Archive for the ‘ Uncategorized ’ Category

Bagian Tidak Terberitakan Dari #AksiSuperDamai212

Postingan keren seorang kawan saya yg super!!! 🙂

Relativinity

Terlepas dari ada di mana posisi anda, 2 Desember 2016 mungkin akan jadi hari yang akan diingat bagi semua pihak di Indonesia (kalau tidak dunia, mungkin juga akhirat?)

Jum’at tanggal 2 kemarin, saya mengantarkan Bapak dan Ibuk saya menuju #AksiSuperDamai212 dari Bandung. Sebelumnya, saya pergi ke aksi tersebut hanya dengan niat mengantarkan Bapak Ibuk, serta rasa penasaran ‘ah masa sih ada hatespeech beneran di aksi damai begitu?’ Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 03.30 pagi, mengendarai mobil pribadi. Berhenti sejenak di sebuah rest area untuk shalat shubuh, dan menemukan banyak Jama’ah yang juga hendak menuju ke Monas. Subuhannya penuh, serasa mudik, hhe.

Singkat cerita, tadinya kami mau menuju Monas melalui jalur Sudirman, tetapi berhubung tol dalam kota sangat macet akibat bus dan kendaraan Jama’ah maka kami mengarah ke Salemba. Sepanjang perjalanan, ternyata kami bersamaan dengan iring iringan FPI, FBR, dan ormas lain. Posisinya ada di kiri jalan, serta terlihat wajah…

View original post 852 more words

Advertisements

Curhatan Istri: Suami-Pria yang pernah Mandiri

Banyak perbedaan antara seorang lelaki yang masih membujang dan telah beristri. Bedanya dulu dia sendiri, sekarang ada yang menemani. Tentu saja bukan itu maksudnya. Coba lihat pada diri masing-masing para lelaki ketika masih kuliah, hidupnya sederhana atau lebih tepat ala kadarnya. Ya kadang makan agak enak atau tidak makan. Apa saja bisa masuk ke dalam perut. Kehidupan seorang lelaki yang masih kuliah atau bahkan sudah bekerjapun tapi belum menikah membuatnya berjuang sendiri. Perjuangan untuk mencari makan ke warung, bersih-bersih kamar sendiri, mencuci, dan menyetrika baju sendiri (seringnya baju hanya dilipat dan ditaruh di bawah kasur biar rapi sendiri). Ya itulah perjuangan bagi seorang lelaki yang masih sendiri. Tapi kehidupan yang seperti itu seketika berubah drastis jikalau dia sudah menikah. Sepulang kerja, si suami sudah disambut oleh bau masakan yang enak. Dilahapnya dengan senyuman lebar tanpa susah payah pergi ke warung. Saat dia membuka lemari, semua pakaian sudah tersedia rapi dan wangi, padahal baru tadi pagi dilemparnya di keranjang pakaian kotor. Dulunya sebelum beristri, buka lemari, pakaian bersih (tidak ada di lemari), semuanya menumpuk di keranjang pakaian kotor. Walhasil baju dilumuri literan minyak wangi. Betapa bahagianya kan seorang suami?

Tentu saja hal ini juga terjadi pada suami saya. Saya yakin, suami saya dulunya pernah mandiri. Semuanya dikerjakan sendiri, mulai pekerjaan rumah sampai kebutuhan diri. Tapi sekarang setelah beristri, makanpun minta disiapin. Ya itu karena saya selalu menyediakan kebutuhannya setiap hari. Sampai tempat bajunya pun di lemari, dia tidak tahu. Mungkin ini suatu pembelajaran bagi saya bahwa suami sudah sepatutnya diajak terlibat dalam urusan rumah tangga. Kadang suami yang menyapu, mencuci, dan sedikit membantu memasak. Sesungguhnya kewajiban istri bukanlah seperti pekerja rumah tangga yang menyiapkan segalanya. Ini semua terhitung sedekah bagi istri, ketika ia membantu suaminya dalam mengatur urusan rumah tangga. Suami memberi nafkah berupa makanan kepada istri dan anak-anaknya, bukanlah beras dan lauk pauk mentah yang dimaksud. Sejatinya memberi nafkah makan adalah menyiapkan makanan yang siap disantap oleh istri dan anaknya. Artinya, si suami belanja kebutuhan pangan dan memasaknya, kemudian menyediakannya kepada keluarganya. Pun ketika suami memberi nafkah pakaian, itu bukan sekedar membelikan baju di toko, tapi membuatnya siap dipakai oleh istri dalam keadaan bersih dan rapi yang telah dicuci dan disetrika.

