Posts Tagged ‘ akhlak ’

target di bulan maulid

Saya sangat bersyukur, malam tahun baru kemarin Allah menggerakkan hati saya untuk datang ke majelis maulid dan dzikir di ponpes alfath, asuhan kyai muda KH. Khoirul Anwar. Beliau adalah salah satu murid Alhabib Zain bin Sumaith, salah satu ulama hijaz yg saya kagumi keistiqomahan dan ilmunya. Dalam acara itu juga hadir KH. Mahdi Akbar dari Kalimantan. Beliau adalah kawan dekat KH. Khoirul anwar sekaligus senior ketika nyantri dulu. Beliau yang akan membawakan tausyiah pada acara ini.
Singkat cerita, acara yg dihadiri oleh ratusan jamaah ini berlangsung sangat khidmat, mulai dari pembacaan Ratib Alhaddad, maulid Simthuddurar, sampai berakhirnya tausyiah.

Salah satu poin tausyiah yang cukup mengena adalah ketika beliau menyampaikan bahwa di bulan Maulid (Rabi’ul-Awwal) pun kita perlu punya target sebagaimana target yang kita pasang di awal bulan Ramadhan. Kalau di bulan Ramadhan kita biasa menargetkan khatam Al-Qur’an sekian kali, atau bersedekah sekian, menghafal sekian, full tarawih, dll, maka di bulan Maulid jangan sampai kalah. Apa tutur beliau? “Maka di bulan Maulid yang mulia ini, hendaknya kita targetkan di bulan ini kita bisa bermimpi bertemu Baginda Nabi saw.” MaasyaaAllaah, bergetar hati saya, begitu lalainya kita selama ini tentang arti kerinduan kepada Nabi kita Muhammad saw. “Maka hendaknya kita perbanyak shalawat kepada beliau, kita hidupkan sunnah-sunnah beliau, kita tumbuhkan di dalam hati anak2 kita tentang kerinduan dan cinta kepada sosok agung Nabi Muhammad saw.” Begitu pentingnya rasa cinta dan rindu sehingga kata beliau, jangan sampai kita melakukan amalan-amalan sunnah tapi sama sekali tidak ada kerinduan untuk bertemu dengan Rasul saw. Pernahkah kita dengar kisah Sayyidina ‘Umar, yg oleh Nabi dikatakan belum sempurna imannya sebelum cintanya kepada Nabi lebih besar daripada keluarga yg dimilikinya bahkan dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Sudahkah tumbuh rasa cinta dan rindu kepada Nabi kita saw.? Sudahkah tercermin akhlak beliau di dalam perilaku kita? Perilaku anak-anak kita? Berapa banyak sunnah yang kita hidupkan?
Allaahu Akbar, sebuah nasihat yang sangat berharga bagi saya pada khususnya dan bagi kawan2 semua. Mudah-mudahan Allah memberi kita taufik agar kita semakin dekat dengan RasulNya sehingga kita mendapatkan syafaatul-‘uzhma nanti di hari Kiamat. Aamiin.
Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat.

Advertisements

Teladan Sempurna

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya  jasad manusia termulia :) meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim 'alaih.

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya jasad manusia termulia 🙂 meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim ‘alaih.

iseng buka twiter, tiba-tiba nemu kultwitan bagus, yaitu kultwit dari KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa gusmus (akun @gusmusgusmu <– monggo difollow). langsung saja, monggo disimak. 🙂

***

BismiLlãhirRahmãnirRahïm…

Pedoman umat Islam itu, ‘secara teori’ ialah Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. ‘Secara praktik’: PERILAKU Pemimpin Agungnya itu. Kenapa?

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu2 Qur’an dan melaksanakannya. Nabi Muhammadlah orang pertama yang mempraktikkan Qur’an.

Sayyidatina ‘Aisyah ra menyebut “Kãna khuluquhu ‘l-Qur’an;”, Perilaku Rasulullah SAW adalah Qur’an. Istilahnya, ‘Qur’an berjalan’.

Tak peduli keturunanmu. Tak peduli kebangsaanmu. Tak peduli ilmumu. Tak perduli kedudukanmu. Tak peduli fasihmu. Tak peduli citramu..

Bila kelakuanmu bertentangan dengan perilaku Rasulullah SAW ~kalau pun engkau mengaku muslim~ bukan saja engkau muslim yang buruk;

lebih dari itu engkau telah mencemarkan agama dan nabimu. FattaqiLlãh! Takwalah kepada Allah!

Maka teruslah berusaha memahami Qur’an dan jangan berhenti mempelajari SIERAH dan SYAMAIL, riwayat hidup dan perilaku, nabimu.

Terutama bila engkau terlanjur dianggap ‘pemimpin Islam’ oleh masyarakat. Kelakuanmu tdk hanya disimak, bahkan diikuti oleh banyak orang.

