Posts Tagged ‘ akhirat ’

Hakekat Rizki

Mungkin kita tak tahu dimana rizki kita..
Tapi rizki tahu dimana diri kita..
Dari lautan biru, bumi dan gunung..
Allah memerintahkannya menuju kita..
Allah menjamin rizki kita, sejak 4 bulan 10 hari kita dalam kandungan ibu..

Amatlah keliru bila rizki dimaknai dari hasil bekerja..
Karena bekerja adalah ibadah..sedang rizki itu urusanNya.

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji..
Yang mungkin esok akan ditinggal mati..
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka..
Tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita..
Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x Shafa dan Marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya..
Ikhtiyar itu perbuatan..
Rizki itu kejutan..

Dan jangan lupa..
Tiap hakekat rizki akan ditanya..
“Darimana dan untuk apa?”
Karena rizki adalah “hak pakai”
Halalnya dihisab..
Haramnya diadzab..

Maka, janganlah kita iri pada rizki orang lain…
Bila kita iri pada rizkinya, kita juga harus iri pada takdir matinya.
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummat-Nya..
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya..

Jadi bertawakkal lah, ridho dengan ketentuan Allah, sehingga apapun itu kita akan merasa cukup dan penuh kenikmatan..

Wallahu A’lam..

Share via Whatsapp dari: KH. Khoirul Anwar Fathoni, Ponpes Al-Fath, Cilegon

 

Advertisements

Tentang Kemiskinan

Hari ini saya mendapatkan pelajaran yang sangat bagus tentang kemiskinan. ya, suatu kata yang terdiri dari kata dasar “miskin” dan ibuhan “ke-an”. Hehe.

Orang yang sadar dan waras pasti tidak menginginkan kemiskinan menimpa dirinya, meskipun pada dasarnya miskin-kaya itu datangnya dari Allah, sudah dicatat di lauhun-mahfuzh sejak jaman azali. artinya, rizki makhluk itu sudah digariskan, tidak akan bertambah dengan ambisi kita (mengejar rizki) dan tidak pula berkurang dengan sikap tenang kita (tidak tergesa-gesa) (baca syair Imam Syafi’i pada postingan saya sebelumnya). Lantas, bagaimana dengan Rasulullah SAW yang justru berdoa meminta dihidupkan dalam keadaan miskin dan dimatikan dalam keadaan yang sama? Hayooo… Siapa yang pernah mengamalkan doa ini? Saya yakin tidak ada, kecuali orang-orang khusus yang sudah jarang kita temui di jaman sekarang. Hehe.

Seakan ada makna tersembunyi di balik kemiskinan. Dan ternyata memang iya. Kita kupas satu2 ya, dalil-dalilnya kawan2 bisa cari sendiri lah.

  • Orang miskin masuk surganya duluan dibandingkan orang kaya, dalam suatu riwayat, jarak waktunya 500 tahun. Bisa kita bayangkan betapa lamanya. Ya, orang miskin hisabnya akan lebih cepat karena tidak banyak pertanyaan tentang harta yang dimilikinya, berbeda dengan si kaya yang diinterogasi ke mana saja hartanya ia salurkan.
  • Selain berdoa ingin miskin, Rasulullah SAW (dalam doanya) juga ingin dikumpulkan bersama orang-orang miskin di akhirat kelak. Tentunya orang miskin yang beriman yaa…
  • Orang miskin tuh spesial. Rasul sendiri yang “bilang”, orang yang menyantuni janda dan orang miskin sama halnya seperti orang yang berjihad fi sabilillah dan tidak berhenti puasa (di siang hari) dan sholat malam. Rasul juga “bilang”, barangsiapa yang meringankan urusan orang miskin, Allah akan meringankan urusan kita di dunia maupun akhirat. MaasyaaAllaah. Sudah dimuliakan oleh Allah, membantu/menyantuni mereka juga mendatangkan kemuliaan untuk kita juga.
  • Meskipun kemiskinan itu dekat pula dengan kekufuran (ingat fenomena orang-orang yang mengorbankan akidahnya hanya karena ind*mie), ternyata bukan “kemiskinan” ini yang dikhawatirkan Rasul dapat merusak agama dan membinasakan umat. Rasul lebih khawatir umatnya akan berlomba-lomba mengejar dunia, sehingga melupakan perkara akhirat. Semoga kita selamat dari itu semua.
  • Orang miskin juga bisa bersedekah kok. Dari mana? Sebenarnya tidak cuma orang miskin, tapi juga semuanya. Banyak sekali sabda Rasul yang menerangkan bahwa amal-amal baik itu adalah sedekah, tasbih adalah sedekah, tahmid juga sedekah, begitu pula tahlil, takbir, bahkan senyum bila dapat menyenangkan saudara kita, maka itu adalah amal shalih, itupun bisa menjadi sedekah. Subhaanallaah. 🙂

