Posts Tagged ‘ ibadah ’

Niat nikah

Niat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu ‘Anhu (dikutip dari “Kitab Niat”):

niat nikah

Artinya:

“Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah ‘azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam:
“Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat”

Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.

Saya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup. 

Saya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya.”

Diperoleh dari: Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan – Pustaka Islam Sunni Salafiyah KTB.pdf

Advertisements

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

Ilmu dan orang yang berilmu memiliki tempat yang istimewa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]
“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Begitupula Nabi saw. yang memposisikan ilmu sebagai sesuatu yang paling penting dalam beragama. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]
“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan menjadikannya paham dalam (urusan) diin/agama.” [HR. Bukhari dari Mu’awiyah ra.]
“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah ra. dan Abu Darda’ ra. berkata,

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah ra. juga berkata,

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Salah seorang imam madzhab, sang pembaharu di masanya, Imam Asy-Syafi’i rhm. berkata,

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”
“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Lantas, apa yang dimaksud dengan ilmu? Seorang imam ahli hadits pengarang Kitab Fathul-Baari bisyarah Shahih Bukhori, Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rhm., berkata,

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu: Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul-Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

***

Sumber:
– Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
– Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Menjadi Manusia Terkaya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Jauhilah hal-hal yang diharamkan maka kau menjadi manusia yang paling taat beribadah. Dan relalah atas apa yang telah diberikan oleh Allah untukmu, maka kau menjadi manusia terkaya… (Hadits riwayat at-Tirmidzi dan Ahmad, dari Abu Hurairah ra.)

Sang muallif kitab, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, meletakkan hadits ini dalam bab Wara’. Beliau ingin menyampaikan bagaimana sifat wara’ itu dapat menjadikan seseorang semakin taat dalam beribadah dan memudahkan untuk bersyukur. 🙂

Wallaahu a’lamu.

______

Sumber: Thariqah ‘Alawiyah: Jalan Lurus menuju Allah, Jilid 2, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Diterjemahkan dari “al-Manhaj as-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah as-Sadah al-Ba’Alawi” oleh Ust. Husin Nabil. Penerbit Nafas, Tangerang Selatan.

Rahasia Keutamaan Lapar

tulisan ini juga sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “kail itu bernama kenyang”.

tentang kenyang, Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jauhilah oleh kalian kekenyangan karena itu adalah beban dalam kehidupan dan baunya busuk dalam kematian.” Luqman berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika lambung sudah penuh, pikiran menjadi tidur, hikmah tak mampu berbicara, dan anggota badan menjadi malas beribadah.”

Dalam Taurat dinyatakan, “Bertakwalah kepada Allah dan jika engkau kenyang, ingatlah orang-orang yang lapar.”

Sahal bin Abdillah mengatakan, “Tidak datang kebaikan pada Hari Kiamat, suatu amal kebajikan yang lebih baik daripada meninggalkan makan berlebihan dalam rangka meneladani perilaku makan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ia menambahkan, “Hikmah dan ilmu diletakkan dalam kelaparan, sedangkan kemaksiatan dan kebodohan dalam kekenyangan.”

Manfaat lapar

Ada banyak sekali, nih, manfaat lapar yang dirangkum rapi oleh al-Habib ‘Umar, yaitu sebagai berikut:

Pertama, lapar bisa membersihkan hati, menyalakan bakat, dan menghidupkan mata batin. Asy-Syibli mengatakan, “Setiap kali aku lapar karena Allah, aku senantiasa melihat di dalam hatiku ada sebuah pintu hikmah dan ibrah yang terbuka, yang sebelumnya belum pernah kulihat.”

Kedua, lapar melembutkan hati dan menjernihkannya. Hati yang lembut dan jernih akan membawa pada kenikmatan beribadah dan tersentuh oleh dzikir. Al-Junaid rahimahullah mengatakan, “Ada seseorang yang menempatkan kantong berisi makanan di dadanya, kemudian dia ingin mendapatkan manisnya munajat. Bagaimana mungkin?”

