Posts Tagged ‘ islam ’

Serba Terbalik

entah mengapa akhir2 ini saya melihat ada banyak sekali hal2 yang saya rasa mulai “terbalik”. maksud saya, terbalik dari fitrah yang sebenarnya. atau keluar dari fitrahnya. tidak perlu jauh-jauh, kita lihat saja di lingkungan kita sendiri, lingkungan kampus, kerja, rumah, dunia maya, dan keluarga barangkali.

Jalan Yuk!

coba lihat, masalah pergaulan misalnya. cowok-cewek (non-mahram, blm nikah) berduaan, sudah menjadi pemandangan yang biasa. kalo gak punya pacar/pacaran dikira gak gaul, gak laku, gak keren, kasian. yee justru mereka2 ini orang yang terjaga. Allah yang menjaga mereka agar tidak dekat2 dengan zina. Allah sendiri kan yang melarang dekat2 dengan zina. deket2 aja dilarang. berarti kalo ada orang yang dijauhkan dari zina, berarti orang itu spesial dong. tau kan kalo berduaan, atau (bahasa kerennya) khalwat itu dosa. dan ngundang sesuatu yang lebih dosa, bahkan hina. kalo berduaan, datang setan sebagai orang ketiganya, yang godain agar terjadi macem2. pegang2 kek, cium2 kek, “itu” kek, dan apapun yang dilarang oleh Allah. hiiii serem. na’uudzu billaah min dzaalik.

Macem2 dikit, Bunuh!

ada lagi, rasanya sekarang tuh mbunuh orang udah jadi satu-satunya solusi untuk orang yang marah/kesel ya. entah itu suami marah sama istri, majikan marah sama pembantu, kakak marah sama adiknya, ayah sama anaknya, dll. suami kesel sama istrinya yang gak ngijinin sertifikat tanahnya digadaikan untuk beli motor, istrinya dibunuh. <– ini pernah ada di berita. orang pacaran, salah satu selingkuh, bla bla bla, tiba2 pacarnya dibunuh. belum lagi kasus TKW di luar sana yang suka disiksa oleh majikannya. kok ya bisanyaaa bunah-bunuh orang, enteng gitu kayanya, padahal membunuh itu termasuk dosa buuuesar. heu, na’uudzu billaah.

Enak (?), tapi Modar!

kalau tadi mbunuh orang, sekarang mbunuh diri sendiri. ada yang gantung diri, minum baygon, adapula yang sebenernya gak pengin bunuh diri, tapi aksinya itu menunjukkan bahwa dia sedang bunuh diri. pernah ada berita beberapa hari yang lalu di Sumedang, sekampung ngoplos semua, cowok-cewek, tua-muda, saya lupa komposisinya apa aja. akhir cerita mereka pada masuk rumah sakit, beberapa tidak tertolong karena saking parahnya, akhirnya satu per satu mati. ya Allaah, betapa kasihannya mereka ini, apakah tidak ada da’i di kampung mereka sehingga semua hobi ngoplos gini. seharusnya udah pada tahu ngoplos itu bukan salah satu solusi mau minum enak, kalau memabukkan sama saja minum khamr, kalau sampe mati gini, yaa sama kaya bunuh diri. na’uudzu billah min dzalik. kalau mau minum enak, dingin, masih banyak tuh di alfamart, kalo gak nemu ya coba cari di indomaret. ngapain harus ngoplos segala. “ngoplos lebih murah mas,” hee.. enak aja, berarti nyawamu masa lebih murah dari teh botol sosro. wkwk.

Asing sama Agama Sendiri (?)

saya ga tau nih berapa persen dari kita yang sudah mulai rada2 jarang belajar agama, jarang baca al-qur’an, jarang wiridan, jarang sedekah, dll. atau malah sering ninggalin sholat. na’uudzu billaah min dzaalik. sepertinya semua tadi mulai kalah pamor sama line, whatsapp, path, instagram, facebook, twitter, pulsa, lagu2, film, drama, dll. sadar gak guys? seharusnya sih kita sadar. waktu yang dulu kita gunain buat baca al-qur’an, udah mulai ilang tuh dipake baca update-an di twitter. tangan kita yang dulunya sering pegang tasbih, ilang tuh tasbihnya ganti gadget. geser-geser-geser sampe 33x. hehe. dulu pas lagi nganggur biasa baca buku2 yang bermanfaat, sekarang ganti mainan game android yang kayanya lumayan seru. kayanya kita sekarang lebih apal kehidupannya artis, pemain bola, musisi, ketimbang Nabi kita Muhammad saw. duit lebih banyak buat beli pulsa paket internet daripada sedekah.

ya, seolah-olah kita udah mulai mentingin bisa eksis di medsos daripada eksis di hadapan Allah. kita lebih kawatir gak naik level di game daripada gak naik derajat di hadapan Allah. kita lebih nikmat baca update-an di dunia maya daripada baca al-qur’an. lebih apal lagu2 daripada al-qur’an. lebih tahu gosip artis daripada kisah para sahabat dan para ulama’ terdahulu.

