Posts Tagged ‘ rasulullah ’

target di bulan maulid

Saya sangat bersyukur, malam tahun baru kemarin Allah menggerakkan hati saya untuk datang ke majelis maulid dan dzikir di ponpes alfath, asuhan kyai muda KH. Khoirul Anwar. Beliau adalah salah satu murid Alhabib Zain bin Sumaith, salah satu ulama hijaz yg saya kagumi keistiqomahan dan ilmunya. Dalam acara itu juga hadir KH. Mahdi Akbar dari Kalimantan. Beliau adalah kawan dekat KH. Khoirul anwar sekaligus senior ketika nyantri dulu. Beliau yang akan membawakan tausyiah pada acara ini.
Singkat cerita, acara yg dihadiri oleh ratusan jamaah ini berlangsung sangat khidmat, mulai dari pembacaan Ratib Alhaddad, maulid Simthuddurar, sampai berakhirnya tausyiah.

Salah satu poin tausyiah yang cukup mengena adalah ketika beliau menyampaikan bahwa di bulan Maulid (Rabi’ul-Awwal) pun kita perlu punya target sebagaimana target yang kita pasang di awal bulan Ramadhan. Kalau di bulan Ramadhan kita biasa menargetkan khatam Al-Qur’an sekian kali, atau bersedekah sekian, menghafal sekian, full tarawih, dll, maka di bulan Maulid jangan sampai kalah. Apa tutur beliau? “Maka di bulan Maulid yang mulia ini, hendaknya kita targetkan di bulan ini kita bisa bermimpi bertemu Baginda Nabi saw.” MaasyaaAllaah, bergetar hati saya, begitu lalainya kita selama ini tentang arti kerinduan kepada Nabi kita Muhammad saw. “Maka hendaknya kita perbanyak shalawat kepada beliau, kita hidupkan sunnah-sunnah beliau, kita tumbuhkan di dalam hati anak2 kita tentang kerinduan dan cinta kepada sosok agung Nabi Muhammad saw.” Begitu pentingnya rasa cinta dan rindu sehingga kata beliau, jangan sampai kita melakukan amalan-amalan sunnah tapi sama sekali tidak ada kerinduan untuk bertemu dengan Rasul saw. Pernahkah kita dengar kisah Sayyidina ‘Umar, yg oleh Nabi dikatakan belum sempurna imannya sebelum cintanya kepada Nabi lebih besar daripada keluarga yg dimilikinya bahkan dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Sudahkah tumbuh rasa cinta dan rindu kepada Nabi kita saw.? Sudahkah tercermin akhlak beliau di dalam perilaku kita? Perilaku anak-anak kita? Berapa banyak sunnah yang kita hidupkan?
Allaahu Akbar, sebuah nasihat yang sangat berharga bagi saya pada khususnya dan bagi kawan2 semua. Mudah-mudahan Allah memberi kita taufik agar kita semakin dekat dengan RasulNya sehingga kita mendapatkan syafaatul-‘uzhma nanti di hari Kiamat. Aamiin.
Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat.

Advertisements

Tentang Kemiskinan

Hari ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat bagus tentang kemiskinan. ya, suatu kata yang terdiri dari kata dasar “miskin” dan ibuhan “ke-an”. Hehe.

Orang yang sadar dan waras pasti tidak menginginkan kemiskinan menimpa dirinya, meskipun pada dasarnya miskin-kaya itu datangnya dari Allah, sudah dicatat di lauhun-mahfuzh sejak jaman azali. artinya, rizki makhluk itu sudah digariskan, tidak akan bertambah dengan ambisi kita (mengejar rizki) dan tidak pula berkurang dengan sikap tenang kita (tidak tergesa-gesa) (baca syair Imam Syafi’i pada postingan saya sebelumnya). Lantas, bagaimana dengan Rasulullah SAW yang justru berdoa meminta dihidupkan dalam keadaan miskin dan dimatikan dalam keadaan yang sama? Hayooo… Siapa yang pernah mengamalkan doa ini? Saya yakin tidak ada, kecuali orang-orang khusus yang sudah jarang kita temui di jaman sekarang. Hehe.

Seakan ada makna tersembunyi di balik kemiskinan. Dan ternyata memang iya. Kita kupas satu2 ya, dalil-dalilnya kawan2 bisa cari sendiri lah.

