Posts Tagged ‘ ilmu ’

Niat nikah

Niat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu ‘Anhu (dikutip dari “Kitab Niat”):

niat nikah

Artinya:

“Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah ‘azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam:
“Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat”

Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.

Saya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup. 

Saya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya.”

Diperoleh dari: Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan – Pustaka Islam Sunni Salafiyah KTB.pdf

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

Ilmu dan orang yang berilmu memiliki tempat yang istimewa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]
“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Begitupula Nabi saw. yang memposisikan ilmu sebagai sesuatu yang paling penting dalam beragama. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]
“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan menjadikannya paham dalam (urusan) diin/agama.” [HR. Bukhari dari Mu’awiyah ra.]
“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah ra. dan Abu Darda’ ra. berkata,

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah ra. juga berkata,

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Salah seorang imam madzhab, sang pembaharu di masanya, Imam Asy-Syafi’i rhm. berkata,

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”
“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Lantas, apa yang dimaksud dengan ilmu? Seorang imam ahli hadits pengarang Kitab Fathul-Baari bisyarah Shahih Bukhori, Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rhm., berkata,

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu: Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul-Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

***

Sumber:
– Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
– Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Nasihat Guru Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu guru dari Syekh Abul Hasan asy-Syadzili adalah Syekh al-Quthub al-Ghouts Sayyid Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al-Hasani, rodhiyAllahu ‘anhu, seorang wali Quthub saat itu pengganti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Pada suatu hari dikatakan oleh Syekh Abdus Salam kepada beliau (Syekh Abul Hasan), “Wahai anakku, hendaknya engkau semua senantiasa melanggengkan thoharoh (mensucikan diri) dari syirik. Maka, setiap engkau berhadats cepat-cepatlah bersuci dari ‘kenajisan cinta dunia’. Dan setiap kali engkau condong kepada syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu.”

Berkata pula Syekh Abdus Salam, “Pertajam pengelihatan imanmu, niscaya engkau akan mendapatkan Allah; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; Meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan itulah sifat-Nya; Dengan meliputi itulah bentuk keadaanNya.”

Di lain waktu guru beliau, rodhiyallahu ‘anhu, mengatakan, “Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : KECINTAAN demi untuk Allah; RIDHO atas ketentuan Allah; ZUHUD terhadap dunia; dan TAWAKKAL atas Allah.

Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni MENEGAKKAN fardhu-fardhu Allah; MENJAUHI larangan-larangan Allah; BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan WARO’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan”.

Asy-Syekh juga pernah berpesan kepada beliau, “Wahai anakku, janganlah engkau melangkahkan kaki kecuali untuk Allah, sesuatu yang dapat mendatangkan keridhoan Allah, dan jangan pula engkau duduk di suatu majelis kecuali yang aman dari murka Allah. Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu terhadap Allah”.

***

Pun, setelah berguru sekian lama, dan tiba saatnya berpisah, Syekh Abul Hasan meminta wasiat terakhir dari sang Guru. “Wahai Tuan Guru yang mulia, berwasiatlah untukku.”Asy-Syekh pun kemudian berkata, “Wahai ‘Ali, takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap manusia. Sucikanlah lisanmu daripada menyebut akan keburukan mereka, serta sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu (dari segala yang maksiat, pen.) dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu, maka sempurnalah Allah mengasihani dirimu.”

Lanjut asy-Syekh lagi, “Jangan engkau memperingatkan kepada mereka, tetapi utamakanlah kewajiban yang menjadi hak Allah atas dirimu, maka dengan cara yang demikian akan sempurnalah waro’mu.” “Dan berdoalah wahai anakku, ‘Ya Allah, rahmatilahlah diriku dari ingatan kepada mereka dan dari segala masalah yang datang dari mereka, dan selamatkanlah daku dari kejahatan mereka, dan cukupkanlah daku dengan kebaikan-kebaikanMu dan bukan dari kebaikan mereka, dan kasihilah diriku dengan beberapa kelebihan dari antara mereka. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah atas segala sesuatu Dzat Yang Maha Berkuasa.”’

