Posts Tagged ‘ muhammad ’

Niat nikah

Niat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu ‘Anhu (dikutip dari “Kitab Niat”):

niat nikah

Artinya:

“Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah ‘azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam:
“Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat”

Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.

Saya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup. 

Saya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya.”

Diperoleh dari: Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan – Pustaka Islam Sunni Salafiyah KTB.pdf

Advertisements

Serba Terbalik

entah mengapa akhir2 ini saya melihat ada banyak sekali hal2 yang saya rasa mulai “terbalik”. maksud saya, terbalik dari fitrah yang sebenarnya. atau keluar dari fitrahnya. tidak perlu jauh-jauh, kita lihat saja di lingkungan kita sendiri, lingkungan kampus, kerja, rumah, dunia maya, dan keluarga barangkali.

Jalan Yuk!

coba lihat, masalah pergaulan misalnya. cowok-cewek (non-mahram, blm nikah) berduaan, sudah menjadi pemandangan yang biasa. kalo gak punya pacar/pacaran dikira gak gaul, gak laku, gak keren, kasian. yee justru mereka2 ini orang yang terjaga. Allah yang menjaga mereka agar tidak dekat2 dengan zina. Allah sendiri kan yang melarang dekat2 dengan zina. deket2 aja dilarang. berarti kalo ada orang yang dijauhkan dari zina, berarti orang itu spesial dong. tau kan kalo berduaan, atau (bahasa kerennya) khalwat itu dosa. dan ngundang sesuatu yang lebih dosa, bahkan hina. kalo berduaan, datang setan sebagai orang ketiganya, yang godain agar terjadi macem2. pegang2 kek, cium2 kek, “itu” kek, dan apapun yang dilarang oleh Allah. hiiii serem. na’uudzu billaah min dzaalik.

Macem2 dikit, Bunuh!

ada lagi, rasanya sekarang tuh mbunuh orang udah jadi satu-satunya solusi untuk orang yang marah/kesel ya. entah itu suami marah sama istri, majikan marah sama pembantu, kakak marah sama adiknya, ayah sama anaknya, dll. suami kesel sama istrinya yang gak ngijinin sertifikat tanahnya digadaikan untuk beli motor, istrinya dibunuh. <– ini pernah ada di berita. orang pacaran, salah satu selingkuh, bla bla bla, tiba2 pacarnya dibunuh. belum lagi kasus TKW di luar sana yang suka disiksa oleh majikannya. kok ya bisanyaaa bunah-bunuh orang, enteng gitu kayanya, padahal membunuh itu termasuk dosa buuuesar. heu, na’uudzu billaah.

Enak (?), tapi Modar!

kalau tadi mbunuh orang, sekarang mbunuh diri sendiri. ada yang gantung diri, minum baygon, adapula yang sebenernya gak pengin bunuh diri, tapi aksinya itu menunjukkan bahwa dia sedang bunuh diri. pernah ada berita beberapa hari yang lalu di Sumedang, sekampung ngoplos semua, cowok-cewek, tua-muda, saya lupa komposisinya apa aja. akhir cerita mereka pada masuk rumah sakit, beberapa tidak tertolong karena saking parahnya, akhirnya satu per satu mati. ya Allaah, betapa kasihannya mereka ini, apakah tidak ada da’i di kampung mereka sehingga semua hobi ngoplos gini. seharusnya udah pada tahu ngoplos itu bukan salah satu solusi mau minum enak, kalau memabukkan sama saja minum khamr, kalau sampe mati gini, yaa sama kaya bunuh diri. na’uudzu billah min dzalik. kalau mau minum enak, dingin, masih banyak tuh di alfamart, kalo gak nemu ya coba cari di indomaret. ngapain harus ngoplos segala. “ngoplos lebih murah mas,” hee.. enak aja, berarti nyawamu masa lebih murah dari teh botol sosro. wkwk.