Yang terpenting dari itu semua adalah, jangan sampai kita merasa kaya-miskin itu adalah penentu derajat kita. Sekali kali tidak, kawan! Tidak perlu kita merasa rendah karena miskin, tidak perlu juga bangga karena kaya. Karena semua itu adalah karunia Allah kepada mereka yang dikehendakinya. Kelak, orang-orang miskin akan dimintai tanggungjawab dengan kemiskinannya, apalagi mereka yang kaya. Ketahuilah, kawan, bahwa derajat manusia itu hakikatnya yang ada pada sisi Allah SWT. Hanya orang-orang yang bertakwa yang dijanjikan akan diberikan derajat yang tinggi di sisi-Nya.

Satu kalimat (atau mungkin beberapa) lagi, miskin-kaya itu adalah sunnatullah, karena pada dasarnya semua itu diciptakan berpasang-pasangan. Miskin-kaya, jelek-bagus, cewek-cowok, kecil-besar, dll. Kalau boleh dikatakan (kasarnya), kemiskinan (harta) itu tidak bisa diberantas, percuma, miskin-kaya akan tetap balance. Yang perlu diberantas adalah “mental”nya. Banyak kan, kita temui orang yang dhohirnya kaya, tapi hakikatnya miskin (nyatanya, masih korupsi, nyolong duit negara), banyak pula orang yang dhohirnya miskin tapi hatinya kaya (tidak meminta-minta, banyak syukur dengan nikmat seadanya).

Ya Allaah, betapa banyak saudara-saudara kami di luar sana yang masih susah makan. Betapa celakanya kami yang berkecukupan ini tidak mau bersyukur kepada-Mu. (sumber: sp.beritasatu.com)

Terakhir (sekaligus penutup) mari berdoa semoga Allah SWT menjadikan kita hamba yang senantiasa bersyukur, tak peduli seberapa banyak nikmat dhohir yang Allah berikan (padahal hakikatnya tidak dapat terhitung), dan menjadikan kita cinta kepada orang-orang miskin sebagaimana Rasul SAW mencintai mereka. Aamiiin.

“Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya…”

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberikan kepadanya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka…”

Wallaahu a’lam.

**

Tipuan Setan

367x0_80_1_c_FFFFFF_edcd841d001ebfcf97692cb2b24a7e6b

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah,

Ketahuilah, bahwa setan itu menipu kita melalui 3 hal:

  • Hasud

Ketika kita merasa tidak senang dengan kebaikan yang diberikan Allah kepada orang lain, maka kita telah terkena penyakit hasud. Ketahuilah bahwa orang yang berpenyakit hasud tidak pernah merasa tenang. Tetangga beli mobil, kita pusing. Tetangga beli rumah, kita pingsan. Perbanyaklah dzikir dan syukur kepada Allah, dan beristighfarlah, sesungguhnya dzikir itu menenangkan hati dan jiwa, dan syukur itu menambah nikmatnya rizki. Dan istighfar akan menghapuskan dosa-dosamu baik yang engkau sadari maupun tidak engkau sadari.

