Archive for the ‘ Teknik Kimia ’ Category

Layaknya Seorang Ibu

For me, tanggung jawab engineer thd plant layaknya seorang ibu thd anaknya :')

For me, tanggung jawab engineer thd plant layaknya seorang ibu thd anaknya :’)

Bismillah.

Tidak terasa sudah sebulan (lebih dikit) saya berstatus salah satu engineer di PT. Chandra Asri Petrochemical Tbk., tepatnya sebagai production engineer di LLDPE plant. Saya masuk sini sejak 4 Agustus lalu. Sebelumnya saya ikut training dulu bersama teman2 satu batch selama 22 hari atau hampir 2 bulan. Mulai masuk LLDPE sekitar akhir september.

Nah, setelah satu bulan (lebih dikit) di sini, saya mulai tahu nih sedikit-sedikit filosofi seorang engineer, meskipun rada ngarang sih. Kalau dipikir-pikir, ternyata engineer itu hampir seperti seorang ibu. Ya, ibu. Mm… maksud saya kalau ibu itu bertanggung jawab terhadap anaknya, kalau engineer bertanggung jawab terhadap plant. Hehehe.

Ya, layaknya seorang ibu rumah tangga yang ideal yang tahu banyak tentang urusan rumah tangga, seorang engineer ternyata juga harus tahu banyak urusan plant, entah dari sisi proses, equipment, maintenance, safety, operation, dll. Bahkan sampe urusan kerapian ruang kerja dan central control room (CCR) ternyata engineer juga turut bertanggung jawab.

Ibu rumah tangga yang cerdas pandai memanage uang, tahu harga, dan tahu untung-rugi. Begitupula engineer, ternyata perlu tahu juga harga2 equipment, bahan baku, atau material. Untuk keperluan modifikasi proses atau alat, hal-hal perduitan seperti ini akan sangat berguna. Percuma dong, kalo modifikasi atau pengembangan udah bagus tapi malah bikin perusahaan rugi. iya nggak?

Ibu rumah tangga yang baik itu menghargai pekerjaan anak-anaknya. Begitupula engineer, harus menghargai kerja keras para operator yang bekerja di plant dan board operator yang bekerja di CCR. Merekalah yang paling banyak berurusan dengan kegiatan operational plant. Meski lingkup kerja berbeda, tapi kita bekerjasama dalam tim. Sebagai orang baru, wajib bagi saya untuk menghormati mereka yang lebih berpengalaman dan berkomunikasi dengan santun.

Ibu rumah tangga yang aktif biasanya pandai berkoordinasi dengan ibu-ibu rumah tangga yang lain. engineer pun demikian. tidak hanya berkoordinasi antar sesama engineer, atau antara engineer dengan operator, tapi juga berkoordinasi dengan orang2 di departemen lain seperti planning, engineering, purchasing, maintenance, utility, plant monomer, dan lab. koordinasi yang baik memang mutlak diperlukan mengingat kita sedang bekerja untuk kemajuan satu perusahaan yang sama dan saling terkait antar elemen-elemennya.

Poin terpentingnya adalah, menjadi engineer ternyata bukan tanggung jawab yang mudah, seperti seorang ibu terhadap anaknya. semua ibu pasti ingin kan anaknya tetap sehat, cerdas, tumbuh dengan sempurna dan bisa sukses masa depannya nanti. engineer bertanggung jawab terhadap keberjalanan plant, engineer menjaga plant agar bisa terus berjalan pada rate optimum, menghindari terjadinya masalah, menjaga dan mengimprove kualitas produk, mencegah kondisi-kondisi tidak aman, intinya mah agar plant selalu produktif sesuai target yang ingin dicapai perusahaan. Jangan sampai karena masalah kecil saja, plant bisa shutdown/mati yang kalau lama2 bisa membuat perusahaan rugi. saya kurang tau banget sih gimana korelasinya, intinya baik engineer maupun elemen lain, semua berusaha memberikan performa terbaik untuk perusahaan. kalau perusahaan untung gede, kita juga kan yang dapet plus-plusnya (contoh: bonus), hhe.

oke, sekian dulu lah cerita saya. buat para engineer yang membaca ini, saya ucapkan: “selamat bekerja..” 😀 Thanks. semoga bermanfaat.

