapa Pak Walmiki dengan sedikit senyum, seperti tanpa dosa.

bukannya membalas senyum, malah bapaknya berkata, “nah.. lain kali, kalau kamu sholat di sini, sepatunya disimpan di rak ya.. biar rapi”, dengan wajah masih datar, tapi tegas. benar2 menusuk apa yang beliau sampaikan.

sayapun jadi salah tingkah, “oh, iya pak.. :)” betapa bodohnya saya. seakan tidak bisa membaca tulisan yang ada di atas rak. padahal font-nya gede.

setelah menasehati saya dengan beberapa patah kata tadi, Pak Walmiki segera bergegas meninggalkan saya. seperti sudah ada urusan lain yang harus ditangani. saya jadi berpikir,

jangan2, dari tadi Pak Walmiki berdiri di depan mushola hanya untuk menunggu saya selesai sholat, lalu menasehati saya agar menyimpan sepatu di rak, padahal di sisi lain beliau memiliki banyak urusan yang harus ditangani. wah, maafkan saya pak, sudah menyita waktu bapak.

astaghfirullaah.. inilah nasihat paling menyentuh yang pernah saya alami dari seorang kepala lembaga. langsung, aktual, dan empat mata. saya tidak menyangka dengan kedudukannya sebagai kaprodi, beliau mau mengorbankan banyak menit waktu “sibuk”nya hanya untuk menanamkan sebuah nilai kedisiplinan untuk seorang Habibi Alisyahbana yang waktu itu sedang tidak disiplin. bayangkan! hanya untuk satu orang. saya. dan hanya untuk sepasang sepatu yang tergeletak di lantai karena terlihat tidak rapi. astaghfirullaah..

begitulah. I appreciate much his responsibility as a major leader. pangkat tinggi, tidak membuat beliau melewatkan hal2 sederhana seperti ini. sederhana memang, namun berdampak besar. dan saya pikir justru dengan seperti ini orang2 kecil seperti saya jadi merasa memiliki seorang pemimpin yang pantas diandalkan. semoga kawan2 yang saat ini menjadi pimpinan, bisa meneladani beliau. 🙂

terimakasih ya Allah.. menganugerahkan saya pemimpin yang baik. semoga beliau bisa istiqomah dalam menebar nilai2 kebaikan di Prodi Teknik Kimia ini. dan akhirnya, mulai sekarang saya berjanji : meletakkan sepatu di rak ketika sholat di mushola Labtek X lantai 2, dan lantai 4. kawan2 Tekkim, ingatkan saya kalau saya lupa. hehe. 😀

terimakasih, Pak Walmiki.

Hikmah dan Makna Maulid Nabi Muhammad SAW

Pernahkah anda mendengar tentang Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw? Ya, maulid menurut kaidah bahasa Arab artinya waktu/tempat kelahiran, dalam hal ini waktu yang lebih dominan. Jadi bisa diartikan sebagai peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Masih ingat, tanggal berapa Nabi saw dilahirkan? Pasti lah ya, tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah. Jadi inget pelajaran siroh pas eSDe. haha..

Tanggal 12 Rabiul Awal 1433 H, tahun ini bertepatan pada 4 Pebruari 2012. Meskipun tulisan ini telat, insya Allah masih ada lah ya semangatnya untuk meneladani Nabi kita Muhammad saw dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang kita tahu, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW, tidak lain merupakan warisan peradaban Islam yang dilakukan secara turun temurun.

Dalam catatan historis, Maulid dimulai sejak zaman kekhalifahan Fatimiyah di bawah pimpinan keturunan dari Fatimah az-Zahrah, putri Muhammad. Perayaan ini dilaksanakan atas usulan panglima perang, Shalahuddin al-Ayyubi (1137M-1193 M) -yang oleh orang-orang barat disebut Salladin, kepada khalifah agar mengadakan peringatan hari kelahiran Muhammad saw.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan semangat juang kaum muslimin dalam perjuangan membebaskan Masjid al-Aqsha di Palestina dari cengkraman kaum Salibis. Yang kemudian, menghasilkan efek besar berupa semangat jihad umat Islam menggelora pada saat itu.

Secara subtansial, perayaan Maulid Nabi adalah sebagai bentuk upaya untuk mengenal akan keteladanan Muhammad sebagai pembawa ajaran agama Islam. Tercatat dalam sepanjang sejarah kehidupan, bahwa nabi Muhammad adalah pemimpin besar yang sangat luar biasa dalam memberikan teladan agung bagi umatnya.

Dalam konteks ini, Maulid harus diartikulasikan sebagai salah satu upaya transformasi diri atas kesalehan umat. Yakni, sebagai semangat baru untuk membangun nilai-nilai profetik agar tercipta masyarakat madani (Civil Society) yang merupakan bagian dari demokrasi seperti toleransi, transparansi, anti kekerasan, kesetaraan gender, cinta lingkungan, pluralisme, keadilan sosial, ruang bebas partisipasi, dan humanisme.

Dalam tatanan sejarah sosio antropologis Islam, Muhammad dapat dilihat dan dipahami dalam dua dimensi sosial yang berbeda dan saling melengkapi. Pertama, dalam perspektif teologis-religius, Muhammad dilihat dan dipahami sebagai sosok nabi sekaligus rasul terakhir dalam tatanan konsep keislaman. Hal ini memposisikan Muhammad sebagai sosok manusia sakral yang merupakan wakil Tuhan di dunia yang bertugas membawa, menyampaikan, serta mengaplikasikan segala bentuk pesan “suci” Tuhan kepada umat manusia secara universal. Kedua, dalam perspektif sosial-politik, Muhammad dilihat dan dipahami sebagai sosok politikus andal. Sosok individu Muhammad yang identik dengan sosok pemimpin yang adil, egaliter, toleran, humanis, serta non-diskriminatif dan hegemonik, yang kemudian mampu membawa tatanan masyarakat sosial Arab kala itu menuju suatu tatanan masyarakat sosial yang sejahtera dan tentram.

Tentu, sudah saatnya bagi kita untuk mulai memahami dan memperingati Maulid secara lebih mendalam dan fundamental, sehingga kita tidak hanya memahami dan memperingatinya sebatas sebagai hari kelahiran sosok nabi dan rasul terakhir yang sarat dengan serangkaian ritual-ritual sakralistik-simbolik keislaman semata, namun menjadikannya sebagai kelahiran sosok pemimpin.

Karena bukan menjadi rahasia lagi bila kita sedang membutuhkan sosok pemimpin bangsa yang mampu merekonstruksikan suatu citra kepemimpinan dan masyarakat sosial yang ideal, egaliter, toleran, humanis dan nondiskriminatif, sebagaimana dilakukan Muhammad untuk seluruh umat manusia.

Kontekstualisasi peringatan Maulid tidak lagi dipahami dari perspektif keislaman saja, melainkan harus dipahami dari berbagai perspektif yang menyangkut segala persoalan. Misal, politik, budaya, ekonomi, maupun agama.

Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2011/02/15/makna-dan-hikmah-maulid-nabi-muhammad-saw/ (dengan sedikit perubahan)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"