Posts Tagged ‘ menuntut ’

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

Ilmu dan orang yang berilmu memiliki tempat yang istimewa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]
“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Begitupula Nabi saw. yang memposisikan ilmu sebagai sesuatu yang paling penting dalam beragama. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]
“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan menjadikannya paham dalam (urusan) diin/agama.” [HR. Bukhari dari Mu’awiyah ra.]
“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah ra. dan Abu Darda’ ra. berkata,

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah ra. juga berkata,

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Salah seorang imam madzhab, sang pembaharu di masanya, Imam Asy-Syafi’i rhm. berkata,

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”
“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Lantas, apa yang dimaksud dengan ilmu? Seorang imam ahli hadits pengarang Kitab Fathul-Baari bisyarah Shahih Bukhori, Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rhm., berkata,

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu: Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul-Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

***

Sumber:
– Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
– Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Adab Murid terhadap Gurunya (2)

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta'ala.

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Adab Murid terhadap Gurunya (1)”, sudah dijelaskan secara ringkas lima dari sepuluh adab seorang murid kepada guru, antara lain mendahulukan kesucian jiwa, mengurangi kesibukan duniawi, tidak bersikap sombong kepada guru, menjaga diri dari perselisihan, dan mengambil cabang2 ilmu yang terpuji.

Tulisan berikut bertujuan untuk melengkapi kesepuluh adab seperti yang telah disebutkan.

Keenam, hendaklah seorang murid tidak menekuni semua cabang ilmu sekaligus, melainkan menjaga urutannya dimulai dari yang paling penting. Karena apabila usia kita tidak mencukupi untuk mempelajari semua ilmu, maka kita telah mengambil ilmu yang paling penting dan menyempurnakannya. Para ulama sepakat bahwa ilmu yang paling penting ialah ilmu akhirat. salah satunya yang paling mulia sekaligus puncaknya ialah ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala (ma’rifatullah).

Ketujuh, hendaklah seorang murid tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya, karena ilmu itu tersusun secara berurut. Misalnya, kita harus mempelajari ilmu tentang bersuci (thaharah) terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu tentang shalat, dan sebagainya.

Kedelapan, hendaklah seorang murid mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Yang dimaksud di sini ialah dua hal: pertama kemuliaan hasil, dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu enjinering. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu enjinering adalah kehidupan yang fana. Dengan demikian ilmu agama lebih mulia.

Kesembilan, hendaknya tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mampercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Seorang murid hendaknya tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabuhi orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Karena tujuan sebenarnya menuntut ilmu ialah untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Ilmu apapun, jika ia bermaksud untuk mencari ridha Allah, pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh, hendaklah seorang murid mengetahui kaitan ilmu dengan tujuannya supaya dapat mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, yang penting daripada yang lainnya. Maksud “yang penting” ialah apa yang menjadi kepentingan kita, dan tidak ada yang menjadi kepentingan kita kecuali urusan dunia dan akhirat.

***

Wallaahu a’lamu,

Semoga kita dapat meneladani akhlak para penuntut ilmu yang telah dicontohkan oleh para ulama’ dan mampu mengamalkannya. Karena ilmu yang bermanfaat bukan yang banyak diketahui, melainkan yang banyak diamalkan.

Semoga bermanfaat. 🙂

Referensi:

Tazkiyyatun-nafs, Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali, yang disusun ulang oleh Sa’id Hawwa.

Adab Murid terhadap Gurunya (1)

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

Said Hawwa menuliskan dalam bukunya, “Tazkiyyatun-nafs”, sebuah intisari “Ihyaa’ ‘Uluumud-diin” yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, bahwa murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak terhadap gurunya. Beliau menyusunnya menjadi sepuluh bagian:

Pertama, hendaknya seorang murid mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq . dan keburukan sifat. Karena pada dasarnya ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya bathin kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir (tampak) , tidak sah kecuali menyucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batihin yang menyemarakkan hati dengan dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah sekali-kali tidak mennjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzaab: 4)

Jika pikiran terpecah, maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya.” Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi menguap sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Penuntut ilmu hendaknya bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Di antara bentuk kesombongan terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal, padahal sikap ini merupakan kebodohan. Oleh sebab itu dikatakan, “Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.” Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendegnarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta’ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat, karena hal ini akan membingungkan akal dan pikirannya dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela’ah mendalam. Maka pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika usianya mendukung, maka ia hendaknya berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan itu saling mendukung dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

Ilmu-ilmu “syar’iyah” dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa manzilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya tujuan. Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga “syari’ah” yang tak ubahnya seperti para penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan pahala di akhirat sesuai dengan tingkatannya tersebut, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Demikianlah,

Apakah kita sudah menyucikan hati kita dari berbagai penyakit hati? Riya’, ‘ujub, sombong? | Karena menuntut ilmu itu ibadahnya hati.

Apakah kita masih sibuk dengan berbagai macam urusan dunia? | Karena pikiran yang terkonsentrasi itu lebih mudah menerima berbagai hakikat ilmu.

Apakah kita pernah – atau bahkan sering – bersikap sombong kepada guru kita? Ustadz? Dosen, mungkin? Atau orang-orang yang pernah mengajarkan kepada kita suatu ilmu? | Karena ilmu itu enggan kepada penuntut ilmu yang sombong.

Apakah kita sering berselisih terhadap suatu ilmu sedangkan kita tidak tahu dasarnya? Atau berselisih tentang suatu hal sedangkan kita belum mendalaminya? | Karena ilmu itu perlu dimantapkan sebelum mendengar berbagai perselisihan.