Advertisements

Hikmah dari Sesepuh

Pada tanggal 28 Maret 2014, prodi Teknik Kimia ITB mengundang beberapa alumni yang telah atau sedang berkarya di salah satu perusahaan terbaik Indonesia, yaitu PT. Badak LNG. Para alumni ini berasal dari angkatan yang berbeda-beda. Beliau-beliau diundang untuk memberikan kuliah keprofesian Teknik Kimia di bidang LNG. Dari sekian banyak alumni yang diundang, salah satunya adalah pak RIJ. Soetopo. Menurut saya beliau sangat spesial, di antaranya adalah karena beliau mantan Dirut PT. Badak LNG yang pertama. Jadi, pada jaman beliaulah PT. Badak mulai dibangun. Mulai eksplorasi reservoir gas, babat hutan, ngebor, memasang pipa, mendirikan pabrik, sampai distribusi gas sehingga sampai kepada end user yang biasanya adalah pembangkit-pembangkit listrik. Bisa kita bayangkan seluas apa ilmu teknik kimia beliau, sesering apa beliau dihadang masalah, dan sekenyang apa beliau akan pengalaman2 dalam bekerja.

Oke, itu sekilas tentang pak RIJ. Soetopo. Yang ingin saya share di sini adalah salah satu hikmah kehidupan pak RIJ yang sempat saya dokumentasikan dalam notes HP saya. Kata beliau, ini adalah hikmah dari berpuluh2 tahun beliau menjalani segala macem hiruk-pikuk kehidupan. Saya jadi terpikir, mengapa tidak saya share saja kepada teman2? Tentu akan menjadi pelajaran bagi kita, generasi muda yang -mau tidak mau- akan menggantikan perjuangan generasi tua.

Bait-bait hikmah itu adalah,

Orang yang paling celaka adalah orang yang kaya tapi bodoh,
Orang yang paling beruntung adalah orang yang miskin tapi pintar,
Orang yang paling TOP hebat adalah orang yang kaya dan pintar,
Namun pintar saja tidak cukup, harus juga cerdik,
Yang lebih baik lagi adalah orang yang pintar, cerdik, dan tekun…

Berasa mahal banget ini hikmah dari beliau. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam hal ketekunan dalam bekerja, kesabaran, dan ketegasannya dalam mengambil keputusan. Kita doakan juga empunya yang punya bait, semoga pak RIJ dikaruniai sehat, rejeki lancar, dan selalu berada dalam jalan kebaikan. Aamiiin.

Wallaahu a’lamu. Semoga bermanfaat. 🙂

Go Cacao Go Indonesia

Go Cacao Go Indonesia for IChEC 2014

vote Go Cacao Go Indonesia for IChEC 2014

Bismillaah…

kawan-kawan blogger yang saya cintai 😀 .. bukan blogger aja sih, follower, yang lagi baca, ataupun yang cuma mampir..
yuk, ikut dukung ide kami, untuk memperjuangkan biji kakao sebagai komoditas unggulan Indonesia dalam menghadapi AEC 2014. AEC? cari di google aja ya.. hhe..

dukung poster kami yang berjudul Go Cacao Go Indonesia untuk memenangkan Poster Competition Indonesia Chemical Engineering Challenge (IChEC) 2014, dengan cara:

ketik: bit.ly/dukung-coklat di address bar, tekan enter, tunggu sampai keluar poster seperti di atas,
nikmati sebentar, lama juga boleh,
lalu klik tombol like (y)

Sipp!! dukungan kawan2 sangat berarti bagi kami, doakan juga semoga kami bisa menang ya.. 🙂
Kami ucapkan terima kasih banyaak..
Hatur nuhuun..
Arigatou gozaimasu..
Jazaakallaah.. semoga Allah membalas kawan2 dengan kebaikan
matur nuwuun..
dan matur tengkyuu.. hhe..

