Posts Tagged ‘ sabar ’

Hakekat Rizki

Mungkin kita tak tahu dimana rizki kita..
Tapi rizki tahu dimana diri kita..
Dari lautan biru, bumi dan gunung..
Allah memerintahkannya menuju kita..
Allah menjamin rizki kita, sejak 4 bulan 10 hari kita dalam kandungan ibu..

Amatlah keliru bila rizki dimaknai dari hasil bekerja..
Karena bekerja adalah ibadah..sedang rizki itu urusanNya.

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji..
Yang mungkin esok akan ditinggal mati..
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka..
Tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita..
Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x Shafa dan Marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya..
Ikhtiyar itu perbuatan..
Rizki itu kejutan..

Dan jangan lupa..
Tiap hakekat rizki akan ditanya..
“Darimana dan untuk apa?”
Karena rizki adalah “hak pakai”
Halalnya dihisab..
Haramnya diadzab..

Maka, janganlah kita iri pada rizki orang lain…
Bila kita iri pada rizkinya, kita juga harus iri pada takdir matinya.
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummat-Nya..
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya..

Jadi bertawakkal lah, ridho dengan ketentuan Allah, sehingga apapun itu kita akan merasa cukup dan penuh kenikmatan..

Wallahu A’lam..

Share via Whatsapp dari: KH. Khoirul Anwar Fathoni, Ponpes Al-Fath, Cilegon

 

sebab – akibat

Kawan2ku yang dirahmati Allah. Ketahuilah sesungguhnya pandangan mengenai ihwal sebab-akibat itu ada tiga macam:
Pertama, bahwa sebab pasti akan menghasilkan akibat. Maka jangan tertipu dengan pandangan seperti ini. Ini adalah pandangan orang2 kafir. Bilamana akibat tidak diperoleh, mereka akan berputus asa. mereka inilah yang menuhankan sebab dan meniadakan tuhan dalam setiap usaha mereka.
Kedua, bahwa sebab akan menghasilkan akibat dikarenakan kekuatan yg Allah berikan pada sebab tersebut untuk menghasilkan akibat. Pun pandangan seperti ini keliru. Ketahuilah bahwa tidak semua api dapat membakar, dan tidak semua pisau dapat memotong. Sebagaimana api tdk bisa membakar Nabi Ibrahim dan pisau tdk bisa memotong leher Nabi Ismail ‘alaihimaassalam.
Ketiga, bahwa akibat ada karena sebab yang mana akibat tersebut terjadi dengan seijin Allah swt. Ketahuilah pandangan inilah yang selamat, maka berpegang teguhlah. Berikhtiarlah untuk mengejar akibat, lalu bertawakkal. Di sinilah makna roja’ dan tawakkal. Syukur bilamana akibat baik yg didapat (sesuai harap) dan sabar bilamana tidak sesuai harap. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan Allah-lah yg terbaik. Karena Dia mahatahu apa yang kita tak tahu.

Wallahu a’lam.

Nasihat Guru Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu guru dari Syekh Abul Hasan asy-Syadzili adalah Syekh al-Quthub al-Ghouts Sayyid Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al-Hasani, rodhiyAllahu ‘anhu, seorang wali Quthub saat itu pengganti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Pada suatu hari dikatakan oleh Syekh Abdus Salam kepada beliau (Syekh Abul Hasan), “Wahai anakku, hendaknya engkau semua senantiasa melanggengkan thoharoh (mensucikan diri) dari syirik. Maka, setiap engkau berhadats cepat-cepatlah bersuci dari ‘kenajisan cinta dunia’. Dan setiap kali engkau condong kepada syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu.”

Berkata pula Syekh Abdus Salam, “Pertajam pengelihatan imanmu, niscaya engkau akan mendapatkan Allah; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; Meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan itulah sifat-Nya; Dengan meliputi itulah bentuk keadaanNya.”

Di lain waktu guru beliau, rodhiyallahu ‘anhu, mengatakan, “Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : KECINTAAN demi untuk Allah; RIDHO atas ketentuan Allah; ZUHUD terhadap dunia; dan TAWAKKAL atas Allah.

Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni MENEGAKKAN fardhu-fardhu Allah; MENJAUHI larangan-larangan Allah; BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan WARO’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan”.

Asy-Syekh juga pernah berpesan kepada beliau, “Wahai anakku, janganlah engkau melangkahkan kaki kecuali untuk Allah, sesuatu yang dapat mendatangkan keridhoan Allah, dan jangan pula engkau duduk di suatu majelis kecuali yang aman dari murka Allah. Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu terhadap Allah”.

