Posts Tagged ‘ nikmat ’

Tentang Kemiskinan

Hari ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat bagus tentang kemiskinan. ya, suatu kata yang terdiri dari kata dasar “miskin” dan ibuhan “ke-an”. Hehe.

Orang yang sadar dan waras pasti tidak menginginkan kemiskinan menimpa dirinya, meskipun pada dasarnya miskin-kaya itu datangnya dari Allah, sudah dicatat di lauhun-mahfuzh sejak jaman azali. artinya, rizki makhluk itu sudah digariskan, tidak akan bertambah dengan ambisi kita (mengejar rizki) dan tidak pula berkurang dengan sikap tenang kita (tidak tergesa-gesa) (baca syair Imam Syafi’i pada postingan saya sebelumnya). Lantas, bagaimana dengan Rasulullah SAW yang justru berdoa meminta dihidupkan dalam keadaan miskin dan dimatikan dalam keadaan yang sama? Hayooo… Siapa yang pernah mengamalkan doa ini? Saya yakin tidak ada, kecuali orang-orang khusus yang sudah jarang kita temui di jaman sekarang. Hehe.

Seakan ada makna tersembunyi di balik kemiskinan. Dan ternyata memang iya. Kita kupas satu2 ya, dalil-dalilnya kawan2 bisa cari sendiri lah.

  • Orang miskin masuk surganya duluan dibandingkan orang kaya, dalam suatu riwayat, jarak waktunya 500 tahun. Bisa kita bayangkan betapa lamanya. Ya, orang miskin hisabnya akan lebih cepat karena tidak banyak pertanyaan tentang harta yang dimilikinya, berbeda dengan si kaya yang diinterogasi ke mana saja hartanya ia salurkan.
  • Selain berdoa ingin miskin, Rasulullah SAW (dalam doanya) juga ingin dikumpulkan bersama orang-orang miskin di akhirat kelak. Tentunya orang miskin yang beriman yaa…
  • Orang miskin tuh spesial. Rasul sendiri yang “bilang”, orang yang menyantuni janda dan orang miskin sama halnya seperti orang yang berjihad fi sabilillah dan tidak berhenti puasa (di siang hari) dan sholat malam. Rasul juga “bilang”, barangsiapa yang meringankan urusan orang miskin, Allah akan meringankan urusan kita di dunia maupun akhirat. MaasyaaAllaah. Sudah dimuliakan oleh Allah, membantu/menyantuni mereka juga mendatangkan kemuliaan untuk kita juga.
  • Meskipun kemiskinan itu dekat pula dengan kekufuran (ingat fenomena orang-orang yang mengorbankan akidahnya hanya karena ind*mie), ternyata bukan “kemiskinan” ini yang dikhawatirkan Rasul dapat merusak agama dan membinasakan umat. Rasul lebih khawatir umatnya akan berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melupakan perkara akhirat. Semoga kita selamat dari itu semua.
  • Orang miskin juga bisa bersedekah kok. Dari mana? Sebenarnya tidak cuma orang miskin, tapi juga semuanya. Banyak sekali sabda Rasul yang menerangkan bahwa amal-amal baik itu adalah sedekah, tasbih adalah sedekah, tahmid juga sedekah, begitu pula tahlil, takbir, bahkan senyum bila dapat menyenangkan saudara kita, maka itu adalah amal shalih, itupun bisa menjadi sedekah. Subhaanallaah. 🙂

Yang terpenting dari itu semua adalah, jangan sampai kita merasa kaya-miskin itu adalah penentu derajat kita. Sekali kali tidak, kawan! Tidak perlu kita merasa rendah karena miskin, tidak perlu juga bangga karena kaya. Karena semua itu adalah karunia Allah kepada mereka yang dikehendakinya. Kelak, orang-orang miskin akan dimintai tanggungjawab dengan kemiskinannya, apalagi mereka yang kaya. Ketahuilah, kawan, bahwa derajat manusia itu hakikatnya yang ada pada sisi Allah SWT. Hanya orang-orang yang bertakwa yang dijanjikan akan diberikan derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Satu kalimat (atau mungkin beberapa) lagi, miskin-kaya itu adalah sunnatullah, karena pada dasarnya semua itu diciptakan berpasang-pasangan. Miskin-kaya, jelek-bagus, cewek-cowok, kecil-besar, dll. Kalau boleh dikatakan (kasarnya), kemiskinan (harta) itu tidak bisa diberantas, percuma, miskin-kaya akan tetap balance. Yang perlu diberantas adalah “mental”nya. Banyak kan, kita temui orang yang dhohirnya kaya, tapi hakikatnya miskin (nyatanya, masih korupsi, nyolong duit negara), banyak pula orang yang dhohirnya miskin tapi hatinya kaya (tidak meminta-minta, banyak syukur dengan nikmat seadanya).

Ya Allaah, betapa banyak saudara-saudara kami di luar sana yang masih susah makan. Betapa celakanya kami yang berkecukupan ini tidak mau bersyukur kepada-Mu. (sumber: sp.beritasatu.com)

Terakhir (sekaligus penutup) mari berdoa semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang senantiasa bersyukur, tak peduli seberapa banyak nikmat dhohir yang Allah berikan (padahal hakikatnya tidak dapat terhitung), dan menjadikan kita cinta kepada orang-orang miskin sebagaimana Rasul SAW mencintai mereka. Aamiiin.

“Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya…”

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberikan kepadanya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka…”

Wallaahu a’lam.

**

Tentang Surga (2)-end

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan gambar surga beneran ya..)

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan foto surga beneran ya.. hehe)

lanjutan dari tulisan “tentang Surga (1)“. semoga bermanfaat.

Bangunan Surga

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Nadhr dan Abu Kamil dari Zuhair, dari Said ath-Tha’I dari Abu Mudallah, yang mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah! Jika melihatmu hati kami berdebar, kami pun menjadi orang yang mencintai akhirat. Jika kami meninggalkanmu, kami mengagumi dunia, dan terlena oleh anak-istri kami.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika setiap saat kalian ada dalam kondisi yang sama dengan kondisi ketika bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian, dan mengunjungi rumah kalian. Jika kalian tidak pernah berbuat dosa, Allah subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan para pendosa untuk diampuni.” Sahabat berkata, “Ceritakan kepada kami tentang bangunan surga!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya terbuat dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran. Orang yang memasukinya akan diberi nikmat dan takkan berputus asa. Mereka kekal takkan mati. Pakaian mereka takkan lusuh. Kemudaan mereka takkan sirna. Ada tiga orang yang doanya dikabulkan: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan orang yang dizalimi yang doanya dibawa oleh awan di langit hingga pintu-pintu langit terbuka dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Demi keagungan-Ku! Aku pasti menolong kalian meski waktu ini telah berlalu.”

Abu Bakar ibn Mardawih meriwayatkan hadits semacam itu dari Hasan dari Ibnu Umar yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang surga, lalu beliau menjawab, “Yang memasukinya terus hidup, takkan mati, diberi nikmat, takkan putus asa. Pakaiannya takkan rusak. Kemudaanya takkan sirna.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Bagaimanakah bangunan surga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran.”

Yazid Ibn Zari’ meriwayatkan hadits serupa dari Said ibn Qatadah dari Ala’ ibn Ziyad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga berdindingkan emas dan perak. Debunya safran. Tanahnya kesturi.”

Di dalam ash-Shahihain disebutkan sebuah hadits riwayat Az-Zuhri dari Anas ibn Malik dari Abu Dzar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku masuk surga. Di dalamnya terdapat mutiara. Debunya dari minyak kesturi.” Hadits ini penggalan dari hadits mi’raj.

Para Penghuni Surga

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci (azwaajun muthahharatun) dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Perhatikan keagungan, kejujuran, dan kebesaran penyampai berita tersebut, yang Mahakuasa menjamin kejadiannya dengan sangat mudah. Allah subhanahu wa ta’ala menggabungkan dalam berita itu kenikmatan lahiriah berupa sungai-sungai dan buah-buahan, kenikmatan jiwa berupa istri-istri suci, dan kenikmatan hati berupa pengetahuan tentang keabadian hidup untuk selamanya tanpa terputus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab mereka.” (QS. Ad-Dukhan: 51-56)

Para penghuni surga diberi keindahan tempat tinggal, yang aman dan terhindar dari segala hal yang dibenci serta keterpenuhan anugerah berupa buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Mereka pun diberi pakaian-pakaian yang bagus, keluarga yang sempurna dan dapat saling bersua, kenikmatan paripurna bersama bidadari, makanan terlezat berikut beragam buah-buahan, terhindar dari keterputusan nikmat dan dari bahaya, serta takkan pernah mati.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari yang membatasi pandangan (qashiratuth tharfi), yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Seakan-akan mereka itu permata yaqut dan marjan.” (Ar-Rahman: 56-58)

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan bidadari sebagai wanita yang qashiratuth tharfi pada tiga tempat di dalam Al-Qur’an. Pertama, pada ayat tersebut. Kedua, pada ayat, “Di sisi mereka ada bidadari yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi) dan jeli matanya.” (QS. Ash-Shaffat: 48). Ketiga, pada ayat, “Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi), dan sebaya umurnya (atrab).” (QS. Shad: 52)

***

Subhanallah, wal-hamdu lillah, wa la ilaaha illallah, wallahu akbar.. ketahuilah.. bahwa sangat besar ganjaran untuk orang-orang yang beriman dan diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jika begini, apakah kita masih mau bermalas-malasan dalam ibadah, atau sebaliknya?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menuntun kita menuju surga-Nya. Aamiin. 🙂

Mensyukuri Nikmat


Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari nenek lelakinya r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sesungguhnya Allah itu mencintai kalau melihat bekas kenikmatanNya atas hambaNya itu,” dengan jalan menunjukkan keindahan dan kesempurnaannya dalam berpakaian, makan, berumahtangga dan lain-lain.

Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.

Perumpamaan nih, kalo sepatu sudah jebol, dan ada duit buat beli sepatu (duit sendiri, bukan duit rakyat), ya beli. Karena itu juga salah satu bentuk syukur atas nikmat (duit) yang telah Allah berikan. 🙂

Wallahu a’lam.

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

Selamat Datang

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"