sebenernya guys, yang terpenting adalah bagaimana pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Allah swt? kita jelas-jelas sedang menjauh dari Allah, padahal yang ngasih semuanya itu Allah, nikmat sehat, harta, teman, dll. Allah juga sudah kirimkan kita manusia paling sempurna untuk dijadikan teladan, Nabi Muhammad saw., yang bahkan kalau para Nabi sebelumnya ditanya, mereka memilih untuk menjadi ummat Nabi Muhammad saw, saking sempurnanya beliau. masih nyari yang lain? jelas gak ada yang setara dengan beliau.

yuk ah, jangan mau dibolak-balik sama orang-orang penguasa teknologi. kalau mau memanfaatkan teknologi, manfaatkan untuk kebaikan. jangan malah bikin “lupa”. yuk, buka lagi al-qur’an-nya, dibaca. mulai isi waktu-waktu luang untuk membaca ilmu2 untuk bekal akhirat. belajar siroh/kisah kehidupan Nabi saw, agar kita bisa menyelami dan menghayati akhlak dan ajaran2 beliau saw. mulai perbanyak kebaikan kita, mumpung di dunia. mati tidak ada yang tahu kapan datangnya kan. yakinlah, kalau kita punya niat kuat untuk bergegas dalam kebaikan Allah pasti memberi jalan. gapapa kok, ketinggalan update-an di medsos. gapapa juga ketinggalan film seru juara oscar. apalagi gak apal lagu2, gapapaa, yang penting apal surah2 al-qur’an. 🙂

semoga kita semua diberi hidayah ya oleh Allah swt., sumber hidayah ada dua, langsung dari Allah tanpa sebab, dan kita sendiri yang mengusahakan sebabnya. terserah Allah mau kasih hidayah lewat jalan yang mana. setelah diberi hidayah semoga Allah memberi kita istiqomah. dikatakan, “istiqomah itu bahkan lebih utama daripada seribu karomah..”. dan yang pasti kita minta agar diberi husnul-khatimah. aamiin. maaf yak curhatan saya malam ini panjang. kita sama2 perbaiki diri lah intinya.

wallaahu a’lam.

Moderat

al-Habib 'Umar bin Hafizh rahimahullahu ta'ala

al-Habib ‘Umar bin Hafizh hafizhohullahu ta’ala

Ad-Da’i ilallaah Al-Habib ‘Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, atau lebih dikenal sebagai Habib ‘Umar bin Hafizh, menerangkan tentang pengertian “moderat” dalam perspektif islam. Dalam kitabnya yang berjudul “Al-Wasathiyah fil-Islam” beliau menuliskan:

“Moderat bukan sekadar bersikap lunak atau sekadar bersikap proporsional dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain. Pengertian moderat lebih luas dari itu. Moderatisme harus ditempatkan sebagai sebuah pemahaman yang benar terhadap hakikat syari’at dalam setiap kedudukannya. Ia merupakan hakikat dari petunjuk-petunjuk Ilahiyah yang telah diterima Rasulullah SAW dari Tuhannya, yang kemudian diamanatkannya untuk disampaikan kepada segenap manusia.

Tidaklah kemaslahatan itu terlepas dari risalah syari’at yang dibawa Rasulullah SAW, baik kemaslahatan di Barat maupun di Timur, bagi orang Arab maupun non-Arab, Eropa, Australia, Amerika, ataupun Afrika. Syari’at Rasulullah SAW memuat semua apa yang dibutuhkan oleh semua orang dari mereka, tanpa kecuali, dengan segala pola pikir mereka yang berbeda-beda.

Dengan demikian, keteguhan seseorang terhadap agamanya, kedalamannya dalam memahami agamanya, serta upayanya untuk mengamalkan ajaran-ajaran agamanya, merupakan gambaran dari hakikat kemoderatan dan perilaku beragama yang lurus. Pemahaman yang buruk dan ekstrem berada di luar jalan yang lurus dan moderat, demikian pula sikap lalai dan ceroboh, tidak peduli dengan hukum-hukum Tuhan, Yang Mahabenar. Sehingga, sikap moderat harus terlepas dari dua kutub yang sama-sama tercela, yaitu sikap ekstrem dan keterlaluan atau sikap lalai dan ceroboh. Bila kemoderatan hilang, hilang pulalah pemahaman yang benar terhadap hakikat-hakikat agama.”

***

Teladan Sempurna

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya  jasad manusia termulia :) meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim 'alaih.

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya jasad manusia termulia 🙂 meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim ‘alaih.

iseng buka twiter, tiba-tiba nemu kultwitan bagus, yaitu kultwit dari KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa gusmus (akun @gusmusgusmu <– monggo difollow). langsung saja, monggo disimak. 🙂

***

BismiLlãhirRahmãnirRahïm…

Pedoman umat Islam itu, ‘secara teori’ ialah Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. ‘Secara praktik’: PERILAKU Pemimpin Agungnya itu. Kenapa?