  • Sombong

Ketahuilah saudaraku, bahwa sombong adalah penyakit hati yang paling berbahaya. Riya’ dan sombong merupakan syirik khofi’ atau syirik yang tersembunyi. Ketika kita meninggalkan suatu kebaikan karena takut pujian makhluk, maka itulah riya’. Jika kita menganggap bahwa semua yang kita miliki adalah semata-mata hasil jerih payah kita, maka itulah sombong. Orang yang riya’ tidak akan sampai amalnya kepada Allah, dan orang yang sombong akan dibenci oleh makhluk. Maka sadarilah bahwa apa pada diri kita adalah semuanya datang dari Allah. “Allah memuliakan siapa yang Ia kehendaki, dan menghinakan siapa yang Ia kehendaki, milik Allah-lah semua kebaikan”. Dan apa yang kita perbuat, hakikatnya adalah hanya untuk Allah.

  • Cinta dunia

Cinta dunia tidak akan ada habisnya, maka ketahuilah ini wahai Saudaraku. Meskipun ada 1000 dinar di genggaman, kita pasti akan menginginkan 2000 dinar. Begitulah, tidak ada habisnya. Jangan jadikan waktumu (hidupmu) sia-sia hanya untuk mengumpulkan harta dunia tanpa tujuan akhirat yang pasti. Kita berlomba-lomba memperindah rumah, mobil, membeli perabotan-perabotan mewah, ketahuilah bahwa semua itu tidak akan kita bawa mati. Maka jauhkanlah dirimu dari mencintai dunia. “Barangsiapa yang merasa mulia dengan dunianya, maka ia adalah hina di mata Allah, dan barangsiapa merasa rendah dengan dunianya, ia pun telah hina”. Dunia adalah perhiasan bagi orang-orang kafir, dan cobaan bagi orang-orang yang beriman. Dan ketahuilah saudaraku, bahwa dunia ini akan musnah, dan akhirat itulah yang kekal. Milikilah dunia, tapi jangan kau genggam dengan hatimu. Jika hati kita telah terisi dunia, bagaimana mungkin hidayah Allah akan masuk ke dalam hati kita.

Wallahul-muwafiq.

**

Ridho

Imam asy-Syafi’i rahimahullah (w 204 H) bersyair:

Biarkanlah hari demi hari berbuat sesukanya * Tegarkan dan lapangkan jiwa tatkala takdir menjatuhkan ketentuan (setelah diawali dengan tekad dan usaha)

Janganlah engkau terhenyak dengan musibah malam yang terjadi * Karena musibah di dunia ini tak satu pun yang bertahan abadi (musibah tersebut pasti akan berakhir)

(Maka) Jadilah engkau lelaki sejati tatkala ketakutan menimpa * Dengan akhlakmu, kelapangan dada, kesetiaan, dan integritas

Betapapun aibmu bertebaran di mata makhluk * Dan engkau ingin ada tirai yang menutupinya

Maka tutupilah dengan tirai kedermawanan, karena segenap aib * Akan tertutupi dengan apa yang disebut orang sebagai kedermawanan

Jangan sedikitpun memperlihatkan kehinaan di hadapan musuh (orang-orang kafir) * Itu akan menjadikan mereka di atas kebenaran disebabkan berjayanya mereka, sungguh itulah malapetaka yang sebenarnya

Jangan pernah kau berharap pemberian dari si Bakhil * Karena pada api (si bakhil), tidak ada air bagi mereka yang haus

Rizkimu (telah terjamin dalam ketentuan Allah), tidak akan berkurang hanya karena sifat tenang dan tidak tergesa-gesa (dalam mencarinya) * Tidak pula rizkimu bertambah dengan ambisi dan keletihan dalam bekerja

Tak ada kesedihan yang kekal, tak ada kebahagiaan yang abadi * Tak ada kesengsaraan yang bertahan selamanya, pun demikian halnya dengan kemakmuran. (Beginilah keadaan hari demi hari, yang seharusnya mampu senantiasa memberikan kita harapan demi harapan dalam kehidupan)

Manakala sifat qana’ah senantiasa ada pada dirimu * Maka antara engkau dan raja dunia, sama saja (artinya, orang yang qana’ah senantiasa merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah untuknya, maka sejatinya ia seperti raja, bahkan lebih merdeka dari seorang raja)