Regards,

Tim

Sepenggal Kisah tentang Coklat

Siapa mau coklat?

Siapa mau coklat?

Siapa yang tidak suka coklat? Saya yakin semua orang suka coklat, yaa mungkin sebagian kecil saja yang tidak suka coklat. Buat yang suka coklat, berarti sama dengan saya, buat yang gak suka, kita tetep temen lah ya.. hahaha..

***

Kembali ke topik. Tadi saya mendapat kuliah dari Pak Susanto, salah satu ahli coklat. Saya tidak tahu beliau sekarang bekerja di mana, intinya beliau ahli dan cukup berpengalaman di bidang percoklatan.

Di awal kuliah, beliau menceritakan sejarah coklat. Coklat berasal dari bagian utara Amerika Selatan, atau tepatnya di Negara Meksiko. Jauh sebelum pak Christopher Columbus datang. Nah barulah setelah pak Columbus datang ke Meksiko, mengenal coklat, dan membawanya ke Spanyol, coklat mulai dikenal di wilayah eropa. Tahun 1600an coklat sudah mulai dikenal di Inggris, Itali, Belanda, Jerman, dan Swiss. Coklat ini bahkan dikenal lebih dahulu ketimbang kopi dan teh. Coklat sampai di Indonesia karena dibawa oleh penjajah Belanda dan ditanam di pulau Jawa, dan beberapa tempat lain di Indonesia seperti Sulawesi.

Kenapa coklat jaman sekarang ini begitu berharga? Jawabnya, memang ternyata dari dulu seperti itu. Jauh sebelum terkenal di daratan eropa sana, coklat memiliki dua fungsi, sebagai makanan dan sebagai alat tukar seperti uang kita sekarang. Sebagai contoh, pajak. Mereka membayarnya dengan biji-biji coklat. Kalau jaman sekarang, mungkin coklat bisa menjadi hadiah yang sangat berharga ya.. Hehe.

Coklat banyak tumbuh di daerah beriklim tropis seperti Indonesia, Brazil, Ekuador, Pantai Gading, Ghana, Malaysia, dan sekitarnya. Namun tanaman coklat tumbuh paling besar di benua Afrika. Tiga negara dengan produksi coklat tertinggi di Afrika adalah Pantai Gading, Ghana, dan Kamerun. Selain merajai produksi biji coklat di benua Afrika, Pantai Gading juga merajai produksi biji coklat dunia. Pada tahun 2005 produksinya mencapai 38% dari total produksi biji coklat dunia. Urutan kedua Ghana dengan angka 21%, ketiga Indonesia dengan angka 13%. Sisanya jauh di bawah itu.

produksi biji coklat dunia pada 2005

produksi biji coklat dunia pada 2005

Berarti Indonesia punya potensi dong? Betul sekali. Sebagai produsen ketiga terbesar seharusnya kita bisa turut mengendalikan aliran kas dunia yang bersumber dari perkebunan-perkebunan coklat. Nyatanya, harga biji coklat Indonesia (bisa dikatakan) adalah yang (aduh, gak tega sebenarnya mengatakan ini) paling rendah jika dibandingkan dengan harga biji coklat pantai gading, misalnya. Harga biji coklat pantai gading sekitar 3,5 dollar/kilogram sedangkan biji coklat kita tidak sampai satu dollar/kilogram. Padahal kualitas lemak coklat Indonesia diakui sebagai lemak coklat yang paling bagus sedunia. Ironis sekali bukan?

