Posts Tagged ‘ guru ’

Belajar dengan Guru

Syeikh Ali Jum'ah

Syeikh Ali Jum’ah

Belajar dengan guru adalah metode belajar paling ideal untuk memperoleh ilmu.Mari kita simak penuturan Syeikh Ali Jum’ah (salah satu ulama’ al-Azhar, mantan mufti Mesir) dari situs “Suara Al-Azhar” berikut ini:
Ilmu yang benar harus memiliki sanad riwayah, sanad dirayah dan sanad tazkiah. Sebab ilmu bukan hanya sekedar maklumat saja tetapi ketika seseorang belajar dengan guru di sana dia akan diajari adab talaqqi, adab menyampaikan ilmu, adab jika terjadi perbedaan, adab kepada ulama dan adab percaya diri.
Orang-orang yang tidak belajar dengan guru akan mudah terjebak dengan kesalahan terutama jika terjadi perbedaan pendapat. Lebih dari itu orang-orang tersebut bisa mengatakan “Jika Kamu tidak sependapat dengan saya berarti kamu lawan saya”. Dan hal inilah yang memperlebar jurang pembatas antara umat Islam.
Mari lihat sahabat nabi dan salafus saleh. Mereka berbeda pendapat tetapi tetap saling mendengarkan dan saling menghormati.
Syekh Ali Jum’ah
Mantan Mufti Mesir
Hikmahnya adalah belajar dengan guru memiliki faedah yang amat besar. Selain belajar ilmu, kita juga belajar adab. Adab terhadap ilmu, juga adab terhadap yang punya ilmu. Saya ucapkan selamat menuntut ilmu buat kawan2 semua. 🙂

Tentang Sanad

Bismillah.. Saya menemukan sebuah artikel menarik tentang sanad. Apa itu sanad? Nah, mari kita belajar langsung dari salah seorang ahli sanad*, Syeikh Nuruddin Al-Banjari. Oke, mari kita simak.

***

Syeikh Nuruddin Al-Banjari

Syeikh Nuruddin Al-Banjari

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad adalah sesuatu yang penting. “Menurut ulama salaf, sanad dianggap sebagai bagian dari agama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarok,” jelas KH. Muhammad Nuruddin Al-Banjari. Alumni Universitas al-Azhar asy-Syarif, Mesir ini sendiri dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak sanad. Bukan hanya di bidang hadits, tapi setiap kitab yang dipelajarinya, sanadnya bersambung kepada pengarang kitab tersebut.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad adalah sesuatu yang penting. “Menurut ulama salaf, sanad dianggap sebagai bagian dari agama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarok,” jelas KH. Muhammad Nuruddin Al-Banjari. Alumni Universitas al-Azhar asy-Syarif, Mesir ini sendiri dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak sanad. Bukan hanya di bidang hadits, tapi setiap kitab yang dipelajarinya, sanadnya bersambung kepada pengarang kitab tersebut.

Nuruddin punya banyak sanad, karena ia termasuk orang yang senang belajar secara talaqqi(langsung dibawah bimbingan seorang guru) kepada para ulama yang memiliki sanad. Ada sekitar 35 ulama kenamaan yang pernah menjadi gurunya sewaktu ia belajar di Mekkah dan Mesir. Diantara ulama itu antara lain Syeikh Al-Allamah Hasan Masshath yang mendapat gelar Syeiku-ul-ulama’ rahimahullah, Syeikh Al-Allamah Muhamad Yasin Al-Fadani rahimahullah yang mendapat julukan Syeikhul Hadits Wa Musnidud Dunya, Syeikh Ismail Usman Zien rahimahullah yang digelar Alfaqih Ad-Darrakah, Syeikh Abd. Karim Banjar hafizohullah, Syeikh Suhaili Al-Anfenani, As-Sayyed Mohd. Alwi Al-Maliki, Syeikh Said Al-Bakistani dan sebagainya.