Siapapun yang dihampiri oleh janji kematian * Maka tak ada bumi dan tak ada langit yang bisa melindunginya

Bumi Allah itu teramat luas, namun * Tatkala takdir (kematian) turun (menjemput), maka tempat manapun niscaya kan terasa sempit

Biarkanlah hari demi hari melakukan pengkhianatan setiap saat (artinya, jangan khawatir dengan kezhaliman yang menimpamu * Toh, (jika pada akhirnya kezhaliman itu sampai merenggut nyawa, maka ketahuilah bahwa) tak satupun obat yang bisa menangkal kematian (artinya, mati di atas singgasana sebagai seorang raja dan mati di atas tanah sebagai orang yang terzhalimi sama-sama tidak ada obat penangkalnya

***

Dikutip dari kitab “Diwan al-Imam asy-Syafi’i”, Hal. 10, Ta’liq: Muhammad Ibrahim Salim

Cintanya Para Pecinta

cinta-rasulullah1

Kisah-kisah para sahabat seringkali mengingatkan saya akan makna Cinta. Cinta yang tulus dan hakiki, Cinta yang mana tidak akan sempurna iman kita sebelum ia kita persembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang akan membawa kita menuju ridho Allah subhanahu wa ta’ala dan syafa’at manusia termulia.

“Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari)

***

adalah sayyidina Abu Bakar ash-Shiqqiq ra., ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. kala itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di gua Tsur, beliau tertidur berbantalkan paha Abu Bakar ra.. Tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kaki Abu Bakar ra.. Abu Bakar ra. tentu merasa kesakitan, tapi beliau berusaha sekuat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak. Beliau khawatir orang tercintanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terbangun. maasyaaAllaah..

***

sahabat Zaid bin Datsima ra. sama sekali tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, ia disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. “Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.

“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.

***

begitupula sayyidina Umar bin Khatthab ra.. Suatu ketika beliau berkata, “Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku.” Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

“Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menukas, “Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu.” (HR Bukhari).

***

ketika salah seorang sahabat ra. bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Sahabat itu menjawab, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “InsyaAllah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”

***

Suatu hari seorang sahabat hadir dalam suatu majelis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”

Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril as. menyampaikan wahyu, “Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui.” (QS An-Nisa : 69-70)

***

maasyaaAllah.. begitu besar kecintaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kecintaan itu tertanam dalam kehidupan mereka. Cinta yang tak lekang oleh zaman, inilah sejatinya hakikat Cinta sehidup-semati. Cinta yang tulus di dunia, dan Cinta yang abadi di akhirat.

Sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya. semoga bulan maulid ini menjadi salah satu momentum bagi kita untuk lebih mengenal Nabi kita sayyidul-anbiyaa’ wal-mursaliin habiibunaa wa syaafi’unaa wa qudwatunaa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. wallaahul-musta’aan.

Adab Murid terhadap Gurunya (1)

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

Said Hawwa menuliskan dalam bukunya, “Tazkiyyatun-nafs”, sebuah intisari “Ihyaa’ ‘Uluumud-diin” yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, bahwa murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak terhadap gurunya. Beliau menyusunnya menjadi sepuluh bagian:

Pertama, hendaknya seorang murid mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq . dan keburukan sifat. Karena pada dasarnya ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya bathin kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir (tampak) , tidak sah kecuali menyucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batihin yang menyemarakkan hati dengan dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah sekali-kali tidak mennjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzaab: 4)

Jika pikiran terpecah, maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya.” Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi menguap sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Penuntut ilmu hendaknya bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Di antara bentuk kesombongan terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal, padahal sikap ini merupakan kebodohan. Oleh sebab itu dikatakan, “Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.” Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendegnarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta’ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat, karena hal ini akan membingungkan akal dan pikirannya dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela’ah mendalam. Maka pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika usianya mendukung, maka ia hendaknya berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan itu saling mendukung dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

Ilmu-ilmu “syar’iyah” dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa manzilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya tujuan. Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga “syari’ah” yang tak ubahnya seperti para penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan pahala di akhirat sesuai dengan tingkatannya tersebut, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Demikianlah,

Apakah kita sudah menyucikan hati kita dari berbagai penyakit hati? Riya’, ‘ujub, sombong? | Karena menuntut ilmu itu ibadahnya hati.

