Posts Tagged ‘ sosial ’

Djaman Dhijital

pernah menemui istilah ini? jangankan anda, sayapun belum, hehe. sebenarnya saya hanya ingin menuliskan sebuah refleksi tentang perubahan jaman yang berdampak pada kehidupan sosial. daan… tulisan singkat ini saya beri judul “djaman dhijital”.

mari kita kembali ke masa lalu.

coba ingat-ingat kehidupan masa kecil kita. untuk anak-anak desa (seperti saya, hehe), barangkali yang teringat adalah suasana desa yang masih asri dengan banyak pepohonan, halaman rumah yang luas dan berupa tanah atau rumput, tak jauh dari rumah ada sungai yang masih lumayan bersih, bisa buat mandi, nyuci baju, nyuci piring, atau minum bagi yang rumahnya di pegunungan, dan segala macem, ada teman-teman seumuran yang tiap hari menjemput kita untuk mengajak bermain, entah layangan, kelereng, renang di sungai, atau sekedar cari capung, belut, kepiting, dan lain sebagainya. kita bisa keluar rumah sesuka hati, asal orang tua mengijinkan. berangkat main pagi, pulang siang, makan, main lagi atau disuruh tidur, sampe asar, mandi, ganti baju yang bersih, terus main lagi sampe maghrib atau ngaji di TPA/TPQ. habis maghrib kalau untuk yang sudah sekolah pasti disuruh belajar dan yang belum sekolah mungkin bisa langsung tidur.

berbeda lagi yang dialami anak-anak kota. barangkali yang terbayang adalah suasana rumah yang selalu rindang, sejuk, ada banyak mainan di rumah seperti mobil-mobilan, pesawat-pesawatan, boneka, robot-robotan, dan lain-lain. ada teman yang mengajak bersepeda keliling kompleks tiap sore, atau sengaja datang ke rumah kita untuk main video game, main balapan tamiya, atau yang lain. kadang-kadang kita yang keluar ke PS-an main sama teman biar rame. minta duit katanya buat beli jajan padahal buat main PS. pulang-pulang biasanya disuruh makan dan mandi. pakai baju bagus, dan nonton TV sambil main “gembot”.

dan jika kita bayangkan lagi, ternyata kejadian-kejadian itu terus berulang sampai kira-kira kita duduk di kelas 6, biasanya anak kelas 6 mulai banyak belajar untuk menghadapi Ujian Nasional.

tapi rupanya jaman sekarang tidak seperti jaman kita dulu kawan. tanah lapang di depan rumah banyak yang sudah tertutup semen atau paving blok. tidak bisa lagi digunakan untuk bermain kelereng. tepian sungai dekat rumah tidak lagi tanah, melainkan sudah disemen. tidak bisa lagi digunakan untuk mencari kepiting air tawar atau “yuyu”, yang mitosnya itu adalah mainannya tuyul, #gaknyambung. capung mungkin sudah jarang terlihat. jalanan sudah mulai ramai, sulit sekali menyeberang untuk sekedar mengejar layangan yang putus.

gembot, video game, PS-an sudah jarang kita temui, meskipun masih ada. mobil tamiya sudah tidak menarik lagi untuk dimainkan. begitupun crushgear, beyblade, yuGiOh, dan kawan-kawannya. hampir tiap rumah sekarang memiliki satu buah laptop atau minimal PC. beberapa punya tablet atau iPad. berisi banyak game dan aplikasi menarik lainnya. ya, seperti all in one. satu laptop, PC, tablet atau iPad bisa digunakan untuk memainkan buanyak sekali permainan. tidak perlu keluar rumah, tidak perlu kotor-kotor, tidak perlu nyemplung sungai, tidak perlu blusak-blusuk di kebun tetangga lagi untuk main petak umpet. main bola bisa pake PES, anticapek dan anticedera. mancing ikan bisa pake Fishing Frenzy (barangkali ada #ngawursih hehe). main tembak-tembakan yang biasanya pake jambu dan bunga jambu sebagai pelurunya, sekarang bisa dirasakan sensasinya dengan main Counter Strike. keren memang tapi saya pikir ini menimbulkan dampak sosial yang kurang baik.

saya mau cerita sedikit terkait topik ini. beberapa waktu lalu ada keponakan-keponakan saya datang dan main ke rumah tetangga saya yang kebetulan juga saudara saya. mereka datang bertiga, dua anak sudah SD dan satu lagi masih TK kalau tidak salah. saya pikir tiga anak ini mau bermain boneka barbie, bekel, kempyeng, atau apa kek yang biasanya dimainkan oleh anak cewek. eh, ternyata apa yang saya lihat? dua anak masing-masing bermain tablet dan asik sendiri. satu anak lagi bermain masak-masakan. saya cukup terkejut sih. bagaimana mungkin anak-anak yang biasanya selalu bermain bersama, kini bermain sendiri-sendiri dan sama sekali tidak berhubungan satu dengan yang lain. innalillaah. memang benar-benar djaman dhijital. semua dhijital. barangkali pola pikir anak-anak sekarang juga pola pikir dhijital. akibatnya teman bermain mereka semuanya dhijital. lenyaplah apa yang dahulu dinamakan komunikasi antarteman bermain, toleransi atas perbedaan keinginan, kolaborasi, sportifitas, rasa simpati, jiwa kompetitif, perasaan bangga karena menang dan sedih karena dikalahkan, emosi ala anak kecil, dan yang lain.