Tradisi sanad itu sekarang ini oleh Nuruddin diakui lemah karena orang lebih senang belajar secara instant. Sedang belajar secara talaqqi itu memerlukan kesabaran tersendiri. “Sekarang ini maunya serba cepat dalam mencari ilmu,” katanya lagi. Padahal menurutnya, para ulama dulu sangat sabar mencari ilmu. Mereka rela berlama-lama belajar kepada seorang ulama sampai tamat. Bukan hanya itu mereka juga harus mempersiapkan mental yang kuat ketika misalkan harus disuruh atau dibentak oleh sang guru. “Kalau anak sekarang dibentak langsung lari,” jelasnya. Berikut wawancaranya yang pernah dimuat majalah Hidayatullah yang dikutip oleh InpasOnline.com

Tradisi mencari ilmu dengan menjaga sanad sudah amat langka saat ini, bagaimana komentar ustadz?

Sebenarnya tradisi itu masih ada di pesantren-pesantren kita. Hanya saja para santri tidak menanyakan sanad kitab yang dipelajarinya. Mereka tidak peduli melalui siapa saja mendapatkan pengetahuan tentang kitab itu, hingga sampai kepada penulisnya. Bisa juga karena si kiai tidak terlalalu memperhatikan masalah itu. Atau mereka memang belum sempat mendapatkan ijazah tentang periwayatan kitab tersebut. Di Indonesia, ulama yang memperhatikan sanad itu masih bisa dihitung jari. Apalagi setelah wafatnya Syeikh Yasin Al-Fadani, sebagai seorang musnid. Setelah itu tidak ada lagi ijazah, yang dampaknya kita tidak tahu ilmu yang pelajari sampai kepada siapa snadnya.

Pengalaman Ustadz sendiri, dalam memperoleh sanad?

Seingat saya, sewaktu belajar di Makkah tahun 80-an, saya mengkaji kitab dengan cara talaqqi, istilahnya dari kulit ke kulit (dari sampul awal hingga sampul akhir). Nah, setelah itu kita diijazahi. Dengan begitu saya tahu membaca Shahih Al-Bukhari dari guru saya, fulan bin fulan, hingga terus sampai kepada Imam Al-Bukhari.

Apa sebenarnya fungsi dari sanad sendiri?

Ini terkait dengan masalah tradisi para ulama salaf ketika hendak memberi syarah terhadap sebuah hadits. Kita harus tahu siapa orang yang mensyarah hadits, memberi komentar, atau khasiyah (catatan kaki). Sebab banyak orang bisa memahami sebuah hadits tapi tidak bisa mengungkapkan dan tidak tepat memaknainya. Inilah sebagian manfaat, min fawaidi at talaqi, supaya kita memaknai hadits itu tepat, walau tidak dijamin 100 persen. Tapi insyaallah dengan talaqqi, pemahaman kita tidak akan lepas dari maksud dan tujuan penulis. Jadi bisa kita katakan al haqiqah ala ma’na shohih.

Kalau begitu, apa dampak negatif jika belajar tanpa didampingi seoarang guru?

Kalau dulu yang namanya syeikh takharuj amat menentukan sekali. Dari periwayatan ilmunya bisa diketahui sejauh mana pemahamannya. Akan tetapi jika belajar melalui majalah, internet, cd atau televisi, sulit diukur pemahamannya. Tapi sudah berani berfatwa sehingga sekan-akan ia siap menjawab semua masalah dalam satu waktu. Mungkin di Indonesia hal ini menjadi masalah karena orang-orang terlalu berani berfatwa. Ini berbeda dengan tradisi para salafuna as shalih. Jika ada pertanyaan, maka masing-masing saling menunjuk. Bukan kerana tidak mengerti, akan tetapi mereka amat hati-hati. Sebab jangan-jangan ada yang lebih pandai dan lebih berilmu. Kita sekarang hubbu tashadur, pingin berada di depan. Kadang-kadang hal-hal yang di luar bidangnya sudah berani berfatwa.

