Posts Tagged ‘ baik ’

sebab – akibat

Kawan2ku yang dirahmati Allah. Ketahuilah sesungguhnya pandangan mengenai ihwal sebab-akibat itu ada tiga macam:
Pertama, bahwa sebab pasti akan menghasilkan akibat. Maka jangan tertipu dengan pandangan seperti ini. Ini adalah pandangan orang2 kafir. Bilamana akibat tidak diperoleh, mereka akan berputus asa. mereka inilah yang menuhankan sebab dan meniadakan tuhan dalam setiap usaha mereka.
Kedua, bahwa sebab akan menghasilkan akibat dikarenakan kekuatan yg Allah berikan pada sebab tersebut untuk menghasilkan akibat. Pun pandangan seperti ini keliru. Ketahuilah bahwa tidak semua api dapat membakar, dan tidak semua pisau dapat memotong. Sebagaimana api tdk bisa membakar Nabi Ibrahim dan pisau tdk bisa memotong leher Nabi Ismail ‘alaihimaassalam.
Ketiga, bahwa akibat ada karena sebab yang mana akibat tersebut terjadi dengan seijin Allah swt. Ketahuilah pandangan inilah yang selamat, maka berpegang teguhlah. Berikhtiarlah untuk mengejar akibat, lalu bertawakkal. Di sinilah makna roja’ dan tawakkal. Syukur bilamana akibat baik yg didapat (sesuai harap) dan sabar bilamana tidak sesuai harap. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan Allah-lah yg terbaik. Karena Dia mahatahu apa yang kita tak tahu.

Wallahu a’lam.

Advertisements

Jika Allah Cinta

“Orang yang dicintai oleh Allah, dia akan dimudahkan untuk berbuat baik, mau atau tidak mau. Dan orang yang dibenci oleh Allah, dia akan dimudahkan untuk bermaksiat, dan sulit untuk berbuat baik, mau atau tidak mau.” (Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad)

Lidah dan Hati

jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati, lentera hidup ini (Aa Gym)

jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati, lentera hidup ini (Aa Gym)

Anda kenal Luqman al-Hakim? Seseorang yang diberi ilham oleh Allah Subahanahu wa Ta’ala sehingga ia memiliki kepahaman yang luar biasa tentang hikmah-hikmah kehidupan. Ia juga salah satu hamba yang dimuliakan Allah Subhanahu wa ta’ala selain para Nabi sehingga kisahnya terdapat dalam Al-Quran, surah Luqman. Lalu, apa kaitannya seorang Luqman al-Hakim dengan “lidah” dan “hati”? Yuk, kita simak tulisan berikut.

Diawali dengan satu ayat berikut:

ولقد أتينا لقمان الحكمة أن اشكر لله

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu : ‘Bersyukurlah kepada Allah…’ ” (QS. Luqman : 12)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dikisahkan tentang hebatnya ilmu yang beliau miliki, yaitu kepahaman tentang hikmah-hikmah kehidupan.

Suatu hari sang majikan meminta kepada beliau untuk dipotongkan seekor kambing, lalu memberikan bagian terbaik dari kambing tersebut kepada majikannya itu. Maka beliau membawakan untuk majikannya dua potong daging yaitu lidah dan hati.

Pada hari berikutnya, beliau kembali diperintahkan untuk memotong lagi seekor kambing. Tapi kali ini beliau diminta untuk membawakan bagian yang terburuk. Maka beliau membawakan dua potong daging yang sama, yaitu lidah dan hati.

Heranlah sang majikan. Lalu ditanyakan kepada beliau kenapa bagian yang terbaik dan yang terburuk sama adanya? Luqman al-Hakim menjawab, “Sesungguhnya jika lidah dan hati itu baik, maka baiklah seluruh tubuh manusia. Tetapi jika keduanya buruk, maka buruklah seluruh tubuh manusia. Dan Allah tidak akan menyelamatkannya.”

***
Kisah ini diambil dari buku “Salah Faham : Penyakit Umat Islam Masa Kini” tulisan KH. Tengku Zulkarnain, 2004, Penerbit Yayasan Al-Hakim, Jakarta.