Apakah kita telah menuntut ilmu-ilmu yang terpuji, yang memiliki tujuan akhir ridha Allah subhanahu wa ta’ala? Atau masih berputar pada ilmu yang tidak jelas maksud dan tujuannya? | Karena menuntut ilmu yang terpuji merupakan sebab kita mendapat pahala yang besar di akhirat kelak.

Beristighfarlah, sesungguhnya Allah maha pengampun dosa, lagi maha penyayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan para pembaca.  🙂

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

sumber ilmu

Tulisan ini hanyalah sebuah ketik ulang ringkasan firman Allah, hadits dan dalil shahih tentang keutamaan ilmu dan ulama’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]

“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang mengamalkan amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” [HR. Muslim dari ‘Aisyah ra.]

“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam diin.” [HR. A-Bukhari dari Mu’awiyah ra.]

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]

“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan Ibnu Hibban]

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu : Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata :

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Abu Hurairah dan Abu Darda’ ra. berkata :

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah berkata :

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Imam Asy-Syafi’i ra. berkata :

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”, juga

“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Sumber :

Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Koreksi: Man Jadda Wajada

Man Jadda Wajada. pernah denger lah ya, kata mutiara itu sekarang banyak sekali bergaung di sekitar kita. terutama setelah diputarnya film Negeri 5 Menara (*saya belom nonton sih) yang diangkat dari Novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi itu. kata sebagian orang, sih, filmya keren, kata sebagian lagi ga keren. saya jadi bingung ini jadi mau nonton atau ga. *haha 😀

okelah, sebenarnya saya tidak ingin mengoreksi “Man Jadda Wajada” nya, tapi kadang orang salah menuliskan kalimat ini dengan “Man Jadda wa Jadda” atau “Man Jadda wa Jada”. lha, memangnya kenapa? yook, kita telisik bersama. 😀

“Man Jadda Wajada”. arti lengkapnya: “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia (akan) mendapatkan”.

ada tiga kata dalam kalimat ini. man, jadda, dan wajada. sama sekali berbeda dengan “man jadda wa jadda” yang memiliki empat kata, yaitu man, jadda, wa, jadda. berarti ada dua kata yang sama persis yaitu “jadda”.

bedanya di mana? oke kita kupas satu-satu.

  • man (من) = siapa (?), barangsiapa. contoh: man(i)l-ladzii ‘indahu qolamun? arti gampangnya “siapa yang punya pulpen?”. atau contoh lain: wa man yattaqi-llaaha yaj’al lahu makhrojan. artinya “dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, (Allah) akan menjadikan untuknya jalan keluar”.
  • jadda (جدّ) = bersungguh-sungguh. contoh: roaituhu jadda fit-ta’allumi. artinya “aku melihat dia bersungguh-sungguh dalam belajar”.
  • wajada (وجد) = mendapat. contoh: wajadtu faakihatan katsiirotan. artinya “saya mendapat buah-buahan yang banyak”.
  • wa (و) = dan, demi (dalam sumpah). contoh: wa qul lahumaa qaulan kariiman. artinya “dan katakan kepada keduanya (orangtua) perkataan yang mulia”.

jadi kesimpulannya, kalimat “man jadda wajada” (kalimat 1) dan “man jadda wa jadda” (kalimat 2) itu berbeda. kalimat 1 memiliki arti “barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia (akan) mendapatkan”. sedangkan kalimat 2 memiliki arti “barangsiapa yang bersungguh-sungguh dan bersungguh-sungguh”. ??? kalimat yang tidak lengkap jadinya. beda jauh bukan? padahal cuman beda satu spasi dan satu huruf. kalau di tulisan arab beda satu spasi dan satu tasydid. hampir tidak terlihat.

jadi yang benar “مَنْ جَدَّ وَجَد”. “man jadda wajada”. “barangsiapa yang bersungguh-sungguh, dia (akan) mendapatkan”.

yah, semoga tulisan ini tidak hanya sekedar koreksi, tapi mari kita tanamkan dalam diri kita masing-masing. bahwa sesuatu capaian atau cita-cita itu akan sangat sulit teraih bila kita tidak bersungguh-sungguh dalam meraihnya. dari koreksi ini, saya juga menghimbau dan mengajak kawan-kawan untuk sama-sama mempelajari dan memahami bahasa Arab. (*ga afdhol kan, kalo orang islam ga kenal sama bahasa Al-Qur’an, bahasa surga, dan bahasa Nabi Muhammad saw), hehe. harus bangga, dong, menjadikan bahasa arab sebagai bahasa kedua, masa’ kalah sama bahasa inggris. (hbb)

wallaahu a’lam bi-shshowaab.

Ringkasan TA’LIMUL-MUTA’ALLIM – Syeikh Ibrahim bin Isma’il al-Zarnuji (bag.4)

Fasal: Hal-Hal yang Dapat Menguatkan Hafalan dan yang Melemahkannya

  • Hal-hal yang dapat menguatkan hafalan antara lain: tekun belajar, mengurangi makan, sholat malam, dan membaca Alquran.
  • Membaca Alquran yang baik adalah dengan melihat mushaf.
  • Perbanyaklah sholawat kepada Nabi Muhammad saw.
  • Kuat hafalan adalah karunia dari Allah, dan karunia Allah tidak akan diberikan kepada orang yang maksiyat.
  • Hal-hal yang dapat merusak hafalan antara lain: banyak berbuat maksiat, banyak dosa, banyak berpikir susah, terlalu memikirkan harta, dan terlalu banyak kerja.
  • Orang yang cemas dengan urusan dunia biasanya karena hatinya gelap. Dan orang yang senantiasa memikirkan urusan akhirat hatinya bercahaya. Dan itu terlihat dari sholatnya.
  • Sholat dengan khusyuk dan menyibukkan diri dengan mencari ilmu dapat menghilangkan penderitaan dan kesusahan.