***

FYI. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah pendiri Thariqah Syadziliyyah. Seusai berguru, dakwah beliau dimulai di Kota Syadzilah, tempat beliau dilahirkan. Kemudian beliau ber’uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah selama beberapa tahun di bukit Zaghwan. Dan kembali lagi ke masyarakat sebelum akhirnya melanjutkan dakwahnya di Tunis dan Mesir. Keadaan di Mesir sangat mendukung sehingga dakwah beliau sangat berkembang. Banyak ulama’ besar yang dihasilkan, salah satunya adalah Sulthonul ‘Ulama Sayyid asy-Syekh ‘Izzuddin bin Abdis Salam, rahimahullah. 

Hingga kini thariqah Syadziliyyah termasuk salah satu thariqah yang tetap tumbuh subur, karena dikenal sebagai thariqah yang termudah dalam hal ilmu dan amal, ihwal dan maqam, ilham dan maqal, serta dengan cepat bisa menghantarkan para pengamalnya sampai ke hadirat Allah SWT. Di samping juga terkenal dengan keluasan, keindahan, dan kehalusan doa dan hizib-hizibnya.

Terakhir, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kita istiqomah mengamalkan thariqah yang kita pegang. Sehingga kita akan sampai kepada Allah robbul ‘izzati. Wallaahu a’lam.

sumber: http://www.ashakimppa.blogspot.com/

Belajar dengan Guru

Syeikh Ali Jum'ah

Syeikh Ali Jum’ah

Belajar dengan guru adalah metode belajar paling ideal untuk memperoleh ilmu.Mari kita simak penuturan Syeikh Ali Jum’ah (salah satu ulama’ al-Azhar, mantan mufti Mesir) dari situs “Suara Al-Azhar” berikut ini:
Ilmu yang benar harus memiliki sanad riwayah, sanad dirayah dan sanad tazkiah. Sebab ilmu bukan hanya sekedar maklumat saja tetapi ketika seseorang belajar dengan guru di sana dia akan diajari adab talaqqi, adab menyampaikan ilmu, adab jika terjadi perbedaan, adab kepada ulama dan adab percaya diri.
Orang-orang yang tidak belajar dengan guru akan mudah terjebak dengan kesalahan terutama jika terjadi perbedaan pendapat. Lebih dari itu orang-orang tersebut bisa mengatakan “Jika Kamu tidak sependapat dengan saya berarti kamu lawan saya”. Dan hal inilah yang memperlebar jurang pembatas antara umat Islam.
Mari lihat sahabat nabi dan salafus saleh. Mereka berbeda pendapat tetapi tetap saling mendengarkan dan saling menghormati.
Syekh Ali Jum’ah
Mantan Mufti Mesir
Hikmahnya adalah belajar dengan guru memiliki faedah yang amat besar. Selain belajar ilmu, kita juga belajar adab. Adab terhadap ilmu, juga adab terhadap yang punya ilmu. Saya ucapkan selamat menuntut ilmu buat kawan2 semua. 🙂

Untukmu para Penuntut Ilmu

al-Habib 'Umar bersama para santri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

al-Habib ‘Umar bersama para santri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

Muslimedianews ~ Tarim. Dalam rangka mempererat ukhuwah islamiyyah, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Yaman pada Minggu malam (30/3/2014) mengadakan acara silaturrahim ke kediaman (maktab) al-Musnid al-Allamah al-Habib ‘Umar bin Hafidz, salah satu tokoh ulama Kota Tarim dan dai internasional.

Dalam pertemuan yang diikuti oleh sekitar 35 orang itu, Habib ‘Umar menguraikan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu (thalibul ilmi). Beberapa nasehat yang beliau sampaikan diantaranya adalah:

