Posts Tagged ‘ halal ’

Hakekat Rizki

Mungkin kita tak tahu dimana rizki kita..
Tapi rizki tahu dimana diri kita..
Dari lautan biru, bumi dan gunung..
Allah memerintahkannya menuju kita..
Allah menjamin rizki kita, sejak 4 bulan 10 hari kita dalam kandungan ibu..

Amatlah keliru bila rizki dimaknai dari hasil bekerja..
Karena bekerja adalah ibadah..sedang rizki itu urusanNya.

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji..
Yang mungkin esok akan ditinggal mati..
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka..
Tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita..
Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x Shafa dan Marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya..
Ikhtiyar itu perbuatan..
Rizki itu kejutan..

Dan jangan lupa..
Tiap hakekat rizki akan ditanya..
“Darimana dan untuk apa?”
Karena rizki adalah “hak pakai”
Halalnya dihisab..
Haramnya diadzab..

Maka, janganlah kita iri pada rizki orang lain…
Bila kita iri pada rizkinya, kita juga harus iri pada takdir matinya.
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummat-Nya..
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya..

Jadi bertawakkal lah, ridho dengan ketentuan Allah, sehingga apapun itu kita akan merasa cukup dan penuh kenikmatan..

Wallahu A’lam..

Share via Whatsapp dari: KH. Khoirul Anwar Fathoni, Ponpes Al-Fath, Cilegon

 

Advertisements

Rahasia Keutamaan Lapar

tulisan ini juga sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “kail itu bernama kenyang”.

tentang kenyang, Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jauhilah oleh kalian kekenyangan karena itu adalah beban dalam kehidupan dan baunya busuk dalam kematian.” Luqman berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika lambung sudah penuh, pikiran menjadi tidur, hikmah tak mampu berbicara, dan anggota badan menjadi malas beribadah.”

Dalam Taurat dinyatakan, “Bertakwalah kepada Allah dan jika engkau kenyang, ingatlah orang-orang yang lapar.”

Sahal bin Abdillah mengatakan, “Tidak datang kebaikan pada Hari Kiamat, suatu amal kebajikan yang lebih baik daripada meninggalkan makan berlebihan dalam rangka meneladani perilaku makan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ia menambahkan, “Hikmah dan ilmu diletakkan dalam kelaparan, sedangkan kemaksiatan dan kebodohan dalam kekenyangan.”

Manfaat lapar

Ada banyak sekali, nih, manfaat lapar yang dirangkum rapi oleh al-Habib ‘Umar, yaitu sebagai berikut:

Pertama, lapar bisa membersihkan hati, menyalakan bakat, dan menghidupkan mata batin. Asy-Syibli mengatakan, “Setiap kali aku lapar karena Allah, aku senantiasa melihat di dalam hatiku ada sebuah pintu hikmah dan ibrah yang terbuka, yang sebelumnya belum pernah kulihat.”

Kedua, lapar melembutkan hati dan menjernihkannya. Hati yang lembut dan jernih akan membawa pada kenikmatan beribadah dan tersentuh oleh dzikir. Al-Junaid rahimahullah mengatakan, “Ada seseorang yang menempatkan kantong berisi makanan di dadanya, kemudian dia ingin mendapatkan manisnya munajat. Bagaimana mungkin?”

Ketiga, lapar melahirkan ketundukan dan melenyapkan kedurhakaan. Seseorang tidak bisa melihat keagungan dan kemahakuasaan Tuhan selama belum pernah menyaksikan kehinaan dan kelemahannya sendiri.

Keempat, lapar mengingatkan pada cobaan dan adzab Allah. Orang yang kenyang biasanya melupakan orang yang lapar. Nabi Isa ‘alaihissalam pernah ditanya, “Mengapa engkau lapar, padahal di tanganmu terdapat perbendaharaan bumi?” Ia menjawab, “Aku takut kenyang sehingga lupa kepada orang yang lapar.” Jadi, lapar bisa melahirkan sifat welas, dermawan, dan iba kepada sesama makhluk Allah.

Kelima, lapar bisa mematahkan nafsu untuk berbuat maksiat dan menundukkan nafsu penyeru kepada keburukan (ammarah bis-su’). ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Bid’ah pertama yang terjadi sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kenyang.” Dzun Nun mengatakan, “Setiap kali aku kenyang, aku senantiasa bermaksiat atau mempunyai niat untuk melakukannya.”

Keenam, lapar bisa menahan kantuk dan memudahkan untuk beribadah malam.

Ketujuh, lapar memudahkan seseorang untuk tekun beribadah. Dengan menahan lapar, seseorang tidak akan disibukkan oleh urusan jual-beli makanan, memasak, dan bolah-balik ke kamar mandi. Sari as-Saqathi mengatakan, “Aku melihat Ali al-Jurjani mempunyai sawiq (bubur dari tepung gandum) dan ia memakannya tanpa kuah. Lalu kutanyakan kepadanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan ini?’ Ali menjawab, ‘Antara mengunyah roti dan menyantap sawiq ada selisih waktu sebanyak 70 bacaan tasbih. Aku sendiri sudah 40 tahun tidak mengonsumsi roti.’” MasyaAllah, lihatlah bagaimana beliau mengatur waktunya agar waktu ibadahnya tidak berkurang hanya karena mengunyah roti.

Kedelapan, lapar bisa menyehatkan badan dan mencegah datangnya penyakit, karena lambung adalah habitat bagi berbagai penyakit.

Kesembilan, sedikit makan meringankan biaya hidup. Betul begitu, wahai para penerima beasiswa? Hehe.