Fasal: Hal-Hal yang Dapat Mempermudah Datangnya Rezeki dan yang Menghambatnya

  • Hanya doa yang bisa menolak takdir.
  • Terhalang rezeki lantaran dosa yang dikerjakannya. Terlebih dosa dari dusta karena dusta dapat menyebabkan kefakiran.
  • Tidur di pagi hari bisa menyebabkan fakir harta juga fakir ilmu.
  • Termasuk rugi bila malam dibiarkan lewat begitu saja tanpa guna, karena malam juga termasuk dari umur yang dijatah.
  • Hal-hal lain yang dapat menghalangi rezeki ialah: tidur dengan telanjang, kencing telanjang, makan dalam keadaan junub, tidur di atas lambung, membiarkan makanan yang terjatuh, membakar kulit bawang merah dan bawang putih, menyapu rumah dengan sapu tangan, menyapu rumah pada malam hari, membiarkan sampah di dalam rumah, berjalan di muka orang tua, memanggil orang tua dengan nama keduanya, membersihkan gigi dengan sembarang kayu, membersihkan tangan dengan debu, duduk di muka pintu, bersandar di daun pintu, berwudu di tempat beristirahat, menambal baju yang sedang dikenakan, membersihkan badan dengan baju, membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah,  meremehkan sholat.
  • Hal-hal yang bisa menyebabkan kefakiran antara lain: tergesa keluar dari masjid ba’da subuh, terlalu pagi pergi ke pasar dan pulang paling akhir, membeli roti dari pengemis, mendoakan dengan doa yang buruk untuk anak, tidak menutup wadah, meniup lampu, menulis dengan pulpen yang diikat, menyisir rambut dengan sisir yang patah, tidak mau mendoakan orang tua, mengenakan surban dengan duduk, mengenakan celana dengan berdiri, kikir dan pelit, terlalu hemat, menunda atau meremehkan segala urusan.
  • Rasulullah Saw bersabda: “Memohonlah kalian turunnya rezeki dengan bersedekah”.
  • Adapun hal-hal yang bisa mendatangkan rezeki antara lain: bangun pagi sekali, menulis dengan tulisan yang indah, bermuka ceria, dan berbicara dengan perkataan yang baik.
  • Hal lainnya: mencuci pakaian, menyapu halaman, sholat dengan khusyuk, sholat dhuha, membaca surah waqiah, almulk, allail, muzammil, alam nasyrah, di waktu malam, datang ke masjid sebelum azan dikumandangkan, mendawamkan wudhu, sholat sunah fajar dan witir di rumah, dll.
  • Jangan membicarakan hal-hal duniawi setelah sholat witir.
  • Jangan banyak bergaul dengan perempuan, terkecuali ada hajat.
  • Jangan membicarakan hal hal yang tidak bermanfaat.
  • Siapa yang mengerjakan hal tidak berguna berarti ia telah kehilangan hal yang berguna.
  • sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh berkata: siapa yang sempurna akalnya niscaya sedikit bicaranya.
  • Berbicara itu hiasan sedangkan diam itu keselamatan.
  • Jangan banyak berbicara, bicaralah seperlunya saja.
  • Memang mungkin kita akan menyesal bila diam tapi itu tidak seberapa dengan menyesal karena bicara.
  • Salah satu amalan murah rezeki adalah bacaan: “subhanAllah al azhim subhanAllah wa bihamdih astagfirulloh wa atubu ilaih”; dibaca setelah terbit fajar hingga menjelang sholat subuh.
  • “La ilaha illAllah al malikul haqqul mubin”; sebanyak seratus kali dibaca setiap pagi dan sore.
  • Setiap fajar dan sehabis sholat bacalah “Alhamdulillah wa subhanAllah wa la ilaha illAllah”; sebanyak 33 kali.
  • Perbanyaklah membaca sholawat.
  • Perbanyaklah membaca “la haula wala quwwata illa billah al ‘aliyil ‘azhim”
  • Bacalah doa: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dari yang haram, dan cukupkanlah pula aku dengan karunia-Mu dari menghajatkan kepada selain-Mu”. Dibaca sebanyak tujuh puluh kali.
  • Pujian-pujian sebagai berikut: “antAllah al aziz al alhakim antAllah ala malikull quddus antAllah alhalimul karim”.

Ringkasan TA’LIMUL-MUTA’ALLIM – Syeikh Ibrahim bin Isma’il al-Zarnuji (bag.3)

Fasal: Waktu-Waktu Baik Buat Belajar

  • Janganlah menyibukkan diri kecuali dalam menuntut ilmu.
  • Para ulama bahkan ada yang pernah tidak nyenyak selama empat puluh tahun.
  • Masa muda harus digunakan untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya.
  • Waktu yang paling baik untuk belajar adalah menjelang waktu subuh dan antara maghrib dan isya.
  • Penuntut ilmu harus mempergunakan seluruh waktunya hanya untuk belajar.
  • Andai jika timbul rasa jemu pada sebuah pelajaran hendaknya beralih kepada pelajaran yang lain.

