Valentine bukan Milik Kita

Kami bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya.

Maha Besar Allah swt yang telah berfirman dalam Kitab-Nya yang agung:

Tidak akan rela orang-orang Yahudi dan Nasrani kepadamu hingga kamu mengikuti millah (agama) mereka.” (QS. Al-Baqarah : 120)

Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang bersabda: “Dan pasti kalian akan mengikuti orang-orang sebelum kalian setapak demi setapak dan sejengkal demi sejengkal, hingga kalaupun mereka masuk ke lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya.” Kami (para sahabat, ed.) bertanya: “Ya Rasulullah, jejak orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka.” (Diriwayatkan dalam Shahihain)

Juga, Rasulullah pun bersabda:

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (Diriwayatkan Imam Ahmad)

Valentine sebentar lagi (katanya), bagaimana nih sikap kita menghadapi gejolak hari kasih sayang yang jatuh tanggal 14 Februari setiap tahunnya ini? Akankan kita diam? Ataukah kita ingatkan saudara2 kita agar tidak merayakannya? Atau malah kita ikut merayakannya? (Na’uudzu billaah..) Bagaimana sebenarnya hukum merayakan Valentine ditinjau dari sudut pandang islam?

Secara umum, Valentine’s Day itu tidak ada dalam kamus agama islam. Secara khususnya, ia adalah produk agama Nasrani yang (asalnya dulu) ingin mengenang kematian St. Valentine. Tapi, kenapa malah jadi hari kasih sayang?

Perayaan Valentine’s Say adalah Bagian dari Syiar Agama Nasrani

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah yang kita dapat menunjukkan bahwa perayaan itu bagian dari simbol agama Nasrani. Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari .

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno. Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis dari Romawi kuno.

Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. AL-Kaafiruun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid ” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.

Semangat valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja. Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Israa’ : 32)

Semoga bermanfaat.:)

Sumber: Hukum Merayakan Hari Valentine buat Umat Islam
http://assunnah.or.id

Keutamaan Berinteraksi dengan Al-Quran (bag.1)

Allah Taala berfirman, “Allah tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri. Dia menurunkan kitab Al-quran padamu (Muhammad) dengan sebenarnya, membenarkan kitab-kitab yang telah lebih dulu daripadanya dan juga menurunkan kitab Taurat dan Injil sebelum (Al-quran diturunkan, Taurat dan Injil itu) menjadi petunjuk bagi manusia. Dan Dia menurunkan Al-Furqan (Al-quran).” (Q.S. Ali Imran 3:24).

Sekedar menyibukkan tangan saya yang sedang nganggur (padahal ga juga), jadi saya iseng nulis artikel ini. Ya, semoga saja ada manfaatnya, insya Allah dunia dan akhirat. Amieen…

Seperti yang kita tahu bersama sebagai seorang muslim, Al-quran itu adalah kitab yang paling mulia, betul?? Maka jangan heran kalau apa-apa yang berhubungan dengan Al-quran selalu bertebar dengan kemuliaan, termasuk berinteraksi dengannya. Subhaanallaah.

Sekarang, saya mau share nih, bagaimana atau apa saja sih bentuk interaksi kita dengan Al-quran?

Pertama, adalah membacanya, atau kita sebut tilawatun. Membaca Al-quran ini sangat besar pahalanya. Inget ga hadits Nabi saw yang bunyinya gini:

” Bacalah Al-quran, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai (pemberi) syafaat bagi pembacanya (penghafalnya). (HR. Muslim)”

Lumayan tuh, di saat dunia gelap gulita, di saat semua hancur luluh lantak, di saat para manusia tidak tahu harus berbuat apa, di saat tidak ada lagi pertolongan selain pertolongan Allah. Al-quran datang sebagai cahaya, menyelamatkan para ashabnya (para pembaca n penghafal) dari hari kiamat yang amat mengerikan itu. Subhaanallaah.