Asing sama Agama Sendiri (?)

saya ga tau nih berapa persen dari kita yang sudah mulai rada2 jarang belajar agama, jarang baca al-qur’an, jarang wiridan, jarang sedekah, dll. atau malah sering ninggalin sholat. na’uudzu billaah min dzaalik. sepertinya semua tadi mulai kalah pamor sama line, whatsapp, path, instagram, facebook, twitter, pulsa, lagu2, film, drama, dll. sadar gak guys? seharusnya sih kita sadar. waktu yang dulu kita gunain buat baca al-qur’an, udah mulai ilang tuh dipake baca update-an di twitter. tangan kita yang dulunya sering pegang tasbih, ilang tuh tasbihnya ganti gadget. geser-geser-geser sampe 33x. hehe. dulu pas lagi nganggur biasa baca buku2 yang bermanfaat, sekarang ganti mainan game android yang kayanya lumayan seru. kayanya kita sekarang lebih apal kehidupannya artis, pemain bola, musisi, ketimbang Nabi kita Muhammad saw. duit lebih banyak buat beli pulsa paket internet daripada sedekah.

ya, seolah-olah kita udah mulai mentingin bisa eksis di medsos daripada eksis di hadapan Allah. kita lebih kawatir gak naik level di game daripada gak naik derajat di hadapan Allah. kita lebih nikmat baca update-an di dunia maya daripada baca al-qur’an. lebih apal lagu2 daripada al-qur’an. lebih tahu gosip artis daripada kisah para sahabat dan para ulama’ terdahulu.

sebenernya guys, yang terpenting adalah bagaimana pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Allah swt? kita jelas-jelas sedang menjauh dari Allah, padahal yang ngasih semuanya itu Allah, nikmat sehat, harta, teman, dll. Allah juga sudah kirimkan kita manusia paling sempurna untuk dijadikan teladan, Nabi Muhammad saw., yang bahkan kalau para Nabi sebelumnya ditanya, mereka memilih untuk menjadi ummat Nabi Muhammad saw, saking sempurnanya beliau. masih nyari yang lain? jelas gak ada yang setara dengan beliau.

yuk ah, jangan mau dibolak-balik sama orang-orang penguasa teknologi. kalau mau memanfaatkan teknologi, manfaatkan untuk kebaikan. jangan malah bikin “lupa”. yuk, buka lagi al-qur’an-nya, dibaca. mulai isi waktu-waktu luang untuk membaca ilmu2 untuk bekal akhirat. belajar siroh/kisah kehidupan Nabi saw, agar kita bisa menyelami dan menghayati akhlak dan ajaran2 beliau saw. mulai perbanyak kebaikan kita, mumpung di dunia. mati tidak ada yang tahu kapan datangnya kan. yakinlah, kalau kita punya niat kuat untuk bergegas dalam kebaikan Allah pasti memberi jalan. gapapa kok, ketinggalan update-an di medsos. gapapa juga ketinggalan film seru juara oscar. apalagi gak apal lagu2, gapapaa, yang penting apal surah2 al-qur’an. 🙂

semoga kita semua diberi hidayah ya oleh Allah swt., sumber hidayah ada dua, langsung dari Allah tanpa sebab, dan kita sendiri yang mengusahakan sebabnya. terserah Allah mau kasih hidayah lewat jalan yang mana. setelah diberi hidayah semoga Allah memberi kita istiqomah. dikatakan, “istiqomah itu bahkan lebih utama daripada seribu karomah..”. dan yang pasti kita minta agar diberi husnul-khatimah. aamiin. maaf yak curhatan saya malam ini panjang. kita sama2 perbaiki diri lah intinya.

wallaahu a’lam.

Teladan Sempurna

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya  jasad manusia termulia :) meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim 'alaih.

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya jasad manusia termulia 🙂 meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim ‘alaih.

iseng buka twiter, tiba-tiba nemu kultwitan bagus, yaitu kultwit dari KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa gusmus (akun @gusmusgusmu <– monggo difollow). langsung saja, monggo disimak. 🙂

***

BismiLlãhirRahmãnirRahïm…

Pedoman umat Islam itu, ‘secara teori’ ialah Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. ‘Secara praktik’: PERILAKU Pemimpin Agungnya itu. Kenapa?

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu2 Qur’an dan melaksanakannya. Nabi Muhammadlah orang pertama yang mempraktikkan Qur’an.

Sayyidatina ‘Aisyah ra menyebut “Kãna khuluquhu ‘l-Qur’an;”, Perilaku Rasulullah SAW adalah Qur’an. Istilahnya, ‘Qur’an berjalan’.

Tak peduli keturunanmu. Tak peduli kebangsaanmu. Tak peduli ilmumu. Tak perduli kedudukanmu. Tak peduli fasihmu. Tak peduli citramu..

