Posts Tagged ‘ perjuangan ’

Kisah Mas Yudi

Senin sore 19/11, tepatnya setelah technical meeting antara para peserta training entrepreneur dan mbak Una, saya mengobrol dengan mas Yudi. Meskipun baru 2 bulanan usahanya berjalan, tapi saya kira perjuangan beliau cukup keren, and it’s inspiring me to be stronger. Maka dari itu saya ingin share kisah beliau agar kawan2 juga terisnpirasi. 🙂 Well, simak kisah di bawah ini.

Selayang Pandang

Tentang mas Yudi. Beliau adalah orang yang biasa2 saja, tidak neko-neko. Beliau adalah keturunan dari seorang ayah yang berasal dari Toraja (Sulawesi) dan ibu yang berasal dari Kediri (Jawa Timur), tapi beliau lebih lama hidup di Toraja. Itulah mengapa ketika saya tanya “berarti bisa bahasa Jawa, mas?”, beliau jawab “mm.. ngerti sih”. Sekarang beliau berusia 30 tahun, tinggal di Bandung dengan istri dan anaknya, dan beliau adalah owner dari rumah makan “Ayam Goreng Kalasan Mbak Lia”. Pas ngobrol, beliau selalu memanggil kami dengan kata “mas” meskipun notabene beliau yang lebih tua. Mungkin ini salah satu pernghormatan beliau pada lawan bicaranya.

Ayam Goreng Kalasan. What is it?

Ayam goreng kalasan ialah ayam yang digoreng dengan parutan kelapa. Rasanya kurang lebih rada2 manis gitu katanya. Sambelnya, beliau ambil dari resep khas jawa timur. Beliau bilang, sambel bawang. “sambel bawang itu yang kaya gimana mas?” tanya saya. “cabe, bawang putih, disiram pake minyak goreng panas”, simpel.

Lika-liku Hidup

Beliau dulunya adalah pekerja kantoran 9 to 5 (kerja dari jam 9 sampai jam 5 sore) dengan gaji sekian (sebut saja X). awalnya sebelum memiliki anak, gaji X ini cukup untuk mas Yudi dan istri. Namun semua berubah setelah beliau memiliki anak. Dari sinilah perjuangan mas Yudi dimulai.

Untuk menghidupi anak dan istrinya ternyata gaji X yang didapatkannya dari kantor tidak cukup. Hingga beliau harus pinjam dari sana-sini untuk menutup kekurangan. “saya tuh gaji sekian (X) mas, untuk makan anak sekian (Y) mas, tapi utang saya sekian (Z) mas”, kata beliau saat bercerita pada kami. X, Y, Z, adalah ekspresi tangan beliau saat menunjukkan jumlah. Jumlah X < Y < Z. jadi intinya gaji saja tidak cukup untuk memberi makan anak dan istri, apalagi mambayar utang. “sejak saat itu bingung saya mas, harus bagaimana…”

Karena mas Yudi dan istrinya passionnya kuliner (saya lihat begitu), mereka akhirnya memutuskan untuk mencari penghasilan lain selain dari kantor. Dan keputusan itu ialah berjualan ayam goreng kalasan.

Bersama sang istri, beliau membuat ayam goreng kalasan. Menjualnya bagaimana? Karena beliau belum memiliki warung/kios sendiri, jadi beliau menitipkannya pada warung teman. Beliau bilang pada temannya, “nih, saya titip ayam saya, jualin, terserah mau di mark up jadi berapa, dari saya Rp5000,00.”

Begitulah. Laku satu, dua, tiga… besoknya begitu lagi, empat, lima… kadang sepi, kadang laris. Keuntungan dari berjualan ayam goreng kalasan ini ternyata masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan membayar utang. Padahal waktu beliau telah terporsir untuk bekerja kantor dan memasak ayam goreng. “jadi tambah bingung saya mas, waduh..”