Apa akibat bagi orang yang bukan bidangnya tapi sudah berani berfatwa?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidina Ibnu Umar disebutkan bahwa orang yang paling berani mengeluarkan fatwa adalah orang yang menjerumuskan diri ke neraka jahanam. Ajra’ukum ala al fatwa, ajra’ukum ala nari jahanam. Oleh karena itu para sahabat saling tadafuk (mempersilahkan yang lain) dalam fatwa. Kalau dalam fatwa mereka seperti itu, tapi kalau dalam ibadah mereka akan berlomba-lomba. Jika masalah fatwa ayakfihi ghoiruhu (menyukupkan dengan orang lain). Misalkan Ibnu Abi Laila bertanya kepada Abu Hanifah, tapi beliau menyuruh orang tersebut bertanya kepada Zufar. Oleh Zufar disuruh tanya kepada Sofyan At Tsauri. At Tsauri menyuruh bertanya kepada Abu Hanifah.

Akhlak seperti ini sudah sedikit di negeri ini. Banyak orang yang dari segi usia, ilmu dan pengalaman masih mudah, tapi sudah berani berfatwa. Bukan hanya itu, ia juga seenaknya memvonis orang lain mubtadi’ (orang yang berbuat bid’ah), dhaal (sesat) dll. Padahal mencela mukmin itu fasiq, apalagi mengkafirkan, sibabul mukmin fusq. Anehnya yang ia sesatkan itu masih dalam batas khilafiah.

Pengalaman Ustadz berguru kepada beberapa ulama di Mesir?

Kalau di Mesir biasanya masyayikh yang pakai jubbah yang mengalamai belajar secara talaqqi kepada para masayikh sebelumnya di masjid Al Azhar, yang dinamakan al jami’ bukan al jami’ah. Syaikh Muntashir pada waktu itu kalau mengajar tafsir hanya membawa mushaf saja, tidak pernah pakai kitab. Demikian juga Syeikh Sya’rawi tidak pegang Al Qur’an. Orang yang mengajilah yang membawa Al Qur’an. Beliau-beliau ini tidak membawa tafsir karena sudah hafal.

Bagi orang yang tidak pernah talaqi, dia tidak akan merasakan pancaran nur saat bertemu dengan masyayikh. Ada kiai yang menyuruh baca sekali, dua kali, dan tiga kali, tapi dia tidak menerangkan. Nah, kadang tanpa keterangan itu santri bisa paham sendiri.Bagaimana ustadz melihat para pencari ilmu saat ini?Adab mahasiswa terhadap para dosen sudah tidak ada. Ijlal (memulyahakan) masyayih juga tidak ada. Juga penghargaan terhadap karya dan penulis para ulama tidak ada. Itu yang kita rasakan.

Pada jaman saya di Mesir, sudah ada mahasisiwa yang meminta dosennya berhenti, “duktur kifayah ba’ah, dza sa’atain kholas “ (Pak dosen, sudah cukup. Ini sudah dua jam, kapan berhentinya!). Inilah yang menyebabkan faktor keberkahan ilmu itu lenyap. Jadi keberkahan ilmu itu tidak diindikasikan dari bisa menulis atau tidak bisa ceramah, atau bisa terjun ke masyarakat. Kalau sekedar itu siapa saja bisa melakukannya. Akan tetapi yang namanya keberkatan ilmu itu berhubungan dengan kehidupan. Ia betul-betul mengawal perjalanan hidup.

Jadi, sebelum menyuruh, kita harus sudah disuruh dan mengerjakan. Sebelum melarang, kita harus sudah tingalkan. Inilah namanya dakwah bil hal itu yang pengaruhnya cukup kuat. Kadang ada sebuah masalah yang sudah dijelaskan, dikupas dengan tuntas, tapi tidak tidak berdampak apa-apa. Orang berbicara tasawuf, tapi ia meninggalkan tasawuf . Lain hal dengan ulama-ulama terdahulu. Kadang hanya dijelaskan dan disuruh baca, atau sekedar. Ini yang saya rasakan dengan syaikh Isamil, syaeik Yasin dan syeikh Hasan Masyat yang tidak sama mengajarnya dan sedikit penjelasanyya. Tapi alhamdulillah kawan-kawan yang di Makkah semuanya menjadi kiai, khususnya yang berada di Madura.

Bisa dikatakan bahwa hanya bertemu dengan guru sudah membantu sebuah pamahaman?

