Archive for the ‘ Mutiara Hadits ’ Category

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

Ilmu dan orang yang berilmu memiliki tempat yang istimewa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]
“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Begitupula Nabi saw. yang memposisikan ilmu sebagai sesuatu yang paling penting dalam beragama. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]
“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan menjadikannya paham dalam (urusan) diin/agama.” [HR. Bukhari dari Mu’awiyah ra.]
“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah ra. dan Abu Darda’ ra. berkata,

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah ra. juga berkata,

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Salah seorang imam madzhab, sang pembaharu di masanya, Imam Asy-Syafi’i rhm. berkata,

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”
“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Lantas, apa yang dimaksud dengan ilmu? Seorang imam ahli hadits pengarang Kitab Fathul-Baari bisyarah Shahih Bukhori, Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rhm., berkata,

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu: Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul-Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

***

Sumber:
– Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
– Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Advertisements

Keutamaan Majelis Dzikir

Dalam Kitab “Riyaadhush-Sholihin” bab “Keutamaan Majelis Zikir dan Ajakan untuk Menetapinya, dan Larangan Memisahkan Diri darinya (Majelis) Tanpa Uzur”, Imam Nawawi rahimahullah menyampaikan sebuah hadits,

1444. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:

“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu mempunyai beberapa malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari para ahli zikir, jikalau mereka menemukan suatu kaum yang berzikir kepada Allah ‘Azza-wajalla lalu mereka memanggil-kawan-kawannya: “Kemarilah, di sinilah ada hajatmu – ada yang engkau semua cari. Mereka lalu berputar di sekeliling orang-orang yang berzikir itu serta menaungi mereka dengan sayap-sayapnya sampai ke langit dunia. Tuhan mereka lalu bertanya kepada mereka, tetapi Tuhan sebenarnya lebih Maha Mengetahui hal itu. Firman Tuhan: “Apakah yang diucapkan oleh hamba-hambaKu itu?” Para malaikat menjawab: “Mereka itu sama memaha sucikan Engkau, memaha besarkan, memuji serta memaha agungkan padaMu – yakni bertasbih, bertakbir, bertahmid dan bertamjid. Tuhan berfirman lagi: “Adakah mereka itu dapat melihat Aku?” Malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka itu tidak melihat Engkau.”

FirmanNya: “Bagaimanakah sekiranya mereka dapat melihat Aku?” Dijawab: “Andaikata mereka melihat Engkau, tentulah mereka akan lebih giat ibadatnya padaMu, lebih sangat memaha agungkan padaMu, juga lebih banyak pula bertasbih padaMu.” FirmanNya: “Apakah yang mereka minta itu?” Dijawab: “Mereka meminta syurga.” FirmanNya: “Adakah mereka pernah melihat syurga?” Dijawab: “Tidak, demi Allah, ya Tuhan, mereka tidak pernah melihat syurga itu.” FirmanNya: “Bagaimanakah andaikata mereka dapat melihatnya?” Dijawab: “Andaikata mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih lobanya pada syurga itu, lebih sangat mencarinya dan lebih besar keinginan mereka pada syurga tadi.” FirmanNya: “Dari apakah mereka memohonkan perlindungan?” Dijawab: “Mereka mohon perlindungan daripada neraka.” FirmanNya: “Adakah mereka pernah melihat neraka itu?” Dijawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak pernah melihatnya.” FirmanNya: “Bagaimanakah andaikata mereka pernah melihatnya?” Dijawab: “Andaikata mereka pernah melihatnya, tentulah mereka akan lebih sangat larinya dan lebih sangat takutnya pada neraka itu.” FirmanNya: “Kini Aku hendak mempersaksikan kepadamu semua bahwasanya Aku telah mengampunkan mereka itu.”
Nabi s.a.w.bersabda: “Ada salah satu di antara para malaikat itu berkata: “Di kalangan orang-orang yang berzikir itu ada seorang yang sebenarnya tidak termasuk golongan mereka; hanyasanya ia datang karena ada sesuatu hajat belaka.” Allah berfirman: “Mereka adalah sekawanan sekedudukan dan tidak akan celakalah orang yang suka menemani mereka itu – yakni orang yang pendatang itupun memperoleh pengampunan pula.” (Muttafaq ‘alaih)

maasyaa Allaah. semoga kita digolongkan termasuk orang yang mencintai majelis-majelis kebaikan, baik itu majelis ilmu maupun majelis dzikir. aamiiin yaa Rabbal-‘aalamiin. 🙂