Satu lagi yang membuat beliau tambah bingung adalah… semenjak berjualan ayam goreng ini beliau sering dimarahi atasan karena sering telat masuk kantor. Maklum, mungkin beliau capek, mungkin macet pas nganterin ayam goreng, mungkin ketiduran, dan lain-lain. Akhirnya lama-lama beliau semakin tidak enak sama atasannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Keputusan yang Berat

Tidak gampang mengambil keputusan sebesar itu. Tapi karena mungkin sudah pilihan beliau dan istrinya serta tekad untuk memulai perjuangan baru sudah bulat, hal ini bisa saja terjadi. Alhasil, hidup beliau bisa dikatakan semakin sengsara. Penghasilan berkurang, tapi utang semakin bertambah. Sedih sekali. Mungkin, inilah resiko dari memilih, right? Baik-buruknyaharus diterima dengan lapang dada.

ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

Yang membuat saya kagum adalah beliau tidak menyerah. Malah semakin kreatif. “di Pasteur ada juga Ayam Goreng Kalasan mbak Eli, ramenya gak ketulungan, sampe antri orang-orangnya, saya jadi penasaran tuh sama resep rahasianya”, kata beliau berapi2. “akhirnya, karena penasaran, saya paksa untuk makan di sana rutin sama istri saya. yaah, seminggu dua kali lah… lumayan buat meneliti resep, kebetulan lidah saya sama istri saya lumayan tajem…” lanjut beliau. “jadi, tiap makan di sana, saya tebak2 tuh, resepnya, pake ini gak ya? Pake itu gak ya? Dan saya coba2 bikin di rumah. Kalo rasanya masih belum sama, saya balik lagi. Makan lagi di sana…”

Seminggu berlalu, dua minggu… tiga minggu… sebulan… beliau belum nemu juga resepnya. Lama2 beliau semakin penasaran. Kebetulan beliau sudah agak “ngebro” (baca : akrab) dengan juru masak (sebut saja koki) yang ada di warung mbak Eli, saking seringnya makan di sana. Dan kebetulan juga mbak Elinya sedang ke luar kota katanya. Iseng nih beliau nanya ke si koki, “mas, init uh resepnya apa sih, kok bisa enak?”

Dengan tidak sadar dan memang Allah telah mengcreate ceritanya seperti ini, si koki membocorkan resep rahasianya kepada mas Yudi. Bla-bla-bla… dengan tanpa dosa si koki terus bercerita tentang resep dan cara masaknya. “ooo.. berarti ga pake bahan ini ya, mas?” tanya mas Yudi sesekali. “ga pake, mas. Harusnya pakenya ini..” jawab si koki. Dan seterusnya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana situasi obrolannya. Tapi saya pikir, obrolan mas Yudi dan si koki ini sepertinya lebih seru dibandingkan obrolan sekelompok mahasiswa tentang suatu inovasi teknologi. Haha 😀

Semakin cerah saja strategi mas Yudi untuk meniru ayam goreng kalasan mbak Eli. Setelah puas mengobrol dengan si koki, dicobanya resep yang beliau dapatkan bersama istrinya di rumah. And actually, this is it! Ketemu resepnya! Rasanya pas sama persis dengan ayam goreng kalasan yang dijual di sana. Beliau semakin percaya diri, semakin tidak sabar untuk memperbesar produksi ayamnya. Dengan asumsi bahwa lidah orang bandung telah cocok dengan rasa ayam goreng kalasan mbak Eli, dan dengan harapan bahwa “edisi” yang ini akan lebih laris dari sebelumnya.

Tapi tunggu! Kopi-paste namanya kalau begini. “saya ga mau copy-paste, mas. Jadi PR saya, kalo ada  pertanyaan : ‘bedanya sama ayam goreng mbak Eli apa?’ nah, itu musti bisa dijawab, mas.” Beliau berpikir… sampai akhirnya nemu juga suatu ide. “Sekarang sudah ada bedanya, mas. Ayam goreng kalasan saya, itu ada taburannya di akhir2, sebelum disajikan ke pelanggan, di ayamnya mbak Eli gak ada… itu aja sebenernya, mas..” kata mas Yudi. Haha, saya pikir, bener juga. Gini2, mas Yudi ini ternyata mengaplikasikan teori ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi).