Apakah kita masih sibuk dengan berbagai macam urusan dunia? | Karena pikiran yang terkonsentrasi itu lebih mudah menerima berbagai hakikat ilmu.

Apakah kita pernah – atau bahkan sering – bersikap sombong kepada guru kita? Ustadz? Dosen, mungkin? Atau orang-orang yang pernah mengajarkan kepada kita suatu ilmu? | Karena ilmu itu enggan kepada penuntut ilmu yang sombong.

Apakah kita sering berselisih terhadap suatu ilmu sedangkan kita tidak tahu dasarnya? Atau berselisih tentang suatu hal sedangkan kita belum mendalaminya? | Karena ilmu itu perlu dimantapkan sebelum mendengar berbagai perselisihan.

Apakah kita telah menuntut ilmu-ilmu yang terpuji, yang memiliki tujuan akhir ridha Allah subhanahu wa ta’ala? Atau masih berputar pada ilmu yang tidak jelas maksud dan tujuannya? | Karena menuntut ilmu yang terpuji merupakan sebab kita mendapat pahala yang besar di akhirat kelak.

Beristighfarlah, sesungguhnya Allah maha pengampun dosa, lagi maha penyayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan para pembaca.  🙂

Tentang Surga (2)-end

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan gambar surga beneran ya..)

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan foto surga beneran ya.. hehe)

lanjutan dari tulisan “tentang Surga (1)“. semoga bermanfaat.

Bangunan Surga

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Nadhr dan Abu Kamil dari Zuhair, dari Said ath-Tha’I dari Abu Mudallah, yang mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah! Jika melihatmu hati kami berdebar, kami pun menjadi orang yang mencintai akhirat. Jika kami meninggalkanmu, kami mengagumi dunia, dan terlena oleh anak-istri kami.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika setiap saat kalian ada dalam kondisi yang sama dengan kondisi ketika bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian, dan mengunjungi rumah kalian. Jika kalian tidak pernah berbuat dosa, Allah subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan para pendosa untuk diampuni.” Sahabat berkata, “Ceritakan kepada kami tentang bangunan surga!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya terbuat dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran. Orang yang memasukinya akan diberi nikmat dan takkan berputus asa. Mereka kekal takkan mati. Pakaian mereka takkan lusuh. Kemudaan mereka takkan sirna. Ada tiga orang yang doanya dikabulkan: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan orang yang dizalimi yang doanya dibawa oleh awan di langit hingga pintu-pintu langit terbuka dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Demi keagungan-Ku! Aku pasti menolong kalian meski waktu ini telah berlalu.”

Abu Bakar ibn Mardawih meriwayatkan hadits semacam itu dari Hasan dari Ibnu Umar yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang surga, lalu beliau menjawab, “Yang memasukinya terus hidup, takkan mati, diberi nikmat, takkan putus asa. Pakaiannya takkan rusak. Kemudaanya takkan sirna.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Bagaimanakah bangunan surga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran.”

Yazid Ibn Zari’ meriwayatkan hadits serupa dari Said ibn Qatadah dari Ala’ ibn Ziyad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga berdindingkan emas dan perak. Debunya safran. Tanahnya kesturi.”

Di dalam ash-Shahihain disebutkan sebuah hadits riwayat Az-Zuhri dari Anas ibn Malik dari Abu Dzar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku masuk surga. Di dalamnya terdapat mutiara. Debunya dari minyak kesturi.” Hadits ini penggalan dari hadits mi’raj.