Fasal: Saling Mengasihi dan Menasehati

  • Orang berilmu harus saling menghormati dan menyayangi sesama dan tidak iri dengki.
  • Anak seorang alim menjadi alim pula berkat ia mengajar anak-anak orang lain terlebih dahulu daripada anaknya sendiri.
  • Jangan suka berdebat karena hal itu menyiakan waktu.
  • Biarkanlah orang yang berlaku jahat padamu, cukuplah apa yang ia lakukan menjadi balasan kejahatannya.
  • Bila kau ingin musuhmu mati karena sedih hati atau bertambah gelisah, maka tambahlah ilmumu sehingga ia akan semakin bertambah menderita batin.
  • Kamu harus sibuk melakukan kebaikan dan hindarilah permusuhan. Karena bila kebaikan semakin tampak pada dirimu, keganasan musuh pun akan lenyap.
  • Karena permusuhan hanya akan membuatmu terpojok dan membuang waktumu.
  • Hindarilah permusuhan terlebih kepada orang yang bodoh.
  • Jangan suka berprasangka buruk dengan orang lain karena itu sumber permusuhan.
  • Jika perbuatan seseorang buruk berarti dugaannya pun buruk.
  • Tambahlah kebaikan kepada orang lain sekalipun ia berbuat buruk kepadamu. Karena kelak kamu akan terlindung dari tipu dayanya dan dia akan tertimpa apa yang telah ia lakukan.
  • Jika kamu ditipu orang jangan balas dengan menipunya.
  • Biasanya bagi orang pandai itu ada musuh dari orang orang bodoh yang sengaja mempersulitnya. Orang orang bodoh tadi memang ingin menzaliminya saja tapi sebaiknya ia tidak menghiraukannya dan membalasnya.

Fasal: Mencari Tambahan Ilmu Pengetahuan 

  • Penuntut ilmu harus menambah ilmu setiap harinya agar mendapat kemuliaan.
  • Jangan lupa untuk membawa buku dan alat tulis guna menulis ilmu yang bermanfaat yang ia temukan.
  • Menghafal sebaik-baik yang didengarkan. Mengatakan sebaik-baik yang dihafal.
  • Hafallah pelajaran sedikit demi sedikit setiap harinya. Karena sesuatu yang banyak dimulai dari yang sedikit.
  • Malam itu terlalu panjang jangan kamu habiskan untuk tidur. Siang hari itu terang benderang jangan kau redupkan dengan dosa dosamu.
  • Penuntut ilmu harus memanfaatkan benar waktu selama bersama ulama. Gunakan untuk menimba pengetahuan dari mereka. Karena kalau sampai ia telah berlalu maka kesempatan itu tidak akan datang lagi.
  • Kehinaan dan kerugian akibat dari tidak menghiraukan ilmu Allah pada ulama. Maka berlindunglah kepada Allah siang dan malam.
  • Para penuntut ilmu itu harus tahan menanggung penderitaan dan kehinaan ketika menuntut ilmu.
  • Menuntut ilmu itu tidak bisa dipisahkan dari guru dan teman teman belajar.
  • Kamu tidak akan memperoleh kemuliaan selama kamu tidak menghinakan dirimu sendiri dengan menuntut ilmu yang penuh penderitaan.

Fasal: Wara’

  • Bersikaplah wara’ (menjaga dari hal hal yang tidak jelas halalnya).
  • Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang tidak berlaku wara’ ketika belajar ilmu maka dia akan diuji oleh Allah dengan salah satu dari tiga hal; mati muda, tinggal bersama-sama orang yang bodoh, atau diuji menjadi pelayan pemerintah.
  • Termasuk sifat wara’ adalah menghindari rasa kenyang perut, banyak tidur, dan banyak bicara yang tidak berguna.
  • Jangan suka makan makanan di pasar karena ia kurang berkahnya lantaran orang miskin menginginkannya namun tidak bisa membelinya.
  • Para ulama salaf diberi keluasan ilmu berkah dari bersikap wara’.
  • Jauhilah menggunjing dan berkumpul dengan orang yang banyak bicara.
  • Orang yang banyak bicara telah mencuri umurmu dan membuang waktumu.
  • Termasuk sifat wara’ lagi adalah: menyingkir dari orang yang suka berbuat kerusakan dan maksiat, dari orang yang suka menganggur. Karena kita bisa terpengaruh.
  • Hadaplah kiblat ketika belajar.
  • Jangan pernah meremehkan hal-hal adab sopan santun dan hal hal yang disunnahkan.
  • Orang yang terbiasa meremehkan akhlak bisa meremehkan hal-hal yang sunnah dan itu bisa membawa kepada meremehkan hal-hal yang wajib. Sedangkan meremehkan ibadah wajib tentu terhalang dari perkara-perkara akhirat.
  • Seorang Penuntut ilmu harus memperbanyak salat dan khusyuk di dalamnya. Karena itu membantu memperoleh ilmu dan dalam belajar.
  • Jagalah perintah dan larangan Alloh, kerjakanlah salat, tuntutlah ilmu agama, dan giatlah dalam memohon pertolongan melalui amalan yang baik, niscaya kamu akan menjadi ahli ilmu agama.
  • Bawalah buku kemana saja untuk dipelajari. Dan catatlah apa yang kau dengar dari gurumu.