  • Orang miskin masuk surganya duluan dibandingkan orang kaya, dalam suatu riwayat, jarak waktunya 500 tahun. Bisa kita bayangkan betapa lamanya. Ya, orang miskin hisabnya akan lebih cepat karena tidak banyak pertanyaan tentang harta yang dimilikinya, berbeda dengan si kaya yang diinterogasi ke mana saja hartanya ia salurkan.
  • Selain berdoa ingin miskin, Rasulullah SAW (dalam doanya) juga ingin dikumpulkan bersama orang-orang miskin di akhirat kelak. Tentunya orang miskin yang beriman yaa…
  • Orang miskin tuh spesial. Rasul sendiri yang “bilang”, orang yang menyantuni janda dan orang miskin sama halnya seperti orang yang berjihad fi sabilillah dan tidak berhenti puasa (di siang hari) dan sholat malam. Rasul juga “bilang”, barangsiapa yang meringankan urusan orang miskin, Allah akan meringankan urusan kita di dunia maupun akhirat. MaasyaaAllaah. Sudah dimuliakan oleh Allah, membantu/menyantuni mereka juga mendatangkan kemuliaan untuk kita juga.
  • Meskipun kemiskinan itu dekat pula dengan kekufuran (ingat fenomena orang-orang yang mengorbankan akidahnya hanya karena ind*mie), ternyata bukan “kemiskinan” ini yang dikhawatirkan Rasul dapat merusak agama dan membinasakan umat. Rasul lebih khawatir umatnya akan berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melupakan perkara akhirat. Semoga kita selamat dari itu semua.
  • Orang miskin juga bisa bersedekah kok. Dari mana? Sebenarnya tidak cuma orang miskin, tapi juga semuanya. Banyak sekali sabda Rasul yang menerangkan bahwa amal-amal baik itu adalah sedekah, tasbih adalah sedekah, tahmid juga sedekah, begitu pula tahlil, takbir, bahkan senyum bila dapat menyenangkan saudara kita, maka itu adalah amal shalih, itupun bisa menjadi sedekah. Subhaanallaah. 🙂

Yang terpenting dari itu semua adalah, jangan sampai kita merasa kaya-miskin itu adalah penentu derajat kita. Sekali kali tidak, kawan! Tidak perlu kita merasa rendah karena miskin, tidak perlu juga bangga karena kaya. Karena semua itu adalah karunia Allah kepada mereka yang dikehendakinya. Kelak, orang-orang miskin akan dimintai tanggungjawab dengan kemiskinannya, apalagi mereka yang kaya. Ketahuilah, kawan, bahwa derajat manusia itu hakikatnya yang ada pada sisi Allah SWT. Hanya orang-orang yang bertakwa yang dijanjikan akan diberikan derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Satu kalimat (atau mungkin beberapa) lagi, miskin-kaya itu adalah sunnatullah, karena pada dasarnya semua itu diciptakan berpasang-pasangan. Miskin-kaya, jelek-bagus, cewek-cowok, kecil-besar, dll. Kalau boleh dikatakan (kasarnya), kemiskinan (harta) itu tidak bisa diberantas, percuma, miskin-kaya akan tetap balance. Yang perlu diberantas adalah “mental”nya. Banyak kan, kita temui orang yang dhohirnya kaya, tapi hakikatnya miskin (nyatanya, masih korupsi, nyolong duit negara), banyak pula orang yang dhohirnya miskin tapi hatinya kaya (tidak meminta-minta, banyak syukur dengan nikmat seadanya).

Ya Allaah, betapa banyak saudara-saudara kami di luar sana yang masih susah makan. Betapa celakanya kami yang berkecukupan ini tidak mau bersyukur kepada-Mu. (sumber: sp.beritasatu.com)

Terakhir (sekaligus penutup) mari berdoa semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang senantiasa bersyukur, tak peduli seberapa banyak nikmat dhohir yang Allah berikan (padahal hakikatnya tidak dapat terhitung), dan menjadikan kita cinta kepada orang-orang miskin sebagaimana Rasul SAW mencintai mereka. Aamiiin.

“Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya…”

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberikan kepadanya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka…”

Wallaahu a’lam.

**

Ketika Perut Rasulullah SAW Berbunyi

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallama Menjadi imam sholat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi gemercik menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat, ”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?” Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

Mendengar jawaban ini Umar bin khatab melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…”

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya,Rasulullah pun mengangkat jubahnya.