Para Penghuni Surga

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci (azwaajun muthahharatun) dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Perhatikan keagungan, kejujuran, dan kebesaran penyampai berita tersebut, yang Mahakuasa menjamin kejadiannya dengan sangat mudah. Allah subhanahu wa ta’ala menggabungkan dalam berita itu kenikmatan lahiriah berupa sungai-sungai dan buah-buahan, kenikmatan jiwa berupa istri-istri suci, dan kenikmatan hati berupa pengetahuan tentang keabadian hidup untuk selamanya tanpa terputus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab mereka.” (QS. Ad-Dukhan: 51-56)

Para penghuni surga diberi keindahan tempat tinggal, yang aman dan terhindar dari segala hal yang dibenci serta keterpenuhan anugerah berupa buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Mereka pun diberi pakaian-pakaian yang bagus, keluarga yang sempurna dan dapat saling bersua, kenikmatan paripurna bersama bidadari, makanan terlezat berikut beragam buah-buahan, terhindar dari keterputusan nikmat dan dari bahaya, serta takkan pernah mati.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari yang membatasi pandangan (qashiratuth tharfi), yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Seakan-akan mereka itu permata yaqut dan marjan.” (Ar-Rahman: 56-58)

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan bidadari sebagai wanita yang qashiratuth tharfi pada tiga tempat di dalam Al-Qur’an. Pertama, pada ayat tersebut. Kedua, pada ayat, “Di sisi mereka ada bidadari yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi) dan jeli matanya.” (QS. Ash-Shaffat: 48). Ketiga, pada ayat, “Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi), dan sebaya umurnya (atrab).” (QS. Shad: 52)

***

Subhanallah, wal-hamdu lillah, wa la ilaaha illallah, wallahu akbar.. ketahuilah.. bahwa sangat besar ganjaran untuk orang-orang yang beriman dan diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jika begini, apakah kita masih mau bermalas-malasan dalam ibadah, atau sebaliknya?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menuntun kita menuju surga-Nya. Aamiin. 🙂

Tentang Surga (1)

keindahan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan surga

keindahan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan surga

tulisan-tulisan berikut saya kutip dari buku berjudul “Surga yang Allah Janjikan” karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. semoga kabar gembira ini dapat menjadikan kita semakin bersemangat dalam meraih ridho-Nya. 🙂

Sebuah Kabar Gembira

At-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “tak seorang pun bisa masuk surga kecuali dengan stempel yang bertuliskan: ’Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Buku ini dari Allah untuk Fulan Ibnu Fulan. Isinya firman Allah subhanahu wa ta’ala: ’masukkanlah Dia ke surga tertinggi dengan dahan2 rendah’.”

Sulaiman ibn Hamzah Al-Hakim meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang beriman akan diberikan buku catatan saat hendak melewati Shirathal-mustaqim. Buku itu bertuliskan: ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Buku ini dari Allah untuk Fulan Ibnu Fulan. Isinya firman Allah subhanahu wa ta’ala: ’masukkanlah Dia ke surga tertinggi dengan dahan2 rendah’.”

Umat yang Pertama Kali Masuk Surga

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim meyebutkan hadits riwayat Thawus dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Kita memang umat terakhir. Tapi kita umat pertama hadi Kiamat. Kita umat pertama yang masuk surga, meskipun mereka diberi kitab suci terlebih dahulu, dan kita diberi kitab suci belakangan.”

Umat Nabi Muhammad ini adalah umat yang lebih dahulu dibangkitkan, lebih dahulu mencapai posisi tertinggi, dan lebih dahulu di bawah naungan singgasana Tuhan. Umat ini adalah umat yang perkaranya diputuskan lebih dahulu oleh Allah. Umat yang lebih dahulu meniti Shiraath, dan umat yang lebih dahulu masuk surga.

Surga tak boleh dimasuki oleh para nabi sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam memasukinya terlebih dahulu. Surga pun dilarang dimasuki oleh uma-umat lain, sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam memasukinya terlebih dahulu.

Mengenai umat pertama yang masuk surga, Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jibril mendatangiku dan memegang kedua tanganku lalu memperlihatkan kepadaku pintu surga yang dumasuki umatku.” Abu Bakar ra berkata, “Wahai Rasulullah! Aku ingin terus bersamamu sehingga aku dapat melihat pintu surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau, Abu Bakar, adalah orang pertama yang masuk surga dari umatku”.