Ketiga, lapar melahirkan ketundukan dan melenyapkan kedurhakaan. Seseorang tidak bisa melihat keagungan dan kemahakuasaan Tuhan selama belum pernah menyaksikan kehinaan dan kelemahannya sendiri.

Keempat, lapar mengingatkan pada cobaan dan adzab Allah. Orang yang kenyang biasanya melupakan orang yang lapar. Nabi Isa ‘alaihissalam pernah ditanya, “Mengapa engkau lapar, padahal di tanganmu terdapat perbendaharaan bumi?” Ia menjawab, “Aku takut kenyang sehingga lupa kepada orang yang lapar.” Jadi, lapar bisa melahirkan sifat welas, dermawan, dan iba kepada sesama makhluk Allah.

Kelima, lapar bisa mematahkan nafsu untuk berbuat maksiat dan menundukkan nafsu penyeru kepada keburukan (ammarah bis-su’). ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Bid’ah pertama yang terjadi sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kenyang.” Dzun Nun mengatakan, “Setiap kali aku kenyang, aku senantiasa bermaksiat atau mempunyai niat untuk melakukannya.”

Keenam, lapar bisa menahan kantuk dan memudahkan untuk beribadah malam.

Ketujuh, lapar memudahkan seseorang untuk tekun beribadah. Dengan menahan lapar, seseorang tidak akan disibukkan oleh urusan jual-beli makanan, memasak, dan bolah-balik ke kamar mandi. Sari as-Saqathi mengatakan, “Aku melihat Ali al-Jurjani mempunyai sawiq (bubur dari tepung gandum) dan ia memakannya tanpa kuah. Lalu kutanyakan kepadanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan ini?’ Ali menjawab, ‘Antara mengunyah roti dan menyantap sawiq ada selisih waktu sebanyak 70 bacaan tasbih. Aku sendiri sudah 40 tahun tidak mengonsumsi roti.’” MasyaAllah, lihatlah bagaimana beliau mengatur waktunya agar waktu ibadahnya tidak berkurang hanya karena mengunyah roti.

Kedelapan, lapar bisa menyehatkan badan dan mencegah datangnya penyakit, karena lambung adalah habitat bagi berbagai penyakit.

Kesembilan, sedikit makan meringankan biaya hidup. Betul begitu, wahai para penerima beasiswa? Hehe.

Kesepuluh, sedikit makan memungkinkan seseorang untuk menyedekahkan kelebihan makanan sehingga pada Hari Kiamat nanti ia akan dinaungi oleh sedekahnya.

Lalu, Bagaimana caranya mengekang nafsu makan?

Beberapa nasihat untuk para murid (orang yang menempuh jalan menuju Allah) dan penuntut ilmu (kita nih) terkait dengan perut, dan bagaimana caranya mengekang nafsu makan.

Nasihat pertama, hendaknya kita mengonsumsi makanan yang halal. Beribadah dengan mengonsumsi makanan yang haram sama seperti mendirikan bangunan di atas gelombang air laut.

Nasihat kedua, hendaknya kita menyedikitkan porsi makan dan berlatih secara bertahap untuk mengurangi porsi makan. Ada beberapa tingkatan dalam hal ini. Tingkatan pertama yaitu tingkatan tertinggi, mengembalikan porsi makan sesuai yang seharusnya, yaitu sekadar untuk menyangga badan. Ini adalah tingkatan orang-orang shadiqin (orang-orang yang keimannya tidak diragukan lagi). Tingkatan kedua, yaitu mengurangi porsi makan menjadi setengah mudd, atau sekitar satu potong roti dan secuil. Umar radhiyallahu ‘anhu biasa makan dengan porsi tujuh atau sembilan suapan. Tingkatan ketiga, mengurangi porsi makan menjadi satu mudd, yaitu kira-kira dua potong roti dan setengahnya. Tingkatan keempat, mengembalikan porsi makan menjadi lebih dari satu mudd hingga satu mann. Satu mann kira-kira setara dengan 2 pound atau 907 gram. Ada pula tingkatan kelima, yang tidak jelas porsinya, dan karenanya sering disalahartikan. Yaitu hendaknya kita makan jika sudah benar-benar merasa lapar, dan segera berhenti ketika kita sudah merasa tidak lapar. Dan tanda bahwa kita benar-benar lapar adalah bilamana kita tetap makan walaupun tidak ada lauk.