Para sahabat amat terkejut. Terlihatlah perut Manusia yang dimuliakan Allah ini, Dan Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.

Umar memberanikan diri berkata, ”Ya Rasulullah! Adakah bila engkau menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam?”

Rasulullah menjawab dengan lembut,

”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini. TETAPI APAKAH YANG AKAN AKU JAWAB DIHADAPAN ALLAH NANTI,APABILA AKU SEBAGAI PEMIMPIN, MENJADI BEBAN BAGI UMMATNYA..??”

Para sahabat yang mendengar hanya tertegun menderaikan air mata. Rasulullah melanjutkan, ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

SEBARKAN BERITA INI,
Betapa cintanya Rasulullah kepada umatnya.

Semoga kelak di akhirat nanti kita mendapatkan Syafa’atul Udzmah di Yaumil Qiyamah nanti..dan kita di kukuhkan keimanan serta keIslaman kita agar terus meneladani dan mencintai beliau.
اللهم اجعلنا من احباب المصطفى
يارب صل علي محمد وافتح من الخير كل مغلق
اللهم صل وسلم وبارك على الحبيب المصطفى وعلى آله وصحبه اجمعين

AAMIIN YA RABBAL ‘AALAMIIN…..

~  Habib Quraish Baharun ~

 

sumber:
http://www.majelisrasulullah.org/ketika-perut-rasulullah-berbunyi/

Moderat

al-Habib 'Umar bin Hafizh rahimahullahu ta'ala

al-Habib ‘Umar bin Hafizh hafizhohullahu ta’ala

Ad-Da’i ilallaah Al-Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, atau lebih dikenal sebagai Habib ‘Umar bin Hafizh, menerangkan tentang pengertian “moderat” dalam perspektif islam. Dalam kitabnya yang berjudul “Al-Wasathiyah fil-Islam” beliau menuliskan:

“Moderat bukan sekadar bersikap lunak atau sekadar bersikap proporsional dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain. Pengertian moderat lebih luas dari itu. Moderatisme harus ditempatkan sebagai sebuah pemahaman yang benar terhadap hakikat syari’at dalam setiap kedudukannya. Ia merupakan hakikat dari petunjuk-petunjuk Ilahiyah yang telah diterima Rasulullah SAW dari Tuhannya, yang kemudian diamanatkannya untuk disampaikan kepada segenap manusia.

Tidaklah kemaslahatan itu terlepas dari risalah syari’at yang dibawa Rasulullah SAW, baik kemaslahatan di Barat maupun di Timur, bagi orang Arab maupun non-Arab, Eropa, Australia, Amerika, ataupun Afrika. Syari’at Rasulullah SAW memuat semua apa yang dibutuhkan oleh semua orang dari mereka, tanpa kecuali, dengan segala pola pikir mereka yang berbeda-beda.

Dengan demikian, keteguhan seseorang terhadap agamanya, kedalamannya dalam memahami agamanya, serta upayanya untuk mengamalkan ajaran-ajaran agamanya, merupakan gambaran dari hakikat kemoderatan dan perilaku beragama yang lurus. Pemahaman yang buruk dan ekstrem berada di luar jalan yang lurus dan moderat, demikian pula sikap lalai dan ceroboh, tidak peduli dengan hukum-hukum Tuhan, Yang Mahabenar. Sehingga, sikap moderat harus terlepas dari dua kutub yang sama-sama tercela, yaitu sikap ekstrem dan keterlaluan atau sikap lalai dan ceroboh. Bila kemoderatan hilang, hilang pulalah pemahaman yang benar terhadap hakikat-hakikat agama.”

***

Teladan Sempurna

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya  jasad manusia termulia :) meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim 'alaih.

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya jasad manusia termulia 🙂 meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim ‘alaih.

iseng buka twiter, tiba-tiba nemu kultwitan bagus, yaitu kultwit dari KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa gusmus (akun @gusmusgusmu <– monggo difollow). langsung saja, monggo disimak. 🙂

***

BismiLlãhirRahmãnirRahïm…

Pedoman umat Islam itu, ‘secara teori’ ialah Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. ‘Secara praktik’: PERILAKU Pemimpin Agungnya itu. Kenapa?

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu2 Qur’an dan melaksanakannya. Nabi Muhammadlah orang pertama yang mempraktikkan Qur’an.