Sering kali kita belum bertanya ternyata sudah mendapat jawaban. Ada yang ingin kita tanyakan tentang malabis (masalah pakaian), adab naum, adab al aql (makan), adab al masyi (berjalan), jilsah (duduk) atau ibadah. Kadang kita sudah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan, akan tetapi dengan duduk saja sudah memahami keterangan guru. Saya rasa sudah jarang ada ulama yang memiliki ittishal ruhi (hubungan ruh), itishal batin (hubungan batin), dan mampu memperolah jawaban pertanyaan-pertanyaannya tanpa harus bertanya terlebih dahulu.

Contohnya, syaikh Abu Hasan Ali An Nadawi adalah ulama paling bebal dan susah memahami sesuatu. Suatu ketika kebetulan orang tua guru beliau sakit sehingga pengajian hendak diliburkan. Melihat hal itu syeikh Abu hasan berkata kepada gurunya, ”Syeikh ngajar saja, biar persoalan orang tua saya yang nangani”. Akhirnya Abu Hasan ini yang merawat orang tua gurunya. Di saat pengajian selesai dan si gruru masuk ruangan, ia melihat Abu Hasan membersihkan kotoran orang tuanya yang sedang buang air. Akhirnya si syeikh meneteskan air mata dan mengucapkan barakallah fik (semoga Allah memberkatimu) dan mendoakannya. Akhirnya, seperti diceritakan sendiri oleh syeikh Abu Hasan Ali An Nadawi bahwa sejak itu pikirannya menjadi terbuka, sehingga para ulama Mesir terkagum-kagum dengan tulisan An Nadwadi dan karya-karyanya. Padahal beliau masih berumur 19 tahun. Diantaranya yang kagum adalah Syeikh Yusuf Qaradhawi, As Sya’rawi, dan Sayyid Qutub.

Orang tua biasanya kasihan dengan kesehatan fisik kita. Tapi guru itu kasihan dengan ilmu kita. Sehingga kalau kita belajar dengan seorang guru, maka ilmu akan lebih mudah diserap dan berdampak. Ilmu terserap tidak hanya karena pengajian kita, tapi doa dan munajat para guru. Dalam buku-buku ulama klasik biasanya tertulis, i’lam hadaniya Allah wa iyakum (ketahuilah, semoga Allah memberi hidayah kepada saya dan diri kalian). Itu doa untuk pembaca kitab, nah mana aja majalah yang seperti itu?Apakah talaqqi terlalu susah, sehingga banyak yang lari dengan membaca buku sendiri?Gak susah juga, mungkin karena para masyayih sekarang tidak ada waktu untuk meluangkan diri mengajar dengan tradisi seperti itu. Yang bisa seperti itu biasanya adalah kiai-kiai zuhud, yang merasa cukup dengan keadaan apa adanya. Sedang bagi kiai yang hidupnya harus menyesuaikan keadaan, tidak ada waktu untuk itu. Masayikh–masayikh ana di Mekkah itu keperluannya sudah dipenuhi. Sehingga itu tidak hanya menyumbangkan ilmu, tapi juga materi. Ngaji di sana digaji, gimana gakbetah? Kalau pas zakat setiap guru memberi 500 real. Kalau lima guru saja sudah hampir 3000 real atau 7 juta. Nah sekarang mana ada masyayikh seperti itu.

Sekarang malah sebaliknya, santri yang dikuras. Jadi sudah susah ditemukan seorang syeikh yang memiliki waktu untuk talaqqi, padahal kalau dulu sampai imla’ hadits. Imam Yahya Ibnu Ma’in itu punya harta besarnya satu milyar dirham. Semuanya diinfaqkkan untuk mencari ilmu, hingg sandal saja tidak punya. Jadi dulu duit dihabiskan untuk ilmu, kalau sekarang sebaliknya, ilmu untuk cari uang.