Sebuah Perumpamaan

Saya menemukan sebuah perumpamaan yang cukup indah untuk kawan-kawan renungkan. Perumpamaan yang diberikan oleh Habib Munzir Al-Musawa atas pertanyaan mengenai apakah kita ini (sebagai manusia) layaknya wayang yang digerakkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala?

Allah subhanahu wa ta’ala Maha Menentukan dan Maha Mengatur, tidak seorangpun bisa lepas dari aturan Allah subhanahu wa ta’ala, namun aturan Ilahi itu juga disertai kebebasan, namun kebebasan yang terikat dengan ketentuan.

Mudahnya seperti ini : Kita menginap di rumah teman. Teman kita (sebagai pemilik rumah) telah menyiapkan ruangan untuk kita, menyiapkan makanan di dapur, selimut di kamar, air panas di kamar mandi, dan telepon di ruang tamu, maka kita boleh memanfaatkan yang kita inginkan. Kita bisa makan, tidur, mandi air hangat, dan sebagainya. Namun kita tak akan menemukan makanan di kamar tidur, karena pemilik rumah sudah menyiapkannya di dapur dan bukan di ruangan lainnya, kita dapat mandi air hangat namun kita tak akan mendapatkannya di ruangan tamu, karena sang pemilik rumah telah menyiapkannya di kamar mandi, kita dapat menelepon siapa saja, namun pemilik rumah tak menyediakan untuk kita sarana hubungan SLI dan fax di telepon yang kita gunakan, maka bagaimanapun kita tak akan bisa menggunakannya untuk SLI dan Fax karena sarana tak tersedia dari pemilik rumah.

Nah.. demikian pula kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah telah menyediakan segalanya dan menentukan segalanya, namun kita bisa memilih mana yang kita pilih, namun yang kita pilihpun tak bisa melebihi apa yang telah ditentukan-Nya. Misalnya di rumah tadi sang pemilik hanya menyiapkan satu ember air hangat, maka kita tak akan mendapat lebih dari itu kecuali dengan izin dan keinginan pemilik rumah.

***

Demikianlah, sekarang tinggal kita yang menentukan, apakah kita masih mau seenaknya saja menjalani hidup ini? semau kita? yang penting kita suka? Tidak kawan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan Islam, telah menyempurnakan syariatnya. Yang apabila kita berjalan di atasnya sesuai yang telah diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kita akan selamat di dunia dan di akhirat. Sungguh, Allah telah menunjukkan kita jalan yang baik lagi sempurna. Akankah kita bersyukur dengan berjalan di atasnya, ataukah kita kufur karena berjalan seenaknya? na’udzubillah min dzalik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

“Sungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur, dan ada pula yang kufur.” (Al-Insan : 3)

“Dan katakanlah Muhammad, kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Barangsiapa menghendaki beriman, hendaklah dia beriman. Dan barang siapa menghendaki kafir, biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka minta pertolongan (minum), mereka akan di beri air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi : 29)

Yuk, Sempurnakan Akhlak

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. :)

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. 🙂

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari)

Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingin meneladani akhlak beliau yang sempurna. Akhlak yang sempurna adalah bekal yang amat besar bagi untuk di akhirat kelak.

Berat di Timbangan

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan dari akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Iman yang Sempurna

“Kaum mukminin yang yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Kedudukan yang baik di Hari Kiamat

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak yang baik pasti dapat mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang mulia, kendati ibadahnya lemah.” (HR. Thabrani, dengan sanad yang baik)

AKHLAK SEORANG MUSLIM

Ulama berkata tentang akhlak yang baik,

“Hendaknya seseorang banyaj merasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikannya, benar tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit berlebih-lebihan, berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, tenang, sabar, bersyukur, ridha, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidak melaknat, tidak menghina, tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak gegabah, tidak dengki, tidak kikir, berwajah ceria, mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena-Nya, ridha karena-Nya, dan murka karena-Nya.”