Bila kelakuanmu bertentangan dengan perilaku Rasulullah SAW ~kalau pun engkau mengaku muslim~ bukan saja engkau muslim yang buruk;

lebih dari itu engkau telah mencemarkan agama dan nabimu. FattaqiLlãh! Takwalah kepada Allah!

Maka teruslah berusaha memahami Qur’an dan jangan berhenti mempelajari SIERAH dan SYAMAIL, riwayat hidup dan perilaku, nabimu.

Terutama bila engkau terlanjur dianggap ‘pemimpin Islam’ oleh masyarakat. Kelakuanmu tdk hanya disimak, bahkan diikuti oleh banyak orang.

Pelajari dan berusahalah mengikuti sunnah Pemimpin Agungmu yang mulia budi pekertinya (Q. 68: 4), yang lemah lembut, tidak kasar dan kejam (Q. 3: 159), yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan welas asih. (Q. 9: 128).

Sekian. Wallahu a’lam. AstaghfiruLlãal ‘Azhïm filqauli bilã ‘amal. Wal’afwu minkum.

Mohon maaf, bila Anda merasa kunasihati. Sebenarnya ini aku sedang menasihati diriku sendiri; sebagaimana dlm sajakku “Nasihat Ramadan.”

***

alhamdulillaah. 🙂 semoga nasihat beliau ini bisa kita amalkan. yuk, kita jadikan Rasulullah saw  teladan utama dalam hidup kita. menjadi teladan dalam beragama, dalam hidup bermasyarakat, keluarga, dan berbangsa serta bernegara. semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengikuti jejak beliau saw. aamiiiin. semoga bermanfaat.

Untaian Mutiara

islamic-wallpaers-youthkorner-12

Alam bersinar-seminar bersuka ria, menyambut kelahiran Al-Musthafa Ahmad
riang gembira meliput penghuninya, sambung-menyambung tiada hentinya
Bergembiralah, wahai pengikut Al-Quran, burung-burung kemujuran kini berkicauan
bersuluhlah dengan sinar keindahan, mengungguli semua yang indah tiada bandingan
Kini wajiblah bersuka cita, dengan keberuntungan terus-menerus tiada habisnya
Manakala kita beroleh anugerah, padanya terpadu kebanggaan abadi
Bagi Tuhan segala puji, tiada bilangan mampu mencakupnya
atas penghormatan dilimpahkan-Nya bagi kita, dengan lahirnya Al-Musthafa Al-Hadi Muhammad
Ya Rasulullah, selamat datang, ahlan wa sahlan
Sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu
Ya Ilahi, ya Tuhan kami, semoga Kau berkenan memberi nikmat karunia-Mu
menyampaikan kami ke tujuan idaman, demi ketinggian derajat Rasul di sisi-Mu
Tunjukilah kami jalan yang ia tempuh, agar dengannya kami bahagia beroleh kebaikan melimpah
Rabbi, demi mulia kedudukannya di sisi-Mu, tempatkanlah kami di sebaik tempat di sisinya
Semoga shalawat Allah meliputi selalu rasul termulia, Muhammad
serta salam terus-menerus silih berganti setiap saat…
***************
Limpahkan, ya Allah
Semulia-mulia shalawat dan salam
Atas junjungan dan Nabi kami, Muhammad
Yang amat penyantun, amat penyayang…

Sumber: Maulid simthud-duror
Author: al-Habib al-Imam Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi

Tawadhu’nya Rasulullah SAW

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang makan betis binatang, tentu akan kukabulkan undangannya.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazi’, dari Basyar bin al Mufaddhal, dari Sa’id dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab,

“Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma’il, dari ‘Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yahya bin Sa’id, yang bersumber dari ‘Amrah)

***

maa syaa’Allah jauh sekali dengan kita, ya.. padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan kita kemandirian dan hidup sederhana. kita kadang-kadang males nyucibeli makan siang titip temen, masih dibangunin kalau shubuh, makan diingetin, dan lain-lain. Ah, nyusahin orang pokoknya *hhehe.