Antimainstream

Saat orang-orang tidur | kita duduk berdzikir
Saat orang-orang lebih banyak tertawa | kita lebih banyak menangis
Saat orang-orang lebih banyak membicarakan artis | kita lebih banyak membicarakan kisah orang-orang sholih

Saat orang-orang lebih senang berkumpul di tempat maksiat | kita lebih senang kumpul di majelis ilmu dan dzikir
Saat orang-orang lebih senang melakukan sesuatu yang sia-sia | kita lebih senang melakukan sesuatu yang bermanfaat

Saat orang-orang mulai tidak peduli dengan hal-hal syubhat | kita tetap bersikap wara’
Saat orang-orang mulai bergantung pada dunia | kita tetap bersikap zuhud
Saat orang-orang mulai serakah | kita tetap bersikap qona’ah
Saat orang-orang mulai senang pamer untuk mendapatkan pujian | kita tetap bersikap tawadhu’

Saat orang-orang melalaikan al-Quran dan as-Sunnah | kita tetap teguh menghidupkannya
#meski itu berat
#bagaikan menggenggam bara api
#tapi ini jaminan kita akan beruntung
#Nabi SAW yang menjamin

“Akan datang suatu masa ketika itu orang yang tetap bersabar di antara mereka di atas ajaran agamanya bagaikan orang yang sedang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu)

Rahasia Al-Fatihah

Al-Fatihah | Ummul-Quran | Sab'ul-matsani

Al-Fatihah | Ummul-Quran | Sab’ul-matsani

Ada sebuah hadits yang cukup bagus tentang keutamaan surat Al-Fatihah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada salah seorang sahabat,

“Sungguh, aku akan mengajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Quran.” Sahabat bertanya, “Surat apa itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca, “Alhamdulillaahi robbil-‘aalamiin, ar-rohmaanir-rohiim .. sampai akhir surat.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya)

Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan pula dalam surat Al-Hijr ayat 87,

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung.”

Yang dimaksud dengan tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (sab’ul matsani) adalah surat Al-Fatihah. Dinamakan “al-matsani” karena seringnya dibaca berulang-ulang.

***

Kawan, apakah kita sudah mengenal baik surat ini? ini surat yang kita baca setiap hari lho, minimal 17 kali. Ya, kita baca pada setiap rakaat sholat wajib. Kalau kita sholat sunnah : dhuha, tahajjud, rawatib, witir, malah lebih dari 17 kali kita bacanya, bisa nyampe 40 kali. *keren ya.

Nah, tapi ngomong2, sudah tahukah kita arti dari tiap2 ayat surat Al-Fatihah? atau lebih dari itu, tahukah kita makna yang terkandung dalam tiap ayatnya? in syaaAllah dengan mengetahui arti dan maknanya, kita akan lebih khusyu’ dalam shalat kita. Bagaimana tidak, ketika membaca surat ini kita seakan-akan sedang berkomunikasi dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Nggak percaya? Oke, saya kasih sesuatu nih. Sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagian hamba-Ku apa yang ia minta.
Apabila hamba-Ku berkata, ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila hamba-Ku berkata, ‘Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila hamba-Ku berkata, ‘Yang Menguasai hari pembalasan.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku memuliakan-Ku,’ atau berfirman, ‘Hamba-Ku berserah diri kepada-Ku.’ Apabila hamba-Ku berkata, ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.’ Allah berfirmanApabila hamba-Ku berkata, ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.’ Allah berfirman, ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta.'” (HR. Muslim)

Dengan mengetahui makna ini, in syaaAllah setiap membaca surat Al-Fatihah kita akan merasakan bahwa Allah memberi jawaban kepada kita. Adakah kemuliaan yang sepadan dengan dialog yang berisi penyebutan hamba dan pengabulan doa oleh Allah subhanahu wa ta’ala? Padahal kita tidak melakukan hal baru dan memberikan jasa apapun kepada-Nya. Sungguh, Mahasuci Allah, satu-satunya yang layak mendapat pujian, bahkan Dia lebih baik dari apa yang kita pujikan kepada-Nya. Wallahu a’lam.