bermain tablet

bermain tablet

saya hanya takut anak-anak di djaman dhijital ini kurang matang secara sosial, akibat kurangnya pergaulan dan lemahnya kemampuan beradaptasi di lingkungan yang berbeda-beda.

semoga jaman anak-anak kita besok tidak semakin parah, kita harus mendidik anak-anak kita dengan baik agar jiwa-jiwa sosial mereka tetap terpupuk sejak dini.

Taburan Senyum Banyuwangi Berbagi | #RPC2013 #review

Oleh: Fitari Anggraini

Masih ingat dengan acara BuBer dan Santunan 333 Anak Yatim, Piatu, dan Dhu’afa’ tahun lalu? Atau kalian bagian dari acara tersebut? Tahun ini acara tersebut dilanjutkan namun dengan variasi berbeda. Nama garis besar kegiatannya adalah Ramadhan Penuh Cinta 2013. Ramadhan Penuh Cinta 2013 memiliki serangkaian acara, salah satunya yaitu Banyuwangi Berbagi. Banyuwangi Berbagi adalah sebuah kegiatan sosial yaitu berbagi sembako kepada kaum dhu’afa’. Tahun ini, Banyuwangi Berbagi dilaksanakan di Desa Sumbernanas, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.

***

Setelah bingkisan yang akan dibagikan selesai dikemas, para panitia bersepakat tanggal 29 juli pukul dua siang berkumpul di rumah Anggra, PJ (penanggungjawab) Banyuwangi Berbagi.  Kami semua sudah harap-harap cemas sekaligus bahagia karena kabarnya medan yang akan ditempuh lumayan terjal. Panitia putra berangkat menggunakan motor. Sedangkan panitia putri mayoritas naik truk, hanya sebagian saja yang naik motor. Dengan bacaan basmalah kami pun berangkat.

Sesuai dengan dugaan awal, perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang tidak biasa. Kami sempat berteriak histeris dikarenakan 2 hal, jalan terjal meliuk-liuk dan pemandangan yang “subhanallah”, indah sekali. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit.  Sampai di lokasi sambutan warga Sumbernanas begitu hangat. Kami disambut dengan lagu dan tarian islami.

Senyum sumringah penuh harap para janda tua dhu’afa’ yang sudah mengantri di kursi hijau panjang menyambut kedatangan kami. Setelah semua persiapan usai, acara pun dimulai. Semua pengisi acara sore itu adalah murni dari warga setempat. Pembagian sembako pun dimulai. Haru bahagia terlihat saat ucapan terimakasih yang begitu mendalam terlontar dari bibir nenek tua ketika menerimanya. Tak lupa kalimat Alhamdulillah akan syukur yang telah Allah berikan juga berulang kali mereka ucapkan. Selain pembagian sembako pada janda tua, ada juga dua anak yatim yang menerima bingkisan alat-alat keperluan sekolah.

kegiatan pembagian sembako

kegiatan pembagian sembako

bingkisan untuk anak yatim

bingkisan untuk anak yatim

Sambil menunggu  waktu berbuka, kami bermain dengan adik-adik kecil. Kuis kecil-kecilan dengan bingkisan bagi yang bisa menjawab menimbulkan ekspresi lucu baik dari peserta maupun penonton. Gelak tawa yang tulus itu mengantarkan kita pada syahdunya adzan maghrib. Dengan penuh rasa syukur kami pun menyeruput air putih untuk menghilangkan dahaga. Kejutannya tak berhenti disitu saja, kami tercengang saat melihat ancak sepanjang 6 meter di depan mata kita. Nasi hangat, kerawu, tumis pakis, tahu tempe serta ayam goreng sudah melambai-lambai ingin disantap.  Acara buka bersama warga sekitar pun menghangatkan tubuh yang sedang kedinginan terserang hawa dingin Desa Sumbernanas.

ancakan :D

ancakan 😀

ancakan :D

ancakan 😀

Sebenarnya kami masih ingin menikmati malam di desa itu, lambaian selamat tinggal mereka mengisyaratkan rasa penuh terimakasih dan ingin jumpa di lain waktu jika Allah mengijinkan. Rupanya malam itu benar-benar mencekam karena tidak ada satu lampu pun yang menerangi hutan jalan pulang. Namun cahaya taburan bintang jauh lebih mengagumkan dibanding lampu neon sekalipun. Di tengah-tengah canda tawa kita mengulang serunya pengalaman tak terlupakan itu. Lagi-lagi kami dibuat tercengang dengan pemandangan lampu-lampu di pinggir laut Selat Bali. Subhanallah, indah sekali. 🙂

Berbekal dari pengalaman ini, kami mendapatkan sebuah hikmah. Bahwa yang terpenting bukan besarnya jumlah rupiah yang dapat kami berikan namun besarnya hati akan kerinduan berbagi yang membuat kepuasan hati terasa sempurna.