Sayyidatina ‘Aisyah ra menyebut “Kãna khuluquhu ‘l-Qur’an;”, Perilaku Rasulullah SAW adalah Qur’an. Istilahnya, ‘Qur’an berjalan’.

Tak peduli keturunanmu. Tak peduli kebangsaanmu. Tak peduli ilmumu. Tak perduli kedudukanmu. Tak peduli fasihmu. Tak peduli citramu..

Bila kelakuanmu bertentangan dengan perilaku Rasulullah SAW ~kalau pun engkau mengaku muslim~ bukan saja engkau muslim yang buruk;

lebih dari itu engkau telah mencemarkan agama dan nabimu. FattaqiLlãh! Takwalah kepada Allah!

Maka teruslah berusaha memahami Qur’an dan jangan berhenti mempelajari SIERAH dan SYAMAIL, riwayat hidup dan perilaku, nabimu.

Terutama bila engkau terlanjur dianggap ‘pemimpin Islam’ oleh masyarakat. Kelakuanmu tdk hanya disimak, bahkan diikuti oleh banyak orang.

Pelajari dan berusahalah mengikuti sunnah Pemimpin Agungmu yang mulia budi pekertinya (Q. 68: 4), yang lemah lembut, tidak kasar dan kejam (Q. 3: 159), yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan welas asih. (Q. 9: 128).

Sekian. Wallahu a’lam. AstaghfiruLlãal ‘Azhïm filqauli bilã ‘amal. Wal’afwu minkum.

Mohon maaf, bila Anda merasa kunasihati. Sebenarnya ini aku sedang menasihati diriku sendiri; sebagaimana dlm sajakku “Nasihat Ramadan.”

***

alhamdulillaah. 🙂 semoga nasihat beliau ini bisa kita amalkan. yuk, kita jadikan Rasulullah saw  teladan utama dalam hidup kita. menjadi teladan dalam beragama, dalam hidup bermasyarakat, keluarga, dan berbangsa serta bernegara. semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengikuti jejak beliau saw. aamiiiin. semoga bermanfaat.

Cintanya Para Pecinta

cinta-rasulullah1

Kisah-kisah para sahabat seringkali mengingatkan saya akan makna Cinta. Cinta yang tulus dan hakiki, Cinta yang mana tidak akan sempurna iman kita sebelum ia kita persembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang akan membawa kita menuju ridho Allah subhanahu wa ta’ala dan syafa’at manusia termulia.

“Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari)

***

adalah sayyidina Abu Bakar ash-Shiqqiq ra., ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. kala itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di gua Tsur, beliau tertidur berbantalkan paha Abu Bakar ra.. Tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kaki Abu Bakar ra.. Abu Bakar ra. tentu merasa kesakitan, tapi beliau berusaha sekuat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak. Beliau khawatir orang tercintanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terbangun. maasyaaAllaah..

***

sahabat Zaid bin Datsima ra. sama sekali tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, ia disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. “Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.

“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.

***

begitupula sayyidina Umar bin Khatthab ra.. Suatu ketika beliau berkata, “Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku.” Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

“Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menukas, “Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu.” (HR Bukhari).

***

ketika salah seorang sahabat ra. bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Sahabat itu menjawab, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “InsyaAllah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”

***

Suatu hari seorang sahabat hadir dalam suatu majelis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”

Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril as. menyampaikan wahyu, “Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui.” (QS An-Nisa : 69-70)

***

maasyaaAllah.. begitu besar kecintaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kecintaan itu tertanam dalam kehidupan mereka. Cinta yang tak lekang oleh zaman, inilah sejatinya hakikat Cinta sehidup-semati. Cinta yang tulus di dunia, dan Cinta yang abadi di akhirat.

Sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya. semoga bulan maulid ini menjadi salah satu momentum bagi kita untuk lebih mengenal Nabi kita sayyidul-anbiyaa’ wal-mursaliin habiibunaa wa syaafi’unaa wa qudwatunaa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. wallaahul-musta’aan.