***

saya nukil dari : Khowatir Qur’aniyah, karya Amru Khalid

Tawadhu’nya Rasulullah SAW

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang makan betis binatang, tentu akan kukabulkan undangannya.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin ‘Abdullah bin Bazi’, dari Basyar bin al Mufaddhal, dari Sa’id dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya, “Apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya?” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab,

“Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma’il, dari ‘Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yahya bin Sa’id, yang bersumber dari ‘Amrah)

***

maa syaa’Allah jauh sekali dengan kita, ya.. padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mengajarkan kita kemandirian dan hidup sederhana. kita kadang-kadang males nyucibeli makan siang titip temen, masih dibangunin kalau shubuh, makan diingetin, dan lain-lain. Ah, nyusahin orang pokoknya *hhehe.

Yuk ah, mulai sekarang kita ikuti gaya hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. 🙂

Sumber:
Syamaa’il Muhammad oleh Imam Tarmidzi

Yuk, Sempurnakan Akhlak

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. :)

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. 🙂

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari)

Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingin meneladani akhlak beliau yang sempurna. Akhlak yang sempurna adalah bekal yang amat besar bagi untuk di akhirat kelak.

Berat di Timbangan

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan dari akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Iman yang Sempurna

“Kaum mukminin yang yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Kedudukan yang baik di Hari Kiamat

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak yang baik pasti dapat mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang mulia, kendati ibadahnya lemah.” (HR. Thabrani, dengan sanad yang baik)

AKHLAK SEORANG MUSLIM

Ulama berkata tentang akhlak yang baik,

“Hendaknya seseorang banyaj merasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikannya, benar tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit berlebih-lebihan, berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, tenang, sabar, bersyukur, ridha, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidak melaknat, tidak menghina, tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak gegabah, tidak dengki, tidak kikir, berwajah ceria, mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena-Nya, ridha karena-Nya, dan murka karena-Nya.”

Maa syaa-Allah, banyak sekali ya… semoga kita bisa mengamalkan semuanya… 😀

Sabar

Di antara akhlak baik orang muslim ialah sabar. Sabar ialah menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridha Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS. Luqman: 17)

“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang  telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Begitupula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Luar biasa urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan semua itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu sangat baik baginya. Jika ditimpa cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik baginya.” (HR. Bukhari)

Tawakkal dan Percaya Diri

Tawakkal bagi seorang muslim adalah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik (Minhajul-muslim, hlm. 226)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal.” (At-Taghabun: 13)

Itsar dan Cinta Kebaikan

Di antara akhlak seorang muslim yang ia dapatkan dari ajaran islam dan keislamannya yang baik ialah itsar dan cinta kebaikan. Itsar ialah mendahulukan kepentingan saudara seakidah atas kepentingan pribadi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

“Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk dirimu niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil: 9)

Akhlak Adil dan Pertengahan

Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan keadilan dalam banyak firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl:90)

“Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS, Al-Hujurat: 9)

Seorang muslim hendaknya berbuat adil dalam segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya. Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezhaliman. Ia menjadi orang yang adil, tidak tertarik pada hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat, dan tidak cinta dunia. Oleh karena itu ia berhak mendapat cinta Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan (amanah) yang diberikan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Adapun pertengahan, maka lebih umum daripada adil, dan pertengahan inilah yang mengelola seluruh persoalan orang muslim dalam hidupnya. Pertengahan ialah jalan tengah di antara yang berlebih-lebihan dan sembrono yang keduanya merupakan sifat tercela. Pertengahan dalam ibadah ialah bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sembrono. Contoh pertengahan dalam infaq ialah tidak berlebih-lebihan dan tidak pula pelit, namun pertengahan di antara keduanya. Allah ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

Pertengahan dan istiqomah ialah saudara kembar. keduanya ialah akhlak yang mulia, karena akhlak itulah yang membuat orang muslim tidak melanggar batasan-batasan Allah ta’ala, membangkitkannya untuk melaksanakan ibadah-ibadah fardhu, dan mengajarkan kesucian kepadanya hingga ia merasa cukup dengan apa yang dihalalkan oleh Allah ta’ala.

Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang istiqomah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Sumber: Minhajul-Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

Tentang Surga (2)-end

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan gambar surga beneran ya..)

surga: tempat tinggal puncak kenikmatan dan kebahagiaan (ini bukan foto surga beneran ya.. hehe)

lanjutan dari tulisan “tentang Surga (1)“. semoga bermanfaat.