Ciri-Ciri Orang yang Pertama Kali Masuk Surga

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan hadits dari Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan pertama yang masuk surga berwajah seperti bulan purnama. Mereka tidak meludah, tidak beringus, dan tidak buang air besar. Bejana dan sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Sanggul mereka terbuat dari dupa. Keringat mereka minyak kesturi. Mereka masing-masing punya dua istri yang sakung indahnya, sumsum betisnya pun dapat terlihar dari luar daging. Mereka tidak saling berselisih dan saling marah. Hati mereka satu. Mereka memuji Allah sepanjang siang dan malam.”

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan pertama yang masuk surga berwajah seperti bulan purnama, yang diwarnai oleh cahaya bintang kemintang di langit yang cerah. Mereka tidak buang air kecil dan buang air besar. Mereka tidak meludah dan beringus. Sisir mereka dari emas. Keringat mereka dari minyak kesturi. Sanggul mereka dari dupa. Istri mereka bidadari. Tingkah laku mereka seperti seorang lelaki. Perawakan mereka seperti ayah mereka, Adam yang di langit, yaitu setinggi enam puluh hasta di langit.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang pertama kali dipanggil ke surga di hari kiamat adalah hammadun, yaitu orang-orang yang memuji Allah baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku disodorkan tiga orang umatku yang pertama kali masuk surga dan tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Tiga orang pertama yang masuk surga adalah orang yang mati syahid, hamba sahaya yang tak menghamba pada dunia demi ketaatan pada Allah subhanahu wa ta’ala, dan orang fakir yang enggan meminta-minta dari orang lain. Tiga orang pertama yang masuk neraka adalah penguasa zalim, orang kaya yang tak melaksanakan hak Allah pada hartanya, dan orang miskin yang sombong.”

Masya’allah, betapa besar kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan surga sebagai tempat tinggal abadi bagi mereka yang diridhoi-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang diridhoi sehingga bisa masuk ke dalamnya. wallahu a’lam bishshowab.

cover buku "Surga yang Allah Janjikan" karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

cover buku “Surga yang Allah Janjikan” karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

<bersambung>

 

Besarnya Pahala tergantung Besarnya Ujian

Nabi SAW bersabda :

Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung besarnya ujian. Apabila Allah Ta’ala mencinta suatu bangsa, maka Allah akan menguji mereka. Sehingga siapa saja yang ridha, maka Allah akan meridhainya dan siapa saja yang murka, maka Allah akan memurkainya .” (HR. Tirmidzi)

Apakah bangsa kita diuji karena Allah cinta? sehingga ingin menggugurkan dosa-dosa kita selama ini? semoga kita termasuk ke dalam orang-orang yang ridho atas ujian yang Allah berikan. (hbb)

Ringkasan TA’LIMUL-MUTA’ALLIM – Syeikh Ibrahim bin Isma’il al-Zarnuji (bag.4)

Fasal: Hal-Hal yang Dapat Menguatkan Hafalan dan yang Melemahkannya

  • Hal-hal yang dapat menguatkan hafalan antara lain: tekun belajar, mengurangi makan, sholat malam, dan membaca Alquran.
  • Membaca Alquran yang baik adalah dengan melihat mushaf.
  • Perbanyaklah sholawat kepada Nabi Muhammad saw.
  • Kuat hafalan adalah karunia dari Allah, dan karunia Allah tidak akan diberikan kepada orang yang maksiyat.
  • Hal-hal yang dapat merusak hafalan antara lain: banyak berbuat maksiat, banyak dosa, banyak berpikir susah, terlalu memikirkan harta, dan terlalu banyak kerja.
  • Orang yang cemas dengan urusan dunia biasanya karena hatinya gelap. Dan orang yang senantiasa memikirkan urusan akhirat hatinya bercahaya. Dan itu terlihat dari sholatnya.
  • Sholat dengan khusyuk dan menyibukkan diri dengan mencari ilmu dapat menghilangkan penderitaan dan kesusahan.