  1. Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. karena bisa menuntut ilmu di pesantren yang notabene Ahlussunnah wal Jama’ah dan dapat melanjutkan menimba ilmu di Kota Tarim yang merupakan kota ilmu dan ulama. Di kota yang penuh berkah ini, banyak dijumpai para habaib dan alim ulama yang sanad keilmuannya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Lebih jauh lagi, jumlah ulama di Tarim tidak hanya sebatas hitungan jari. Akan tetapi mencapai bilangan ribuan.
  2. Seorang penuntut ilmu harus rajin bangun malam (qiyamullail).
  3. Seorang pencari ilmu harus mempunyai etika yang baik (akhlaqul karimah).
  4. Urgensi menebarkan rasa cinta kasih (al-mahabbah) dan persaudaraan (al-ukhuwah) kepada seluruh umat manusia secara umum, umat Islam secara khusus dan Ahlussunnah wal Jama’ah secara lebih khusus (akhash).
  5. Menghormati ulama dan para guru (masyayikh) yang telah membimbing kita.
  6. Bagi penuntut ilmu, hendaknya selalu menjadikan al-Quran sebagai pegangan hidup, baik dengan membacanya, menghayati makna kandungannya dan merepresentasikannya dalam kehidupan nyata.
  7. Cermat (tahqiq) serta serius dalam memahami kalam ulama yang tertuang dalam teks (matan) kitab. Memahami kalam ulama secara utuh, tidak sepotong-potong. Habib Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri pernah mengatakan: “Barangsiapa yang menguasai matan (teks) sebuah kitab dengan sempurna, maka ia pasti mendapatkan berbagai disiplin keilmuan.”

Acara silaturrahim pada malam itu diakhiri dengan ijazahan sanad ilmu dari al-Habib ‘Umar bin Hafidz kemudian dilanjutkan dengan shalat ‘Isya berjamaah di Masjid Ahlul Kisa’, Darul Musthofa. (Kontributor: Muhammad Zainal Fanani, santri dan mahasiswa Univ. al-Ahqaff)

Sumber: http://www.muslimedianews.com/2014/04/nasehat-habib-umar-bin-hafidz-untuk.html#ixzz2xcRPSZZF

Rahasia Keutamaan Lapar

tulisan ini juga sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “kail itu bernama kenyang”.

tentang kenyang, Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jauhilah oleh kalian kekenyangan karena itu adalah beban dalam kehidupan dan baunya busuk dalam kematian.” Luqman berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika lambung sudah penuh, pikiran menjadi tidur, hikmah tak mampu berbicara, dan anggota badan menjadi malas beribadah.”

Dalam Taurat dinyatakan, “Bertakwalah kepada Allah dan jika engkau kenyang, ingatlah orang-orang yang lapar.”

Sahal bin Abdillah mengatakan, “Tidak datang kebaikan pada Hari Kiamat, suatu amal kebajikan yang lebih baik daripada meninggalkan makan berlebihan dalam rangka meneladani perilaku makan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ia menambahkan, “Hikmah dan ilmu diletakkan dalam kelaparan, sedangkan kemaksiatan dan kebodohan dalam kekenyangan.”

Manfaat lapar

Ada banyak sekali, nih, manfaat lapar yang dirangkum rapi oleh al-Habib ‘Umar, yaitu sebagai berikut:

Pertama, lapar bisa membersihkan hati, menyalakan bakat, dan menghidupkan mata batin. Asy-Syibli mengatakan, “Setiap kali aku lapar karena Allah, aku senantiasa melihat di dalam hatiku ada sebuah pintu hikmah dan ibrah yang terbuka, yang sebelumnya belum pernah kulihat.”

Kedua, lapar melembutkan hati dan menjernihkannya. Hati yang lembut dan jernih akan membawa pada kenikmatan beribadah dan tersentuh oleh dzikir. Al-Junaid rahimahullah mengatakan, “Ada seseorang yang menempatkan kantong berisi makanan di dadanya, kemudian dia ingin mendapatkan manisnya munajat. Bagaimana mungkin?”

Ketiga, lapar melahirkan ketundukan dan melenyapkan kedurhakaan. Seseorang tidak bisa melihat keagungan dan kemahakuasaan Tuhan selama belum pernah menyaksikan kehinaan dan kelemahannya sendiri.

Keempat, lapar mengingatkan pada cobaan dan adzab Allah. Orang yang kenyang biasanya melupakan orang yang lapar. Nabi Isa ‘alaihissalam pernah ditanya, “Mengapa engkau lapar, padahal di tanganmu terdapat perbendaharaan bumi?” Ia menjawab, “Aku takut kenyang sehingga lupa kepada orang yang lapar.” Jadi, lapar bisa melahirkan sifat welas, dermawan, dan iba kepada sesama makhluk Allah.