Di dalam agama Islam, kewajiban istri ialah memenuhi kebutuhan batin (seksual) suami dan menaati suami (yang sesuai dengan syariat). Namun, suatu kesempurnaan bagi seorang istri tatkala ia dapat menghormati suami, menyenangkan suami, dan membantu dalam urusan rumah tangga. Tak salah jika kita meneladani bagaimana rumah tangga putri Rasulullah ﷺ , yaitu Sayyidah Fathimah ra. Ialah wanita yang akan menjadi pemimpin para wanita kelak di akhirat. Sayyidah Fathimah ra. hidup dengan sederhana dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tangan mulianya sendiri. Beliau niatkan semuanya ibadah karena Allah ﷻ. Oleh karena kesabarannya dan kelelahannya dalam mengurus rumah tangga, beliau menjadi wanita termulia di sisi Allah ﷻ. Dan sudah sepatutnya bagi kita para wanita akhir zaman untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah kita, meski hanya di dalam rumah untuk mengurus rumah tangga. Sebagian ulama menyatakan bahwa wanita tidak diwajibkan untuk sholat di masjid, karena kamarnya lebih afdhol. Di dalam rumahnya terdapat ridho Allah ﷻ pada suaminya. Ketika seorang wanita yang menjadi istri sholehah bagi suaminya, maka dekatlah ia dengan surga Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Jika seorang wanita telah melaksanakan sholat fardhunya, menjalankan puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan dia taat kepada suaminya, maka dia akan masuk ke dalam surga” (HR Bazzar dan Ahmad). Oleh karena itu, di dalam rumah bagi wanita ialah tempat yang paling afdhol untuk ia beribadah mencari ridho Allah ﷻ.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thoriq.

Mrs. Habibi Alisyahbana

Menjemput Jodoh

Hidup adalah sebuah pencapaian diri. Sedari dulu saya beranggapan bahwa hidup adalah pencapaian terhadap akademik, karier, dan pernikahan. Artinya, ketika sudah selesai sekolah, lalu kuliah, kerja, dan yang paling dinantikan ialah menikah. Untungnya bukan hanya saya seorang yang mempunyai cita-cita seperti ini, tapi semua orang pun melakukan hal demikian. Tentu saja yang demikian tidaklah salah. Namun, ada tahapan yang terkadang salah langkah. Dan yang pasti yang menjadi bahan tulisan kali ini adalah menikah. Sering kali dalam masa penantian (jodoh), kita disibukkan oleh “siapa dia” dan “cita-cita semu”. Maksud dari siapa dia adalah kita terlalu fokus dengan sosok yang kita idamkan. Dia harus berparas rupawan, berprestasi, berperilaku baik, dan kesempurnaan lainnya. Ini ada kaitannya dengan cita-cita semu yang bermakna bahwa kita mengharapkan jodoh yang sedemikian luar biasa tapi tak diiringi dengan usaha kita untuk menjadi luar biasa. Tapi, jangan salah sangka. Ada saja orang yang terlihat tak ada usaha dan kurang menawan, tetapi mendapat jodoh yang super sekali. Mungkin itu saya, hehe..

Ada cara untuk menjemput jodoh ialah dengan melupakan jodoh itu sendiri. Kita sibukkan diri untuk memperbaiki kualitas diri yang mencakup keimanan, ketaqwaan, dan ilmu. Berbicara keimanan dan ketaqwaan adalah memperindah hubungan kita dengan Allah ﷻ. Alangkah baiknya sebelum kita mengikatkan diri kepada seseorang, maka kita sambungkan tali cinta kepada Allah ﷻ dan Rasulullah  ﷺ terlebih dahulu. Dan yang terpenting kita mengaji (red duduk bersama guru mengkaji kitab) untuk meningkatkan pengetahuan ilmu kita, khususnya mengenai pernikahan. Kelak sebagai imam, kita sudah mampu membimbing keluarga dengan baik sesuai yang disyari’atkan. Kita sudah tahu benar mengenai hak dan kewajiban antara suami-istri dan yang berkaitan dengan rumah tangga lainnya. Bukannya kita sibuk kepoin si doi atau sibuk meracik jurus mendekatinya. Sudahlah serahkan segalanya kepada Allah ﷻ. Sudah tertulis namanya (jodoh), saat kita dulu ditiupkan ruh di dalam kandungan ibu. Jadi jangan khawatir tentang siapa dan kapan. Tugas kita adalah mempersiapkan diri kita sebaik mungkin, karena jodoh adalah cerminan diri. Tentu kita tidak mau, jodoh kita orang yang malas mandi seperti kita saat ini. Tapi, poin nya bukan di sana. Jodoh memang cerminan diri kita, tapi cerminan dalam kadar keimanan dan ketaqwaan kita. Ingin jodoh yang sholehah? Maka sholehkan dulu dirimu.