Sabda Nabi saw juga: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-quran maka untuknya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipat gandakan dengan sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan ‘alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif adalah satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi)

“Orang yang membaca Al-quran dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-quran dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaih)

Kedua, adalah menghafalnya atau tahfizhun. Nabi saw bersabda mengenai menghafal Al-quran ini:

“Sesungguhnya orang yang tidak ada sedikitpun al-Qur`an di dalam rongganya, ia seperti rumah yang runtuh.” Nah tuh, rugi sekali kalau kita sama sekali tidak memiliki hafalan Al-quran dalam diri kita. Padahal seperti yang disebut dalam hadits, Al-quran itu adalah yang menyangga kita, di saat kita gelisah, galau, jauh dari Allah. Insya Allah tidak sampai jatuh iman kita karena kita sudah menjaga Al-quran dalam diri kita, sehingga Allah menjaga kita.

“Hafizh Quran adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka ya Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘Para ahli Al-quran. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.'” (HR. Ahmad)

Ketiga, adalah memahaminya atau tafhimun. Wah, tingkatannya sudah agak tinggi nih. Tafhiim di sini maksudnya kita memahami isi Al-quran yang kita baca. Memahami semua kaidah dan nilai-nilai yang tersurat dan tersirat dalam Al-quran, dan asbaabun-nuzulnya. Biasanya sih, kalau tau isi atau makna Al-quran yang kita baca itu apa, pasti tambah asik membacanya. Apalagi juga memahami tata bahasa Arab, wah, mantep dah, ga usah baca artinya pun sudah tau isinya apa.

Tambahan nih, yang ga kalah penting, urgensi memahami Al-quran bukan hanya untuk kita sendiri, melainkan untuk bekal kita berdakwah, tanpa memahami isi Al-quran, apa yang mau kita dakwahkan? Setuju??

“Siapa yang membaca Al Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an.'” (HR. Al-Hakim)

Nah, karena keterbatasan waktu, mengenai macam interaksi dengan Al-quran yang lain akan dishare pada kesempatan selanjutnya. Oke. Afwan jika ada kurang-kurang. Yang benar datangnya hanya dari Allah. Semoga kita bisa menjadi muslim yang selalu berpegang teguh pada Al-quran, dan bisa mendapat banyak sekali kemuliaan dari interaksi kita dengan Al-quran. Amieen..

Orang yang Kaya adalah Orang yang Pandai Bersyukur

Kisah Darwis dan Saudagar

Pada suatu hari, seorang darwis sedang berdoa dengan khusyu. Seorang saudagar kaya mengamatinya dan tersentuh karena kekhusyuan dan ketulusan darwis itu. Kepada darwis itu, ia menawarkan sekantung penuh uang, “Aku tahu kau akan menggunakan uang ini di jalan Tuhan. Ambillah uang ini.”

“Sebentar,” jawab sang darwis, “aku tak yakin apakah aku berhak untuk mengambil uangmu. Apakah kau orang kaya? Apakah kau punya uang lebih di rumahmu?” “Oh, iya. Setidaknya aku punya seribu keping emas di rumahku,” saudagar itu mengakui dengan bangga.

“Apa kau ingin punya seribu keping emas lagi?” darwis itu bertanya. “Tentu saja. Setiap hari aku bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak lagi uang.”

“Dan setelah itu, apa kau ingin punya lebih banyak lagi ribuan keping emas?”

“Pasti. Setiap hari, aku berdoa agar aku dapat menghasilkan lebih banyak uang untukku.”

Darwis itu lalu menyerahkan sekantung keping emas kembali kepada saudagar. “Maaf, aku tak dapat mengambil emasmu,” jawab darwis itu, “seorang yang kaya tak berhak untuk mengambil uang dari seorang pengemis.”

“Bagaimana kau ini? Enak saja kau sebut dirimu orang kaya dan kau panggil aku pengemis!” saudagar itu marah-marah.

Sang darwis menjawab, “Aku adalah orang kaya karena aku puas dengan apa saja yang Tuhan berikan kepadaku. Sementara kau adalah pengemis, karena tidak peduli berapa banyak yang kau miliki, kau selalu tidak puas, dan selalu meminta lebih kepada Tuhan.”

Subhaanallah… betapa kita sering lupa akan karunia-karunia yang diberikan Allah sehingga kita tidak mensyukurinya… Astaghfirullahal-‘atziim… smoga kita digolongkan ke dalam golongan orang yang pandai bersyukur…

tidak hanya meniti jejak, tapi mengukir jejak

mari kita wujudkan generasi muda yang bermoral, berwawasan, dan beragama kuat untuk membentuk Indonesia yang madani, makmur, dibawah ridho Allah swt.

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"