Maa syaa-Allah, banyak sekali ya… semoga kita bisa mengamalkan semuanya… 😀

Sabar

Di antara akhlak baik orang muslim ialah sabar. Sabar ialah menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridha Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS. Luqman: 17)

“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang  telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Begitupula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Luar biasa urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan semua itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu sangat baik baginya. Jika ditimpa cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik baginya.” (HR. Bukhari)

Tawakkal dan Percaya Diri

Tawakkal bagi seorang muslim adalah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik (Minhajul-muslim, hlm. 226)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal.” (At-Taghabun: 13)

Itsar dan Cinta Kebaikan

Di antara akhlak seorang muslim yang ia dapatkan dari ajaran islam dan keislamannya yang baik ialah itsar dan cinta kebaikan. Itsar ialah mendahulukan kepentingan saudara seakidah atas kepentingan pribadi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

“Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk dirimu niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil: 9)

Akhlak Adil dan Pertengahan

Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan keadilan dalam banyak firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl:90)

“Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS, Al-Hujurat: 9)

Seorang muslim hendaknya berbuat adil dalam segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya. Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezhaliman. Ia menjadi orang yang adil, tidak tertarik pada hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat, dan tidak cinta dunia. Oleh karena itu ia berhak mendapat cinta Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan (amanah) yang diberikan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Adapun pertengahan, maka lebih umum daripada adil, dan pertengahan inilah yang mengelola seluruh persoalan orang muslim dalam hidupnya. Pertengahan ialah jalan tengah di antara yang berlebih-lebihan dan sembrono yang keduanya merupakan sifat tercela. Pertengahan dalam ibadah ialah bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sembrono. Contoh pertengahan dalam infaq ialah tidak berlebih-lebihan dan tidak pula pelit, namun pertengahan di antara keduanya. Allah ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

Pertengahan dan istiqomah ialah saudara kembar. keduanya ialah akhlak yang mulia, karena akhlak itulah yang membuat orang muslim tidak melanggar batasan-batasan Allah ta’ala, membangkitkannya untuk melaksanakan ibadah-ibadah fardhu, dan mengajarkan kesucian kepadanya hingga ia merasa cukup dengan apa yang dihalalkan oleh Allah ta’ala.

Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang istiqomah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Sumber: Minhajul-Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

Thanking Day (Hari Terima Kasih)

[Ahad, 6 Mei 2012]

pasti teman2 pernah mengalami satu saat di mana semua orang jadi baik. sepertinya saya juga pernah, barusan. saat tak ada satu masalah yang terlewatkan dan langsung selesai di tempat. Alhamdulillaah. saya jadi tahu ternyata orang-orang tak dikenal pun bisa berbuat baik pada kita. :’) *mengharukan.

satu kalimat yang membuat saya menulis posting ini adalah “terima kasih..” *frasa mungkin ya. CMIIW. yang penting, ada beberapa cerita yang membuat saya merasa sangat beruntung hari ini.

CERITA 1

berawal dari PD-night yang telah berlangsung tadi malam. karena acaranya bertempat di Hutan Kota Babakan Siliwangi, jadi saya putuskan untuk menitipkan motor saya di parkiran Saraga. malam2 saya ke Saraga, berharap menemui bapak satpam yang mengijinkan niat saya ini. akhirnya dengan sedikit basa-basi saya ketemu bapaknya. “tring!” “ya dek taruh aja tuh di sana bawah tribun ijo, di yang terang tapi..”. “terimakasih pak..” 😀 mission successful.

CERITA 2

pagi pun menjelang. acara PD-night semaleman telah usai. sudah beres2 dan tinggal pulang. akhirnya saya menuju parkiran saraga untuk mengambil motor yang semalam saya titipkan. tiba-tiba . . .

“jglek . . jglek . . ”

lho, tidak nyala. saya ulang berkali2 tetap tidak nyala sedikitpun. saya mencoba tetap tenang. “waduh, kayaknya mogok.” oke, daripada saya mengganggu pengguna motor lain yang mau parkir, lebih baik saya bawa keluar tribun dulu motornya. saya ulang lagi, dan motor saya tetap tidak ‘bangun’. tiba-tiba pak tukang parkir yang sedang bertugas memanggil. “businya itu dek..”. saya langsung menoleh. “oh, iya ya pak? saya kurang tahu sih pak.”