Ringkasan TA’LIMUL-MUTA’ALLIM – Syeikh Ibrahim bin Isma’il al-Zarnuji (bag.2)

Fasal: Cara Menghormati Ilmu dan Guru

  • Tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaatnya bila tidak mau menghormati ilmu dan gurunya.
  • Cara menghormati guru antara lain: tidak berjalan di depan gurunya, tidak duduk di tempat yang diduduki gurunya, bila dihadapan gurunya tidak memulai pembicaraan kecuali ada izinnya.
  • Janganlah terlalu banyak bicara di hadapan guru, tidak menanyainya dalam keadaan yang lelah atau bosan, perhatikan waktunya, tidak mengganggunya di rumahnya.
  • Intinya penuntut ilmu haruslah mencari keridhoaan dari gurunya.
  • Jangan menyakiti hati guru karena itu menyebabkan ilmu tidak dapat berkah.
  • Cara menghormati guru adalah dengan menghormati kitab atau buku.
  • Jangan memegang buku kecuali dalam keadaan suci.
  • Ilmu itu adalah cahaya, sedangkan wudhu juga cahaya. Cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu.
  • Menghormati buku juga dengan cara: tidak meletakkan buku di dekat kakinya ketika bersila, meletakkan buku buku tafsir di atas buku-buku lain juga tidak meletakkan apa pun di atas buku.
  • Kecuali kalau ia tidak berniat meremehkan. Tapi alangkah lebih baiknya bila tidak melakukannya.
  • Perbaguslah tulisan di dalam buku. Jangan terlalu kecil sehingga sulit dibaca.
  • Sebaiknya tidak menggunakan tinta warna merah dalam menulis, karena itu kebiasaan filosof dan bukan kebiasaan ulama salaf.
  • Cara lain dalam menghormati ilmu adalah dengan menghormati teman belajar terutama orang yang mengajarnya.
  • Hendaknya tetap mendengarkan ilmu dan hikmah dengan hormat sekalipun ia telah berkali kali mendengarnya.
  • Sebaiknya penuntut ilmu tidak sembarangan memilih ilmu, tapi diserahkan kepada gurunya. Karena gurunya biasanya lebih tahu dengan yang terbaik bagi muridnya tersebut.
  • Janganlah terlalu dekat duduk dengan gurunya.
  • Penuntut ilmu harus meninggalkan akhlak yang tercela. Karena akhlak yang tercela diumpamakan binatang anjing yang samar.
  • Ilmu adalah musuh bagi orang orang yang congkak.
  • Kemuliaan itu datang bukan karena usaha, tapi dari pemberian karunia Alloh.

Fasal: Kesungguhan Dalam Menuntut Ilmu, Keistiqomahan dan Cita-cita yang Tinggi

  • Penuntut ilmu harus bersungguh sungguh dalam belajar. Harus tekun.
  • Siapa yang berusaha keras niscaya ia mendapatkannya.
  • Mencari ilmu tidak akan berhasil tanpa kerja keras dan usaha maksimal yang penuh kesengsaraan.
  • Naiflah seseorang yang tidak mau berusaha secara optimal padahal ia mampu.
  • Jangan terlalu banyak tidur malam hari.
  • Orang yang ingin mendapatkan ilmu haruslah meninggalkan tidur malam.
  • Sebaiknya malam digunakan dalam belajar dan ibadah.
  • Biar tidak banyak tidur di malam hari, sebaiknya tidak banyak makan agar tidak ngantuk.
  • Sebaiknya pelajaran diulang pada awal malam dan akhir malam karena saat saat tersebut diberkahi.
  • Bersifatlah wara, kurangi tidur, kurangi makan dan tekunlah belajar.
  • Karena kerja kerasmulah kamu akan diberi.
  • Orang yang ingin sukses sebaiknya mengurangi tidur malam.
  • Gunakanlah masa mudamu dalam menuntut ilmu karena  ia tidak akan terulang lagi.
  • Bersungguh sungguh bukan berarti memaksakan diri.
  • Kita tidak boleh memaksakan diri melebih dari kemampuan kita.
  • Karena kalau dipaksakan bisa melemahkan badan dan tidak mampu bekerja lagi
  • Tuntutlah ilmu itu pelan pelan saja tapi kontinyu. Intinya adalah kesabaran.
  • Bercitalah setinggi-tingginya. Karena orang yang tinggi derajatnya lantaran pernah bercita tinggi.
  • Modal pokok adalah kesungguhan.
  • Semua bisa didapat dengan kesungguhan dan bercita luhur.
  • Ingin pandai tapi tidak mau sungguh sungguh tidak dapatlah ilmu kecuali sedikit.
  • Bersungguh sungguh tapi tidak tergesa-gesa.
  • Kamu memang bodoh, tapi itu bisa kamu usir dengan terus menerus belajar.
  • Jauhilan sifat malas karena itu sumber keburukan dan kerusakan yang amat besar.
  • Jangan suka menunda karena itu kebiasaan para pemalas. Dan sifat malas itu mendatangkan keburukan dan malapetaka.
  • Tinggalkanlah malas dan menunda supaya tidak tetap dalam kehinaan.
  • Tidak ada yang diberikan kepada pemalas kecuali penyesalan lantaran gagal meraih cita-cita.
  • Penderitaan, kelemahan dan penyesalan bermula dari sifat malas.
  • Malas belajar timbul karena kurang sadarnya perhatian terhadap keutamaan dan pentingnya ilmu.
  • Ilmu akan kekal sedangkan harta benda akan sirna.
  • Orang yang ilmunya bermanfaat akan tetap dikenang sekalipun ia telah meninggal.
  • Lupa disebabkan banyak dahak. Banyak dahak lantaran banyak minum dan makan.
  • Bersiwak dapat mengurangi dahak, menguatkan hapalan dan menyebabkan kefasihan.
  • Perut yang penuh lantaran banyak makan mengurangi ketangkasan.