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu2 Qur’an dan melaksanakannya. Nabi Muhammadlah orang pertama yang mempraktikkan Qur’an.

Sayyidatina ‘Aisyah ra menyebut “Kãna khuluquhu ‘l-Qur’an;”, Perilaku Rasulullah SAW adalah Qur’an. Istilahnya, ‘Qur’an berjalan’.

Tak peduli keturunanmu. Tak peduli kebangsaanmu. Tak peduli ilmumu. Tak perduli kedudukanmu. Tak peduli fasihmu. Tak peduli citramu..

Bila kelakuanmu bertentangan dengan perilaku Rasulullah SAW ~kalau pun engkau mengaku muslim~ bukan saja engkau muslim yang buruk;

lebih dari itu engkau telah mencemarkan agama dan nabimu. FattaqiLlãh! Takwalah kepada Allah!

Maka teruslah berusaha memahami Qur’an dan jangan berhenti mempelajari SIERAH dan SYAMAIL, riwayat hidup dan perilaku, nabimu.

Terutama bila engkau terlanjur dianggap ‘pemimpin Islam’ oleh masyarakat. Kelakuanmu tdk hanya disimak, bahkan diikuti oleh banyak orang.

Pelajari dan berusahalah mengikuti sunnah Pemimpin Agungmu yang mulia budi pekertinya (Q. 68: 4), yang lemah lembut, tidak kasar dan kejam (Q. 3: 159), yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan welas asih. (Q. 9: 128).

Sekian. Wallahu a’lam. AstaghfiruLlãal ‘Azhïm filqauli bilã ‘amal. Wal’afwu minkum.

Mohon maaf, bila Anda merasa kunasihati. Sebenarnya ini aku sedang menasihati diriku sendiri; sebagaimana dlm sajakku “Nasihat Ramadan.”

***

alhamdulillaah. 🙂 semoga nasihat beliau ini bisa kita amalkan. yuk, kita jadikan Rasulullah saw  teladan utama dalam hidup kita. menjadi teladan dalam beragama, dalam hidup bermasyarakat, keluarga, dan berbangsa serta bernegara. semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengikuti jejak beliau saw. aamiiiin. semoga bermanfaat.

Pintu Setan

Bismillaah. sudah lama sekali rasanya saya tidak menyentuh halaman ini. hahaha. oke, tak masalah. sekarang sebenarnya sayapun sedang tidak ada inspirasi untuk menulis sesuatu, jadi kali ini saya mau berbagi saja beberapa hal. 🙂

***

kata setan: "ayo jadi temanku.." :D

kata setan: “ayo jadi temanku..” 😀

Kawan-kawan kenal setan? ya, setan. musuhnya semua umat manusia yang beriman. tidak ada satupun orang beriman yang mau berteman dengan setan. tapi yang namanya setan, mungkin karena temennya dikit, selalu cari temen-temen yang lain. biasanya sih yang dicari orang-orang yang beriman.

nah, setan pinter, untuk bisa menguasai orang-orang yang beriman, setan biasanya masuk melalui bersitan-bersitan hati, atau kita sebut was-was. juga lewat hal-hal yang sangat haluuuuus (entah itu lewat perantara manusia atau tidak, misalnya pujian, riya’, dll) yang tidak disadari manusia biasa. dalam buku beliau yang berjudul “Amal Penghancur Kebaikan”, al-Habib ‘Umar bin Hafizh menuliskan bahwa ada banyak sekali pintu-pintu masuk setan ke dalam hati orang-orang yang beriman.

mau tau? oke, mari kita simak.

  • nafsu dan amarah
  • iri hati dan tamak
  • kenyang broo
  • kemewahan dalam perabotan rumah, pakaian, etc.
  • mengharap pujian manusia
  • tergesa-gesa dan tidak melakukan verifikasi
  • harta yang melebihi kebutuhan
  • kikir dan takut miskin
  • fanatisme terhadap madzhab dan sekte
  • lupa dengan aib diri sendiri
  • memikirkan hal-hal yang tidak pantas dipikirkan
  • buruk sangka

naaah… pasti familiar kan dengan beberapa hal di atas? atau barangkali enggak? emang gak familiar atau gak sadar? kita kembalikan pada diri kita masing-masing lah ya. tidak ada manusia yang ma’shum di muka bumi ini kecuali Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah atas beliau, dan semoga kita dijadikan orang yang ikhlas dan istiqomah, serta dijauhkan dari sifat-sifat di atas. Aamiiin. 🙂

wallaahu a’lam.

Selektif : Jalan yang Lurus

Tulisan ini saya peroleh dari http://www.habaib.net dengan judul asli “Selektif dalam Memilih Ulama'”, ditulis oleh Ustadz Taufiq bin ‘Abdul Qadir Assegaf. Berikut tulisan beliau.

***

Assalamualaikum wr.wb.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita.

Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikutip oleh Al-Imam Al-Ghozali rahimahullah dalam kitab beliau Ihya ‘Ulumuddin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: “Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu’an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud.” (HR Ibnu ‘Asyakir dari Jabir RA)

Ilmu itu ibarat pedang. Jika pedang itu dibawa oleh Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu, maka pedang akan sangat bermanfaat dalam melindungi muslimin serta menegakkan agama Allah. Namun jika pedang ini dibawa oleh Abu Jahal, maka pedang justru akan sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Begitu juga ilmu. Jika ilmu didapat dari orang yang baik, maka ilmu akan bermanfaat. Namun apabila ilmu yang sama didapat dari orang-orang yang tak bertanggungjawab, maka ilmu justru akan berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Ilmu ibarat air yang turun dari langit. Apabila air diserap oleh pepohonan yang rindang atau buah-buahan yang lezat, maka air itu akan memberikan manfaat yang bisa dinikmati hasilnya. Tetapi apabila air yang turun justru diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang berbahaya seperti ganja, opium dsb maka air ini justru akan merugikan kesehatan dan berdampak negatif bagi masyarakat. Begitu pula ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat namun ilmu tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh orang-orang yang baik. Terkadang “ilmu yang mulia itu justru diterima oleh orang-orang yang tidak baik. Akibatnya tak jarang ilmu ini justru disalah gunakan untuk kepentingan dunia belaka. Oleh karena itu kita harus barhati-hati dalam mencari ilmu. Selain harus memilih-milih ilmu yang akan kita pelajari, hal yang tak kalah penting adalah selektif kepada orang yang akan kita jadikan panutan dalam mendapatkan ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada kita kriteria ulama yang layak dan aman untuk kita jadikan sebagai panutan dan kita nobatkan sebagai guru religius dalam menuntun kehidupan kita.

Pertama,
Adalah ulama yang menuntun kita dari keragu-raguan menuju keyakinan

Dalam berguru hendaknya kita harus senantiasa mengacu pada orang-orang yang mampu membuat kita semakin mantap dan yakin dengan aqidah kita, yaitu Islam ala ahlussunah wal jama’ah. Jangan sekali-kali berguru pada ulama yang justru membuat keragu-raguan pada keyakinan kita. Sikap serampangan dan asal-asalan dalam memilih guru akan menimbulkan sikap fanatisme berlebihan yang akan membuat kita tidak obyektif dalam menilai sebuah kebenaran. Pada akhirnya kita akan ikut apa pun yang diutarakan oleh sang guru meski ternyata bertentangan dengan keyakinan yang telah kita akui kebenarannya. Oleh karena itu pilihlah ulama yang mampu membawa keyakinan kita menjadi semakin kuat.

Kedua,
Adalah ulama yang menuntun kita dari dari kesombongan menuju ketawadhu’an

Inilah kriteria kedua yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memilih ulama. Para Ulama menerangkan bahwa sifat kibr (kesombongan) yang paling rendah adalah ketika merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Kesombongan memang merupakan sikap yang sangat tercela. Bahkan seseorang yang masih menyisakan kesombongan di hatinya walau hanya satu bji sawi saja, maka ia haram untuk memasuki surga Allah subhanahu wa ta’ala. Disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya masih menyimpan kesombongan walau pun hanya sebiji sawi.” (HR. Abu Ya’la)

Karena sifat ini jugalah maka ‘azazil (asal-usul iblis) yang sudah beribadah ribuan tahun diusir oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari surga. Ketika diperintahkan untuk menghormat kepada Nabi Adam, ia enggan untuk melakukan perintah itu. Ia beranggapan bahwa dirinya lebih mulia karena ia diciptakan dari api yang bersinar terang, sedangkan Adam hanyalah makhluk yang tercipta dari tanah yang kotor dan diinjak-injak oleh siapa saja. Sebagai akibat dari penolakan ini iblis diusir dari surga dan menjadi makhluk terkutuk untuk selamanya. Jika Iblis yang sudah beribadah ribuan tahun saja terkutuk seketika akibat kesombongannya, lantas bagaimana dengan kita yang ibadahnya masih sangat sedikit?

Dikatakan dalam sebuah syair:

Tawadhu’ lah, niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air, padahal dia sangat tinggi
Dan janganlah seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit, padahal dia sama sekali tidak berharga

Orang tawadhu’ ibarat bintang yang terlihat di dasar jernihnya air di tengah malam, meski dia berada tinggi di angkasa. Sedangkan orang yang sombong adalah ibarat asap yang selalu mengangkat dirinya padahal dirinya sama sekali tidak berharga.

Oleh karena itu marilah kita berhati- hati dalam menjaga sikap ini dan mencari guru yang bisa mengantarkan kita menuju ketawadhu’an.