Sumber: http://www.inpasonline.com

***

Semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita semua. Saya yakin kita pasti menginginkan belajar ilmu agama pada ‘ulama2 yang otentik, tidak lagi kepada sembarang guru apalagi Syeikh Google Al-Browsingi. Begitupula, dalam membaca kitab kita harus belajar pada guru yang pernah belajar kitab itu pada gurunya, hingga nyambung kepada penulis buku. Semoga usaha kita dalam menuntut ilmu diberikan ganjaran oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

*) ahli sanad = orang yang memiliki sanad

Adab Murid terhadap Gurunya (2)

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta'ala.

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Adab Murid terhadap Gurunya (1)”, sudah dijelaskan secara ringkas lima dari sepuluh adab seorang murid kepada guru, antara lain mendahulukan kesucian jiwa, mengurangi kesibukan duniawi, tidak bersikap sombong kepada guru, menjaga diri dari perselisihan, dan mengambil cabang2 ilmu yang terpuji.

Tulisan berikut bertujuan untuk melengkapi kesepuluh adab seperti yang telah disebutkan.

Keenam, hendaklah seorang murid tidak menekuni semua cabang ilmu sekaligus, melainkan menjaga urutannya dimulai dari yang paling penting. Karena apabila usia kita tidak mencukupi untuk mempelajari semua ilmu, maka kita telah mengambil ilmu yang paling penting dan menyempurnakannya. Para ulama sepakat bahwa ilmu yang paling penting ialah ilmu akhirat. salah satunya yang paling mulia sekaligus puncaknya ialah ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala (ma’rifatullah).

Ketujuh, hendaklah seorang murid tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya, karena ilmu itu tersusun secara berurut. Misalnya, kita harus mempelajari ilmu tentang bersuci (thaharah) terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu tentang shalat, dan sebagainya.

Kedelapan, hendaklah seorang murid mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Yang dimaksud di sini ialah dua hal: pertama kemuliaan hasil, dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu enjinering. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu enjinering adalah kehidupan yang fana. Dengan demikian ilmu agama lebih mulia.

Kesembilan, hendaknya tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mampercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Seorang murid hendaknya tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabuhi orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Karena tujuan sebenarnya menuntut ilmu ialah untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Ilmu apapun, jika ia bermaksud untuk mencari ridha Allah, pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh, hendaklah seorang murid mengetahui kaitan ilmu dengan tujuannya supaya dapat mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, yang penting daripada yang lainnya. Maksud “yang penting” ialah apa yang menjadi kepentingan kita, dan tidak ada yang menjadi kepentingan kita kecuali urusan dunia dan akhirat.

***

Wallaahu a’lamu,

Semoga kita dapat meneladani akhlak para penuntut ilmu yang telah dicontohkan oleh para ulama’ dan mampu mengamalkannya. Karena ilmu yang bermanfaat bukan yang banyak diketahui, melainkan yang banyak diamalkan.

Semoga bermanfaat. 🙂

Referensi:

Tazkiyyatun-nafs, Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali, yang disusun ulang oleh Sa’id Hawwa.

Adab Murid terhadap Gurunya (1)

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

Said Hawwa menuliskan dalam bukunya, “Tazkiyyatun-nafs”, sebuah intisari “Ihyaa’ ‘Uluumud-diin” yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, bahwa murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak terhadap gurunya. Beliau menyusunnya menjadi sepuluh bagian:

Pertama, hendaknya seorang murid mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq . dan keburukan sifat. Karena pada dasarnya ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya bathin kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir (tampak) , tidak sah kecuali menyucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batihin yang menyemarakkan hati dengan dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah sekali-kali tidak mennjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzaab: 4)

Jika pikiran terpecah, maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya.” Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi menguap sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Penuntut ilmu hendaknya bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Di antara bentuk kesombongan terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal, padahal sikap ini merupakan kebodohan. Oleh sebab itu dikatakan, “Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.” Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendegnarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta’ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat, karena hal ini akan membingungkan akal dan pikirannya dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela’ah mendalam. Maka pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika usianya mendukung, maka ia hendaknya berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan itu saling mendukung dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

Ilmu-ilmu “syar’iyah” dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa manzilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya tujuan. Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga “syari’ah” yang tak ubahnya seperti para penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan pahala di akhirat sesuai dengan tingkatannya tersebut, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Demikianlah,

Apakah kita sudah menyucikan hati kita dari berbagai penyakit hati? Riya’, ‘ujub, sombong? | Karena menuntut ilmu itu ibadahnya hati.