Kelima, lapar bisa mematahkan nafsu untuk berbuat maksiat dan menundukkan nafsu penyeru kepada keburukan (ammarah bis-su’). ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Bid’ah pertama yang terjadi sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kenyang.” Dzun Nun mengatakan, “Setiap kali aku kenyang, aku senantiasa bermaksiat atau mempunyai niat untuk melakukannya.”

Keenam, lapar bisa menahan kantuk dan memudahkan untuk beribadah malam.

Ketujuh, lapar memudahkan seseorang untuk tekun beribadah. Dengan menahan lapar, seseorang tidak akan disibukkan oleh urusan jual-beli makanan, memasak, dan bolah-balik ke kamar mandi. Sari as-Saqathi mengatakan, “Aku melihat Ali al-Jurjani mempunyai sawiq (bubur dari tepung gandum) dan ia memakannya tanpa kuah. Lalu kutanyakan kepadanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan ini?’ Ali menjawab, ‘Antara mengunyah roti dan menyantap sawiq ada selisih waktu sebanyak 70 bacaan tasbih. Aku sendiri sudah 40 tahun tidak mengonsumsi roti.’” MasyaAllah, lihatlah bagaimana beliau mengatur waktunya agar waktu ibadahnya tidak berkurang hanya karena mengunyah roti.

Kedelapan, lapar bisa menyehatkan badan dan mencegah datangnya penyakit, karena lambung adalah habitat bagi berbagai penyakit.

Kesembilan, sedikit makan meringankan biaya hidup. Betul begitu, wahai para penerima beasiswa? Hehe.

Kesepuluh, sedikit makan memungkinkan seseorang untuk menyedekahkan kelebihan makanan sehingga pada Hari Kiamat nanti ia akan dinaungi oleh sedekahnya.

Lalu, Bagaimana caranya mengekang nafsu makan?

Beberapa nasihat untuk para murid (orang yang menempuh jalan menuju Allah) dan penuntut ilmu (kita nih) terkait dengan perut, dan bagaimana caranya mengekang nafsu makan.

Nasihat pertama, hendaknya kita mengonsumsi makanan yang halal. Beribadah dengan mengonsumsi makanan yang haram sama seperti mendirikan bangunan di atas gelombang air laut.

Nasihat kedua, hendaknya kita menyedikitkan porsi makan dan berlatih secara bertahap untuk mengurangi porsi makan. Ada beberapa tingkatan dalam hal ini. Tingkatan pertama yaitu tingkatan tertinggi, mengembalikan porsi makan sesuai yang seharusnya, yaitu sekadar untuk menyangga badan. Ini adalah tingkatan orang-orang shadiqin (orang-orang yang keimannya tidak diragukan lagi). Tingkatan kedua, yaitu mengurangi porsi makan menjadi setengah mudd, atau sekitar satu potong roti dan secuil. Umar radhiyallahu ‘anhu biasa makan dengan porsi tujuh atau sembilan suapan. Tingkatan ketiga, mengurangi porsi makan menjadi satu mudd, yaitu kira-kira dua potong roti dan setengahnya. Tingkatan keempat, mengembalikan porsi makan menjadi lebih dari satu mudd hingga satu mann. Satu mann kira-kira setara dengan 2 pound atau 907 gram. Ada pula tingkatan kelima, yang tidak jelas porsinya, dan karenanya sering disalahartikan. Yaitu hendaknya kita makan jika sudah benar-benar merasa lapar, dan segera berhenti ketika kita sudah merasa tidak lapar. Dan tanda bahwa kita benar-benar lapar adalah bilamana kita tetap makan walaupun tidak ada lauk.

Nasihat ketiga, terkait dengan waktu makan dan lamanya penundaan. Orang-orang pada tingkatan tertinggi bisa menahan lapar hingga tiga hari atau bahkan lebih. Orang-orang pada tingkatan kedua bisa menahan lapar selama dua hingga tiga hari. Adapun mereka yang berada pada tingkat ketiga hanya makan sekali dalam sehari.