Yuk ah, mulai sekarang kita ikuti gaya hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 🙂

Sumber:
Syamaa’il Muhammad oleh Imam Tarmidzi

Yang Lebih Kita Cinta

Kawan, tiba-tiba terpikir oleh saya beberapa pertanyaan berikut. berharap bisa menjadi bahan tafakkur/renungan bersama, meskipun hanya sedikit.

mana yang lebih pilih ketika waktu shalat tiba : melanjutkan pengerjaan tugas besar, atau beranjak untuk sholat berjama’ah?

buat anak muda nih, mana yang lebih kita kenal : pemain bola, para boyband, artis hollywood, atau Allah dan rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

lalu, manapula yang lebih kita ikuti : gaya hidup para artis, atau gaya hidup rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

rada fatal nih, sekarang mana yang lebih kita takuti : telat nonton pertandingan bola, atau kehabisan waktu untuk tahajjud dan dhuha? takut dicela orang di dunia, atau takut akan adzab Allah yang amat pedih?

yang sekarang sedang kritis, mana yang selama ini lebih kita teladani : akhlak orang kafir, atau akhlak rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat ?

mana yang lebih kita percaya : ramalan dukun, paranormal, atau perkataan para ulama’?

mana yang lebih kita hafal : al-quran dan hadits, atau lagu-lagu dan syair-syair yang tiada berguna di dunia dan akhirat?

lalu yang mana yang lebih kita dekati : gerombolan teman yang main kartu, tempat-tempat hiburan, atau majelis-majelis ilmu?

mana yang kita senangi : amal-amal kita dipuji orang, atau biar saja orang tidak ada yang memuji? karena semua amal ini untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

siapa yang lebih kita hormati dan muliakan selama ini : dosen, senior, atau orang tua dan guru-guru kita dalam hal agama?

siapa yang lebih kita sayangi dan perhatikan : saudara dan kerabat-kerabat kita, atau pacar?

Tahukah, kawan, sebenarnya semua itu bermuara pada satu pertanyaan,

apakah kita semua lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, atau kita lebih cinta kepada syetan dan hawa nafsu belaka?

wallaahul-haadiy.. Allah-lah sang maha pemberi petunjuk. jika jalan yang kita tempuh terasa semakin jauh, mohonlah pada-Nya agar dituntun menuju jalan yang benar, lalu mohonlah agar Allah meneguhkan langkah kita di jalan itu.

wallaahul-musta’aan.. Allah-lah sebaik-baik tempat kita meminta pertolongan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai-Nya, dan Dia pun mencintai kita. Aamiin.. 

Sebuah Perumpamaan

Saya menemukan sebuah perumpamaan yang cukup indah untuk kawan-kawan renungkan. Perumpamaan yang diberikan oleh Habib Munzir Al-Musawa atas pertanyaan mengenai apakah kita ini (sebagai manusia) layaknya wayang yang digerakkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala?

Allah subhanahu wa ta’ala Maha Menentukan dan Maha Mengatur, tidak seorangpun bisa lepas dari aturan Allah subhanahu wa ta’ala, namun aturan Ilahi itu juga disertai kebebasan, namun kebebasan yang terikat dengan ketentuan.

Mudahnya seperti ini : Kita menginap di rumah teman. Teman kita (sebagai pemilik rumah) telah menyiapkan ruangan untuk kita, menyiapkan makanan di dapur, selimut di kamar, air panas di kamar mandi, dan telepon di ruang tamu, maka kita boleh memanfaatkan yang kita inginkan. Kita bisa makan, tidur, mandi air hangat, dan sebagainya. Namun kita tak akan menemukan makanan di kamar tidur, karena pemilik rumah sudah menyiapkannya di dapur dan bukan di ruangan lainnya, kita dapat mandi air hangat namun kita tak akan mendapatkannya di ruangan tamu, karena sang pemilik rumah telah menyiapkannya di kamar mandi, kita dapat menelepon siapa saja, namun pemilik rumah tak menyediakan untuk kita sarana hubungan SLI dan fax di telepon yang kita gunakan, maka bagaimanapun kita tak akan bisa menggunakannya untuk SLI dan Fax karena sarana tak tersedia dari pemilik rumah.

Nah.. demikian pula kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah telah menyediakan segalanya dan menentukan segalanya, namun kita bisa memilih mana yang kita pilih, namun yang kita pilihpun tak bisa melebihi apa yang telah ditentukan-Nya. Misalnya di rumah tadi sang pemilik hanya menyiapkan satu ember air hangat, maka kita tak akan mendapat lebih dari itu kecuali dengan izin dan keinginan pemilik rumah.