Menikah

menikah bukan semata tentang rasa,

tapi lebih dari itu adalah suatu kepasrahan seorang hamba atas takdir yang dipilihkan-Nya.

jodoh tak serta merta seperti yang kita lukiskan wajahnya, senyumnya, perilakunya.

dia hadir sesuai dengan takar ukuran dari Allah, dia pas untuk kita, baik kurang dan lebih darinya.

takar ukuran dari Allah, bukan semudah kita melihatnya dengan kacamata manusia,

dia cantik, aku ganteng, dia baik, aku baik, dia buruk, aku buruk,

sungguh tidak demikian..

ukuran Allah ialah bernilai sangat dalam, adil, dan bijaksana karena Ia Maha Tahu.

bisa jadi saat ini diri kita belum baik, namun dengan hadirnya menjadikan diri ini jadi lebih baik.IMG_4575

itulah perhitungan Allah yang Maha Adil bagi hambanya..

Niat nikah

Niat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu ‘Anhu (dikutip dari “Kitab Niat”):

niat nikah

Artinya:

“Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah ‘azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam:
“Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat”

Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.

Saya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup. 

Saya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya.”

Diperoleh dari: Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan – Pustaka Islam Sunni Salafiyah KTB.pdf

Tentang 100 Milyar

korupsi harus dimusnahkan dari muka bumi

korupsi harus dimusnahkan dari muka bumi

Di awal suatu kuliah, terjadi percakapan singkat antara dosen dan para mahasiswanya.

Dosen (D) : “Kalian kuliah, dari tingkat satu sampai tingkat akhir biayanya berapa?”

Mahasiswa (M) : “berbeda-beda pak tiap tahunnya, angkatan 2009 persemester 4 juta, yang 2010-nya 5 juta, ditambah uang pangkal kurang lebih 55 juta, ditambah biaya hidup, kurang lebih jadi 100 juta selama 4 tahun.”

D : “oo gitu, berarti kalau ada uang 1 milyar, bisa membiayai 10 mahasiswa ya?”

M : “iya pak..”

D : “mm.. kalau 100 milyar, berarti bisa 1000 mahasiswa ya?”

M : “benar pak..”

D : “kalau begitu berarti orang-orang yang korupsi ratusan milyar itu sudah menghilangkan kesempatan kuliah ribuan mahasiswa.. bener ya?”

M : …

Minum Spirulina Mahmud dan Menunggu Sidiq

bismillah.. semoga kita bisa meneladani bocah ini.. 🙂 keren pisan, bro!

Catatan Dahlan Iskan

Senin, 21 April 2014
Manufacturing Hope 124

Dua anak muda ini gigihnya bukan main. Mahmud dan Sidiq. Mahmud baru lulus dari Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan Sidiq masih kuliah di Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang.

Dua bulan lalu, ketika saya bermalam di satu desa di pinggir hutan di pedalaman Wonogiri, Jawa Tengah, Mahmud nguber saya sampai ke desa itu. Senja amat mendung. Hujan renyai-renyai tidak kunjung berhenti. Di suasana senja yang dingin itu, Mahmud menyusul saya ke masjid desa.

Meski langit sudah gelap, saat magrib ternyata masih lama. Mahmud membuka laptopnya. Dengan berapi-api dia mendesak saya. “Pemerintah harus turun tangan. Jangan mengabaikan penemuan saya ini,” katanya.

Saya dengarkan terus penjelasannya yang bertubi-tubi itu. Ditonton orang-orang desa yang siap-siap berjamaah Magrib. Di mata yang mendengarkan penjelasan itu, pemerintah terkesan jelek sekali. Tidak membantu dan mengakomodasi penemuan seperti ini.

“Ini sangat menguntungkan, Pak Dahlan,” ujarnya. “Ayo, BUMN bantu dengan…

View original post 738 more words

Summary

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 17,000 times in 2013. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 6 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Desa Tanpa Sinyal | #RPC2013

Rabu, 24 Juli lalu adalah jadwal kami survei ke lokasi tempat program Banyuwangi Berbagi akan dilaksanakan. Yap, kami pergi ke Desa Sumbernanas, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.

Termiskin

Desa Sumbernanas merupakan desa yang terletak paling ujung Kecamatan Kalipuro. Desa ini terletak di tengah hutan milik Perhutani sehingga sangat jauh dari keramaian. Kondisi jalan menuju desa ini tergolong jelek (hanya bebatuan dan tanah yang kadang tidak rata), hanya bisa dilewati oleh motor nonmatic dan pick up atau truk. Jangan berharap membawa motor matic atau city car (cem Jazz, Avanza, dll), takut nanti pulangnya “kenapa-napa”, hehe. Mungkin karena kondisi inilah Desa Sumbernanas cukup terisolasi dari lingkungan luar. Desa ini juga dinobatkan sebagai desa termiskin se-Kecamatan Kalipuro. Sebagai pengetahuan tambahan, Kecamatan Kalipuro sendiri merupakan kecamatan termiskin di Kabupaten Banyuwangi dan rangking dua termiskin di Jawa Timur. waw.