Bangunan Surga

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Nadhr dan Abu Kamil dari Zuhair, dari Said ath-Tha’I dari Abu Mudallah, yang mendengar Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ya Rasulullah! Jika melihatmu hati kami berdebar, kami pun menjadi orang yang mencintai akhirat. Jika kami meninggalkanmu, kami mengagumi dunia, dan terlena oleh anak-istri kami.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika setiap saat kalian ada dalam kondisi yang sama dengan kondisi ketika bersamaku, niscaya para malaikat akan menyalami kalian, dan mengunjungi rumah kalian. Jika kalian tidak pernah berbuat dosa, Allah subhanahu wa ta’ala akan mendatangkan para pendosa untuk diampuni.” Sahabat berkata, “Ceritakan kepada kami tentang bangunan surga!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya terbuat dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran. Orang yang memasukinya akan diberi nikmat dan takkan berputus asa. Mereka kekal takkan mati. Pakaian mereka takkan lusuh. Kemudaan mereka takkan sirna. Ada tiga orang yang doanya dikabulkan: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan orang yang dizalimi yang doanya dibawa oleh awan di langit hingga pintu-pintu langit terbuka dan Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Demi keagungan-Ku! Aku pasti menolong kalian meski waktu ini telah berlalu.”

Abu Bakar ibn Mardawih meriwayatkan hadits semacam itu dari Hasan dari Ibnu Umar yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang surga, lalu beliau menjawab, “Yang memasukinya terus hidup, takkan mati, diberi nikmat, takkan putus asa. Pakaiannya takkan rusak. Kemudaanya takkan sirna.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Bagaimanakah bangunan surga?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dindingnya dari emas, ada juga yang terbuat dari perak. Semennya dari minyak kesturi. Kerikilnya mutiara dan Yaqut. Debunya safran.”

Yazid Ibn Zari’ meriwayatkan hadits serupa dari Said ibn Qatadah dari Ala’ ibn Ziyad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga berdindingkan emas dan perak. Debunya safran. Tanahnya kesturi.”

Di dalam ash-Shahihain disebutkan sebuah hadits riwayat Az-Zuhri dari Anas ibn Malik dari Abu Dzar yang mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku masuk surga. Di dalamnya terdapat mutiara. Debunya dari minyak kesturi.” Hadits ini penggalan dari hadits mi’raj.

Para Penghuni Surga

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, ‘Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.’ Mereka diberi buah-buahan yang serupa untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci (azwaajun muthahharatun) dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Perhatikan keagungan, kejujuran, dan kebesaran penyampai berita tersebut, yang Mahakuasa menjamin kejadiannya dengan sangat mudah. Allah subhanahu wa ta’ala menggabungkan dalam berita itu kenikmatan lahiriah berupa sungai-sungai dan buah-buahan, kenikmatan jiwa berupa istri-istri suci, dan kenikmatan hati berupa pengetahuan tentang keabadian hidup untuk selamanya tanpa terputus.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air, mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran), mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab mereka.” (QS. Ad-Dukhan: 51-56)

Para penghuni surga diberi keindahan tempat tinggal, yang aman dan terhindar dari segala hal yang dibenci serta keterpenuhan anugerah berupa buah-buahan dan sungai-sungai yang mengalir. Mereka pun diberi pakaian-pakaian yang bagus, keluarga yang sempurna dan dapat saling bersua, kenikmatan paripurna bersama bidadari, makanan terlezat berikut beragam buah-buahan, terhindar dari keterputusan nikmat dan dari bahaya, serta takkan pernah mati.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Di dalam surga itu ada bidadari yang membatasi pandangan (qashiratuth tharfi), yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Seakan-akan mereka itu permata yaqut dan marjan.” (Ar-Rahman: 56-58)

Allah subhanahu wa ta’ala menggambarkan bidadari sebagai wanita yang qashiratuth tharfi pada tiga tempat di dalam Al-Qur’an. Pertama, pada ayat tersebut. Kedua, pada ayat, “Di sisi mereka ada bidadari yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi) dan jeli matanya.” (QS. Ash-Shaffat: 48). Ketiga, pada ayat, “Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharfi), dan sebaya umurnya (atrab).” (QS. Shad: 52)

***

Subhanallah, wal-hamdu lillah, wa la ilaaha illallah, wallahu akbar.. ketahuilah.. bahwa sangat besar ganjaran untuk orang-orang yang beriman dan diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jika begini, apakah kita masih mau bermalas-malasan dalam ibadah, atau sebaliknya?