***

Demikianlah, sekarang tinggal kita yang menentukan, apakah kita masih mau seenaknya saja menjalani hidup ini? semau kita? yang penting kita suka? Tidak kawan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan Islam, telah menyempurnakan syariatnya. Yang apabila kita berjalan di atasnya sesuai yang telah diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kita akan selamat di dunia dan di akhirat. Sungguh, Allah telah menunjukkan kita jalan yang baik lagi sempurna. Akankah kita bersyukur dengan berjalan di atasnya, ataukah kita kufur karena berjalan seenaknya? na’udzubillah min dzalik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

“Sungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur, dan ada pula yang kufur.” (Al-Insan : 3)

“Dan katakanlah Muhammad, kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Barangsiapa menghendaki beriman, hendaklah dia beriman. Dan barang siapa menghendaki kafir, biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka minta pertolongan (minum), mereka akan di beri air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi : 29)

Mengintip Sejarah Kodifikasi Al-Quran

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu, kapan dan bagaimana Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tahukah kita bagaimana Al-Quran itu disusun padahal ia turun secara terpisah, antara satu ayat dengan ayat lainnya? Lantas, siapakah orang pertama yang menyusun Al-Quran sehingga ia ada seperti yang kita miliki saat ini?

Al Qur'an

Proses pencatatan, pengumpulan dan pembukuan Al-Quran dapat kita ringkas dengan istilah kodifikasi Al-Quran. Sebagian besar ‘ulama’ berpendapat, sejarah kodifikasi Al-Quran terjadi dalam tiga marhalah atau masa. Marhalah yang pertama ialah pada masa hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, marhalah kedua ialah pada masa khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan marhalah ketiga pada masa khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.

Marhalah Pertama

Pada marhalah pertama, penjagaan Al-Quran sangat ditekankan pada hafalan oleh sahabat. Selain itu juga ditulis dengan alat tulis seadanya. Beberapa yang digunakan saat itu ialah pelepah kurma, batu tipis, tulang-tulang pipih, dan kulit binatang. Al-Quran ditulis oleh para penulis wahyu yang ditunjuk langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk menjaga keasliannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian menulis dari aku. Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain Al-Quran hendaknya ia menghapusnya.” (HR. Muslim)

Perlu diketahui bahwa pada masa ini Al-Quran belum dihimpun dan disusun dalam satu mushaf meskipun pada saat itu sudah banyak sahabat yang menghafalnya. Terkait hal ini, Prof. Dr. Shalah Shawi menerangkan bahwa pada saat itu Rasulullah senantiasa menunggu turunnya wahyu dari satu waktu ke waktu yang lain. Beliau juga menunggu adanya nasikh (penghapusan) sebagian hukum-hukum atau bacaan Al-Quran. Alasan terakhir adalah agar susunan ayat-ayat Al-Quran masih dapat diubah apabila turun wahyu yang baru, karena beliau senantiasa mengisyaratkan tempat masing-masing ayat terhadap ayat-ayat yang lain.

Marhalah Kedua

Marhalah kedua ialah pada masa khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pada masa ini terjadi perang Yamamah, yaitu suatu perang yang mengakibatkan para penghafal Al-Quran gugur. Akibat peristiwa tersebut ‘Umar radhiyallahu ‘anhu merasa khawatir akan kehilangan sebagian besar ayat-ayat Al-Quran akibat wafatnya para huffazh.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ketika itu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Sesungguhnya peperangan sengit terjadi di hari Yamamah dan menimpa para qurra’ (para huffazh). Dan aku merasa khawatir dengan sengitnya peperangan terhadap para qurra (sehingga mereka banyak yang terbunuh) di negeri itu. Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar AlQuran.”

Khalifah abu bakar radhiyallahu ‘anhu mulanya ragu dan takut karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan ini sebelumnya. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu senantiasa mengulang usulannya tersebut kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, hingga suatu saat Allah melapangkan dada Abu bakar untuk sependapat dengannya.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu mengutus seorang shahabat untuk memanggil Zaid bin Tsabit. Beliau mengatakan,  “Engkau laki-laki yang masih muda dan cerdas. Kami sekali-kali tidak pernah memberikan tuduhan atas dirimu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah saw sehingga engkau selalu mengikuti Al-Qur`an, maka kumpulkanlah ia.”