Waduh, Kita tingkatan berapa dong? Wkwkwk. T_______T

Nasihat keempat, terkait dengan jenis makanan dan lauknya. Makanan yang paling baik adalah (yang terbuat dari) sari gandum (kalau di Indonesia mungkin beras yang paling mahal); yang sedang adalah (yang terbuat dari) sya’ir (kalau ini beras kualitas menengah); dan yang paling rendah adalah (yang terbuat dari) sya’ir yang masih kasar (yang ini mungkin beras sembako, yang paling murah harganya). Jenis lauk yang paling baik adalah daging dan manisan (dari samin dan madu); yang paling rendah adalah garam dan cuka; dan yang sedang adalah lemak (hewani atau nabati) tanpa daging.

Siapa yang senantiasa mengonsumsi jenis makanan dan lauk yang paling baik, berarti jiwanya terbiasa dengan kenikmatan, sehingga ia menyukai kelezatan dunia dan berusaha mendapatkannya, lalu hal itu menyeretnya pada kemaksiatan. Ketahuilah, salah satu ibadah yang paling utama adalah melawan hawa nafsu dan meninggalkan kenikmatan.

Wallahu a’lam, meskipun kopas, setidaknya ada nasihat dan ilmu yang akhirnya kita tahu.Semoga Allah memberi kita semuasehat sehingga bisa mengamalkannya dan istiqomah. Nas’alullaha al-‘afiyah wa al-istiqomah. Aamiin. 🙂

Dikutip dari:

al-Habib ‘Umar bin Hafizh, “Amal Pemusnah Kebaikan”, Noura Books, Jakarta, 2013

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tulisan kecil nan ringkas ini semoga bisa menjadi nasihat untuk para pendakwah (da’i dan da’iyah), di manapun dan kapanpun.

Dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa ada 3 (tiga) sifat yang harus kita terapkan dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkar sulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah,

  1. Ilmu, yaitu hendaknya para da’i mengetahui (berilmu tentang) apa yang dia ajak kepadanya atau larang daripadanya. Boleh jadi ia mengajak kepada sesuatu yang disangka baik padahal itu buruk, atau melarang sesuatu yang sepatutnya tidak ia larang. Hal ini tidak layak terjadi. Oleh karena itu hendaknya ilmu lebih diutamakan daripada amal, termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Wara’, yaitu hendaknya berdakwah itu bukan ditujukan untuk mencari kedudukan atau kehormatan, menunjukkan kekuatan jasmani dan rohani, atau yang lainnya. Sifat wara’ yaitu kita beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. 
  3. Akhlak Mulia, ia merupakan kunci dari ketiga sifat ini. Tanpa akhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berkesan, sekalipun da’i adalah seorang yang berilmu dan wara’. Salah satu bentuk akhlak mulia ialah bersabar. Bersabar merupakan sifat yang sangat penting, di kala amar ma’ruf nahi munkar dibalas dengan celaan dan cacian. Terdapat sebuah ungkapan dari Ibnu Taimiyah dalam hal bersabar ketika ber-amar ma’ruf nahi munkar. Beliau mengatakan, “jika kamu tidak bersabar, kamu akan mendapatkan 2 hal : pertama, kemungkinan kamu akan berhenti dalam mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran, hal seperti ini sudah banyak terjadi; kedua, pelaku kemunkaran melakukan kemunkaran yang lebih buruk lagi daripada kemunkaran yang pernah kamu cegah. Na’udzu billah. 

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika suatu saat beliau menyaksikan ada seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki masjid Nabawi lalu kencing di salah satu bagian masjid. para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera melemparkannya keluar dari masjid. namun tidak demikian sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada para sahabat, “jangan, janganlah engkau menyekat kencingnya”. lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri badui tadi. beliau bersabda dengan penuh kelembutan,

“wahai orang badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat-red)“. melihat kelembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam badui tadi lantas berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur kencing tersebut. Beliau bersabda, “sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan”. –atau seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Masya-Allah, mulia sekali akhlak Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. saya yakin kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah ini. semoga kita diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam menuntut ilmu, meluruskan niat, dan memperbaiki akhlak. hanya Dia-lah yang patut kita mintai pertolongan.

“Ya Allah bimbing akhlak kami agar seperti akhlak Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.. aamiin..”


Disarikan dari tausyiah Al-Habib Ali Al-Jufri dengan tambahan secukupnya dari penulis.
Selengkapnya, dapat diakses di http://www.youtube.com/watch?v=tKP_ARA9-sY

Nasihat Cinta Imam Abu Hanifah

Kenal Imam Abu Hanifah? Ya, beberapa pasti sudah kenal.