***

Pun, setelah berguru sekian lama, dan tiba saatnya berpisah, Syekh Abul Hasan meminta wasiat terakhir dari sang Guru. “Wahai Tuan Guru yang mulia, berwasiatlah untukku.”Asy-Syekh pun kemudian berkata, “Wahai ‘Ali, takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap manusia. Sucikanlah lisanmu daripada menyebut akan keburukan mereka, serta sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu (dari segala yang maksiat, pen.) dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu, maka sempurnalah Allah mengasihani dirimu.”

Lanjut asy-Syekh lagi, “Jangan engkau memperingatkan kepada mereka, tetapi utamakanlah kewajiban yang menjadi hak Allah atas dirimu, maka dengan cara yang demikian akan sempurnalah waro’mu.” “Dan berdoalah wahai anakku, ‘Ya Allah, rahmatilahlah diriku dari ingatan kepada mereka dan dari segala masalah yang datang dari mereka, dan selamatkanlah daku dari kejahatan mereka, dan cukupkanlah daku dengan kebaikan-kebaikanMu dan bukan dari kebaikan mereka, dan kasihilah diriku dengan beberapa kelebihan dari antara mereka. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah atas segala sesuatu Dzat Yang Maha Berkuasa.”’

***

FYI. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah pendiri Thariqah Syadziliyyah. Seusai berguru, dakwah beliau dimulai di Kota Syadzilah, tempat beliau dilahirkan. Kemudian beliau ber’uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah selama beberapa tahun di bukit Zaghwan. Dan kembali lagi ke masyarakat sebelum akhirnya melanjutkan dakwahnya di Tunis dan Mesir. Keadaan di Mesir sangat mendukung sehingga dakwah beliau sangat berkembang. Banyak ulama’ besar yang dihasilkan, salah satunya adalah Sulthonul ‘Ulama Sayyid asy-Syekh ‘Izzuddin bin Abdis Salam, rahimahullah. 

Hingga kini thariqah Syadziliyyah termasuk salah satu thariqah yang tetap tumbuh subur, karena dikenal sebagai thariqah yang termudah dalam hal ilmu dan amal, ihwal dan maqam, ilham dan maqal, serta dengan cepat bisa menghantarkan para pengamalnya sampai ke hadirat Allah SWT. Di samping juga terkenal dengan keluasan, keindahan, dan kehalusan doa dan hizib-hizibnya.

Terakhir, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kita istiqomah mengamalkan thariqah yang kita pegang. Sehingga kita akan sampai kepada Allah robbul ‘izzati. Wallaahu a’lam.

sumber: http://www.ashakimppa.blogspot.com/

Sabar

Sebegitu sering kita mendengar kata ini,
Sebegitu sering pula kita menasehati orang lain menggunakan kata ini,

Ternyata implementasinya tidak mudah,

Itulah mengapa Allah memberikan jaminan besar,
Dia akan bersama orang-orang yang sabar,
Rahmat-Nya akan tercurah kepada mereka yang sabar,
Pahala yang melimpah disiapkan hanya untuk mereka yang sabar,

Sabar ya,
Tanpa sabar, tidak akan ada sakinah,
Tanpa sabar, tidak akan ada ridho,

Sabar ya,
Kita cuma perlu yakin,
dalam sabar PASTI ada hikmah,

***
Dari seseorang untuk seseorang with love 🙂

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tulisan kecil nan ringkas ini semoga bisa menjadi nasihat untuk para pendakwah (da’i dan da’iyah), di manapun dan kapanpun.

Dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa ada 3 (tiga) sifat yang harus kita terapkan dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkar sulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah,

  1. Ilmu, yaitu hendaknya para da’i mengetahui (berilmu tentang) apa yang dia ajak kepadanya atau larang daripadanya. Boleh jadi ia mengajak kepada sesuatu yang disangka baik padahal itu buruk, atau melarang sesuatu yang sepatutnya tidak ia larang. Hal ini tidak layak terjadi. Oleh karena itu hendaknya ilmu lebih diutamakan daripada amal, termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Wara’, yaitu hendaknya berdakwah itu bukan ditujukan untuk mencari kedudukan atau kehormatan, menunjukkan kekuatan jasmani dan rohani, atau yang lainnya. Sifat wara’ yaitu kita beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. 
  3. Akhlak Mulia, ia merupakan kunci dari ketiga sifat ini. Tanpa akhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berkesan, sekalipun da’i adalah seorang yang berilmu dan wara’. Salah satu bentuk akhlak mulia ialah bersabar. Bersabar merupakan sifat yang sangat penting, di kala amar ma’ruf nahi munkar dibalas dengan celaan dan cacian. Terdapat sebuah ungkapan dari Ibnu Taimiyah dalam hal bersabar ketika ber-amar ma’ruf nahi munkar. Beliau mengatakan, “jika kamu tidak bersabar, kamu akan mendapatkan 2 hal : pertama, kemungkinan kamu akan berhenti dalam mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran, hal seperti ini sudah banyak terjadi; kedua, pelaku kemunkaran melakukan kemunkaran yang lebih buruk lagi daripada kemunkaran yang pernah kamu cegah. Na’udzu billah. 