Fasal: Mulai Belajar, Ukuran dan Urutannya.

  • Mulailah dari hari rabu karena pada hari itu cahaya diciptakan.
  • Para santri seharusnya memulai belajar dengan cara menghafal kitab lalu kemudian memahaminya. Setelah paham baru menambah sedikit demi sedikit.
  • Setiap kitab atau buku sebaiknya diulang dua kali. Tapi kalau lebih tebal kalau bisa sampai sepuluh kali. Biasakanlah hal ini.
  • Mulailah juga dari buku buku yang mudah dipahami karena ia tidak membosankan dan tidak melekat.
  • Setelah menghapal dan memahami baru lakukanlah pencatatan.
  • Jangan mencatat sebelum paham karena itu membuang buang waktu.
  • Penuntut ilmu harus benar-benar memahami apa yang dikatakan gurunya kemudian mengulang-ulangnya hingga benar benar mengerti.
  • Jangan biasakan tidak mau memahami apa yang disampaikan oleh pengajar, karena bisa menjadi kebiasaan sehingga ia tidak dapat memahami apa apa kecuali sedikit.
  • Jangan lupa untuk berdoa ketika memahami pelajarannya.
  • Setelah benar benar paham dan tidak khawatir akan lupa baru kemudian melangkah ke pelajaran selanjutnya.
  • Cara mudah agar tidak lupa dengan pelajaran adalah dengan mengajarkannya kepada orang lain.
  • Hal yang baik bila suatu masalah atau satu pendapat didiskusikan. Karena belajar dengan diskusi itu lebih efektif daripada belajar sendiri. Sebab dalam diskusi kita dituntut untuk lebih berpikir dan lebih maksimal.
  • Jangan berdiskusi dengan orang yang buruk tabiatnya atau dengan orang yang tidak mencari kebenaran yang hanya ingin mempersulit orang.
  • Penuntut ilmu haruslah membiasakan berpikir keras tentang pelajaran yang sukar dipahami, karena banyak dipaham lantaran dipikirkan.
  • Jangan berbicara atau menyampaikan sesuatu sebelum berpikir agar tidak tersalah.
  • Para Penuntut ilmu harus terus menerus belajar kapan saja dan dari mana saja menambah pengetahuannya.
  • Biasakanlah lisan dalam bertanya dan biasakanlah hati yang banyak berpikir.
  • Pertanyaan yang bagus disampaikan adalah “bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?”
  • Sering seringlah bertukar pikiran dengan orang lain.
  • Tidak masalah bila Penuntut ilmu bekerja. Tapi tetaplah belajar dan jangan malas-malasan.
  • Jangan ada alasan untuk tidak belajar.
  • Jangan lupa untuk bersyukur mengucap hamdalah ketika paham dengan satu masalah, semoga ditambahkan oleh Allah swt.
  • Jauhilan sifat kikir/pelit.
  • Belilah buku karena itu memudahkan dalam belajar dari orang lain.
  • Jangan rakus dengan harta orang lain.
  • Tinggalkanlah sifat tamak dengan harta orang lain dan sifat kikir dengan harta sendiri.
  • Orang-orang dulu belajar bekerja baru mencari ilmu pengetahuan agar mereka tidak tamak dengan harta orang lain.
  • Berharaplah hanya kepada Alloh.
  • Penuntut ilmu mengulang pelajaran sebaiknya konsisten. Semisal setiap harinya ia mengulang pelajaran hingga sepuluh kali. Maka lakukanlah sejumlah itu pula di hari hari berikutnya.
  • Ingat! Pelajaran tidak akan melekat bila tidak diulang-ulang.
  • Biasakanlah membaca dengan keras, tanda semangat supaya tidak bosan.
  • Penuntut ilmu tidak boleh berputus asa karena itu berakibat buruk.
  • Saran yang baik dalam bidang fikih adalah dengan menghapal satu kitab saja darinya dan itu akan memudahkan dalam mempelajari kitab kitab lainnya.

Fasal: Tawakkal

  • Bertawakallah kepada Alloh dalam masalah rezeki ketika menuntut ilmu. Tidak perlu mencemaskannya. Karena ada hadis nabi yang mengatakan orang yang memperdalam ilmu agama niscaya akan Alloh cukupkan dan Ia beri rezeki dari jalan yang tidak ia sangka-sangka.
  • Orang yang sibuk dengan perkara rezeki dalam hal makanan dan pakaian, biasanya tidak gubris lagi dengan akhlak mulia dan hal hal yang tinggi lainnya.
  • Manshur al hallaj berkata: sibukanlah nafsumu, karena bila tidak ialah yang akan membuatmu sibuk.
  • Orang yang berakal tidaklah boleh cemas dengan urusan dunia.
  • Tidak memikirkan rezeki bukan berati tidak bekerja lo.
  • Para penuntut ilmu sebaiknya menjauhi urusan duniawi sebisanya.
  • Penuntut ilmu harus sabar dan tabah selama menuntut ilmu. Karena memang fitrahnya bahwa pergi menuntut ilmu berarti harus berhadapan dengan kesengsaraan.
  • Orang yang tabah selama di dalam menuntut ilmu akan mendapatkan manis dan lezatnya ilmu.