Ketiga,
Adalah ulama yang menuntun kita dari permusuhan menuju perdamaian (kepedulian)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergelar Al-Mu’allim (sang guru). Beliaulah guru bagi setiap insan. Namun gelar itu tidak serta- merta membuat beliau acuh dan berlaku seenaknya. Beliau mempunyai kepedulian yang sangat tinggi kepada para umatnya. Hal ini bisa kita buktikan saat para sahabat kelaparan. Beliaulah yang menyiapkan makanan untuk mereka dan beliaulah yang terakhir menikmati sajian itu. Bahkan ketika beliau merasakan pedihnya sakaratul maut, beliau dengan segera meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan kepada beliau separuh rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya.

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap panutan sejati. Oleh Karena itu hendaknya kita selalu bersikap seperti beliau dan selalu berguru kepada orang alim yang memiliki kepedulian kepada kaum muslimin. Orang alim yang mengajarkan kita sikap tanggap dan kritis terhadap keadaan, bukan ulama yang suka mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka.

Keempat,
Adalah ulama yang menuntun kita dari riya menuju ikhlas

Ada dua syarat penting yang harus kita penuhi agar ibadah kita diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Syarat pertama adalah yang berhubungan dengan hukum-hukum dzohir seperti bagaimana syarat dan cara mengerjakan ibadah dengan baik dan benar sesuai cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syarat kedua adalah keikhlasan mengerjakan semua amalan itu semata- mata karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadah yang kita lakukan adalah ibarat surat yang akan kita kirim kepada saudara kita. Agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan sempurna, maka kita harus benar-benar memperhatikan isi yang termuat di dalam surat itu. Tidak cukup itu saja. Setelah semua pesan kita catat dengan benar, maka kita juga harus teliti dalam menuliskan alamatnya. Meski isinya benar akan tetapi alamatnya salah, maka surat itu akan sia-sia.

Begitu pula ibadah yang kita lakukan. Walau seluruh bacaan dan cara-cara mengagungkan Nama Allah subhanahu wa ta’ala sudah benar, namun jika semua itu kita kerjakan bukan untuk menggapai ridha Allah subhanahu wa ta’ala melainkan untuk mendapat pujian, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu marilah kita pelajari betul-betul sikap ikhlas ini agar ibadah yang kita kerjakan diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Carilah ulama yang mengajarkan kita makna keikhlasan, bukan ulama yang suka berpura-pura demi kepentingan dunia belaka.

Kelima,
Adalah ulama yang menuntun kita dari ketamakan menuju sifat zuhud

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan Allah yang semua permintaannya pasti dikabulkan, tak terkecuali dalam masalah kekayaan. Jikalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mau, maka beliau akan menjadi orang terkaya dalam sejarah dunia. Suatu hari Malaikat Jibril menawarkan kepada beliau untuk menjadikan semua barang yang beliau pilih menjadi emas, termasuk gunung sekali pun. Akan tetapi beliau menolak karena bukan itu yang beliau minta. Nabi paham bahwa semua itu sangat rendah harganya dan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu beliau hanya meminta agar dapat merasakan lapar dalam sehari dan kenyang di hari berikutnya.

Demikianlah sikap hidup yang di­contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada segenap umatnya. Beliau siap hidup miskin padahal beliau mampu untuk menjadi orang terkaya. Bagaimana dengan kita?

Demikianlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mem­berikan pentunjuk kepada kita tentang kiat memilih ulama. Jangan sampai kita salah dalam mengambil ilmu yang mulia ini. Walau semua bersumber kepada Ra­sulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi jika kita salah mengambilnya, boleh jadi ilmu ini akan terkontaminasi oleh berbagai kotoran.

Inilah salah satu tujuan diadakannya haul. Dalam acara ini kita disuguhi nasihat- nasihat dan teladan para salafimassholih. Merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala. Merekalah yang telah berhasil menjalani ujian di atas dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengikuti langkah mereka agar kita menjadi manusia-manusia yang beruntung seperti mereka.

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Al-An’am: 90)


Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy

#target Ramadhan

Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, yaitu bulan yang diberkati, Allah mewajibkan kepada kalian puasa di dalamnya, di dalamnya terbuka pintu-pintu sorga dan tertutup pintu-pintu neraka Jahim dan di dalamnya dibelenggu para setan, di dalamnya terdapat malam yang lebih utama dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kepadanya kebaikan selama bulan tersebut berarti telah tidak diberikan kepadanya segala bentuk kebaikan.” (HR. Ahmad)

“Telah datang bulan Ramadhan kepada kalian, bulan barakah yang di dalamnya Allah mendatangi kalian.  Maka turunlah rahmat.  Dan dihapuskanlah kesalahan-kesalahan. Di bulan itu Allah mengabulkan doa.  Di bulan itu Allah melihat (memperhatikan) perlombaan di antara kalian.  Dan Allah membanggakan kalian kepada para malaikatNya.  Maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan sebab orang yang celaka adalah yang tidak mendapatkan rahmat  Allah di dalamnya.” (HR. Thabrani)

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru: “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah”. Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, Al-Albani mengatakan hadits ini shahih)

saya pikir hadits-hadits di atas sudah cukup membuat saya ngiler dengan kebaikan2 yang Allah ta’ala curahkan di Bulan Ramadhan. bagaimana tidak, kita baca dari awal ya :