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika suatu saat beliau menyaksikan ada seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki masjid Nabawi lalu kencing di salah satu bagian masjid. para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera melemparkannya keluar dari masjid. namun tidak demikian sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada para sahabat, “jangan, janganlah engkau menyekat kencingnya”. lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri badui tadi. beliau bersabda dengan penuh kelembutan,

“wahai orang badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat-red)“. melihat kelembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam badui tadi lantas berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur kencing tersebut. Beliau bersabda, “sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan”. –atau seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Masya-Allah, mulia sekali akhlak Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. saya yakin kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah ini. semoga kita diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam menuntut ilmu, meluruskan niat, dan memperbaiki akhlak. hanya Dia-lah yang patut kita mintai pertolongan.

“Ya Allah bimbing akhlak kami agar seperti akhlak Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.. aamiin..”


Disarikan dari tausyiah Al-Habib Ali Al-Jufri dengan tambahan secukupnya dari penulis.
Selengkapnya, dapat diakses di http://www.youtube.com/watch?v=tKP_ARA9-sY

Yuk, Sempurnakan Akhlak

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. :)

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. 🙂

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari)

Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingin meneladani akhlak beliau yang sempurna. Akhlak yang sempurna adalah bekal yang amat besar bagi untuk di akhirat kelak.

Berat di Timbangan

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan dari akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Iman yang Sempurna

“Kaum mukminin yang yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Kedudukan yang baik di Hari Kiamat

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak yang baik pasti dapat mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang mulia, kendati ibadahnya lemah.” (HR. Thabrani, dengan sanad yang baik)

AKHLAK SEORANG MUSLIM

Ulama berkata tentang akhlak yang baik,

“Hendaknya seseorang banyaj merasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikannya, benar tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit berlebih-lebihan, berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, tenang, sabar, bersyukur, ridha, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidak melaknat, tidak menghina, tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak gegabah, tidak dengki, tidak kikir, berwajah ceria, mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena-Nya, ridha karena-Nya, dan murka karena-Nya.”

Maa syaa-Allah, banyak sekali ya… semoga kita bisa mengamalkan semuanya… 😀

Sabar

Di antara akhlak baik orang muslim ialah sabar. Sabar ialah menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridha Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS. Luqman: 17)

“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang  telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Begitupula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Luar biasa urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan semua itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu sangat baik baginya. Jika ditimpa cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik baginya.” (HR. Bukhari)

Tawakkal dan Percaya Diri

Tawakkal bagi seorang muslim adalah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik (Minhajul-muslim, hlm. 226)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal.” (At-Taghabun: 13)

Itsar dan Cinta Kebaikan

Di antara akhlak seorang muslim yang ia dapatkan dari ajaran islam dan keislamannya yang baik ialah itsar dan cinta kebaikan. Itsar ialah mendahulukan kepentingan saudara seakidah atas kepentingan pribadi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

“Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk dirimu niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil: 9)

Akhlak Adil dan Pertengahan

Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan keadilan dalam banyak firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl:90)

“Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS, Al-Hujurat: 9)

Seorang muslim hendaknya berbuat adil dalam segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya. Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezhaliman. Ia menjadi orang yang adil, tidak tertarik pada hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat, dan tidak cinta dunia. Oleh karena itu ia berhak mendapat cinta Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan (amanah) yang diberikan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Adapun pertengahan, maka lebih umum daripada adil, dan pertengahan inilah yang mengelola seluruh persoalan orang muslim dalam hidupnya. Pertengahan ialah jalan tengah di antara yang berlebih-lebihan dan sembrono yang keduanya merupakan sifat tercela. Pertengahan dalam ibadah ialah bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sembrono. Contoh pertengahan dalam infaq ialah tidak berlebih-lebihan dan tidak pula pelit, namun pertengahan di antara keduanya. Allah ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

Pertengahan dan istiqomah ialah saudara kembar. keduanya ialah akhlak yang mulia, karena akhlak itulah yang membuat orang muslim tidak melanggar batasan-batasan Allah ta’ala, membangkitkannya untuk melaksanakan ibadah-ibadah fardhu, dan mengajarkan kesucian kepadanya hingga ia merasa cukup dengan apa yang dihalalkan oleh Allah ta’ala.

Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang istiqomah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Sumber: Minhajul-Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

Manajemen Emosi | #mentoring

Pintu gerbang timur SMAN 1 Giri (sumber : paktris.wordpress.com)

Pintu gerbang timur SMAN 1 Giri (sumber : paktris.wordpress.com)

Senin, 7 Januari 2013, tepat 5 hari sebelum saya balik ke Bandung, adalah hari pertama mentoring tahunan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Banyuwangi di Bandung (KPMB Bandung) ke SMA2 yang ada di Banyuwangi. well, kata adik2 angkatan 2012 selaku panitia acara, agenda hari ini adalah ke SMAN 1 Genteng dan SMAN 1 Giri.

singkat cerita, kami ke SMAN 1 Genteng. kami kira jam 8 sudah mulai, karena jadwal presentasi untuk ITB pukul 8-10 pagi, lalu dilanjutkan oleh teman2 dari UI, mungkin dari jam 10-12 siang. ternyata ada kemoloran, karena siswa kelas 12 sedang ada urusan di BP. oke, yasudah, mau bagaimana lagi? kamipun menunggu. sudah hampir setengah 10 dan kelas 12 masih belum berkumpul untuk mengikuti acara presentasi kami. di sisi lain, kami pukul 11 siang sudah ada jadwal di SMAN 1 Giri. forum memutuskan untuk dibagi beberapa tim. satu tim tetap di Genteng, satu tim ke Giri, satu lagi ngurus administrasi ke SMA2 yang belum fix jadwalnya.

jadi cerita dari SMAN 1 Genteng, tidak ada. karena saya ikut tim yang ke SMAN 1 Giri. sayang sekali. 😦

di SMAN 1 Giri…

beda jauh dengan di Genteng tadi. di sini kami langsung dipersilahkan masuk ruang2 kelas dari sekitar jam setengah 11 sampai jam 12 siang. mantep lah!

di kelas…

saya masuk kelas IPS. seperti yang saya duga sebelumnya, saya pasti dapet banyak cerita di sini. hehe. ternyata benar, awal saya masuk, anak2 masih sangat ramai, dan tidak teratur duduknya. maaf saya nyebutnya anak2 karena masih rada kaya anak2 sihhehe. saya diamkan sebentar sampai mereka tahu kalau ada saya di situ. tapi gagal. anak2 tidak bisa tenang ternyata. hmmh.

langsung saja saya buka. perkenalan bla-bla-bla. pertama muka saya rada serem. penginnya sih biar anak2 takut, tapi gagal. saya gak bisa muka serem rupanya. wkwk. lalu saya awali dengan pertanyaan. “siapa di antara kalian yang mau kuliah?”

“yo kabeh gelem, mas…(baca : ya mau semua, mas…)”, jawab anak2 spontan.

oke, bagus. pikir saya. “penginnya kuliah ke mana?”, tanya saya lagi.

“malang mas! jember! dadi TNI! guru ngaji! pramugari! ke Amerika! suuuiiiit… dhuarr!”, jawab anak2 sahut2an. gatau nih, seperti apa saya harus mengumpamakan. sudah seperti orang perang. gawat. satu sisi ada yang berkata jujur, yang lain sepertinya hanya bercanda  dan main2. singkat cerita, sepertinya sudah tidak mungkin saya teruskan bicara kalau kondisinya seperti ini. akhirnya saya putuskan untuk menanyai mereka secara personal.

“em.. mbak yang di sana, mau masuk mana?” tanya saya ke salah satu siswa yang saya tunjuk secara random.

“siapa mas? saya? mau ke malang mas”, jawabnya.

“mau ambil jurusan apa?”, saya kembali bertanya.

“penginnya manajemen”, jawabnya. sepertinya sudah mantap.

saya tanya lagi yang lain. dan hasilnya lumayan, dari sini saya mendapat respon yang baik. meskipun anak2 yang gak saya tanya tetap rame, tapi okelah. nanti juga mereka saya tanya. sama saja. hehe.

dari pendekatan personal seperti ini, ternyata lebih mudah menangani anak2 yang bandelnya minta ampun -kalau rame2- ini. jujur, pas saya tanya secara personal, mereka seakan menjelma menjadi orang baik. gak teriak2 gak jelas kaya tadi. jawabnya baik2, jadi berani nanya, curhatpun ada, dan lain-lain. yang pasti terasa lebih dekat dan lebih mengena ke mereka kalau begini. saya merasa sangat terbantu ketika teman saya Damai dan Ajeng masuk ke kelas saya. sebelumnya mereka masuk ke kelas IPS yang lain, mungkin putus asa, lalu mereka keluar dan masuk ke kelas saya. karena sekarang sudah bertambah sumber daya manusianya, jadi kami bisa membentuk forum2 kecil dengan anak2. yah meskipun gak forum2 amat, tapi lumayan bisa mewadahi mereka yang benar2 butuh  cerita dan informasi dari kami.