Emang kenapa bisa murah gitu? Begini ceritanya. Di Indonesia, biji coklat sebagian besar dijual sebagai biji kering non-fermentasi. Biji kering non-fermentasi ini harganya memang rendah dibandingkan dengan biji coklat fermentasi. Kata pak Susanto, dulu sempat diadakan sosialisasi kepada para petani coklat di Sulawesi sana agar memfermentasi dahulu biji coklat yang dipanen, tapi nampaknya gagal total. Pada masa awal setelah sosialisasi, para petani mau melakukan fermentasi, tapi lambat laun fermentasi mulai ditinggalkan. Para tengkulak/pemborong juga sepertinya tidak merasa diuntungkan dengan proses fermentasi ini, karena harganya pasti lebih mahal dari biji kering biasa. Petani juga merasa proses fermentasi ini malah menghambat pemasukan dana segar tiap harinya. Proses fermentasi biji coklat membutuhkan waktu kurang lebih 5 hari, artinya hampir dapat dipastikan dalam 5 hari mereka tidak mendapat penghasilan. Kata bapaknya lagi, hal seperti ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Di Ghana saja, pemerintah mengistruksikan biji coklat yang dijual harus sudah terfermentasi, dan alhasil Ghana bisa meraup devisa yang luar biasa besarnya dari biji coklatnya. Di samping itu kualitas biji coklat Ghana terkenal yang paling bagus dan yang paling mahal di dunia.

Yaah,, demikianlah sepenggal kisah tentang coklat yang saya tahu. Semoga para insinyur pangan di negeri ini (khususnya saya sendiri) tidak mudah lengah sedangkan negeri ini memiliki potensi yang luar biasa dahsyatnya. Wassalam, semoga bermanfaat.

Kisah Hidrogen dan Oksigen

Ada sebuah kisah menarik dari Pak Bermawi (salah satu dosen FTI) ketika beliau memberikan kuliah pengantar Proyek Rekayasa Interdisiplin hari Rabu (28/8) pekan lalu di aula timur ITB. Ketika itu materi yang beliau sampaikan adalah tentang “berpikir sistem”, yaitu bagaimana kita memandang suatu permasalahan dengan “lensa” sistem (tidak secara independen). Adapun yang dinamakan “sistem” adalah kumpulan elemen-elemen yang berhubungan dan diorganisasikan dalam satu kesatuan untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga ada setidaknya tiga unsur penting dalam sebuah sistem, yaitu elemen/komponen, hubungan/interaksi, dan tujuan.

Oke, itu sebagai mukadimah saja. Ketika berbicara tentang betapa pentingnya hubungan/interaksi antar elemen dalam suatu sistem, pak Bermawi memberikan satu kisah yang cukup menarik. Mmm.. Sebelum itu mari saya jelaskan sedikit, bahwa jika elemen-elemen dalam suatu sistem tidak berinteraksi maka tak ubahnya seperti populasi. Ya, populasi elemen-elemen. Maka interaksi antar elemen dalam sistem menjadi sangat penting.

Baiklah, begini kisahnya. Seperti yang kita tahu bahwa gas hidrogen (H2) dan oksigen (O2) memiliki sifat yang identik dengan pembakaran/api. Hidrogen sangat mudah terbakar, sedangkan oksigen merupakan salah satu syarat terjadinya proses pembakaran. Sekali lagi, keduanya sangat identik dengan api. Namun apa yang terjadi ketika keduanya berinteraksi? Yap, benar.. Hidrogen dan oksigen bisa beraksi membentuk H2O atau kita mengenalnya sebagai air. Sebagai hasil interaksi, air memiliki sifat yang amat berbeda jauh dari sifat unsur-unsur penyusunnya. H2 dan O2 sangat identik dengan api, mudah meledak dan terbakar, sedangkan H2O bersifat dapat memadamkan api.

kristal air zam-zam

kristal air zam-zam (sumber: http://www.dakwatuna.com)

Begitulah, maaf jika mungkin cara saya membawakan cerita kurang menarik seperti aslinya. Intinya, interaksi elemen2 dalam suatu sistem itu sangat penting untuk mencapai suatu tujuan. Begitupula dalam suatu kelompok, atau tim. Bukan tim namanya jika hanya mengikuti satu orang ketua sedangkan yang lainnya pasif. Sehingga tidak mustahil jika pepatah mengatakan dalam suatu tim tidak lagi 2+2=4, tapi bisa jauh lebih besar dari itu. Artinya, kolaborasi ide dan hasil berpikir antar elemen dapat menghasilkan “sesuatu” yang luar biasa jika dibandingkan dengan berpikir secara pasif dan independen. (hbb)

Diferensiasi Produk Jagung (2)