Zaid radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Demi Allah seandainya kalian membebaniku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, maka sungguh hal itu tidaklah lebih berat dari apa yang diperintahkan kepadaku  mengenai pengumpulan Al-Quran.”

Zaidpun berangkat untuk melaksanakan tugas mulia ini. Pengumpulan Al-Qur`an ini, ia lakukan tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lembaran-lembaran Al-Quran tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengambil selembarpun kecuali jika lembaran itu diperoleh secara tertulis dari salah seorang sahabat dan ayat di dalamnya harus dihafal oleh salah seorang dari kalangan sahabat.

Mushaf-mushaf yang telah terkumpul lalu disimpan di rumah khalifah Abu bakar radhiyallahu ‘anhu hingga beliau wafat. Mushaf-mushaf ini kemudian dipindahkan dan disimpan di rumah khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu hingga beliau wafat. Terakhir, mushaf-mushaf ini disimpan di rumah ummul-mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha sesuai wasiat dari khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

’Ali radhiyallahu ‘anhu bercerita tentang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terkait pengumpulan Al-Quran ini, ia berkata, “Manusia yang paling besar jasanya terhadap al-quran ialah Abu bakar. Semoga rahmat Allah untuk Abu bakar, dialah yang pertama kali mengumpulkan kitab Allah subhanahu wa ta’ala.”

Marhalah Ketiga

Marhalah ketiga ialah pada masa khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. Pada masa ini kaum muslimin mulai banyak yang berselisih tentang Al-Quran. Disebutkan bahwa di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu terkejut melihat adanya perbedaan dalam membaca Al-Quran hingga satu kaum mengkafirkan yang lain. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca Al-Quran dengan bacaan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Begitu juga ia melihat penduduk Irak membaca Al-Quran dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam. Perbedaan bacaan tersebut juga terjadi antara penduduk Kufah dan Bashrah.

Dalam shahih Bukhari disebutkan, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu segera mendatangi khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Quran sebagaimana perselisihan antara Yahudi dan Nasrani.”

‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menerima usulan tersebut. Ia lalu mengirimkan orang untuk meminjam mushaf kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha untuk disalin.  Ia memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf.

Setelah selesai disalin, khalifah ‘Utsman dan para sahabat kemudian berijtihad untuk menyusun Al-Quran sesuai dengan nash yang ia dapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ para sahabat.

Mushaf yang telah tersusun kemudian dicopy dan dikirimkan tujuh kota, yaitu Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Mushaf inilah yang dikenal dengan mushaf ‘Utsmani. Khalifah lalu memerintahkan kepada seluruh negeri agar umat muslim menggunakan mushaf ‘Utsmani. Ia juga memerintahkan semua mushaf yang bertentangan dengan mushaf  ‘Utsmani dibakar.

‘Utsman radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Manusia diwajibkan untuk memakai mushaf ini saja, supaya tidak ada perpecahan dan perselisihan.”

Al-Quran Senantiasa Terjaga

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjamin bahwa siapapun, meski manusia dan jin berkumpul, mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengan Al-Quran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa AlQuran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (Al-Isra’: 88)

Jangankan satu Al-Quran, sepuluh surat, satu surat, atau bahkan satu ayat tak seorangpun yang mampu membuatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat-surat yang lain,

Bahkan mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat AlQuran itu, Katakanlah: (Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Hud: 13)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang AlQuran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal AlQuran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(Al-Baqarah: 23)

Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. (Ath-Thur: 34)

Demikianlah, tidak perlu diragukan lagi bahwa Al-Quran yang sampai kepada kita sekarang adalah benar-benar yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya, tidak kurang dan tidak bertambah sedikitpun. Kita harus yakin bagaimanapun upaya kaum kafir berusaha mengubah isi dan merusak kandungan Al-Quran, Allah tetap menjamin bahwa Al-Quran akan tetap terjaga hingga hari kiamat. Semoga pengetahuan yang sedikit ini dapat meningkatkan iman kita kepada kitab Allah subhanahu wa ta’ala.

Referensi

Al-Quranul-karim.
Naik, Zakir; Shawi, Shalah; dan Subh, S. A. M., “Mereka bertanya islam menjawab”, Penerbit AQWAM, Solo, 2012.
Ceramah Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami, 2012.

Tentang Surga (2)-end

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan gambar surga beneran ya..)