Apakah kita masih sibuk dengan berbagai macam urusan dunia? | Karena pikiran yang terkonsentrasi itu lebih mudah menerima berbagai hakikat ilmu.

Apakah kita pernah – atau bahkan sering – bersikap sombong kepada guru kita? Ustadz? Dosen, mungkin? Atau orang-orang yang pernah mengajarkan kepada kita suatu ilmu? | Karena ilmu itu enggan kepada penuntut ilmu yang sombong.

Apakah kita sering berselisih terhadap suatu ilmu sedangkan kita tidak tahu dasarnya? Atau berselisih tentang suatu hal sedangkan kita belum mendalaminya? | Karena ilmu itu perlu dimantapkan sebelum mendengar berbagai perselisihan.

Apakah kita telah menuntut ilmu-ilmu yang terpuji, yang memiliki tujuan akhir ridha Allah subhanahu wa ta’ala? Atau masih berputar pada ilmu yang tidak jelas maksud dan tujuannya? | Karena menuntut ilmu yang terpuji merupakan sebab kita mendapat pahala yang besar di akhirat kelak.

Beristighfarlah, sesungguhnya Allah maha pengampun dosa, lagi maha penyayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan para pembaca.  🙂

Bertemu Bapak dan Ibu Guru

Alhamdulillah.. bersyukur sekali rasanya. saya kira saya tidak akan sempat bertemu dengan guru-guru saya, karena ada ujian TPP di siang hari dan OPD di sore harinya. ternyata ujian TPP hanya 2 jam, jadi saya keluar dari kelas sekitar pukul setengah 3 lebih. beruntung rombongan SMAN 1 Glagah yang kebetulan hari ini berkunjung ke ITB, belum pulang dan melanjutkan perjalanan, jadi saya bisa bertemu dengan guru2 saya dan mengobrol beberapa saat dengan beliau.

pak idrispak nurpak tenang

yang pertama saya temui ialah Pak Idris (guru bahasa Inggris), Pak Tenang (guru PKn dan Agama), Bu Heni (guru Ekonomi), dan Pak Nur (guru Sosiologi). dan mas Ardian Rizaldi (AE ’09) yang sedari saya datang sudah ada di sana. alhamdulillah, beliau sehat semua. diawali dengan obrolan malu2 tapi kangen, lama2 tenggelam dalam obrolan tentang kuliah, jurusan, kultur di bandung, rambut, part time job, dan lain-lain. tidak lupa juga beliau memberi pesan kepada kami untuk menjaga diri baik-baik dan kuliah yang rajin. obrolan seru ini berakhir dengan tukeran nomor HP. wkwkwk.

pak jokopak sambu henny

kami juga bertemu Pak Eko (guru Bahasa Indonesia dan Agama Kristen), Pak Joko (guru Geografi), Bu Endang (BK), dan Pak Sam (guru Matematika). sayang saya tidak sempat mengobrol dengan pak Sam. alhamdulillah beliau juga sehat semua. Bu Endang.. mmm.. saya jadi ingat saat dulu beliau memotivasi saya untuk masuk ke jurusan yang saya minati. tidak ikut-ikutan teman, atau orang tua. untung orang tua membebaskan saya mau memilih jurusan apa, jadi it’s all back to my self. intinya, beliau yang paling susah payah ketika masa lulusan siswa kelas 3. beliau bersama dengan guru2 BK yang lain harus menjadi penghubung informasi antara universitas dan siswa. tugas berat memang. satu hal yang saya salut dari beliau adalah : beliau bisa hafal timeline pendaftaran masing-masing universitas, padahal ga kebayang jumlahnya ada berapa, dan beliau hafal masing-masing siswa yang konsultasi ke beliau penginnya masuk apa, di mana, apa saja yang kurang, dan ada masalah apa. super lah kalo diingat-ingat lagi. hehe.