Lanjutan dari tulisan sebelumnya : Diferensiasi Produk Jagung (1)

minyak jagung. ini cukup mahal lho.. (sumber : malaysiacookingoil.com)

minyak jagung. ini cukup mahal lho.. (sumber : malaysiacookingoil.com)

proses pemisahan endosperm dan germ pada bulir jagung yang paling umum adalah wet milling. bagaimanakah proses wet milling  itu? yuk, kita lanjuuut..

tahap pertama dari proses wet milling ialah steeping, orang Indonesia sering menyebutnya “perendaman hangat”. bulir jagung yang telah bersih, direndam ke dalam air bertemperatur 48-52 C dalam waktu 30-50 jam. ke dalamnya ditambahkan larutan SO2 0,2-0,4%-b yang bertujuan untuk melarutkan protein dalam bulir jagung. setelah 30-50 jam, maka akan dihasilkan air bekas perendaman atau corn steep liquor dan padatan bulir jagung dengan kadar air sekitar 45%-b basis basah. bulir jagung dapat dipisahkan untuk memasuki tahap selanjutnya. sedangkan corn steep liquor biasanya digunakan untuk keperluan mikrobiologi karena di dalamnya mengandung banyak sekali nutrisi untuk pertumbuhan mikroba.

tahap kedua ialah penggilingan kasar. tahap ini bertujuan untuk melepaskan germ dari bulir sehingga terpisah dengan endospermnya.  pada tahap ini alat yang biasa digunakan adalah “penggiling Foos”. bentuk alatnya bisa tanya ke professor-google. hasil dari tahap kedua ini adalah endosperm yang telah hancur seperti tepung dan germ yang masih utuh. sayangnya masih bercampur satu sama lain.

pada tahap ketiga kedua komponen dipisahkan. tahap ini dinamakan tahap “pemisahan germ“. bagaimana caranya? mau-tidak mau kita memanfaatkan gaya gravitasi. *masa mau diambilin satu-satu germnya? hehe. prosesnya dinamakan pengapungan. pada tahap ini ke dalam campuran tepung dan germ ditambahkan medium suspensi dengan  densitas lebih besar dari germ yaitu 1,051-1,058 (7-8 Be), sehingga dalam proses pengapungan germ akan berada di atas sedangkan tepung dan medium berada di bagian bawah germ. begitulah sehingga germ bisa dengan mudah diambil dan terpisah sempurna dengan tepung.

germ yang telah terpisah, lantas dengan mudah diambil minyaknya. inilah yang dinamakan minyak jagung. begitupula tepungnya, langsung menjadi tepung yang kaya pati dan bebas minyak.

oke, saya ulang lagi, ralat, berarti tidak hanya 2 macam produk yang bisa kita hasilkan dari jagung. melainkan 3 macam. pertama, corn steep liquorkedua minyak jagung, dan ketiga tepung jagung. sekarang apa yang kawan2 pikirkan?

benar. jagung ternyata sangat potensial untuk dikembangkan produknya. tidak hanya menjadi popcorn atau jagung rebus, atau tepung, tapi bisa kita peroleh minyak dan “sari”nya, yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. mau tahu berapa harga minyak jagung? ya.. kira2 40.000-60.000 rupiah lah perliter. cukup tergiur? hehe.

Oke, belajar dulu dari sekarang, supaya bisa mengoptimasi semua potensi dalam negeri. #untuk Indonesia yang lebih baik. 🙂

semoga bermanfaat.

Diferensiasi Produk Jagung (1)

jagung. (sumber : khasiatbuah.com)

jagung. (sumber : khasiatbuah.com)

kuliah “Industri Pangan” pada kamis, 7 Februari kemarin sangat inspiratif. tentunya dari dosen yang inspiratif (menurut saya), Pak Tatang Hernas Soerawidjaja. beliau mengatakan bahwa terdapat potensi yang sangat besar dibalik bulir jagung yang kita konsumsi selama ini. potensi besar apa itu? mari kita simak paragraf selanjutnya.  🙂

di awal kuliah, pak Tatang menanyakan satu hal yang bahkan tidak pernah kami tanyakan pada diri kami sendiri.

yu (baca : kamu) pernah makan jagung rebus? ada manisnya nggak? pernah mikir,  nggak, manisnya itu dari mana? bonggolnya atau bulir jagungnya? atau dua-duanya?”, begitulah, dan kami tidak ada yang bisa secara mantap menjawab. #payah. sebenarnya pertanyaan2 ini hanya intermezzo sih, tapi cukup mengena.