Pelajari dan berusahalah mengikuti sunnah Pemimpin Agungmu yang mulia budi pekertinya (Q. 68: 4), yang lemah lembut, tidak kasar dan kejam (Q. 3: 159), yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan welas asih. (Q. 9: 128).

Sekian. Wallahu a’lam. AstaghfiruLlãal ‘Azhïm filqauli bilã ‘amal. Wal’afwu minkum.

Mohon maaf, bila Anda merasa kunasihati. Sebenarnya ini aku sedang menasihati diriku sendiri; sebagaimana dlm sajakku “Nasihat Ramadan.”

***

alhamdulillaah. 🙂 semoga nasihat beliau ini bisa kita amalkan. yuk, kita jadikan Rasulullah saw  teladan utama dalam hidup kita. menjadi teladan dalam beragama, dalam hidup bermasyarakat, keluarga, dan berbangsa serta bernegara. semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengikuti jejak beliau saw. aamiiiin. semoga bermanfaat.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tulisan kecil nan ringkas ini semoga bisa menjadi nasihat untuk para pendakwah (da’i dan da’iyah), di manapun dan kapanpun.

Dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa ada 3 (tiga) sifat yang harus kita terapkan dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkar sulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah,

  1. Ilmu, yaitu hendaknya para da’i mengetahui (berilmu tentang) apa yang dia ajak kepadanya atau larang daripadanya. Boleh jadi ia mengajak kepada sesuatu yang disangka baik padahal itu buruk, atau melarang sesuatu yang sepatutnya tidak ia larang. Hal ini tidak layak terjadi. Oleh karena itu hendaknya ilmu lebih diutamakan daripada amal, termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Wara’, yaitu hendaknya berdakwah itu bukan ditujukan untuk mencari kedudukan atau kehormatan, menunjukkan kekuatan jasmani dan rohani, atau yang lainnya. Sifat wara’ yaitu kita beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. 
  3. Akhlak Mulia, ia merupakan kunci dari ketiga sifat ini. Tanpa akhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berkesan, sekalipun da’i adalah seorang yang berilmu dan wara’. Salah satu bentuk akhlak mulia ialah bersabar. Bersabar merupakan sifat yang sangat penting, di kala amar ma’ruf nahi munkar dibalas dengan celaan dan cacian. Terdapat sebuah ungkapan dari Ibnu Taimiyah dalam hal bersabar ketika ber-amar ma’ruf nahi munkar. Beliau mengatakan, “jika kamu tidak bersabar, kamu akan mendapatkan 2 hal : pertama, kemungkinan kamu akan berhenti dalam mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran, hal seperti ini sudah banyak terjadi; kedua, pelaku kemunkaran melakukan kemunkaran yang lebih buruk lagi daripada kemunkaran yang pernah kamu cegah. Na’udzu billah. 

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika suatu saat beliau menyaksikan ada seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki masjid Nabawi lalu kencing di salah satu bagian masjid. para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera melemparkannya keluar dari masjid. namun tidak demikian sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada para sahabat, “jangan, janganlah engkau menyekat kencingnya”. lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri badui tadi. beliau bersabda dengan penuh kelembutan,

“wahai orang badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat-red)“. melihat kelembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam badui tadi lantas berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur kencing tersebut. Beliau bersabda, “sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan”. –atau seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Masya-Allah, mulia sekali akhlak Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. saya yakin kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah ini. semoga kita diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam menuntut ilmu, meluruskan niat, dan memperbaiki akhlak. hanya Dia-lah yang patut kita mintai pertolongan.

“Ya Allah bimbing akhlak kami agar seperti akhlak Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.. aamiin..”


Disarikan dari tausyiah Al-Habib Ali Al-Jufri dengan tambahan secukupnya dari penulis.
Selengkapnya, dapat diakses di http://www.youtube.com/watch?v=tKP_ARA9-sY

Yang Lebih Kita Cinta

Kawan, tiba-tiba terpikir oleh saya beberapa pertanyaan berikut. berharap bisa menjadi bahan tafakkur/renungan bersama, meskipun hanya sedikit.

mana yang lebih pilih ketika waktu shalat tiba : melanjutkan pengerjaan tugas besar, atau beranjak untuk sholat berjama’ah?

buat anak muda nih, mana yang lebih kita kenal : pemain bola, para boyband, artis hollywood, atau Allah dan rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

lalu, manapula yang lebih kita ikuti : gaya hidup para artis, atau gaya hidup rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

rada fatal nih, sekarang mana yang lebih kita takuti : telat nonton pertandingan bola, atau kehabisan waktu untuk tahajjud dan dhuha? takut dicela orang di dunia, atau takut akan adzab Allah yang amat pedih?

yang sekarang sedang kritis, mana yang selama ini lebih kita teladani : akhlak orang kafir, atau akhlak rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat ?