Nasihat ketiga, terkait dengan waktu makan dan lamanya penundaan. Orang-orang pada tingkatan tertinggi bisa menahan lapar hingga tiga hari atau bahkan lebih. Orang-orang pada tingkatan kedua bisa menahan lapar selama dua hingga tiga hari. Adapun mereka yang berada pada tingkat ketiga hanya makan sekali dalam sehari.

Waduh, Kita tingkatan berapa dong? Wkwkwk. T_______T

Nasihat keempat, terkait dengan jenis makanan dan lauknya. Makanan yang paling baik adalah (yang terbuat dari) sari gandum (kalau di Indonesia mungkin beras yang paling mahal); yang sedang adalah (yang terbuat dari) sya’ir (kalau ini beras kualitas menengah); dan yang paling rendah adalah (yang terbuat dari) sya’ir yang masih kasar (yang ini mungkin beras sembako, yang paling murah harganya). Jenis lauk yang paling baik adalah daging dan manisan (dari samin dan madu); yang paling rendah adalah garam dan cuka; dan yang sedang adalah lemak (hewani atau nabati) tanpa daging.

Siapa yang senantiasa mengonsumsi jenis makanan dan lauk yang paling baik, berarti jiwanya terbiasa dengan kenikmatan, sehingga ia menyukai kelezatan dunia dan berusaha mendapatkannya, lalu hal itu menyeretnya pada kemaksiatan. Ketahuilah, salah satu ibadah yang paling utama adalah melawan hawa nafsu dan meninggalkan kenikmatan.

Wallahu a’lam, meskipun kopas, setidaknya ada nasihat dan ilmu yang akhirnya kita tahu.Semoga Allah memberi kita semuasehat sehingga bisa mengamalkannya dan istiqomah. Nas’alullaha al-‘afiyah wa al-istiqomah. Aamiin. 🙂

Dikutip dari:

al-Habib ‘Umar bin Hafizh, “Amal Pemusnah Kebaikan”, Noura Books, Jakarta, 2013

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

sumber ilmu

Tulisan ini hanyalah sebuah ketik ulang ringkasan firman Allah, hadits dan dalil shahih tentang keutamaan ilmu dan ulama’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]

“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang mengamalkan amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” [HR. Muslim dari ‘Aisyah ra.]

“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam diin.” [HR. A-Bukhari dari Mu’awiyah ra.]

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]

“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan Ibnu Hibban]

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu : Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata :

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Abu Hurairah dan Abu Darda’ ra. berkata :

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah berkata :

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Imam Asy-Syafi’i ra. berkata :

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”, juga

“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Sumber :

Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Tanda-tanda Lemah Iman dan Kiat Mengatasinya

Tulisan ini saya dapat dari salah satu blog. Saya reblog karena saya pikir tulisan ini cukup bisa menjadi bahan evaluasi bagi kita. Semoga bermanfaat. 🙂