Oke, menurut beberapa literatur, jagung terdiri dari beberapa bagian, di antaranya bulir, serabut, kelopak, dan bonggol. bulir jagung juga terdiri dari beberapa bagian, di antaranya kulit bulir, endosperm, germ atau kandung lembaga, dan tutup ujung. bagian terbesar adalah endosperm yaitu 82,9%, lalu germ (11,1%), kulit (5,3%), dan tutup ujung (0,8%). berawal dari sini sebenarnya, mengapa diferensiasi produk jagung itu begitu penting dilakukan.

sekarang kita bahas satu-satu, dari bagian terbesar dahulu. ENDOSPERM. bagian ini adalah bagian kaya pati, yaitu sebesar 87,6% dan protein 8%. sisanya serat (3,2%), lemak (0,8%) dan bahan-bahan lain (0,4%).

kemudian GERM atau kandung lembaga. bagian ini cukup kaya dengan lemak, protein, dan serat, yaitu (berturut-turut) 33%, 18,4%, dan 14%. sisanya adalah pati (8%) dan bahan lain (26,4%).

KULIT. siapa sangka ternyata lapisan tipis ini mengandung banyak serat, sekitar 83,6%. diikuti oleh pati (7,3%), protein (3,7%), lemak (1%) dan bahan lain sebesar 4,4%.

bagian terkecil adalah TUTUP UJUNG. sama dengan saudaranya (kulit), bagian ini juga kaya akan serat. persentase serat pada tutup ujung termasuk cukup besar sekitar 77,7% yaitu dalam bentuk selulosa. komponen lainnya adalah protein (9,1%), pati (5,3%), lemak (3,8%) dan bahan lain (4,4%).

lantas, apa yang bisa kita simpulkan? apa hubungannya komponen beserta komposisinya dengan diferensiasi produk? apa yang bisa kita manfaatkan dari data-data ini?

tentu banyak sekali. mari kita flashback. tinjau satu-satu. endosperm adalah bagian kaya pati, benar? lalu germ adalah bagian kaya lemak, benar juga, kan? kulit dan tutup ujung tidak terlalu penting. oke, clear.

sekarang mari kita membicarakan tepung jagung yang ada di pasaran. menurut beliau, tepung jagung kita dibuat dari bulir yang digiling hingga halus. sudah. bagaimana misalnya begini : bulir jagung dipisahkan dahulu endosperm dan germnya. lalu endospermnya kita ambil untuk dibuat tepung, dan germnya juga kita ambil untuk diambil minyaknya. hmm…

*apa yang anda pikirkan? tentu kita sekarang punya 2 produk. tepung jagung, dan minyak jagung. lalu bagaimana proses pemisahan endosperm dan germnya? ikuti link berikut. 🙂

Selanjutnya :

Diferensiasi Produk Jagung (2)

Senjata para Engineer

dalam dunia engineering, yang pasti otak harus diasah, tapi indera juga harus dilatih.

ketika terjun ke lapangan, seorang engineer yang baik tidak perlu lagi membawa termometer untuk mengukur temperatur suatu reaktor. karena dengan meraba, ia bisa memastikan temperaturnya sekitar 80-90 derajat celcius. #kulit

ketika melihat kebocoran cairan, ia tidak perlu lagi mengambil ember dan stopwatch untuk mengukur laju kebocorannya. karena dengan penglihatan, ia tahu kebocorannya pasti antara 1-1.5 L per menit. #mata

pun ketika ada kebocoran gas. indera penciumannya akan tahu gas apa yang bocor dan indera perabanya akan merasakan seberapa besar tekanan gasnya. #hidung

belum lagi jika ada ketidakberesan dengan mesin seperti pompa, atau motor. indera pendengarannya akan tahu seberapa parah kerusakannya. #telinga

khususnya bagi engineer pangan, indera perasa akan sangat menentukan kualitas suatu produk bercitarasa, seperti kopi dan teh. #lidah

jadi bagi anda seorang calon engineer, mulailah melatihnya dari sekarang. karena itu bisa menjadi salah satu ‘senjata’. kecuali jika anda memiliki cukup alat dan waktu untuk mengukur itu semua di lapangan. hehe.