sambil tetap bergerak2 mengatur orang parkir motor dan mobil, bapaknya bilang: “di motor saya ada satu dek, sok aja diambil, ga dikunci kok joknya, kebetulan motornya sama, Grand.” saya berpikir sejenak. . . Allaahu akbar, pertolongan Allah memang tidak kemana. tanpa piki lebih panjang lagi, saya coba cari motor bapaknya dan melaksanakan instruksi. dapatlah 1 buah busi dan beberapa perkakas sederhana. “ini pak?” “ya, sok aja coba diganti sama punya saya..”. dengan baiknya bapak itu mengajari saya cara mengganti busi. setelah busi dipasang, “grengg… grengg… ” wah, nyala! saya teruskan saja memanasi mesinnya. “pak, ini saya ganti ya, pak?” bapaknya malah gamau. “udah, bawa aja dek..” dengan senyum dan sedikit mengangguk meyakinkan saya untuk membawanya. “nanti beli lagi yang baru buat cadangan”, lanjutnya. saya pun membalasnya dengan senyuman bahagia dan terima kasih. “oh, iya pak. maaf saya kurang paham hal beginian. terima kasih banyak, pak.” 🙂

semoga Allah yang membalas kebaikan budi bapak. akhirnya motor saya pun bisa jalan lagi, menuju gerbang saraga untuk keluar.

CERITA 3

tidak semudah itu keluar dari saraga ternyata. unfortunately.. ternyata karcisnya ilang. *nooooo… dan penjaga parkirnya yang pagi2 galak sekali. maklum lah ya, hari minggu gitu, saat semua orang berbondong2 mau olahraga di saraga, tiba2 ada anak ingusan ngambil motor pagi2 gapake karcis. percaya begitu aja? tidak. bapaknya terus mendesak, hingga akhirnya saya panggil pak satpam yang saya titipi tadi malam. eh, ternyata ga ada. yaudah, saya terus memaksa bapaknya untuk percaya. dan “bla.. bla.. bla.. “, “tring!”, “yaudah, sana, lain kali jangan ilang karcisnya, kalo ada pengunjung keilangan motor gimana?”. “wah.. terima kasih, pak..” Alhamdulillah, akhirnya bisa menjauh dari bapak2 galak tadi. ini juga jadi pelajaran buat saya biar tidak sembrono dalam menyimpan sesuatu.

CERITA 4

iseng2. saya ge gasibu. pasar tumpah tiap hari Ahad (pagi-siang doang bukanya) di depan gedung sate. wiiih, asli beneran macet. saya ke sini hampir ga punya niat apa2, eh tiba2 pas masuk ke dalem, ada keinginan untuk beli buah, jambu biji tepatnya. sudah lama ga makan buah. 😀

saya ketemu bapak2 penjual jambu biji yang baik hati. ternyata sekilonya 3rb aja. Yes, mantap lah. uang saya tinggal 7 ribu. dikurangi 3rb jadi 4 ribu. sipp lah, deal. pas pulang liat orang jualan susu. yang buatan KPBS Pengalengan. saya penasaran kan, calon insinyur Teknik Kimia bidang Teknologi Pangan harus merasakan produk pangan milik negeri. akhirnya saya beli, 3 ribuan juga. okelah, emang baru pertama dan sangat pengin, jadi deal. tinggal 1 ribu. pas buat parkir.

yang ini emang gara2 saya yang sok tahu. ternyata biaya parkirnya tuh 2 ribu. inna lillaahi. ga ada uang lain, lagi. bingung kan, akhirnya saya jujur, bagaimana tidak, sudah ga ada jalan keluar lagi. HIMATEK always Tells The Truth. “Pak saya cuma punya seribu nih pak, saya kira cuma seribu, gimana pak?” saya sih optimis bapaknya bakal baik hati. eh.. beneran, “yaudah gapapa atuh dek, santai aja..” kurang lebih begitu lah. Alhamdulillaah.. “Terimakasih banyak pak..”

masih ada rangkaian cerita lagi sebenarnya, mau ditulis semua, kebanyakan, hehe.

pelajaran yang saya dapat hari ini adalah, berhusnuzhzhon lah sama orang, jangan gampang suuzhzhon. karena kebaikan seseorang itu tidak bisa dilihat dari penampilan luar saja, tapi lebih dari itu, hatinya. sedangkan kita tidak tahu apa isi hati orang-orang di sekitar kita. dengan suuzhzhon artinya kita sudah mencap orang itu jelek, padahal kita juga belum tentu lebih baik dari dia. betul?

sekian saja, semoga menghibur, dan bermanfaat. (hbb)

Berkata Baik vs Diam

Sabtu, 4 Pebruari 2012 – Malam ini saya sangat tertarik dengan hadits Nabi saw dalam Hadits Arba’in, yang kelima belas, yang berbunyi:

Terjemahan: 

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Subhaanallaah, sebegitu eratkah kaitan antara iman dan kehidupan sehari-hari, hingga bagian terkecil pun seperti berbicara dapat mempengaruhi kualitas iman kita. Berdasarkan hadits di atas, secara logika, tentu berbeda, dong, kualitas iman antara orang yang banyak bicara dan orang yang banyak diam.