saya mendapat banyak pelajaran dari sini. saya mesti belajar lagi tentang sabar, sabar menahan emosi, sabar dalam menyampaikan motivasi, sabar dalam menerima tanggapan yang negatif, dan sabar-sabar yang lain. saya juga belajar bagaimana memahami isi hati dan pikiran orang. beberapa dari mereka curhat dan benar2 ingin minta solusi. saya jadinya kurang siap tuh. yang pasti belajar public speaking. bagaimana agar pikiran anak2 dan pikiran kita itu nyambung. bagaimana agar keinginan kita benar2 tersampaikan. dan itu bagi saya tidak mudah. semoga saya bisa belajar meningkatkan kemampuan public speaking saya dari sini.

terakhir, saran saya untuk kawan2 KPMBB yang lain. jangan emosi dulu kalau kelasnya tidak kondusif. boleh emosi tapi jangan sampai keluar kelas. menurut saya itu seakan2 kita yang kurang niat menyampaikan motivasi kepada mereka. cobalah dengan pendekatan personal. semoga cara ini bisa lebih efektif daripada terus berbicara di depan kelas, tapi tidak ada yang memperhatikan. karena terkadang nilai2 baik itu masuk bukan karena kerasnya ucapan, tapi karena kelembutan hati kita dalam memotivasi mereka.

wallaahu a’lam. semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita di mentoring2 selanjutnya. 🙂 tetap berjuang guys!

jadwal besok di SMAN 2 Genteng dan SMAN 1 Glagah, SMA saya. yee… semoga cerita besok lebih seru. ^^

Kisah Mas Yudi

Senin sore 19/11, tepatnya setelah technical meeting antara para peserta training entrepreneur dan mbak Una, saya mengobrol dengan mas Yudi. Meskipun baru 2 bulanan usahanya berjalan, tapi saya kira perjuangan beliau cukup keren, and it’s inspiring me to be stronger. Maka dari itu saya ingin share kisah beliau agar kawan2 juga terisnpirasi. 🙂 Well, simak kisah di bawah ini.

Selayang Pandang

Tentang mas Yudi. Beliau adalah orang yang biasa2 saja, tidak neko-neko. Beliau adalah keturunan dari seorang ayah yang berasal dari Toraja (Sulawesi) dan ibu yang berasal dari Kediri (Jawa Timur), tapi beliau lebih lama hidup di Toraja. Itulah mengapa ketika saya tanya “berarti bisa bahasa Jawa, mas?”, beliau jawab “mm.. ngerti sih”. Sekarang beliau berusia 30 tahun, tinggal di Bandung dengan istri dan anaknya, dan beliau adalah owner dari rumah makan “Ayam Goreng Kalasan Mbak Lia”. Pas ngobrol, beliau selalu memanggil kami dengan kata “mas” meskipun notabene beliau yang lebih tua. Mungkin ini salah satu pernghormatan beliau pada lawan bicaranya.

Ayam Goreng Kalasan. What is it?

Ayam goreng kalasan ialah ayam yang digoreng dengan parutan kelapa. Rasanya kurang lebih rada2 manis gitu katanya. Sambelnya, beliau ambil dari resep khas jawa timur. Beliau bilang, sambel bawang. “sambel bawang itu yang kaya gimana mas?” tanya saya. “cabe, bawang putih, disiram pake minyak goreng panas”, simpel.

Lika-liku Hidup

Beliau dulunya adalah pekerja kantoran 9 to 5 (kerja dari jam 9 sampai jam 5 sore) dengan gaji sekian (sebut saja X). awalnya sebelum memiliki anak, gaji X ini cukup untuk mas Yudi dan istri. Namun semua berubah setelah beliau memiliki anak. Dari sinilah perjuangan mas Yudi dimulai.

Untuk menghidupi anak dan istrinya ternyata gaji X yang didapatkannya dari kantor tidak cukup. Hingga beliau harus pinjam dari sana-sini untuk menutup kekurangan. “saya tuh gaji sekian (X) mas, untuk makan anak sekian (Y) mas, tapi utang saya sekian (Z) mas”, kata beliau saat bercerita pada kami. X, Y, Z, adalah ekspresi tangan beliau saat menunjukkan jumlah. Jumlah X < Y < Z. jadi intinya gaji saja tidak cukup untuk memberi makan anak dan istri, apalagi mambayar utang. “sejak saat itu bingung saya mas, harus bagaimana…”

Karena mas Yudi dan istrinya passionnya kuliner (saya lihat begitu), mereka akhirnya memutuskan untuk mencari penghasilan lain selain dari kantor. Dan keputusan itu ialah berjualan ayam goreng kalasan.

Bersama sang istri, beliau membuat ayam goreng kalasan. Menjualnya bagaimana? Karena beliau belum memiliki warung/kios sendiri, jadi beliau menitipkannya pada warung teman. Beliau bilang pada temannya, “nih, saya titip ayam saya, jualin, terserah mau di mark up jadi berapa, dari saya Rp5000,00.”