Fasal: Hal-Hal yang Dapat Mempermudah Datangnya Rezeki dan yang Menghambatnya

  • Hanya doa yang bisa menolak takdir.
  • Terhalang rezeki lantaran dosa yang dikerjakannya. Terlebih dosa dari dusta karena dusta dapat menyebabkan kefakiran.
  • Tidur di pagi hari bisa menyebabkan fakir harta juga fakir ilmu.
  • Termasuk rugi bila malam dibiarkan lewat begitu saja tanpa guna, karena malam juga termasuk dari umur yang dijatah.
  • Hal-hal lain yang dapat menghalangi rezeki ialah: tidur dengan telanjang, kencing telanjang, makan dalam keadaan junub, tidur di atas lambung, membiarkan makanan yang terjatuh, membakar kulit bawang merah dan bawang putih, menyapu rumah dengan sapu tangan, menyapu rumah pada malam hari, membiarkan sampah di dalam rumah, berjalan di muka orang tua, memanggil orang tua dengan nama keduanya, membersihkan gigi dengan sembarang kayu, membersihkan tangan dengan debu, duduk di muka pintu, bersandar di daun pintu, berwudu di tempat beristirahat, menambal baju yang sedang dikenakan, membersihkan badan dengan baju, membiarkan sarang laba-laba di dalam rumah,  meremehkan sholat.
  • Hal-hal yang bisa menyebabkan kefakiran antara lain: tergesa keluar dari masjid ba’da subuh, terlalu pagi pergi ke pasar dan pulang paling akhir, membeli roti dari pengemis, mendoakan dengan doa yang buruk untuk anak, tidak menutup wadah, meniup lampu, menulis dengan pulpen yang diikat, menyisir rambut dengan sisir yang patah, tidak mau mendoakan orang tua, mengenakan surban dengan duduk, mengenakan celana dengan berdiri, kikir dan pelit, terlalu hemat, menunda atau meremehkan segala urusan.
  • Rasulullah Saw bersabda: “Memohonlah kalian turunnya rezeki dengan bersedekah”.
  • Adapun hal-hal yang bisa mendatangkan rezeki antara lain: bangun pagi sekali, menulis dengan tulisan yang indah, bermuka ceria, dan berbicara dengan perkataan yang baik.
  • Hal lainnya: mencuci pakaian, menyapu halaman, sholat dengan khusyuk, sholat dhuha, membaca surah waqiah, almulk, allail, muzammil, alam nasyrah, di waktu malam, datang ke masjid sebelum azan dikumandangkan, mendawamkan wudhu, sholat sunah fajar dan witir di rumah, dll.
  • Jangan membicarakan hal-hal duniawi setelah sholat witir.
  • Jangan banyak bergaul dengan perempuan, terkecuali ada hajat.
  • Jangan membicarakan hal hal yang tidak bermanfaat.
  • Siapa yang mengerjakan hal tidak berguna berarti ia telah kehilangan hal yang berguna.
  • sayyidina Ali bin Abi Thalib kwh berkata: siapa yang sempurna akalnya niscaya sedikit bicaranya.
  • Berbicara itu hiasan sedangkan diam itu keselamatan.
  • Jangan banyak berbicara, bicaralah seperlunya saja.
  • Memang mungkin kita akan menyesal bila diam tapi itu tidak seberapa dengan menyesal karena bicara.
  • Salah satu amalan murah rezeki adalah bacaan: “subhanAllah al azhim subhanAllah wa bihamdih astagfirulloh wa atubu ilaih”; dibaca setelah terbit fajar hingga menjelang sholat subuh.
  • “La ilaha illAllah al malikul haqqul mubin”; sebanyak seratus kali dibaca setiap pagi dan sore.
  • Setiap fajar dan sehabis sholat bacalah “Alhamdulillah wa subhanAllah wa la ilaha illAllah”; sebanyak 33 kali.
  • Perbanyaklah membaca sholawat.
  • Perbanyaklah membaca “la haula wala quwwata illa billah al ‘aliyil ‘azhim”
  • Bacalah doa: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dari yang haram, dan cukupkanlah pula aku dengan karunia-Mu dari menghajatkan kepada selain-Mu”. Dibaca sebanyak tujuh puluh kali.
  • Pujian-pujian sebagai berikut: “antAllah al aziz al alhakim antAllah ala malikull quddus antAllah alhalimul karim”.
Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"