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan foto surga beneran ya.. hehe)

lanjutan dari tulisan “tentang Surga (1)“. semoga bermanfaat.

Bangunan Surga

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Nadhr dan Abu Kamil dari Zuhair, dari Said ath-Tha’I dari Abu Mudallah, yang mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah! Jika melihatmu hati kami berdebar, kami pun menjadi orang yang mencintai akhirat. Jika kami meninggalkanmu, kami mengagumi dunia, dan terlena oleh anak-istri kami.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika setiap saat kalian ada dalam kondisi yang sama dengan kondisi ketika bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian, dan mengunjungi rumah kalian. Jika kalian tidak pernah berbuat dosa, Allah subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan para pendosa untuk diampuni.” Sahabat berkata, “Ceritakan kepada kami tentang bangunan surga!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya terbuat dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran. Orang yang memasukinya akan diberi nikmat dan takkan berputus asa. Mereka kekal takkan mati. Pakaian mereka takkan lusuh. Kemudaan mereka takkan sirna. Ada tiga orang yang doanya dikabulkan: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan orang yang dizalimi yang doanya dibawa oleh awan di langit hingga pintu-pintu langit terbuka dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Demi keagungan-Ku! Aku pasti menolong kalian meski waktu ini telah berlalu.”

Abu Bakar ibn Mardawih meriwayatkan hadits semacam itu dari Hasan dari Ibnu Umar yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang surga, lalu beliau menjawab, “Yang memasukinya terus hidup, takkan mati, diberi nikmat, takkan putus asa. Pakaiannya takkan rusak. Kemudaanya takkan sirna.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Bagaimanakah bangunan surga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran.”

Yazid Ibn Zari’ meriwayatkan hadits serupa dari Said ibn Qatadah dari Ala’ ibn Ziyad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga berdindingkan emas dan perak. Debunya safran. Tanahnya kesturi.”

Di dalam ash-Shahihain disebutkan sebuah hadits riwayat Az-Zuhri dari Anas ibn Malik dari Abu Dzar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku masuk surga. Di dalamnya terdapat mutiara. Debunya dari minyak kesturi.” Hadits ini penggalan dari hadits mi’raj.

Para Penghuni Surga

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci (azwaajun muthahharatun) dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Perhatikan keagungan, kejujuran, dan kebesaran penyampai berita tersebut, yang Mahakuasa menjamin kejadiannya dengan sangat mudah. Allah subhanahu wa ta’ala menggabungkan dalam berita itu kenikmatan lahiriah berupa sungai-sungai dan buah-buahan, kenikmatan jiwa berupa istri-istri suci, dan kenikmatan hati berupa pengetahuan tentang keabadian hidup untuk selamanya tanpa terputus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab mereka.” (QS. Ad-Dukhan: 51-56)

Para penghuni surga diberi keindahan tempat tinggal, yang aman dan terhindar dari segala hal yang dibenci serta keterpenuhan anugerah berupa buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Mereka pun diberi pakaian-pakaian yang bagus, keluarga yang sempurna dan dapat saling bersua, kenikmatan paripurna bersama bidadari, makanan terlezat berikut beragam buah-buahan, terhindar dari keterputusan nikmat dan dari bahaya, serta takkan pernah mati.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari yang membatasi pandangan (qashiratuth tharfi), yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Seakan-akan mereka itu permata yaqut dan marjan.” (Ar-Rahman: 56-58)

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan bidadari sebagai wanita yang qashiratuth tharfi pada tiga tempat di dalam Al-Qur’an. Pertama, pada ayat tersebut. Kedua, pada ayat, “Di sisi mereka ada bidadari yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi) dan jeli matanya.” (QS. Ash-Shaffat: 48). Ketiga, pada ayat, “Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi), dan sebaya umurnya (atrab).” (QS. Shad: 52)

***

Subhanallah, wal-hamdu lillah, wa la ilaaha illallah, wallahu akbar.. ketahuilah.. bahwa sangat besar ganjaran untuk orang-orang yang beriman dan diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jika begini, apakah kita masih mau bermalas-malasan dalam ibadah, atau sebaliknya?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menuntun kita menuju surga-Nya. Aamiin. 🙂

Tentang Surga (1)

keindahan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan surga

keindahan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan surga

tulisan-tulisan berikut saya kutip dari buku berjudul “Surga yang Allah Janjikan” karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. semoga kabar gembira ini dapat menjadikan kita semakin bersemangat dalam meraih ridho-Nya. 🙂

Sebuah Kabar Gembira

At-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “tak seorang pun bisa masuk surga kecuali dengan stempel yang bertuliskan: ’Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Buku ini dari Allah untuk Fulan Ibnu Fulan. Isinya firman Allah subhanahu wa ta’ala: ’masukkanlah Dia ke surga tertinggi dengan dahan2 rendah’.”