  1. kalau puasanya karena iman, ikhlas, dan hanya mengharap pahala dari Allah, dosa-dosa kita yang telah lalu akan diampuni. *coba hitung berapa dosa2 kita? astaghfirullaah.
  2. di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu lailatul-qadar. *semoga kita bisa mendapatkannya Ramadhan ini. aamiiin.
  3. bulan ketika amalan2 kita dibangga-banggakan oleh Allah di hadapan para malaikat-Nya. *hayoo.. siapa yang tidak ingin berlomba dalam kebaikan kalau sudah gini?
  4. rajin shalat tarawih, dosa-dosa kita yang telah lalu akan diampuni. *harusnya gak mbolosan lagi nih.
  5. bersegera kepada ketaatan, dan berhenti maksiat, Allah akan menyelamatkan kita dari api neraka. *saatnya tobat.
  6. dan masih banyak yang lain sepertinya…

ayooh, dari sekarang kita pasang target! capaian apa yang mau kita usahakan di Bulan Ramadhan ini.

#targetSatu

khatamkan Al-quran 1 kali. *eh gampang banget. Baiklah kita naikkan ya, jadi 2 kali. *hmm kurang menantang. Oke, 3 kali deh. *boleh, berarti khatam tiap 10 hari sekali dong? iya lah. *kalau enggak gimana? ya terserah, antara kualitas dan kuantitas, lebih penting kualitas, tapi jika keduanya bisa dimaksimalkan, pasti akan lebih dahsyat! mau yang mana? hehe.

#targetDua

berani nambah hafalan berapa juz satu bulan ini? setengah, satu, dua? atau tiga? hehe. disesuaikan saja dengan kemampuan maksimal teman2. yang belum terbiasa menghafal, nambah setengah juz bisa lah ya. yang sudah terbiasa, harus lebih nih, minimal nambah satu juz. hehe.

#targetTiga

full tarawih. tidak bolong-bolong, tidak squat jump (baca : ngebut), dan berjamaah. kadang di sekitar rumah kita cari yang tidak squat jump rada susah, tapi ayo kita usahakan! beruntunglah yang di mushola dekat rumahnya tidak squat jumphehe.

#targetEmpat

yuk banyak bersedekah.^^ biasanya kan Ramadhan banyak acara santunan tuh, bisa kita manfaatkan mumpung ada ladang kebaikan.

#targetLima

buaaaaaaaaaaaaaiiiiiiik sama orang tua. berbuat baik kepada ibu dan ayah. berbuat baik kepada adik dan kakak, budhe dan pakdhe, mbah dan kakung, tetangga, teman dekat, dan kepada semua orang. di bulan yang mulia ini jangan bikin masalah dengan siapapun. hehe. kita jaga kesuciannya.

#targetEnam

yang sempet dan mampu umroh, hayuk umroh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya umrah di Bulan Ramadhan sama dengan haji atau haji bersamaku.” (HR. Muslim) ayoo (yang sempet dan mampu), disegerakan ya…

#targetTujuh

bikin sendiri atuh, masa saya terus yang bikin, hehe. sok aja nambah targetannya, semampu yang temen2 bisa. yang penting ikhlash ya… dan berkualitas. 🙂

semoga Allah berkenan mengabulkan target2 kita ini sehingga kita diberi keleluasaan untuk melaksanakannya. aamiiin. kita siapkan dari sekarang ya… semangattt!!!

Kenal Diri

siapa diri kita? ya kita sendiri yang harus mencari tahu.

siapa diri kita? ya kita sendiri yang harus mencari tahu.

Temen2 pernah merasa sangat putus asa sampe (kepikiran) hampir bunuh diri?
mm.. bunuh diri terlalu parah. bagaimana kalau minder, pernah? temen2 mungkin pernah berkata, “saya kok gini2 aja sih, gak bisa pinter kaya temen2 yang lain”?
atau barangkali pernah merasa paling sempurna? merasa diri kita yang paling baik, paling dermawan, paling pinter, paling alim? “heheh, temen2 gue gitu2 aja ya, masih belum pinter juga, hukum termo dua aja kagak tahu sampe sekarang”.

wah kalau sudah gini gawat, temen2. kalau saya boleh bilang, kita sudah tidak mengenali lagi diri kita sendiri. kenapa begitu?

Ya, sebenarnya kita bisa menghindari itu kalau kita mau mengenali diri kita ini seperti apa. Seperti apa contoh orang yang mengenali dirinya? yang sederhana aja deh, para pelawak di TV. kalau dipikir2 tampang mereka kadang gak ganteng2 banget, suara cempreng, dan seperti gak punya malu. kenapa mereka bisa ‘sukses’? Ya, mereka mengenali dirinya, tidak cukup hanya itu, mereka mengenali potensi yang ada dalam dirinya. mau dipaksa jadi penyanyi, susah, mungkin hanya akan menjadi harapan kosong, tidak cocok dengan potensinya. untuk dunia hiburan/lawak mereka mungkin sangat cocok, terlebih lagi mereka bisa berkembang di situ.