Kenal Abu Yusuf? murid Imam Abu Hanifah? Nah loh, belum kenal kan. hehe. Memang Abu Yusuf bukan seorang ulama’ madzhab seperti gurunya tapi ia termasuk orang penting dalam cerita madzhab Hanafi.

Yang ingin saya angkat pada tulisan ini adalah, sebuah kisah yang cukup menarik dari Abu Yusuf kecil. Abu Yusuf kecil adalah anak yatim, ia hidup bersama ibunya. Ibunya selalu mengajak ia ke istana agar ia mendapat pekerjaan di sana dan mendapat harta. Tapi Abu Yusuf kecil ini “nakal”. Ia selalu kabur untuk pergi ke majlis Imam Abu Hanifah untuk belajar. Suatu ketika sang ibu pernah berkata kepada Abu Hanifah, “Anak ini seorang yatim, tidak memiliki apa-apa, kecuali makanan yang aku berikan untuknya dari hasil mesin tenun, sekarang Engkau telah membuatku susah, karena anakku telah menyukai majlismu.”

Apa jawaban Imam Abu Hanifah? Beliau menjawab dengan cukup santai, dan berkata dengan kalimat doa, “Kelak anak ini akan memakan Al-Faludzaj dan kacang tanah di atas piring emas.”

Suatu saat Imam Abu Hanifah memberi nasihat kepada Abu Yusuf, sebuah nasihat hidup yang sangat kuat sekali maknanya,

“Pertama-tama, carilah ilmu, lalu kumpulkanlah harta dari yang halal, kemudian menikahlah. Jika Engkau disibukkan mencari harta saat mencari ilmu, Engkau tidak akan mampu mencari ilmu, karena hartamu akan mendorongmu untuk membeli budak, lalu engkau disibukkan dengan urusan dunia.

Jangan sibukkan dirimu untuk mengurus istri sebelum engkau mendapatkan ilmu, karena kesempatanmu untuk belajar akan sirna, terlebih jika Engkau telah disibukkan dengan anak dan anggota keluargamu, lalu Engkaupun terpaksa mencari harta, bekerja, untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan meninggalkan aktivitas mencari ilmu.

Dahulukan mencari ilmu sa’at engkau masih muda, ketika hati dan perasaanmu masih kosong dari kesibukan lain. Lalu setelah itu, carilah harta hingga ia terkumpul padamu, jika Engkau sudah mempunyai harta, maka bolehlah Engkau memikirkan untuk segera menikah.”

Nasihat yang cukup mujarab dari seorang guru. Ketika ia sudah besar, dengan kehendak Allah ia benar-benar menjadi orang penting di istana seperti yang telah didoakan oleh Imam Abu Hanifah. Dengan ilmunya, ia diamanahkan menduduki kursi Qadhi Al-Qudhot (hakim tertinggi negara) pada masa khalifah Harun Al-Rasyid. Bukunya “Al-Kharraj”, juga menjadi rujukan raja Harun Al-Rasyid dalam mengatur ekonomi negaranya.

Maa syaaAllah… Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Abu Yusuf dan Imam Abu Hanifah ini. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.rumahfiqih.com/

Adab Murid terhadap Gurunya (2)

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta'ala.

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Adab Murid terhadap Gurunya (1)”, sudah dijelaskan secara ringkas lima dari sepuluh adab seorang murid kepada guru, antara lain mendahulukan kesucian jiwa, mengurangi kesibukan duniawi, tidak bersikap sombong kepada guru, menjaga diri dari perselisihan, dan mengambil cabang2 ilmu yang terpuji.

Tulisan berikut bertujuan untuk melengkapi kesepuluh adab seperti yang telah disebutkan.

Keenam, hendaklah seorang murid tidak menekuni semua cabang ilmu sekaligus, melainkan menjaga urutannya dimulai dari yang paling penting. Karena apabila usia kita tidak mencukupi untuk mempelajari semua ilmu, maka kita telah mengambil ilmu yang paling penting dan menyempurnakannya. Para ulama sepakat bahwa ilmu yang paling penting ialah ilmu akhirat. salah satunya yang paling mulia sekaligus puncaknya ialah ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala (ma’rifatullah).