engineer always makes everything simpler…

*satu pelajaran dari kunjungan ke PT. BASF (perusahaan chemical terbesar di dunia) beberapa hari lalu.

Muncar dan Air Limbah (1)

#sebelum membaca berita di surat kabar RADAR BANYUWANGI

terinspirasi dari tulisan sebelumnya, yaitu Limbah Udang = Pengawet?, gara-gara banyak menulis kata udang… ikan… udang… ikan, saya jadi ingat Muncar. Muncar adalah salah satu daerah di Banyuwangi yang terkenal sebagai kawasan penghasil dan pengolah ikan terbesar di Jawa timur. Karena postingan sebelumnya nyinggung-nyinggung tentang masalah limbah, terlintas dalam pikiran saya : kalau di Muncar sana penanganan limbahnya seperti apa ya? hmm.. penasaran.

Akhirnya saya browsing2, dan nemu beberapa berita tentang Muncar (ternyata eksis juga di dunia maya, hehe…). Nemu berita bagus. Ada juga yang memprihatinkan, tapi lebih banyak. Yang memprihatinkan dulu deh :

  • Dari dulu, sampai saat ini masih belum ada Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL di kawasan Muncar. Padahal sudah belasan tahun pabrik di kawasan ini beroperasi. Lalu air limbahnya diapakan? Di sini tertulis “air limbah rata-rata dialirkan lewat pipa ke muara sungai dengan kondisi yang masih keruh dan bau.” Sedih.
  • Bukan industri besar aja rupanya yang menyebabkan pencemaran, industri kecil2pun iya. Ada sekitar 100-an pabrik kecil yang juga membuang limbah mereka langsung ke selokan atau sungai. >> Pantesan, beberapa tahun yang lalu, ketika terjadi hujan dan angin kencang, seluruh kawasan Muncar bau ikan. Pasti karena “aroma” limbah yang terbawa angin. Hiii…
  • Akibat dari pencemaran yang terus menerus, sungai… laut… semua tercemar, produksi ikan kini menurun drastis. “Sekarang ikan sudah susah didapat…” kata salah satu nelayan, yang saya kutip dari website Bappeda Jawa Timur.

Huft. Apakah anda sudah merasa prihatin. Saya sih prihatin kalau seperti ini kondisinya. Agar tidak berlarut-larut dalam keprihatinan, yuk mari kita lihat kabar baiknya.

  • Saat ini sejumlah pabrik sedang dalam proses membangun IPAL. Kata salah satu humas PT. Sumbar Yala Samudra, pak Supriyadi, bahkan dalam hitungan bulan, pengurusan dokumen bisa selesai dan IPAL bisa segera dibangun. Kita doakan saja.
  • Di sisi lain, Kementrian Lingkungan Hidup telah memberikan bantuan unit IPAL komunal senilai Rp 30 miliar untuk kawasan ini. subhaanallaah, mantep.
  • Bukan hanya unit IPAL, pak Menteri juga member bantuan berupa tempat sampah terpilah serta mesin pencacah plastic untuk membantu pemerintah kabupaten serta masyarakat Muncar dalam mengatasi masalah sampah. TWO THUMBS! >> tapi yang ini keluar dari topik.

Satu kata. Alhamdulillaah. Sekarang Muncar diperhatikan. Dan memang begitu seharusnya. Saat ini Muncar menjadi kawasan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur, makanya harus terus ditingkatkan kualitasnya.