Begitu pula kita. akan berbeda orang yang mengenali dirinya dengan baik, dan yang sebaliknya, acuh dengan dirinya sendiri. orang yang mampu mengenali dirinya, akan mampu memetakan : ini potensi saya, ini kelemahan saya, ini yang harus saya kembangkan, ini yang harus saya jaga, ini tidak boleh tampak, dan kalau ada masalah dengan diri saya, saya harus bisa mencari solusinya. enak bukan? untuk satu kegiatan yang bertujuan mengembangkan potensi, kita bersemangat. kita akan banyak bersyukur dengan mengenali karunia yang telah diberikan Allah kepada kita. kita tidak sombong, karena kita tahu banyak orang yang lebih baik daripada kita, tidak juga minder karena kita tahu kita punya potensi yang tidak ada pada diri orang lain. kita tidak pernah putus asa, karena dibalik keterbatasan diri ini, pastilah ada hikmah, karena Allah tidak akan membiarkan diri kita hina, lemah, dan rapuh terhadap ujian. ah, indah sekali.

bagaimana dengan orang yang acuh? kebanyakan orang yang acuh (sepengamatan saya) tidak tahu ke mana arah hidupnya. mereka senang ikut2an, mudah terpengaruh lingkungan. mending kalau lingkungannya baik, kalau tidak? gawat pokoknya. terkadang mereka melakukan pekerjaan yang bahkan tidak mereka suka, akhirnya mengekang diri mereka sendiri. mereka sering putus asa dalam keterbatasannya, kadang terlalu bersemangat karena merasa mampu- padahal dirinya memiliki keterbatasan, minder akan kelemahannya, dan sombong dengan kelebihannya. mereka kurang mentadabburi tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada dalam diri mereka. begitulah, mereka tak bisa memilih mana yang baik untuk dirinya, dan mereka tak mampu menolak mana yang berbahaya bagi dirinya. ya, seakan semuanya hanya hawa nafsu yang menggerakkan. mereka hampir seperti boneka. semoga kita tidak seperti itu, na’uudzu billaahi min dzaalik.

Amirul Mukminin Ali radhiyallaahu ‘anhu pernah mengatakan,

Obatmu terdapat dalam dirimu,
namun kau tidak menyadarinya.
Penawarmu berasal dari dirimu,
namun kau tidak mengetahuinya.
Engkau mengira dirimu satu benda yang kecil,
padahal dalam dirimu termuat alam yang besar.

Mahasuci Allah yang menciptakan kita tanpa kekurangan sedikitpun. Yang pasti perlu kita sadari adalah ilmu kita tidak akan sebanding dengan Ilmu-Nya. Se-merasa tidak sempurna bagaimanapun- diri kita, di sisi Allah itulah ketentuan-Nya yang terbaik. Hanya kita saja yang belum mampu merasakan kesempurnaan penciptaan-Nya.

“Telah Kami ciptakan manusia itu dalam sebaik-baik bentuk.” (QS. At-Tiin: 4)

Semoga kita tidak lagi menjadi orang yang minder, gampang stress, putus asa, ah itu bukan muslim yang kuat namanya. Muslim yang kuat dan keren itu yang percaya diri dalam kebenaran, dan percaya diri dalam menolak kebathilan. #tamparan buat diri saya sendiri. perlu bukti tentang definisi ini? cari sendiri di surat Ali-imron, hehe. Wallaahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Nasihat Cinta Imam Abu Hanifah

Kenal Imam Abu Hanifah? Ya, beberapa pasti sudah kenal.

Kenal Abu Yusuf? murid Imam Abu Hanifah? Nah loh, belum kenal kan. hehe. Memang Abu Yusuf bukan seorang ulama’ madzhab seperti gurunya tapi ia termasuk orang penting dalam cerita madzhab Hanafi.

Yang ingin saya angkat pada tulisan ini adalah, sebuah kisah yang cukup menarik dari Abu Yusuf kecil. Abu Yusuf kecil adalah anak yatim, ia hidup bersama ibunya. Ibunya selalu mengajak ia ke istana agar ia mendapat pekerjaan di sana dan mendapat harta. Tapi Abu Yusuf kecil ini “nakal”. Ia selalu kabur untuk pergi ke majlis Imam Abu Hanifah untuk belajar. Suatu ketika sang ibu pernah berkata kepada Abu Hanifah, “Anak ini seorang yatim, tidak memiliki apa-apa, kecuali makanan yang aku berikan untuknya dari hasil mesin tenun, sekarang Engkau telah membuatku susah, karena anakku telah menyukai majlismu.”

Apa jawaban Imam Abu Hanifah? Beliau menjawab dengan cukup santai, dan berkata dengan kalimat doa, “Kelak anak ini akan memakan Al-Faludzaj dan kacang tanah di atas piring emas.”