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menuntun kita menuju surga-Nya. Aamiin. 🙂

Tentang Surga (1)

keindahan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan surga

keindahan dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan keindahan surga

tulisan-tulisan berikut saya kutip dari buku berjudul “Surga yang Allah Janjikan” karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. semoga kabar gembira ini dapat menjadikan kita semakin bersemangat dalam meraih ridho-Nya. 🙂

Sebuah Kabar Gembira

At-Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda, “tak seorang pun bisa masuk surga kecuali dengan stempel yang bertuliskan: ’Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Buku ini dari Allah untuk Fulan Ibnu Fulan. Isinya firman Allah subhanahu wa ta’ala: ’masukkanlah Dia ke surga tertinggi dengan dahan2 rendah’.”

Sulaiman ibn Hamzah Al-Hakim meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang beriman akan diberikan buku catatan saat hendak melewati Shirathal-mustaqim. Buku itu bertuliskan: ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Buku ini dari Allah untuk Fulan Ibnu Fulan. Isinya firman Allah subhanahu wa ta’ala: ’masukkanlah Dia ke surga tertinggi dengan dahan2 rendah’.”

Umat yang Pertama Kali Masuk Surga

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim meyebutkan hadits riwayat Thawus dari Abu Hurairah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, “Kita memang umat terakhir. Tapi kita umat pertama hadi Kiamat. Kita umat pertama yang masuk surga, meskipun mereka diberi kitab suci terlebih dahulu, dan kita diberi kitab suci belakangan.”

Umat Nabi Muhammad ini adalah umat yang lebih dahulu dibangkitkan, lebih dahulu mencapai posisi tertinggi, dan lebih dahulu di bawah naungan singgasana Tuhan. Umat ini adalah umat yang perkaranya diputuskan lebih dahulu oleh Allah. Umat yang lebih dahulu meniti Shiraath, dan umat yang lebih dahulu masuk surga.

Surga tak boleh dimasuki oleh para nabi sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam memasukinya terlebih dahulu. Surga pun dilarang dimasuki oleh uma-umat lain, sebelum umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alihi wa sallam memasukinya terlebih dahulu.

Mengenai umat pertama yang masuk surga, Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jibril mendatangiku dan memegang kedua tanganku lalu memperlihatkan kepadaku pintu surga yang dumasuki umatku.” Abu Bakar ra berkata, “Wahai Rasulullah! Aku ingin terus bersamamu sehingga aku dapat melihat pintu surga.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya engkau, Abu Bakar, adalah orang pertama yang masuk surga dari umatku”.

Ciri-Ciri Orang yang Pertama Kali Masuk Surga

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan hadits dari Abu Hurarirah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan pertama yang masuk surga berwajah seperti bulan purnama. Mereka tidak meludah, tidak beringus, dan tidak buang air besar. Bejana dan sisir mereka terbuat dari emas dan perak. Sanggul mereka terbuat dari dupa. Keringat mereka minyak kesturi. Mereka masing-masing punya dua istri yang sakung indahnya, sumsum betisnya pun dapat terlihar dari luar daging. Mereka tidak saling berselisih dan saling marah. Hati mereka satu. Mereka memuji Allah sepanjang siang dan malam.”

Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rombongan pertama yang masuk surga berwajah seperti bulan purnama, yang diwarnai oleh cahaya bintang kemintang di langit yang cerah. Mereka tidak buang air kecil dan buang air besar. Mereka tidak meludah dan beringus. Sisir mereka dari emas. Keringat mereka dari minyak kesturi. Sanggul mereka dari dupa. Istri mereka bidadari. Tingkah laku mereka seperti seorang lelaki. Perawakan mereka seperti ayah mereka, Adam yang di langit, yaitu setinggi enam puluh hasta di langit.”