Oke. coba kita nyambung lagi limbah udang. Sebagai putra Banyuwangi yang sedang belajar di Teknik Kimia, saya melihat potensi yang besar di sini, mengingat pasti banyak limbah padat di kawasan Muncar yang berasal dari industri pengolahan udang. Pasti sudah bisa ditebak. Yup, mendirikan pabrik chitin dan chitosan. Selain menyelesaikan permasalahan limbah padat, juga bernilai ekonomi tinggi. Komoditas ekspor gitu loh. Haha.

Baiklah… ini baru mimpi, cita-cita kecil yang muncul dari mahasiswa yang (mm…) idealis. Meski bukan sesuatu yang “wah“, tapi menurut saya bagus kalau bisa terwujud. Semoga pak Anas (bupati Banyuwangi) membaca ini. hehe. Banyuwangi kudu bisa maju pak, industrinya, agar “orang2 hebat”nya tidak kemana-mana.

we are waiting for the sunrise… 🙂

sumber :

Limbah Udang = Pengawet?

Setelah ujian PP1 (Proses Pemisahan 1) atau akrabnya disebut OPD (Operasi Pemisahan Difusional) dan pembicaraan akhir modul ALF (Aliran Fluida) dengan pak Mubiar, saya membaca-baca KOMPAS yang ada di meja himpunan, dan nemu tulisan ini. Cukup menarik untuk dishare, khususnya kepada kawan2 Teknik Kimia yang mengambil kuliah Teknologi Pangan. Langsung saya salin teksnya. Check it out! 😉

***

JAKARTA, KOMPAS – Industri pengolahan limbah udang menjadi bahan baku pengawet ikan dan kosmetik mulai dikembangkan. Limbah itu berupa kepala dan kulit udang yang diolah menjadi chitin dan chitosan.

Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan Saut Hutagalung, di Jakarta, Senin (10/12), mengemukakan, udang diekspor dalam bentuk daging, sedangkan kulitnya menjadi limbah hasil perikanan yang kurang memiliki nilai ekonomis.

Namun, kini berkembang industri pengolahan limbah berupa kulit dan kepala udang untuk menjadi produk chitin dan chitosan. Chitosan merupakan salah satu bahan pengawet ikan, selain garam. Pemanfaatan chitosan dapat menekan penggunaan formalin yang berbahaya.

“Pemafaatan kulit udang menjadi chitosan tidak saja memberikan nilai tambah pada industri pengolahan, tetapi juga menanggulangi masalah pencemaran lingkungan,” ujar Saut.

Saat ini, pabrik chitosan terpusat di Banten dan Jawa Tengah. Negara yang potensial menyerap produk turunan itu yakni Jepang, Korea, dan China.

Belum Berdaya Saing

Pemilik PT. Boble Biotech Indonesia, Lim, mengungkapkan, permintaan produk chitin dan chitosan di pasar internasional mencapai 100 ton per tahun. Pabrik di Indonesia baru mampu mengekspor chitosan 2-3 ton per bulan dengan nilai total ekspor lebih dari Rp 200 juta dengan harga jual masih kurang bersaing, 20 dollar AS per kilogram (kg).

“Tingginya harga produk olahan tersebut membuat kita sulit bersaing dengan negara pesaing utama, seperti Thailand, Bangladesh, dan Kamboja,” ujarnya.

Harga jual produk yang tinggi dipicu bahan baku yang mahal. Dicontohkan, harga kulit udang Rp 6000-Rp 7000 per kg, sedangkan negara lain menjual bahan baku tersebut di harga Rp 4000-Rp 5000 per kg. (LKT)

***

Nah, tugas kita, nih, sebagai manusia2 Teknik Kimia untuk mengembangkannya. Lumayan tuh, komoditas ekspor yang cukup potensial. Lihat saja, konsumen kita Jepang, Korea, dan China. Kita sudah banyak membanggakan produk mereka (termasuk boyband), tunggu gilirannya mereka yang membanggakan produk kita. haha. 

Semoga tulisan yang sedikit ini dapat menambah wawasan dan bermanfaat! (hbb)

sumber :

  • KOMPAS. Edisi 11 Desember 2012.
Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"