Kondisi jalan menuju Desa Sumbernanas. Ini tergolong yang cukup bagus.

Kondisi jalan menuju Desa Sumbernanas. Ini tergolong yang cukup bagus.

Sederhana

Warga Desa Sumbernanas sangat jauh dari kemewahan. Sebagian besar warga mencari penghidupan di hutan, entah mencari kayu bakar, menyadap karet, bertani, dan lain-lain, dan memperoleh uang dari hasil hutan yang mereka jual ke pasar. Rumah warga sebagian besar berdinding gedhek (anyaman bambu) dan berlantaikan tanah, kecuali beberapa rumah saja yang berdinding semen dan batubata. Eloknya, lingkungan Desa Sumbernanas ini terlihat bersih, tidak ada sampah berceceran, dan udaranya pun sejuk. Iyalah, di tengah hutan, gitu.. hehe..

Penampakan salah satu rumah warga

Penampakan salah satu rumah warga.

Yang keliatan paling bagus tuh masjidnya. Pantes, tempat ibadah, ya kan? Yang saya tahu, ada dua masjid, satunya kecil, satunya besar. Keduanya berdinding semen, berlantai keramik, terlihat putih dan bersih. Mantap.

Tanpa Sinyal

Satu-satunya kemewahan di desa ini adalah motor dan televisi. Motor, sudah tentu, penting untuk mendistribusikan hasil hutan ke pasar untuk dijual, atau untuk belanja. Televisi, hanya beberapa warga saja yang punya. Biasanya di samping rumahnya ada tiang antena yang terbuat dari kayu atau bambu panjang.

Jangan berharap sinyal HP, apalagi yang sekelas 3G atau HSDPA. Sinyal GPRS saja hilang. Jadi kemungkinan tidak ada handphone di desa ini. Semua jenis komunikasi dengan dunia luar dilakukan dengan surat ataupun secara langsung. Jadi inget jaman dulu, hehe.

Banyuwangi Berbagi

Banyuwangi Berbagi merupakan sebuah program yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Menurut pak RW, kebetulan di desa ini terdapat 35 janda yang tidak mampu atau sudah tidak layak untuk bekerja. Melalui program Banyuwangi Berbagi, 35 janda ini akan diberikan santunan berupa sembako (beras, gula, dan minyak goreng). Santunan juga diberikan kepada 2 anak yatim yang ada di desa ini, masing-masing mendapatkan satu paket peralatan sekolah.

Seperti harapan kami, program ini mendapat sambutan yang sangat hangat dari ketua masyarakat setempat. Beliau berharap dengan adanya program ini janda-janda yang tidak mampu minimal dapat terbantu dalam pemenuhan kebutuhan pangannya.

Kiri : pak RW, Kanan : Pak Muhali, selaku ketua masyarakat setempat.

Kiri : pak RW, Kanan : Ustadz Mahali, selaku ketua masyarakat setempat.

Oooh.. Sumbernanas..

Saya pikir di desa ini banyak nanas, tapi kemarin pas ke sana, saya tidak melihat pohon nanas sama sekali, atau memang saya yang gak lewat di kebun nanasnya. Haha.. entahlah. Tapi kalau benar tidak ada nanas, lucu juga dulu leluhur mereka menamai desa ini dengan Sumbernanas. Hihihi.

>> Bersambung

Jomblo Bisa!

Masa depan para jomblo harusnya lebih sukses. Saat teman2nya sibuk pacaran, si jomblo menghabiskan waktunya untuk aktivitas yang lebih berkualitas.

Nilai kuliah para jomblo juga harusnya lebih bagus. Saat teman2nya gak konsen karena ngelamun pacarnya, si jomblo otaknya bening, gak ada yang mengganggu jiwanya.

Soal ibadah, harusnya para jomblo ibadahnya lebih khusyu’. Saat teman2nya pikirannya melayang mikirin pacar, si jomblo asyik aja menikmati ibadah tanpa ada beban di pikirannya.

Pasti ada aja yang bilang, “Belum tentu kali, mas”. Lha, Saya kan bilang “harusnya”. Ya, berdoa saja, semoga dengan niat yang benar, Allah akan membantu menghapus kata “harusnya” di kehidupanmu dan menjadikannya kenyataan.

Pasti ada juga jomblo yang bilang, “Makasih mas udah dihibur”. Yee, siapa yg menghibur? Jomblo itu gak perlu dihibur. Karena Allah yang langsung turun tangan menghiburnya, “Orang baik akan dipertemukan dengan yang baik”.

*hayoo.. yang jomblo senyum2.. hhe

***

Kopas dari wall Nina. tapi saya gak tahu Nina kopas dari siapa. hhe.

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"