Sulaiman ibn Hamzah Al-Hakim meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang beriman akan diberikan buku catatan saat hendak melewati Shirathal-mustaqim. Buku itu bertuliskan: ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Buku ini dari Allah untuk Fulan Ibnu Fulan. Isinya firman Allah subhanahu wa ta’ala: ’masukkanlah Dia ke surga tertinggi dengan dahan2 rendah’.”

Umat yang Pertama Kali Masuk Surga

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim meyebutkan hadits riwayat Thawus dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Kita memang umat terakhir. Tapi kita umat pertama hadi Kiamat. Kita umat pertama yang masuk surga, meskipun mereka diberi kitab suci terlebih dahulu, dan kita diberi kitab suci belakangan.”

Umat Nabi Muhammad ini adalah umat yang lebih dahulu dibangkitkan, lebih dahulu mencapai posisi tertinggi, dan lebih dahulu di bawah naungan singgasana Tuhan. Umat ini adalah umat yang perkaranya diputuskan lebih dahulu oleh Allah. Umat yang lebih dahulu meniti Shiraath, dan umat yang lebih dahulu masuk surga.

Surga tak boleh dimasuki oleh para nabi sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam memasukinya terlebih dahulu. Surga pun dilarang dimasuki oleh uma-umat lain, sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam memasukinya terlebih dahulu.

Mengenai umat pertama yang masuk surga, Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jibril mendatangiku dan memegang kedua tanganku lalu memperlihatkan kepadaku pintu surga yang dumasuki umatku.” Abu Bakar ra berkata, “Wahai Rasulullah! Aku ingin terus bersamamu sehingga aku dapat melihat pintu surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau, Abu Bakar, adalah orang pertama yang masuk surga dari umatku”.

Ciri-Ciri Orang yang Pertama Kali Masuk Surga

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan hadits dari Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan pertama yang masuk surga berwajah seperti bulan purnama. Mereka tidak meludah, tidak beringus, dan tidak buang air besar. Bejana dan sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Sanggul mereka terbuat dari dupa. Keringat mereka minyak kesturi. Mereka masing-masing punya dua istri yang sakung indahnya, sumsum betisnya pun dapat terlihar dari luar daging. Mereka tidak saling berselisih dan saling marah. Hati mereka satu. Mereka memuji Allah sepanjang siang dan malam.”

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan pertama yang masuk surga berwajah seperti bulan purnama, yang diwarnai oleh cahaya bintang kemintang di langit yang cerah. Mereka tidak buang air kecil dan buang air besar. Mereka tidak meludah dan beringus. Sisir mereka dari emas. Keringat mereka dari minyak kesturi. Sanggul mereka dari dupa. Istri mereka bidadari. Tingkah laku mereka seperti seorang lelaki. Perawakan mereka seperti ayah mereka, Adam yang di langit, yaitu setinggi enam puluh hasta di langit.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang pertama kali dipanggil ke surga di hari kiamat adalah hammadun, yaitu orang-orang yang memuji Allah baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku disodorkan tiga orang umatku yang pertama kali masuk surga dan tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Tiga orang pertama yang masuk surga adalah orang yang mati syahid, hamba sahaya yang tak menghamba pada dunia demi ketaatan pada Allah subhanahu wa ta’ala, dan orang fakir yang enggan meminta-minta dari orang lain. Tiga orang pertama yang masuk neraka adalah penguasa zalim, orang kaya yang tak melaksanakan hak Allah pada hartanya, dan orang miskin yang sombong.”

Masya’allah, betapa besar kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan surga sebagai tempat tinggal abadi bagi mereka yang diridhoi-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang diridhoi sehingga bisa masuk ke dalamnya. wallahu a’lam bishshowab.

cover buku "Surga yang Allah Janjikan" karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

cover buku “Surga yang Allah Janjikan” karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

<bersambung>

 

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"