Kesepuluh, sedikit makan memungkinkan seseorang untuk menyedekahkan kelebihan makanan sehingga pada Hari Kiamat nanti ia akan dinaungi oleh sedekahnya.

Lalu, Bagaimana caranya mengekang nafsu makan?

Beberapa nasihat untuk para murid (orang yang menempuh jalan menuju Allah) dan penuntut ilmu (kita nih) terkait dengan perut, dan bagaimana caranya mengekang nafsu makan.

Nasihat pertama, hendaknya kita mengonsumsi makanan yang halal. Beribadah dengan mengonsumsi makanan yang haram sama seperti mendirikan bangunan di atas gelombang air laut.

Nasihat kedua, hendaknya kita menyedikitkan porsi makan dan berlatih secara bertahap untuk mengurangi porsi makan. Ada beberapa tingkatan dalam hal ini. Tingkatan pertama yaitu tingkatan tertinggi, mengembalikan porsi makan sesuai yang seharusnya, yaitu sekadar untuk menyangga badan. Ini adalah tingkatan orang-orang shadiqin (orang-orang yang keimannya tidak diragukan lagi). Tingkatan kedua, yaitu mengurangi porsi makan menjadi setengah mudd, atau sekitar satu potong roti dan secuil. Umar radhiyallahu ‘anhu biasa makan dengan porsi tujuh atau sembilan suapan. Tingkatan ketiga, mengurangi porsi makan menjadi satu mudd, yaitu kira-kira dua potong roti dan setengahnya. Tingkatan keempat, mengembalikan porsi makan menjadi lebih dari satu mudd hingga satu mann. Satu mann kira-kira setara dengan 2 pound atau 907 gram. Ada pula tingkatan kelima, yang tidak jelas porsinya, dan karenanya sering disalahartikan. Yaitu hendaknya kita makan jika sudah benar-benar merasa lapar, dan segera berhenti ketika kita sudah merasa tidak lapar. Dan tanda bahwa kita benar-benar lapar adalah bilamana kita tetap makan walaupun tidak ada lauk.

Nasihat ketiga, terkait dengan waktu makan dan lamanya penundaan. Orang-orang pada tingkatan tertinggi bisa menahan lapar hingga tiga hari atau bahkan lebih. Orang-orang pada tingkatan kedua bisa menahan lapar selama dua hingga tiga hari. Adapun mereka yang berada pada tingkat ketiga hanya makan sekali dalam sehari.

Waduh, Kita tingkatan berapa dong? Wkwkwk. T_______T

Nasihat keempat, terkait dengan jenis makanan dan lauknya. Makanan yang paling baik adalah (yang terbuat dari) sari gandum (kalau di Indonesia mungkin beras yang paling mahal); yang sedang adalah (yang terbuat dari) sya’ir (kalau ini beras kualitas menengah); dan yang paling rendah adalah (yang terbuat dari) sya’ir yang masih kasar (yang ini mungkin beras sembako, yang paling murah harganya). Jenis lauk yang paling baik adalah daging dan manisan (dari samin dan madu); yang paling rendah adalah garam dan cuka; dan yang sedang adalah lemak (hewani atau nabati) tanpa daging.

Siapa yang senantiasa mengonsumsi jenis makanan dan lauk yang paling baik, berarti jiwanya terbiasa dengan kenikmatan, sehingga ia menyukai kelezatan dunia dan berusaha mendapatkannya, lalu hal itu menyeretnya pada kemaksiatan. Ketahuilah, salah satu ibadah yang paling utama adalah melawan hawa nafsu dan meninggalkan kenikmatan.

Wallahu a’lam, meskipun kopas, setidaknya ada nasihat dan ilmu yang akhirnya kita tahu.Semoga Allah memberi kita semuasehat sehingga bisa mengamalkannya dan istiqomah. Nas’alullaha al-‘afiyah wa al-istiqomah. Aamiin. 🙂

Dikutip dari:

al-Habib ‘Umar bin Hafizh, “Amal Pemusnah Kebaikan”, Noura Books, Jakarta, 2013

Cowo VS Suami

Saya kebetulan nemu syair (mm, tulisan) bagus nih, boleh lah saya post di sini barangkali ada pembaca setia blog saya yang butuh hiburan untuk mengobati kegalauannya, hehe (canda kok). Berikut syairnya, silakan dihayati dan direnungkan. 🙂

*************************************
SIAPA YANG BILANG COWO, SUAMI LAGI!
*************************************
Kalau seorang cowo memuji pacarnya, lebay namanya
Kalau seorang suami memuji istrinya, pahala namanya

Kalau seorang cowo nraktir pacarnya, pamrih namanya
Kalau seorang suami nraktir istri dan anaknya, sedekah namanya

Kalau seorang cowo pegangan tangan dengan pacarnya, dosa namanya
Kalau seorang suami pegangan tangan dengan istrinya, terhapus dosa-dosa keduanya
dari setiap ujung jarinya

Kalau seorang cowo mati demi mempertahankan cinta dengan pacarnya, konyol namanya.
Kalau seorang suami mati demi mempertahankan kehormatan istrinya, syahid namanya.

Sob, hanya 5 menit akad nikah, tapi bisa mengubah
yang asalnya haram jadi halal
yang asalnya dosa jadi pahala
yang asalnya susah jadi berkah

Semoga semua lelaki dan wanita pandai menjaga dirinya
Bersabar sebelum waktunya
Dan yang pasti, moga segera mendapatkan jodoh terbaik di waktu yang terbaik
di tempat terindah yang diridhoi-Nya
Aamiin


Setia Furqon Kholid
Inspirasi buku “Jangan jatuh Cinta! Tapi Bangun Cinta”

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"