Ketujuh, hendaklah seorang murid tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya, karena ilmu itu tersusun secara berurut. Misalnya, kita harus mempelajari ilmu tentang bersuci (thaharah) terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu tentang shalat, dan sebagainya.

Kedelapan, hendaklah seorang murid mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Yang dimaksud di sini ialah dua hal: pertama kemuliaan hasil, dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu enjinering. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu enjinering adalah kehidupan yang fana. Dengan demikian ilmu agama lebih mulia.

Kesembilan, hendaknya tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mampercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Seorang murid hendaknya tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabuhi orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Karena tujuan sebenarnya menuntut ilmu ialah untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Ilmu apapun, jika ia bermaksud untuk mencari ridha Allah, pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh, hendaklah seorang murid mengetahui kaitan ilmu dengan tujuannya supaya dapat mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, yang penting daripada yang lainnya. Maksud “yang penting” ialah apa yang menjadi kepentingan kita, dan tidak ada yang menjadi kepentingan kita kecuali urusan dunia dan akhirat.

***

Wallaahu a’lamu,

Semoga kita dapat meneladani akhlak para penuntut ilmu yang telah dicontohkan oleh para ulama’ dan mampu mengamalkannya. Karena ilmu yang bermanfaat bukan yang banyak diketahui, melainkan yang banyak diamalkan.

Semoga bermanfaat. 🙂

Referensi:

Tazkiyyatun-nafs, Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali, yang disusun ulang oleh Sa’id Hawwa.

Adab Murid terhadap Gurunya (1)

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

Said Hawwa menuliskan dalam bukunya, “Tazkiyyatun-nafs”, sebuah intisari “Ihyaa’ ‘Uluumud-diin” yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, bahwa murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak terhadap gurunya. Beliau menyusunnya menjadi sepuluh bagian:

Pertama, hendaknya seorang murid mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq . dan keburukan sifat. Karena pada dasarnya ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya bathin kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir (tampak) , tidak sah kecuali menyucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batihin yang menyemarakkan hati dengan dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah sekali-kali tidak mennjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzaab: 4)

Jika pikiran terpecah, maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya.” Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi menguap sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Penuntut ilmu hendaknya bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Di antara bentuk kesombongan terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal, padahal sikap ini merupakan kebodohan. Oleh sebab itu dikatakan, “Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.” Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendegnarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta’ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat, karena hal ini akan membingungkan akal dan pikirannya dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela’ah mendalam. Maka pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika usianya mendukung, maka ia hendaknya berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan itu saling mendukung dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

Ilmu-ilmu “syar’iyah” dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa manzilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya tujuan. Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga “syari’ah” yang tak ubahnya seperti para penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan pahala di akhirat sesuai dengan tingkatannya tersebut, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Demikianlah,

Apakah kita sudah menyucikan hati kita dari berbagai penyakit hati? Riya’, ‘ujub, sombong? | Karena menuntut ilmu itu ibadahnya hati.

Apakah kita masih sibuk dengan berbagai macam urusan dunia? | Karena pikiran yang terkonsentrasi itu lebih mudah menerima berbagai hakikat ilmu.

Apakah kita pernah – atau bahkan sering – bersikap sombong kepada guru kita? Ustadz? Dosen, mungkin? Atau orang-orang yang pernah mengajarkan kepada kita suatu ilmu? | Karena ilmu itu enggan kepada penuntut ilmu yang sombong.

Apakah kita sering berselisih terhadap suatu ilmu sedangkan kita tidak tahu dasarnya? Atau berselisih tentang suatu hal sedangkan kita belum mendalaminya? | Karena ilmu itu perlu dimantapkan sebelum mendengar berbagai perselisihan.

Apakah kita telah menuntut ilmu-ilmu yang terpuji, yang memiliki tujuan akhir ridha Allah subhanahu wa ta’ala? Atau masih berputar pada ilmu yang tidak jelas maksud dan tujuannya? | Karena menuntut ilmu yang terpuji merupakan sebab kita mendapat pahala yang besar di akhirat kelak.

Beristighfarlah, sesungguhnya Allah maha pengampun dosa, lagi maha penyayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan para pembaca.  🙂

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"