dan saya ingin mengucapkan, terimakasih atas motivasi yang bapak-ibu guru telah berikan kepada saya. saya tahu bahwa sebagai alumni SMAN 1 Glagah, tidak mudah untuk menjadi teladan seperti yang beliau harapkan, tapi semoga motivasi ini dapat membangkitkan kembali semangat saya untuk bisa membangun Banyuwangi, kelak, di masa yang akan datang. doakan saya saja pak, bu… 🙂

“Ngilmu”pun Ada Syaratnya

Bukan cuma sholat yang ada syaratnya, -wudhu’. atau masuk jurusan mikrobiologi yang ga boleh buta warna. “ngilmu” juga ada syaratnya.

ngilmu? ilmu kebal bacok? tahan peluru? bukan. di sini hanya saya pake buat istilah, bahasa halusnya yakni “menuntut ilmu”. menuntut ilmu luas maknanya. banyak cabang ilmu yang bisa kita pelajari. tidak terbatas pada ilmu agama saja. ilmu fisika, kimia, proses transfer massa, perpindahan kalor, semua itu juga termasuk ilmu, suatu bukti kebesaran Allah swt.

al-ilmu nuurun, wal-jahlu tzulumaatun.. ”

ilmu itu adalah cahaya, dan kebodohan itu adalah kegelapan.. “

untuk mempelajari ilmu2 itu, ada syarat-syaratnya. sebagaimana yang ada di kitab ta’liimul-muta’allim, bahwa ada 6 komponen yang harus dipenuhi oleh para penuntut ilmu. *jaman sekarang istilahnya siswa, santri, mahasiswa, mentee, bahkan dosen, ilmuwan, juga para penuntut ilmu

1. Dzakiyyun atau cerdas

saya kira semua orang yang bisa buka internet seperti teman2, tergolong cerdas lah ya, *hehe. alhamdulillah, kan. kita dikaruniai akal yang bisa membedakan baik dan buruk, bisa menerima kuliah dengan baik, dan memiliki pergaulan sosial yang baik.

2. Hirsun atau kesungguhan

menuntut ilmu itu tidak bisa main2. simpelnya, kita belajar dari kata pepatah: “rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh”. untuk semua hal. mahasiswa yang rajin, insya Allah bisa expert, tapi yang malas-malasan? yaa.. standar paling.

3. Tsamanun atau biaya

siapa hayo yang kuliah tanpa biaya? anak beasiswa? tidak. belajar tu pasti butuh biaya. oke, bisa jadi kalo dapet beasiswa kuliah ga bayar, tapi pulpennya, buku, tas, dan sepatu misalnya? pasti harus beli sendiri.

4. Shobrun atau sabar

memang kudu sabar ya. banyak sekali cobaan dalam menuntut ilmu, malas, main game, itu mah biasa. Lha kalo tiba2 ada masalah di keluarga tercinta, konflik sosial sama temen? itu baru luar biasa. jadi harus sabar, tetap berada di jalan yang benar.

5. Irhaashu Ustaadzin atau bimbingan guru

di sini guru bukan untuk diambil ilmu (pengetahuan) nya saja. tapi lebih dari itu. kalo cuma ilmu pengetahuan, boleh jadi kita lebih pandai dari guru kita. tapi masalah ilmu kehidupan, pengalamanlah yang berbicara. ya, sang guru pasti telah lebih banyak merasakan asam-garam kehidupan dibandingkan kita, dan kita bisa belajar dari pengalamannya.

6. Thuulu zamaanin atau waktu yang panjang

untuk menguasai suatu ilmu tidak bisa instan, tak seinstan kalo pesen nasi-ayam di KFC terus beberapa menit kemudian jadi. kalo ngilmunya instan, ngilang ilmunya juga instan. bayangin orang yang belajarnya cuman pas mau UTS. oke, pas UTS bisa, dapet bagus, tapi beberapa hari kemudian, wassalam. udah ga tau ilmu yang kemarin ke mana.

semoga bisa menjadi nasehat untuk kita semua khususnya untuk diri saya sendiri, dan kita semua bisa menjadi penuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat ilmunya. aamiin. wallaahu a’lam. (hbb)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

Selamat Datang

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"