Begitulah. Laku satu, dua, tiga… besoknya begitu lagi, empat, lima… kadang sepi, kadang laris. Keuntungan dari berjualan ayam goreng kalasan ini ternyata masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan membayar utang. Padahal waktu beliau telah terporsir untuk bekerja kantor dan memasak ayam goreng. “jadi tambah bingung saya mas, waduh..”

Satu lagi yang membuat beliau tambah bingung adalah… semenjak berjualan ayam goreng ini beliau sering dimarahi atasan karena sering telat masuk kantor. Maklum, mungkin beliau capek, mungkin macet pas nganterin ayam goreng, mungkin ketiduran, dan lain-lain. Akhirnya lama-lama beliau semakin tidak enak sama atasannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Keputusan yang Berat

Tidak gampang mengambil keputusan sebesar itu. Tapi karena mungkin sudah pilihan beliau dan istrinya serta tekad untuk memulai perjuangan baru sudah bulat, hal ini bisa saja terjadi. Alhasil, hidup beliau bisa dikatakan semakin sengsara. Penghasilan berkurang, tapi utang semakin bertambah. Sedih sekali. Mungkin, inilah resiko dari memilih, right? Baik-buruknyaharus diterima dengan lapang dada.

ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

Yang membuat saya kagum adalah beliau tidak menyerah. Malah semakin kreatif. “di Pasteur ada juga Ayam Goreng Kalasan mbak Eli, ramenya gak ketulungan, sampe antri orang-orangnya, saya jadi penasaran tuh sama resep rahasianya”, kata beliau berapi2. “akhirnya, karena penasaran, saya paksa untuk makan di sana rutin sama istri saya. yaah, seminggu dua kali lah… lumayan buat meneliti resep, kebetulan lidah saya sama istri saya lumayan tajem…” lanjut beliau. “jadi, tiap makan di sana, saya tebak2 tuh, resepnya, pake ini gak ya? Pake itu gak ya? Dan saya coba2 bikin di rumah. Kalo rasanya masih belum sama, saya balik lagi. Makan lagi di sana…”

Seminggu berlalu, dua minggu… tiga minggu… sebulan… beliau belum nemu juga resepnya. Lama2 beliau semakin penasaran. Kebetulan beliau sudah agak “ngebro” (baca : akrab) dengan juru masak (sebut saja koki) yang ada di warung mbak Eli, saking seringnya makan di sana. Dan kebetulan juga mbak Elinya sedang ke luar kota katanya. Iseng nih beliau nanya ke si koki, “mas, init uh resepnya apa sih, kok bisa enak?”

Dengan tidak sadar dan memang Allah telah mengcreate ceritanya seperti ini, si koki membocorkan resep rahasianya kepada mas Yudi. Bla-bla-bla… dengan tanpa dosa si koki terus bercerita tentang resep dan cara masaknya. “ooo.. berarti ga pake bahan ini ya, mas?” tanya mas Yudi sesekali. “ga pake, mas. Harusnya pakenya ini..” jawab si koki. Dan seterusnya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana situasi obrolannya. Tapi saya pikir, obrolan mas Yudi dan si koki ini sepertinya lebih seru dibandingkan obrolan sekelompok mahasiswa tentang suatu inovasi teknologi. Haha 😀

Semakin cerah saja strategi mas Yudi untuk meniru ayam goreng kalasan mbak Eli. Setelah puas mengobrol dengan si koki, dicobanya resep yang beliau dapatkan bersama istrinya di rumah. And actually, this is it! Ketemu resepnya! Rasanya pas sama persis dengan ayam goreng kalasan yang dijual di sana. Beliau semakin percaya diri, semakin tidak sabar untuk memperbesar produksi ayamnya. Dengan asumsi bahwa lidah orang bandung telah cocok dengan rasa ayam goreng kalasan mbak Eli, dan dengan harapan bahwa “edisi” yang ini akan lebih laris dari sebelumnya.

Tapi tunggu! Kopi-paste namanya kalau begini. “saya ga mau copy-paste, mas. Jadi PR saya, kalo ada  pertanyaan : ‘bedanya sama ayam goreng mbak Eli apa?’ nah, itu musti bisa dijawab, mas.” Beliau berpikir… sampai akhirnya nemu juga suatu ide. “Sekarang sudah ada bedanya, mas. Ayam goreng kalasan saya, itu ada taburannya di akhir2, sebelum disajikan ke pelanggan, di ayamnya mbak Eli gak ada… itu aja sebenernya, mas..” kata mas Yudi. Haha, saya pikir, bener juga. Gini2, mas Yudi ini ternyata mengaplikasikan teori ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi).

Cobaan dan Godaan

Perjalanan bisnis baru mas Yudi ini masih belum mulus. Ada saja cobaan yang beliau hadapi. Pernah suatu saat ketika rumah makan beliau sepi, beliau tidak memiliki cukup uang untuk membayar cicilannya ke bank. Rumah makannya didatangi orang-orang bank, bahkan hingga adu mulut. “kan sudah saya bilang, warung saya sedang sepi, jadi masih belum cukup uangnya. Kalau pas rame, saya selalu tepat waktu, kan?” itu kata2 yang saya ingat ketika beliau sedang berusaha mempertahankan argumennya.