Tanda-tanda Lemah Iman

  1. Terus menerus melakukan dosa dan tidak merasa bersalah
  2. Berhati keras dan tidak berminat untuk membaca Al-Qur’an
  3. Berlambat-lambat dalam melakukan kebaikan, seperti terlambat untuk melakukan shalat
  4. Meninggalkan sunnah
  5. Memiliki suasana hati yang goyah, seperti bosan dalam kebaikan dan sering gelisah
  6. Tidak merasakan apapun ketika mendengarkan ayat Al-Qur’an dibacakan, seperti ketika Allah mengingatkan tentang hukumanNya dan janji-janjiNya tentang kabar baik.
  7. Kesulitan dalam berdzikir dan mengingat Allah
  8. Tidak merasa risau ketika keadaan berjalan bertentangan dengan syari’ah
  9. Menginginkan jabatan dan kekayaan
  10. Kikir dan bakhil, tidak mau membagi rezeki yang dikaruniakan oleh Allah
  11. Memerintahkan orang lain untuk berbuat kebaikan, sementara dirinya sendiri tidak melakukannya.
  12. Merasa senang ketika urusan orang lain tidak berjalan semestinya
  13. Hanya memperhatikan yang halal dan yang haram, dan tidak menghindari yang makruh
  14. Mengolok-olok orang yang berbuat kebaikan kecil, seperti membersihkan masjid
  15. Tidak mau memperhatikan kondisi kaum muslimin
  16. Tidak merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu demi kemajuan Islam
  17. Tidak mampu menerima musibah yang menimpanya, seperti menangis dan meratap-ratap di kuburan
  18. Suka membantah, hanya untuk berbantah-bantahan, tanpa memiliki bukti
  19. Merasa asyik dan sangat tertarik dengan dunia, kehidupn duniawi, seperti merasa resah hanya ketika kehilangan sesuatu materi kebendaan
  20. Merasa asyik (ujub) dan terobsesi pada diri sendiri

Hal-hal berikut dapat meningkatkan keimanan kita:

  1. Tilawah Al-Qur’an dan mentadabburi maknanya, hening dan dengan suara yang lembut tidak tinggi, maka Insya Allah hati kita akan lembut. Untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, yakinkan bahwa Allah sedang berbicara dengan kita.
  2. Menyadari keagungan Allah. Segala sesuatu berada dalam kekuasaannya. Banyak hal di sekitar kita yang kita lihat, yang menunjukkan keagunganNya kepada kita. Segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendakNya. Allah maha menjaga dan memperhatikan segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang bersembunyi di balik batu hitam dalam kepekatan malam sekalipun.
  3. Berusaha menambah pengetahuan, setidaknya hal-hal dasar yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti cara berwudlu dengan benar. Mengetahui arti dari nama-nama dan sifat-sifat Allah, orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang berilmu.
  4. Menghadiri majelis-majelis dzikir yang mengingat Allah. Malaikat mengelilingi majels-majelis seperti itu.
  5. Selalu menambah perbuatan baik. Sebuah perbuatan baik akan mengantarkan kepada perbuatan baik lainnya. Allah akan memudahkan jalan bagi seseorang yang bershadaqah dan juga memudahkan jalan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Amal-amal kebaikan harus dilakukan secara kontinyu.
  6. Merasa takut kepada akhir hayat yang buruk. Mengingat kematian akan mengingatkan kita dari terlena terhadap kesenangan dunia.
  7. Mengingat fase-fase kehidupan akhirat, fase ketika kita diletakkan dalam kubut, fase ketika kita diadili, fase ketika kita dihadapkan pada dua kemungkinan, akan berakhir di surga, atau neraka.
  8. Berdo’a, menyadari bahwa kita membutuhkan Allah. Merasa kecil di hadapan Allah.
  9. Cinta kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus kita tunjukkan dalam aksi. Kita harus berharap semoga Allah berkenan menerima shalat-shalat kita, dan senantiasa merasa takut akan melakukan kesalahan. Malam hari sebelum tidur, seyogyanya kita bermuhasabah, memperhitungkan perbuatan kita sepanjang hari itu.
  10. Menyadari akibat dari berbuat dosa dan pelanggaran. Iman seseorang akan bertambah dengan melakukan kebaikan, dan menurun dengan melakukan perbuatan buruk.
  11. Semua yang terjadi adalah karena Allah menghendaki hal itu terjadi. Ketika musibah menimpa kita, itupun dari Allah.

sumber : http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/tanda-tanda-lemah-iman-dan-kiat-untuk.html

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"