Ringkasan TA’LIMUL-MUTA’ALLIM – Syeikh Ibrahim bin Isma’il al-Zarnuji (bag.1)

Fasal: Hakikat Ilmu, Hukum Menuntut Ilmu dan Keutamaan Ilmu

  • Tidak memperoleh manfaat dari ilmu artinya ilmu yang didapat tidak dapat diamalkan dan disebarkan.
  • Salah satu penyebabnya adalah keliru ketika menuntut ilmu.
  • Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal. Artinya ilmu yang diperlukan saat itu.
  • Dan yang paling penting tentu adalah ilmu agama karena setiap orang islam mestilah tahu dengan kewajibannya sebagai seorang muslim. Semisal salat, zakat, haji dan lain-lain.
  • Dikarenakan untuk bisa mengerjakan yang diwajibkan ilmu, maka menuntut ilmu itupun hukumnya menjadi wajib pula.
  • Setiap orang muslim juga mesti menuntut ilmu hati seperti tawakal, tobat, takut kepada Alloh, dan ridho karena semua itu terjadi pada segala keadaan.
  • Ilmu hanyalah dimiliki manusia. Makhluk selain manusia tidak memilikinya.
  • Dengan ilmulah Nabi Adam as mendapat kemuliaan sehingga para malaikat disuruh untuk bersujud kepadanya.
  • Jadi intinya ilmu itu sangatlah penting karena ia menjadi wasilah untuk bertakwa.
  • Mendapatkan petunjuk dari Alloh, ya dengan menuntut ilmu agama. Karena kalau tidak dituntut ya tidak bakal dapat.
  • Orang yang ahli ilmu agama dan bersifat wara lebih berat bagi setan menggoda ketimbang seribu ahli ibadah yang bodoh.
  • Orang muslim juga mesti menuntut ilmu tentang akhlak yang tercela guna menghindarinya.
  • Setiap muslim wajib mengisi seluruh waktunya dengan berzikir kepada Alloh, berdoa, memohon seraya merendahkan diri kepadaNya, membaca alquran dan bersedekah guna terhindar dari marabahaya.
  • Tidaklah ilmu itu kecuali untuk diamalkan.
  • Mengamalkan ilmu berarti meninggalkan dunia untuk kebahagiaan akhirat.
  • Setiap muslim haruslah mempelajari ilmu yang bermanfaat dan menjauhi ilmu yang tidak berguna agar ilmunya tidak membahayakan dirinya.

Fasal: Niat Dalam Menuntut Ilmu

  • Niat menuntut ilmu haruslah: ikhlas mengharap ridho Alloh, mencari kebahagiaan di akhirat, menghidupkan agama, menghilangkan kebodohan, dan melestarikan Islam.
  • Orang yang tekun beribadah namun bodoh lebih besar bahayanya daripada orang alim tapi durhaka, keduanya adalah penyebab fitnah di kalangan umat dan tidak layak dijadikan panutan.
  • Jangan sampai dalam niat menuntut ilmu terbersit niat supaya dihormati masyarakat, untuk mendapatkan harta benda dunia, atau agar mendapat penghormatan di hadapan pejabat atau lainnya.
  • Barang siapa yang menikmat lezatnya ilmu dan nikmatnya mengamalkannya. Maka ia tidak akan tertarik dengan harta milik orang lain.
  • Boleh menuntut ilmu dengan tujuan untuk mendapatkan kedudukan di masyarakat yang dengannya digunakan dalam rangka amar makruf nahi munkar, menjalankan kebenaran dan menegakkan agama Alloh.
  • Para ulama haruslah menghindari hal hal yang dapat merendahkan derajatnya. Ia harus tawadu tidak tamak terhadap harta dunia.
  • Orang alim harus tetap berwibawa sekalipun tawadhu agar ilmu dan orang agama tidak dilecehkan.

Fasal: Cara Memilih Ilmu, Guru, Teman dan Apa Itu Ketekunan

  • Seorang penuntut ilmu harus memilih ilmu yang paling baik dan yang paling cocok baginya.
  • Dalam ilmu agama, ilmu tauhidlah yang harus diutamakan.
  • Tinggalkan ilmu debat karena ia menjauhkan seseorang dari ilmu fikih, menyiakan umur, menimbulkan keresahan dan menimbulkan permusuhan.
  • Carilah guru yang alim yang wara’ dan yang lebih tua dalam pengalaman.
  • Seharusnya setiap orang bermusyawarah dengan orang alim dalam masalah menuntut ilmu dan segala urusan yang lain.
  • Kesabaran dan ketabahan plus ketekunan adalah pokok dari segala urusan.
  • Keberanian adalah kesabaran menghadapi kesulitan dan penderitaan.
  • Seorang penuntut ilmu harus sabar dalam mengaji kepada seorang guru dan dalam satu pelajaran sampai ia benar-benar paham. Hal itu guna dak menyebabkan waktunya sia-sia.
  • Penuntut ilmu tidak boleh menuruti hawa nafsunya karena ia rendah nilainya. Barangsiapa yang kalah dengan hawa nafsu berarti ia telah kalah dari kehinaan.
  • Penuntut ilmu harus tabah dengan ujian dan cobaan karena gudang ilmu itu diliputi dengan cobaan dan ujian.
  • Ali bin abi Talib: “ketahuilah kamu tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan bekal enam perkara, yaitu cerdas, semangat, bersabar, memiliki bekal, petunjuk atau bimbingan dari guru dan waktu yang lama.
  • Penuntut ilmu harus berteman dengan orang yang tekun belajar, besifat wara, dan berwatak isitiqomah juga orang orang yang suka memahami ayat ayat alquran dan hadis nabi.
  • Jangan pilih teman yang malas, banyak bicara dan suka memfitnah.
  • Bertemanlah dengan orang baik engkau pun akan mendapatkan petunjuk.
  • Orang banyak rusak lantaran teman yang rusak.
  • Malas adalah penyakit yang menular.
  • Sebelum memilih seseorang untuk dijadikan teman, lihatlah terlebih dahulu siapa teman-temannya.