Ada dua kemungkinan untuk orang yang banyak bicara, pertama pembicaraannya itu berpahala karena dapat menumbuhkan manfaat bagi orang lain, kedua pembicaraannya itu hanya menambah dosa saja karena isinya yang kurang bermutu seperti gossip, fitnah, dan perkataan lain yang tidak disukai oleh Allah dan RasulNya.

Barang siapa banyak bicaranya maka banyaklah kesalahannya, dan orang yang banyak salahnya berarti banyak dosanya sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”

Astaghfirullahal-adziim, sudah berapa banyak kata-kata yang keluar dari mulut kita sedangkan itu hanya sia-sia dan tidak membawa manfaat sama sekali. Sudah tidak asing lagi saya kira, kata-kata seperti “dia tuh mobilnya keren banget anj*ng.. atau “lo tau gak sih dosen Y tu ngajarnya lambat banget, bla bla bla.., dan banyak lagi contoh yang lain, termasuk pula pembicaraan yang hanya membuang2 waktu seperti, membicarakan lagu2, video klip, bahkan kehidupan artis luar negeri (siapa coba, mereka?). Tidak berguna sebenarnya, karena di dunia tak membawa kebaikan, di akhiratpun takkan membantu. Apakah sama, lisan yang akan mengatakan, “sungguh aku dulu di dunia hanya digunakan untuk membicarakan artis X, bla bla bla..” dan yang mengatakan, “mahasuci Engkau yang menciptakanku, sungguh aku dulu di dunia sering digunakan untuk berdzikir kepadaMu siang dan malam..” di hari pertanggungjawaban kelak? Kalau berbeda apa bedanya? Ya, lidah pertama mungkin milik seseorang yang banyak nggossip, sedangkan lidah kedua adalah milik seseorang yang sholih yang selalu menjaga perkataannya dengan berkata baik dan sering berdzikir kepada Allah swt. Sesungguhnya Allah swt telah berfirman:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat yang selalu hadir”. (QS. Qaf : 18)

Mahabenar Allah swt, tidak ada yang lolos dari pengawasan malaikat. Kalau tiap-tiap perkataan kita dicatat, takkan akan yang bisa berdusta di hari pertanggungjawaban kelak.

Rasulullah saw juga bersabda :

Sesungguhnya seseorang yang sekedar bicara satu kalimat saja ia menganggapnya tidak mengundang resiko macam-macam. Tetapi sebenarnya itu dapat juga menggelincirkan ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun”. (HR. Tirmidzi).

Tuh, bahkan bicara sekedar satu kalimat pun -yang kadang kita anggap tak beresiko- ternyata bisa menggelincirkan kita ke neraka selama tujuh puluh tahun. Apalagi jika kita berbicara panjang lebar seakan tiada habisnya, tentu saja akan lebih dikhawatirkan resikonya. Bayangkan, jika seperti itu berapa puluh tahunkah kita akan mendekam di neraka? (Na’udzu billah..)

Intinya sih menurut saya, harus berlaku harga mati. Kalau tidak bisa berkata baik, mending diam, kerena itu yang paling aman. Perlu diketahui juga, tidak semua diam itu “emas”. Diam itu “emas” hanya apabila dalam diamnya itu ada tafakkur dan berniat menjaga diri dari perkataan yang sia-sia (ini petuah dari salah seorang guru saya).

So, kesimpulannya, mari kita bersama-sama memperbaiki kualitas iman kita, dimulai dari yang kecil, njogo omongan kalo kata orang Jawa. Ngomong itu yang pasti-pasti aja. Pasti ada pahala, maksudnya. Mulai sekarang No GOSSIP, No GHIBAH, No FITNAH, yuk perbanyak DZIKIR!

Semoga bermanfaat. 🙂 (hbb)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"