mana yang lebih kita percaya : ramalan dukun, paranormal, atau perkataan para ulama’?

mana yang lebih kita hafal : al-quran dan hadits, atau lagu-lagu dan syair-syair yang tiada berguna di dunia dan akhirat?

lalu yang mana yang lebih kita dekati : gerombolan teman yang main kartu, tempat-tempat hiburan, atau majelis-majelis ilmu?

mana yang kita senangi : amal-amal kita dipuji orang, atau biar saja orang tidak ada yang memuji? karena semua amal ini untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

siapa yang lebih kita hormati dan muliakan selama ini : dosen, senior, atau orang tua dan guru-guru kita dalam hal agama?

siapa yang lebih kita sayangi dan perhatikan : saudara dan kerabat-kerabat kita, atau pacar?

Tahukah, kawan, sebenarnya semua itu bermuara pada satu pertanyaan,

apakah kita semua lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, atau kita lebih cinta kepada syetan dan hawa nafsu belaka?

wallaahul-haadiy.. Allah-lah sang maha pemberi petunjuk. jika jalan yang kita tempuh terasa semakin jauh, mohonlah pada-Nya agar dituntun menuju jalan yang benar, lalu mohonlah agar Allah meneguhkan langkah kita di jalan itu.

wallaahul-musta’aan.. Allah-lah sebaik-baik tempat kita meminta pertolongan. Semoga kita termasuk orang-orang yang mencintai-Nya, dan Dia pun mencintai kita. Aamiin.. 

Yuk, Sempurnakan Akhlak

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. :)

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. 🙂

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari)

Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingin meneladani akhlak beliau yang sempurna. Akhlak yang sempurna adalah bekal yang amat besar bagi untuk di akhirat kelak.

Berat di Timbangan

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan dari akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Iman yang Sempurna

“Kaum mukminin yang yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Kedudukan yang baik di Hari Kiamat

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak yang baik pasti dapat mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang mulia, kendati ibadahnya lemah.” (HR. Thabrani, dengan sanad yang baik)

AKHLAK SEORANG MUSLIM

Ulama berkata tentang akhlak yang baik,

“Hendaknya seseorang banyaj merasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikannya, benar tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit berlebih-lebihan, berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, tenang, sabar, bersyukur, ridha, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidak melaknat, tidak menghina, tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak gegabah, tidak dengki, tidak kikir, berwajah ceria, mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena-Nya, ridha karena-Nya, dan murka karena-Nya.”

Maa syaa-Allah, banyak sekali ya… semoga kita bisa mengamalkan semuanya… 😀

Sabar

Di antara akhlak baik orang muslim ialah sabar. Sabar ialah menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridha Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS. Luqman: 17)

“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang  telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Begitupula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Luar biasa urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan semua itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu sangat baik baginya. Jika ditimpa cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik baginya.” (HR. Bukhari)

Tawakkal dan Percaya Diri

Tawakkal bagi seorang muslim adalah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik (Minhajul-muslim, hlm. 226)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal.” (At-Taghabun: 13)

Itsar dan Cinta Kebaikan

Di antara akhlak seorang muslim yang ia dapatkan dari ajaran islam dan keislamannya yang baik ialah itsar dan cinta kebaikan. Itsar ialah mendahulukan kepentingan saudara seakidah atas kepentingan pribadi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

“Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk dirimu niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil: 9)

Akhlak Adil dan Pertengahan

Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan keadilan dalam banyak firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl:90)

“Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS, Al-Hujurat: 9)

Seorang muslim hendaknya berbuat adil dalam segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya. Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezhaliman. Ia menjadi orang yang adil, tidak tertarik pada hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat, dan tidak cinta dunia. Oleh karena itu ia berhak mendapat cinta Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan (amanah) yang diberikan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Adapun pertengahan, maka lebih umum daripada adil, dan pertengahan inilah yang mengelola seluruh persoalan orang muslim dalam hidupnya. Pertengahan ialah jalan tengah di antara yang berlebih-lebihan dan sembrono yang keduanya merupakan sifat tercela. Pertengahan dalam ibadah ialah bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sembrono. Contoh pertengahan dalam infaq ialah tidak berlebih-lebihan dan tidak pula pelit, namun pertengahan di antara keduanya. Allah ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

Pertengahan dan istiqomah ialah saudara kembar. keduanya ialah akhlak yang mulia, karena akhlak itulah yang membuat orang muslim tidak melanggar batasan-batasan Allah ta’ala, membangkitkannya untuk melaksanakan ibadah-ibadah fardhu, dan mengajarkan kesucian kepadanya hingga ia merasa cukup dengan apa yang dihalalkan oleh Allah ta’ala.

Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang istiqomah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Sumber: Minhajul-Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"