Ada lagi cobaan yang beliau hadapi ketika karyawannya (baca : koki) keluar dari pekerjaannya. Sudah dua kali seperti itu. Ketika beliau bertanya pada karyawannya, ternyata mereka pergi gara2 rumah makannya terlalu sepi, sehingga mereka jenuh. Istilah sekarang “gabut” atau gaji buta. Sampai2 beliau mencari orang2 terdekatnya seperti tetangga untuk menggantikan karyawannya yang pergi. Untunglah beliau sangat sabar.

Selain cobaan, ada pula godaan. Ada suatu godaan yang rada menggelitik menurut saya. Suatu saat ada satu orang yang sering sekali makan di tempatnya. Mirip dengan apa yang beliau lakukan dahulu, ketika beliau sering makan di Ayam Goreng Kalasan mbak Eli untuk mencari resep rahasianya. Ya, benar, pelanggan ini lama2 tanya-tanya juga tentang resep Ayam goreng kalasan buatan mas Yudi. Bedanya, dia bertanya pada mas Yudi langsung, bukan pada si koki. “saya takut dia mau nyuri resep saya juga…” begitu kata mas Yudi. “tapi saya gak pelit, mas. Saya bagi aja resepnya, urusan nanti dia yang lebih laku, ya urusan dia sama Tuhan…hehe…” lanjut beliau.

Ternyata benar, menurut cerita beliau, pelanggan tadi sempat berjualan ayam kalasan juga, tapi tidak lama, setelah itu beralih pada bisnis yang lain. “berarti bener, mas, tiap orang ada bagiannya masing-masing…” kata beliau tenang. Sepertinya hati beliau lega sekarang.

It’s Time to Learn more

Beruntung beliau bertemu dengan pak Muslim, yang membawa beliau masuk training batch-1 di LPiK ini. beliau sangat bersemangat karena beliau yakin ini akan menambah pengetahuannya tentang bisnis, dan tentu akan menjadi bekal untuk perjuangan selanjutnya. Tetap semangat mas Yudi!!! Semoga bisnis sampean lancar. Rumah makannya rame, dan bisa buka banyak cabang suatu saat nanti. J

“Oya, kapan2 saya main ke tempat mas Yudi ya… tapi gratis… hehe”, pernah saya nyeletuk seperti itu di tengah2 obrolan (nada bercanda, sih. Tapi hati serius, haha). “oo… ya silakan, mas, silakan..”, jawab mas Yudi mantap. “sipp lah…”

semoga bermanfaat, kawan. 😀 (hbb)

11 Renungan Ketika Mendapati Musibah

This article reblogged from www.rumaysho.com

Pernahkah kawan2 merasa ditimpa musibah atau cobaan? Kehilangan harta benda, orang yang amat kita sayangi, atau bahkan kehilangan jabatan? Pernahkah, ketika musibah atau cobaan itu datang, kita hanya berkeluh kesah, seakan tidak menerima kenyataan, dan sangat menginginkan sesuatu yang telah hilang itu kembali?

Ketahuilah kawan, bahwa tidak ada gunanya kita berkeluh kesah. Musibah atau cobaan yang datang kepada kita bukan untuk diratapi, tapi direnungkan. Bukankah Allah memberikan musibah atau cobaan hanya kepada orang-orang yang Ia percaya akan mampu mengatasinya?

“Tidaklah Allah membebani seseorang di luar kemampuannya, ” (QS. Al-Baqarah : 286)

dan bukankah Allah menguji seseorang, hanya untuk meninggikan derajatnya?

Hal-hal berikut insya Allah bisa menjadi bahan renungan ketika kita mendapati musibah atau cobaan. Dan merenungkannya, musibah akan terobati, kita akan sabar dan mengharap pahala dari sisi Allah.

  1. Renungkanlah bahwa manusia dan hartanya semuanya milik Allah, semuanya hanya titipan di sisi kita.
  2. Setiap orang akan kembali pada Allah dan akan meninggalkan dunia.
  3. Allah akan memberi yang semisal dan yang lebih baik bagi yang telah hilang.
  4. Ingatlah bahwa mengeluh dan menggerutu hanya menambah derita, bukan menghilangkan musibah.
  5. Jika mau bersabar dan yakin semuanya kembali pada Allah, maka itu lebih besar pahalanya dibanding dengan tidak sabar.
  6. Berkeluh kesah hanya membuat musuh kita senang dan membuat Allah murka.
  7. Sabar dan mengharap pahala itu lebih besar ganjarannya daripada mengharap yang telah hilang itu kembali.
  8. Jika kita ridho terhadap musibah, Allah pun senang dengan sikap kita. Sebaliknya jika kita benci, Allah pun akan murka.
  9. Ketahuilah bahwa Allah yang menurunkan musibah Maha Hakim dengan hikmah yang ia beri, Penuh Rahmat dengan kasih sayang yang ia beri. Allah tidaklah menimpakan cobaan untuk membinasakan hamba, bahkan untuk menguji seberapa kuat imannya.
  10. Musibah itu datang untuk menhindarkan diri kita dari penyakit jelek yaitu ujub dan sombong.
  11. Ingatlah bahwa mending merasakan pahit di dunia namun dapat merasakan lezatnya kehidupan akhirat.