Evaluasi Diri

Jika kita melihat contoh orang-orang terdahulu, contoh para ulama salaf, barangkali kita akan tercengang. Bagaimana tidak? Sungguh menakjubkan amal yang mereka lakukan. Semangat mereka amat luar biasa. Kontinuitas mereka dalam beramal selalu terjaga. Di antara buktinya adalah kisah-kisah berikut ini.

Waki’ bin Al Jarroh rahimahullah berkata, “Al A’masy selama kurang lebih 70 tahun tidak pernah luput dari takbiratul ihrom.”

Masya Allah, lalu di manakah kita? Tatkala mendengar adzan saja tidak dipedulikan. Apalagi seringnya telat dan bahkan sering menempati shaf terbelakang.

Al Qodhi Taqiyuddin Sulaiman bin Hamzah Al Maqdisi rahimahullah berkata, “Aku tidaklah pernah shalat fardhu sendirian kecuali dua kali. Dan ketika aku shalat sendirian, aku merasa seakan-akan aku tidak shalat.”

Lihatlah penyesalan Sulaiman bin Hamzah di atas. Ia teramat sedih luput dari shalat jama’ah. Berbeda dengan kita yang tidak sesedih itu. Hati terasa tenang-tenang saja (tidak ada rasa menyesal) ketika shalat di rumah. Kalau kita teringat akan pahala shalat jama’ah yang 27 derajat lebih mulia dari shalat sendirian, tentu kita tidak akan meninggalkannya.

Muhammad bin Sama’ah rahimahullah berkata, “Selama 40 tahun aku tidak pernah luput dari takbiratul ihram (bersama imam) walaupun sehari saja kecuali ketika ibuku meninggal dunia.”

Lihatlah Muhammad bin Sama’ah karena ada udzur saja beliau tinggalkan shalat jama’ah. Tidak seperti kita yang selalu kemukakan beribu alasan, sibuklah, ada tugaslah, dan alasan lainnya yang sebenarnya bukanlah udzur yang dibenarkan.

Dalam biografi Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah di kitab Tahdzib At Tahdzib disebutkan, “Selama 40 tahun tidaklah dikumandangkan adzan melainkan Sa’id telah berada di masjid.”

Lihatlah semangat yang luar biasa, berusaha tepat waktu ketika shalat, berusaha ontime sebelum adzan. Tidak seperti kita yang masih asyik-asyikkan di depan TV, yang masih asyik-asyikan bercanda dengan teman, yang lebih senang bersama dengan istri dan anak-anak. Wallahul musta’an.

Asy Sya’bi rahimahullah berkata, “Tidaklah adzan dikumandangkan semenjak aku masuk Islam melainkan aku telah berwudhu saat itu.”

Lihatlah bagaimana semangat Asy Sya’bi yang selalu berusaha pula shalat on time, bahkan sudah berwudhu sebelum waktu adzan.

Ulama belakangan pun ada yang punya kisah demikian. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah terkenal dengan semangat beliau dalam ibadah di samping beliau sudah ma’ruf dengan perbendaharaan ilmu diin yang amat luas. Beliau adalah orang yang rutin menjaga shalat sunnah rawatib, rajin menjaga dzikir-dzikir khusus dan rutin pula menjaga shalat malam (tahajjud).

Anak Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz yang bernama Ahmad berkata, “Aku sudah lama mengetahui kalau ayahku selalu bangun tidur satu jam sebelum shalat shubuh dan ketika itu beliau shalat (tahajjud) sebanyak 11 raka’at (sudah termasuk witir, pen).”

Dari sini maka sudah sepantasnya orang yang telah mengetahui suatu amalan agar semangat untuk mengamalkannya. Menuntut ilmu agama bukanlah sekedar tambah wawasan dan memperluas cakrawala. Hendaklah orang yang sudah mendalami ilmu agama berusaha lebih giat lagi dalam ibadah karena mereka adalah qudwah (contoh) bagi yang lain. Jika orang yang menuntut ilmu agama telah semangat dalam kebaikan seperti ini, maka yang lain pun akan ikut termotivasi. Namun jika mereka-mereka saja malas, maka yang lain pun bisa terpengaruh kebiasaan buruk tersebut. Jadilah qudwah, jadilah teladan, barengkanlah ilmu dan amal. Tetap perdalam dan rajin menuntut ilmu diin disertai semangat mengamalkan ilmu tersebut. Ingat pula bahwa sebaik-baik amalan adalah yang kontinu walaupun sedikit.
Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Reference:
Al Imam Ibnu Baz, Dr. ‘Abdul ‘Aziz As Sadhaan, hal. 76-77, terbitan Maktabah Al Malik Fahd, cetakan kedua, 1428 H
Soeta Airport-Jakarta, on Journey to Jogja, 11 Jumadal Ula 1432 H (14/04/2011)
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://www.muslim.or.id

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

Selamat Datang

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"