Suatu saat Imam Abu Hanifah memberi nasihat kepada Abu Yusuf, sebuah nasihat hidup yang sangat kuat sekali maknanya,

“Pertama-tama, carilah ilmu, lalu kumpulkanlah harta dari yang halal, kemudian menikahlah. Jika Engkau disibukkan mencari harta saat mencari ilmu, Engkau tidak akan mampu mencari ilmu, karena hartamu akan mendorongmu untuk membeli budak, lalu engkau disibukkan dengan urusan dunia.

Jangan sibukkan dirimu untuk mengurus istri sebelum engkau mendapatkan ilmu, karena kesempatanmu untuk belajar akan sirna, terlebih jika Engkau telah disibukkan dengan anak dan anggota keluargamu, lalu Engkaupun terpaksa mencari harta, bekerja, untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan meninggalkan aktivitas mencari ilmu.

Dahulukan mencari ilmu sa’at engkau masih muda, ketika hati dan perasaanmu masih kosong dari kesibukan lain. Lalu setelah itu, carilah harta hingga ia terkumpul padamu, jika Engkau sudah mempunyai harta, maka bolehlah Engkau memikirkan untuk segera menikah.”

Nasihat yang cukup mujarab dari seorang guru. Ketika ia sudah besar, dengan kehendak Allah ia benar-benar menjadi orang penting di istana seperti yang telah didoakan oleh Imam Abu Hanifah. Dengan ilmunya, ia diamanahkan menduduki kursi Qadhi Al-Qudhot (hakim tertinggi negara) pada masa khalifah Harun Al-Rasyid. Bukunya “Al-Kharraj”, juga menjadi rujukan raja Harun Al-Rasyid dalam mengatur ekonomi negaranya.

Maa syaaAllah… Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Abu Yusuf dan Imam Abu Hanifah ini. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.rumahfiqih.com/

Tawadhu’nya Rasulullah SAW

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang makan betis binatang, tentu akan kukabulkan undangannya.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazi’, dari Basyar bin al Mufaddhal, dari Sa’id dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab,

“Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma’il, dari ‘Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yahya bin Sa’id, yang bersumber dari ‘Amrah)

***

maa syaa’Allah jauh sekali dengan kita, ya.. padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan kita kemandirian dan hidup sederhana. kita kadang-kadang males nyucibeli makan siang titip temen, masih dibangunin kalau shubuh, makan diingetin, dan lain-lain. Ah, nyusahin orang pokoknya *hhehe.

Yuk ah, mulai sekarang kita ikuti gaya hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 🙂

Sumber:
Syamaa’il Muhammad oleh Imam Tarmidzi

Yang Lebih Kita Cinta

Kawan, tiba-tiba terpikir oleh saya beberapa pertanyaan berikut. berharap bisa menjadi bahan tafakkur/renungan bersama, meskipun hanya sedikit.

mana yang lebih pilih ketika waktu shalat tiba : melanjutkan pengerjaan tugas besar, atau beranjak untuk sholat berjama’ah?

buat anak muda nih, mana yang lebih kita kenal : pemain bola, para boyband, artis hollywood, atau Allah dan rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

lalu, manapula yang lebih kita ikuti : gaya hidup para artis, atau gaya hidup rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

rada fatal nih, sekarang mana yang lebih kita takuti : telat nonton pertandingan bola, atau kehabisan waktu untuk tahajjud dan dhuha? takut dicela orang di dunia, atau takut akan adzab Allah yang amat pedih?

yang sekarang sedang kritis, mana yang selama ini lebih kita teladani : akhlak orang kafir, atau akhlak rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat ?

mana yang lebih kita percaya : ramalan dukun, paranormal, atau perkataan para ulama’?

mana yang lebih kita hafal : al-quran dan hadits, atau lagu-lagu dan syair-syair yang tiada berguna di dunia dan akhirat?

lalu yang mana yang lebih kita dekati : gerombolan teman yang main kartu, tempat-tempat hiburan, atau majelis-majelis ilmu?

mana yang kita senangi : amal-amal kita dipuji orang, atau biar saja orang tidak ada yang memuji? karena semua amal ini untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

siapa yang lebih kita hormati dan muliakan selama ini : dosen, senior, atau orang tua dan guru-guru kita dalam hal agama?

siapa yang lebih kita sayangi dan perhatikan : saudara dan kerabat-kerabat kita, atau pacar?

Tahukah, kawan, sebenarnya semua itu bermuara pada satu pertanyaan,

apakah kita semua lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, atau kita lebih cinta kepada syetan dan hawa nafsu belaka?

wallaahul-haadiy.. Allah-lah sang maha pemberi petunjuk. jika jalan yang kita tempuh terasa semakin jauh, mohonlah pada-Nya agar dituntun menuju jalan yang benar, lalu mohonlah agar Allah meneguhkan langkah kita di jalan itu.

wallaahul-musta’aan.. Allah-lah sebaik-baik tempat kita meminta pertolongan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai-Nya, dan Dia pun mencintai kita. Aamiin.. 

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

Selamat Datang

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"