Untaian Mutiara

islamic-wallpaers-youthkorner-12

Alam bersinar-seminar bersuka ria, menyambut kelahiran Al-Musthafa Ahmad
riang gembira meliput penghuninya, sambung-menyambung tiada hentinya
Bergembiralah, wahai pengikut Al-Quran, burung-burung kemujuran kini berkicauan
bersuluhlah dengan sinar keindahan, mengungguli semua yang indah tiada bandingan
Kini wajiblah bersuka cita, dengan keberuntungan terus-menerus tiada habisnya
Manakala kita beroleh anugerah, padanya terpadu kebanggaan abadi
Bagi Tuhan segala puji, tiada bilangan mampu mencakupnya
atas penghormatan dilimpahkan-Nya bagi kita, dengan lahirnya Al-Musthafa Al-Hadi Muhammad
Ya Rasulullah, selamat datang, ahlan wa sahlan
Sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu
Ya Ilahi, ya Tuhan kami, semoga Kau berkenan memberi nikmat karunia-Mu
menyampaikan kami ke tujuan idaman, demi ketinggian derajat Rasul di sisi-Mu
Tunjukilah kami jalan yang ia tempuh, agar dengannya kami bahagia beroleh kebaikan melimpah
Rabbi, demi mulia kedudukannya di sisi-Mu, tempatkanlah kami di sebaik tempat di sisinya
Semoga shalawat Allah meliputi selalu rasul termulia, Muhammad
serta salam terus-menerus silih berganti setiap saat…
***************
Limpahkan, ya Allah
Semulia-mulia shalawat dan salam
Atas junjungan dan Nabi kami, Muhammad
Yang amat penyantun, amat penyayang…

Sumber: Maulid simthud-duror
Author: al-Habib al-Imam Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi

Hikmah dari Buah Limau

buah limau

buah limau

Kawan2 lebih suka memberi atau diberi sesuatu? Oke, ada sebagian yang lebih suka memberi dibandingkan diberi. Tapi bagaimana kita mau menolak jika kita diberi sesuatu oleh orang lain? Ya, kan? Ya.. mungkin yang dirasa kurang baik adalah meminta-minta. Yakni meminta-minta sesuatu yang sebenarnya kitapun bisa mendapatkannya tanpa meminta. Lantas, bagaimana sikap kita ketika menerima pemberian dari orang lain? Apakah kita lihat dulu apakah sesuatu itu bagus atau tidak? mahal atau tidak? kita sukai atau tidak? si pemberi ikhlas atau tidak? Haha, pasti macem-macem lah ya, tiap orang beda-beda. Baiklah, sekarang mari kita bandingkan dengan sikap junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menerima pemberian orang lain.

***

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Sungguh bagus buahnya. Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seulas demi seulas dengan tersenyum.

Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Para sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

“Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam sejak kali pertama saya merasakannya. Kiranya kalian ikut makan, saya takut ada di antara kalian yang akan mengernyitkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya takut hatinya akan tersinggung. Karena itulah saya habiskan semuanya.”

***

MasyaAllah.. sedemikian indah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Diceritakan, wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dengan hadiah buah limau yang masam itu. Sayangnya rencananya tidak berhasil berkat kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga kita dapat meneladani akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulai dari bagaimana menghargai perasaan sesama, murah senyum, hingga bertutur dengan cara yang paling baik dan hikmah. Wallahu a’lam bishshowab.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tulisan kecil nan ringkas ini semoga bisa menjadi nasihat untuk para pendakwah (da’i dan da’iyah), di manapun dan kapanpun.

Dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa ada 3 (tiga) sifat yang harus kita terapkan dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkar sulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah,

  1. Ilmu, yaitu hendaknya para da’i mengetahui (berilmu tentang) apa yang dia ajak kepadanya atau larang daripadanya. Boleh jadi ia mengajak kepada sesuatu yang disangka baik padahal itu buruk, atau melarang sesuatu yang sepatutnya tidak ia larang. Hal ini tidak layak terjadi. Oleh karena itu hendaknya ilmu lebih diutamakan daripada amal, termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Wara’, yaitu hendaknya berdakwah itu bukan ditujukan untuk mencari kedudukan atau kehormatan, menunjukkan kekuatan jasmani dan rohani, atau yang lainnya. Sifat wara’ yaitu kita beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. 
  3. Akhlak Mulia, ia merupakan kunci dari ketiga sifat ini. Tanpa akhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berkesan, sekalipun da’i adalah seorang yang berilmu dan wara’. Salah satu bentuk akhlak mulia ialah bersabar. Bersabar merupakan sifat yang sangat penting, di kala amar ma’ruf nahi munkar dibalas dengan celaan dan cacian. Terdapat sebuah ungkapan dari Ibnu Taimiyah dalam hal bersabar ketika ber-amar ma’ruf nahi munkar. Beliau mengatakan, “jika kamu tidak bersabar, kamu akan mendapatkan 2 hal : pertama, kemungkinan kamu akan berhenti dalam mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran, hal seperti ini sudah banyak terjadi; kedua, pelaku kemunkaran melakukan kemunkaran yang lebih buruk lagi daripada kemunkaran yang pernah kamu cegah. Na’udzu billah. 