Cobaan dan Godaan

Perjalanan bisnis baru mas Yudi ini masih belum mulus. Ada saja cobaan yang beliau hadapi. Pernah suatu saat ketika rumah makan beliau sepi, beliau tidak memiliki cukup uang untuk membayar cicilannya ke bank. Rumah makannya didatangi orang-orang bank, bahkan hingga adu mulut. “kan sudah saya bilang, warung saya sedang sepi, jadi masih belum cukup uangnya. Kalau pas rame, saya selalu tepat waktu, kan?” itu kata2 yang saya ingat ketika beliau sedang berusaha mempertahankan argumennya.

Ada lagi cobaan yang beliau hadapi ketika karyawannya (baca : koki) keluar dari pekerjaannya. Sudah dua kali seperti itu. Ketika beliau bertanya pada karyawannya, ternyata mereka pergi gara2 rumah makannya terlalu sepi, sehingga mereka jenuh. Istilah sekarang “gabut” atau gaji buta. Sampai2 beliau mencari orang2 terdekatnya seperti tetangga untuk menggantikan karyawannya yang pergi. Untunglah beliau sangat sabar.

Selain cobaan, ada pula godaan. Ada suatu godaan yang rada menggelitik menurut saya. Suatu saat ada satu orang yang sering sekali makan di tempatnya. Mirip dengan apa yang beliau lakukan dahulu, ketika beliau sering makan di Ayam Goreng Kalasan mbak Eli untuk mencari resep rahasianya. Ya, benar, pelanggan ini lama2 tanya-tanya juga tentang resep Ayam goreng kalasan buatan mas Yudi. Bedanya, dia bertanya pada mas Yudi langsung, bukan pada si koki. “saya takut dia mau nyuri resep saya juga…” begitu kata mas Yudi. “tapi saya gak pelit, mas. Saya bagi aja resepnya, urusan nanti dia yang lebih laku, ya urusan dia sama Tuhan…hehe…” lanjut beliau.

Ternyata benar, menurut cerita beliau, pelanggan tadi sempat berjualan ayam kalasan juga, tapi tidak lama, setelah itu beralih pada bisnis yang lain. “berarti bener, mas, tiap orang ada bagiannya masing-masing…” kata beliau tenang. Sepertinya hati beliau lega sekarang.

It’s Time to Learn more

Beruntung beliau bertemu dengan pak Muslim, yang membawa beliau masuk training batch-1 di LPiK ini. beliau sangat bersemangat karena beliau yakin ini akan menambah pengetahuannya tentang bisnis, dan tentu akan menjadi bekal untuk perjuangan selanjutnya. Tetap semangat mas Yudi!!! Semoga bisnis sampean lancar. Rumah makannya rame, dan bisa buka banyak cabang suatu saat nanti. J

“Oya, kapan2 saya main ke tempat mas Yudi ya… tapi gratis… hehe”, pernah saya nyeletuk seperti itu di tengah2 obrolan (nada bercanda, sih. Tapi hati serius, haha). “oo… ya silakan, mas, silakan..”, jawab mas Yudi mantap. “sipp lah…”

semoga bermanfaat, kawan. 😀 (hbb)

Merdeka! | #chenight

Jarang sekali terjadi seperti ini. Semua kebahagiaan tumpah ruah menjadi satu dalam satu momen. dari berbagai lapisan dan usia, dari berbagai latar belakang budaya dan suku, dari yang muda sampai yang tua, founder hingga follower. semua itu terjadi dalam satu malam, ChE night. malam saat semua akademisi berkumpul, dari S1, S2, S3, hingga dosen, untuk merajut benang-benang kekeluargaan dalam satu Teknik Kimia ITB.

Selamanya Perjuangan, Merdeka Selamanya! itu tagline nya. bermakna bahwa perjuangan itu tidak berakhir saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya saja, tapi hingga sekarang, kita masih harus terus berjuang melawan “jajahan” bangsa-bangsa asing dalam hal budaya, ekonomi, dan sumberdaya. Ya, kita masih berperang, kita masih terus mencari solusi, kita masih terus mengembangkan bagaimana menjadikan Indonesia ini benar-benar merdeka, mandiri dan mumpuni dalam segala bidang.

Merdeka!


Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

Selamat Datang

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"