***

Salam hangat kami,
Ikatan Alumni Pelajar Banyuwangi (IAPB)

Ramadhan Penuh Cinta 2013 #logo

Ramadhan Penuh Cinta (RPC) 2013. Coming soon (in syaaAllah). Be Participate!

Ramadhan Penuh Cinta (RPC) 2013. Coming soon (in syaaAllah). Be Participate!

COMING SOON IN THIS RAMADHAN 1434 H! in syaaAllah…

Berlian yang Terpendam

Saya yakin anak-anak (baca: mahasiswa) ITB itu tidak semuanya S.O. (Study Oriented-masa sih?), banyak manusia-manusia yang ternyata bisa aktif di kehidupan luar kampusnya, tak terkecuali di luar kuliahnya. banyak kok anak-anak yang jadi bussinessman, banyak juga yang menjadi relawan di kegiatan-kegiatan sosial. cuman ga keliatan. tapi itu gak akan jadi halangan anak-anak SMA yang akan masuk ITB (takut jadi S.O. juga), karena ITB punya banyak berlian kalo kita mau menggali.


ITB itu berwarna. ada warna ijo, putih, abu, coklat, *ih, eta mah warna gedung nyak.. maksud saya berwarna orang-orangnya. berasal dari berbagai habitat (baca: daerah), latarbelakang ekonomi, budaya, dan suku, berbeda-beda bahasa tapi bahasa pergaulan tetap satu, bahasa Jawa, *lho?.. canda, maksudnya bahasa Indonesia. ada juga orang-orang luar Indonesia, mereka memakai bahasa mereka sendiri, yang sering saya dengar adalah bahasa India, Inggris, lalu Malaysia. warna-warni itu membuat saya semakin mengerti arti kalimat “bhinneka tunggal ika”. ya, meskipun berbeda-beda dalam banyak hal, kita tetap satu Bangsa Indonesia. yang selalu bercita-cita bisa membangun negeri ini kelak. dimulai dari kampus ini tentunya.

ya.. seperti itulah ITB. kadang ditanyakan sama masyarakat sebelah. “mana nih, mahasiswa ITBnya, biasanya suka ngadain kegiatan di kampung kita?” saking ngangenin kali ya. masyarakat kangen sama senyuman, sentuhan tangan-tangan kreatif mahasiswa ITB untuk berkarya di masyarakat. mungkin kalo saya dengar sendiri, saya akan bilang, “masih dikembangin penelitiannya, pak.. “. ya, baguslah, saya pikir ITB memang harus lebih maju lagi di bidang riset dan penelitian. jangan mau kalah tuh sama negara tetangga. yang kita tonton Upin & Ipinnya.

anak-anak ITB tu potensial lho, untuk diterjunin ke masyarakat luas. saya salut pada teman-teman saya yang sudah mulai memainkan peran-peran politik di berbagai organisasi kemahasiswaan. entah itu himpunan mahasiswa jurusan, unit, maupun KM-ITB pusat. mantap lah, kecil-kecil sudah pandai menyusun strategi, aktif, dan kontributif. belum lagi yang punya cita-cita pengin jadi Direktur Utama PT. DI (Dirgantara Indonesia). teman saya sendiri. sekarang dia aktif di bidang riset tentang Roket di himpunan mahasiswa penerbangan ITB. alhamdulillaah.. tidak pernah saya merasa rugi karena masuk ITB.

hanya sedikit hal yang bisa saya ceritakan malam ini. *ga bisa atau gara-gara udah ngantuk ya?

saya harap, berlian-berlian kampus itu tidak pernah hilang, meluruh karena waktu, namun tetap bertambah, menjadi besar dan muncul ke permukaan tanah. ya, suatu saat kita akan menjadi pioneer negeri ini, manusia-manusia terdepan yang akan membawa perubahan untuk Indonesia. bersinergi dengan manusia-manusia dari PT lain, kita bangun Indonesia kita sendiri. kita bangun semangat penelitiannya, kita bangun mindset kemandiriannya, kita bangun jiwa-jiwa entrepreneurshipnya, dan kita akan melihat empat puluh tahun yang akan datang, anak cucu kita tersenyum bangga melihat hasil karya dari kakek neneknya.

semangat terus para mahasiswa! semangat!

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

Selamat Datang

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"