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika suatu saat beliau menyaksikan ada seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki masjid Nabawi lalu kencing di salah satu bagian masjid. para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera melemparkannya keluar dari masjid. namun tidak demikian sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada para sahabat, “jangan, janganlah engkau menyekat kencingnya”. lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri badui tadi. beliau bersabda dengan penuh kelembutan,

“wahai orang badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat-red)“. melihat kelembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam badui tadi lantas berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur kencing tersebut. Beliau bersabda, “sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan”. –atau seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Masya-Allah, mulia sekali akhlak Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. saya yakin kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah ini. semoga kita diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam menuntut ilmu, meluruskan niat, dan memperbaiki akhlak. hanya Dia-lah yang patut kita mintai pertolongan.

“Ya Allah bimbing akhlak kami agar seperti akhlak Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.. aamiin..”


Disarikan dari tausyiah Al-Habib Ali Al-Jufri dengan tambahan secukupnya dari penulis.
Selengkapnya, dapat diakses di http://www.youtube.com/watch?v=tKP_ARA9-sY

Rahasia Al-Fatihah

Al-Fatihah | Ummul-Quran | Sab'ul-matsani

Al-Fatihah | Ummul-Quran | Sab’ul-matsani

Ada sebuah hadits yang cukup bagus tentang keutamaan surat Al-Fatihah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada salah seorang sahabat,

“Sungguh, aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Quran.” Sahabat bertanya, “Surat apa itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca, “Alhamdulillaahi robbil-‘aalamiin, ar-rohmaanir-rohiim .. sampai akhir surat.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan pula dalam surat Al-Hijr ayat 87,

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung.”

Yang dimaksud dengan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (sab’ul matsani) adalah surat Al-Fatihah. Dinamakan “al-matsani” karena seringnya dibaca berulang-ulang.

***

Kawan, apakah kita sudah mengenal baik surat ini? ini surat yang kita baca setiap hari lho, minimal 17 kali. Ya, kita baca pada setiap rakaat sholat wajib. Kalau kita sholat sunnah : dhuha, tahajjud, rawatib, witir, malah lebih dari 17 kali kita bacanya, bisa nyampe 40 kali. *keren ya.

Nah, tapi ngomong2, sudah tahukah kita arti dari tiap2 ayat surat Al-Fatihah? atau lebih dari itu, tahukah kita makna yang terkandung dalam tiap ayatnya? in syaaAllah dengan mengetahui arti dan maknanya, kita akan lebih khusyu’ dalam shalat kita. Bagaimana tidak, ketika membaca surat ini kita seakan-akan sedang berkomunikasi dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Nggak percaya? Oke, saya kasih sesuatu nih. Sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagian hamba-Ku apa yang ia minta.
Apabila hamba-Ku berkata, ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila hamba-Ku berkata, ‘Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila hamba-Ku berkata, ‘Yang Menguasai hari pembalasan.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuliakan-Ku,’ atau berfirman, ‘Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku.’ Apabila hamba-Ku berkata, ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.’ Allah berfirmanApabila hamba-Ku berkata, ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.’ Allah berfirman, ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta.'” (HR. Muslim)

Dengan mengetahui makna ini, in syaaAllah setiap membaca surat Al-Fatihah kita akan merasakan bahwa Allah memberi jawaban kepada kita. Adakah kemuliaan yang sepadan dengan dialog yang berisi penyebutan hamba dan pengabulan doa oleh Allah subhanahu wa ta’ala? Padahal kita tidak melakukan hal baru dan memberikan jasa apapun kepada-Nya. Sungguh, Mahasuci Allah, satu-satunya yang layak mendapat pujian, bahkan Dia lebih baik dari apa yang kita pujikan kepada-Nya. Wallahu a’lam.

***

saya nukil dari : Khowatir Qur’aniyah, karya Amru Khalid

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"