Kesebelas renungan ini diringkas dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad, penjelasan tentang petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengobati musibah. Semoga Allah memberikan kita kesabaran ketika menghadapi setiap musibah atau cobaan. Aamiin. 🙂

— oOo —

Like and share this article! Semoga semakin banyak saudara/i kita yang berbuat kebaikan karena dakwah kita. 🙂

Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. (HR Muslim)

“Ngilmu”pun Ada Syaratnya

Bukan cuma sholat yang ada syaratnya, -wudhu’. atau masuk jurusan mikrobiologi yang ga boleh buta warna. “ngilmu” juga ada syaratnya.

ngilmu? ilmu kebal bacok? tahan peluru? bukan. di sini hanya saya pake buat istilah, bahasa halusnya yakni “menuntut ilmu”. menuntut ilmu luas maknanya. banyak cabang ilmu yang bisa kita pelajari. tidak terbatas pada ilmu agama saja. ilmu fisika, kimia, proses transfer massa, perpindahan kalor, semua itu juga termasuk ilmu, suatu bukti kebesaran Allah swt.

al-ilmu nuurun, wal-jahlu tzulumaatun.. ”

ilmu itu adalah cahaya, dan kebodohan itu adalah kegelapan.. “

untuk mempelajari ilmu2 itu, ada syarat-syaratnya. sebagaimana yang ada di kitab ta’liimul-muta’allim, bahwa ada 6 komponen yang harus dipenuhi oleh para penuntut ilmu. *jaman sekarang istilahnya siswa, santri, mahasiswa, mentee, bahkan dosen, ilmuwan, juga para penuntut ilmu

1. Dzakiyyun atau cerdas

saya kira semua orang yang bisa buka internet seperti teman2, tergolong cerdas lah ya, *hehe. alhamdulillah, kan. kita dikaruniai akal yang bisa membedakan baik dan buruk, bisa menerima kuliah dengan baik, dan memiliki pergaulan sosial yang baik.

2. Hirsun atau kesungguhan

menuntut ilmu itu tidak bisa main2. simpelnya, kita belajar dari kata pepatah: “rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh”. untuk semua hal. mahasiswa yang rajin, insya Allah bisa expert, tapi yang malas-malasan? yaa.. standar paling.

3. Tsamanun atau biaya

siapa hayo yang kuliah tanpa biaya? anak beasiswa? tidak. belajar tu pasti butuh biaya. oke, bisa jadi kalo dapet beasiswa kuliah ga bayar, tapi pulpennya, buku, tas, dan sepatu misalnya? pasti harus beli sendiri.

4. Shobrun atau sabar

memang kudu sabar ya. banyak sekali cobaan dalam menuntut ilmu, malas, main game, itu mah biasa. Lha kalo tiba2 ada masalah di keluarga tercinta, konflik sosial sama temen? itu baru luar biasa. jadi harus sabar, tetap berada di jalan yang benar.

5. Irhaashu Ustaadzin atau bimbingan guru

di sini guru bukan untuk diambil ilmu (pengetahuan) nya saja. tapi lebih dari itu. kalo cuma ilmu pengetahuan, boleh jadi kita lebih pandai dari guru kita. tapi masalah ilmu kehidupan, pengalamanlah yang berbicara. ya, sang guru pasti telah lebih banyak merasakan asam-garam kehidupan dibandingkan kita, dan kita bisa belajar dari pengalamannya.

6. Thuulu zamaanin atau waktu yang panjang

untuk menguasai suatu ilmu tidak bisa instan, tak seinstan kalo pesen nasi-ayam di KFC terus beberapa menit kemudian jadi. kalo ngilmunya instan, ngilang ilmunya juga instan. bayangin orang yang belajarnya cuman pas mau UTS. oke, pas UTS bisa, dapet bagus, tapi beberapa hari kemudian, wassalam. udah ga tau ilmu yang kemarin ke mana.

semoga bisa menjadi nasehat untuk kita semua khususnya untuk diri saya sendiri, dan kita semua bisa menjadi penuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat ilmunya. aamiin. wallaahu a’lam. (hbb)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"