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang pertama kali dipanggil ke surga di hari kiamat adalah hammadun, yaitu orang-orang yang memuji Allah baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku disodorkan tiga orang umatku yang pertama kali masuk surga dan tiga orang yang pertama kali masuk neraka. Tiga orang pertama yang masuk surga adalah orang yang mati syahid, hamba sahaya yang tak menghamba pada dunia demi ketaatan pada Allah subhanahu wa ta’ala, dan orang fakir yang enggan meminta-minta dari orang lain. Tiga orang pertama yang masuk neraka adalah penguasa zalim, orang kaya yang tak melaksanakan hak Allah pada hartanya, dan orang miskin yang sombong.”

Masya’allah, betapa besar kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan surga sebagai tempat tinggal abadi bagi mereka yang diridhoi-Nya. Semoga kita termasuk orang-orang yang diridhoi sehingga bisa masuk ke dalamnya. wallahu a’lam bishshowab.

cover buku "Surga yang Allah Janjikan" karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

cover buku “Surga yang Allah Janjikan” karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

<bersambung>

 

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

sumber ilmu

Tulisan ini hanyalah sebuah ketik ulang ringkasan firman Allah, hadits dan dalil shahih tentang keutamaan ilmu dan ulama’.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]

“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang mengamalkan amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” [HR. Muslim dari ‘Aisyah ra.]

“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam diin.” [HR. A-Bukhari dari Mu’awiyah ra.]

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]

“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan Ibnu Hibban]

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata :

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu : Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata :

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Abu Hurairah dan Abu Darda’ ra. berkata :

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah berkata :

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Imam Asy-Syafi’i ra. berkata :

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”, juga

“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Sumber :

Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Menangis Ketika Dibacakan Al-Qur’an

menangislah.. jika tidak bisa, maka paksalah agar menangis..

menangislah…

salah satu ciri mu’min yang diberikan ilmu oleh Allah ialah menangis ketika dibacakan Al-Qur’an kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra’ : 107-109)

Abdul-’Ala At-Taimi berkata :

“Barangsiapa yang memiliki ilmu dan tidak bisa membuatnya menangis maka patut dikatakan ia telah mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat baginya.”

tentang firman Allah Azza wa Jalla : “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.”, Imam Al-Qurthubi berkata :

“Dalam hal ini Allah berlebihan dalam mensifati mereka sekaligus pujian buat mereka dan merupakan hal yang wajar bagi setiap muslim yang memiliki ilmu atau sedikit dari ilmu untuk menggapai kedudukan semacam ini, merasa khusyuk, tunduk dan merendah diri ketika mendengar bacaan Al-Qur’an. Lalu beliau berkata bahwa ayat ini sebagai dalil akan bolehnya menangis dalam shalat yang timbul dari perasaan takut kepada Allah atau terhadap perbuatan maksiatnya dalam agama ini. Dan yang demikian itu tidaklah membatalkan atau mengurangi kesempurnaan shalat.”

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Az-Zumar :

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Az-Zumar : 23)

juga dalam surat Maryam :

“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58)

mengenai ayat ini, Imam Al-Qurthubi berkata : “Di dalam ayat ini terdapat bukti yang kuat bahwa ayat-ayat Allah punya pengaruh terhadap hati.”

***

terdapat pula suatu hadits dari Abdullah ibn Mas’ud ra., beliau berkata : “Rasulullah SAW. berkata: ‘Perdengarkanlah kepadaku bacaanmu!’ Akupun berkata : ‘Aku membacanya untuk Engkau sedangkan ia (Al-Qur’an) itu diturunkan kepada Engkau?’ Rasulullah SAW. menjawab : ‘Aku ingin sekali mendengar dari orang lain.’ Abdullah berkata : ‘Kemudian saya membaca surah al-Nisa’ sampai ayat

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا  (QS. An-Nisa’ 4:41).

(Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu))

Rasulullah SAW. berkata kepadaku: ‘Cukup atau berhenti.’ Aku melihat kedua mata Rasulullah SAW. bercucuran air mata. (HR. Bukhari dan Muslim)

subhaanallaah… betapa besar rasa takut yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. padahal beliau ma’shum (terjaga dari maksiat). bagaimana dengan kita, yang sangat mudah terjerumus ke dalam maksiat? semoga kita digolongkan ke dalam orang-orang yang diberikan ilmu agar selalu ingat dan memiliki rasa takut, serta khusyu’ dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. wallaahu a’lam.

Dikutip dari berbagai sumber.

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"