Archive for the ‘ Kliping ’ Category

Niat nikah

Niat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu ‘Anhu (dikutip dari “Kitab Niat”):

niat nikah

Artinya:

“Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah ‘azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam:
“Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat”

Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.

Saya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup. 

Saya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya.”

Diperoleh dari: Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan – Pustaka Islam Sunni Salafiyah KTB.pdf

Melaksanakan Sholat vs Mendirikan Sholat

Melaksanakan sholat itu berbeda dengan mendirikan sholat. Sholat sendirian di rumah belum termasuk dalam kategori mendirikan sholat. Berbeda dengan sholat di masjid berjamaah.

Sholat berjamaah di masjid termasuk kategori mendirikan sholat, karena di dalamnya terdapat banyak keutamaan ketimbang sholat sendirian. Ada usaha untuk pergi ke masjid, berdiam di masjid, ada usaha untuk mengejar ketinggalan jamaah, menunggu sholat, menyempurnakan wudhu’, merapatkan saf, mengikuti gerakan imam, dan beberapa keutamaan lain.

Dikutip dari pengajian Shahih Bukhari bersama Syekh Yusri Rusydi Jabr

***

Sumber: http://ruwaqazhar.com/2013/12/11/melaksanakan-salat-dan-mendirikan-salat.html

Nasihat Guru Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu guru dari Syekh Abul Hasan asy-Syadzili adalah Syekh al-Quthub al-Ghouts Sayyid Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al-Hasani, rodhiyAllahu ‘anhu, seorang wali Quthub saat itu pengganti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Pada suatu hari dikatakan oleh Syekh Abdus Salam kepada beliau (Syekh Abul Hasan), “Wahai anakku, hendaknya engkau semua senantiasa melanggengkan thoharoh (mensucikan diri) dari syirik. Maka, setiap engkau berhadats cepat-cepatlah bersuci dari ‘kenajisan cinta dunia’. Dan setiap kali engkau condong kepada syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu.”

Berkata pula Syekh Abdus Salam, “Pertajam pengelihatan imanmu, niscaya engkau akan mendapatkan Allah; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; Meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan itulah sifat-Nya; Dengan meliputi itulah bentuk keadaanNya.”

Di lain waktu guru beliau, rodhiyallahu ‘anhu, mengatakan, “Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : KECINTAAN demi untuk Allah; RIDHO atas ketentuan Allah; ZUHUD terhadap dunia; dan TAWAKKAL atas Allah.

Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni MENEGAKKAN fardhu-fardhu Allah; MENJAUHI larangan-larangan Allah; BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan WARO’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan”.

Asy-Syekh juga pernah berpesan kepada beliau, “Wahai anakku, janganlah engkau melangkahkan kaki kecuali untuk Allah, sesuatu yang dapat mendatangkan keridhoan Allah, dan jangan pula engkau duduk di suatu majelis kecuali yang aman dari murka Allah. Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu terhadap Allah”.

***

Pun, setelah berguru sekian lama, dan tiba saatnya berpisah, Syekh Abul Hasan meminta wasiat terakhir dari sang Guru. “Wahai Tuan Guru yang mulia, berwasiatlah untukku.”Asy-Syekh pun kemudian berkata, “Wahai ‘Ali, takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap manusia. Sucikanlah lisanmu daripada menyebut akan keburukan mereka, serta sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu (dari segala yang maksiat, pen.) dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu, maka sempurnalah Allah mengasihani dirimu.”

Lanjut asy-Syekh lagi, “Jangan engkau memperingatkan kepada mereka, tetapi utamakanlah kewajiban yang menjadi hak Allah atas dirimu, maka dengan cara yang demikian akan sempurnalah waro’mu.” “Dan berdoalah wahai anakku, ‘Ya Allah, rahmatilahlah diriku dari ingatan kepada mereka dan dari segala masalah yang datang dari mereka, dan selamatkanlah daku dari kejahatan mereka, dan cukupkanlah daku dengan kebaikan-kebaikanMu dan bukan dari kebaikan mereka, dan kasihilah diriku dengan beberapa kelebihan dari antara mereka. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah atas segala sesuatu Dzat Yang Maha Berkuasa.”’

***

FYI. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah pendiri Thariqah Syadziliyyah. Seusai berguru, dakwah beliau dimulai di Kota Syadzilah, tempat beliau dilahirkan. Kemudian beliau ber’uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah selama beberapa tahun di bukit Zaghwan. Dan kembali lagi ke masyarakat sebelum akhirnya melanjutkan dakwahnya di Tunis dan Mesir. Keadaan di Mesir sangat mendukung sehingga dakwah beliau sangat berkembang. Banyak ulama’ besar yang dihasilkan, salah satunya adalah Sulthonul ‘Ulama Sayyid asy-Syekh ‘Izzuddin bin Abdis Salam, rahimahullah. 

Hingga kini thariqah Syadziliyyah termasuk salah satu thariqah yang tetap tumbuh subur, karena dikenal sebagai thariqah yang termudah dalam hal ilmu dan amal, ihwal dan maqam, ilham dan maqal, serta dengan cepat bisa menghantarkan para pengamalnya sampai ke hadirat Allah SWT. Di samping juga terkenal dengan keluasan, keindahan, dan kehalusan doa dan hizib-hizibnya.

Terakhir, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kita istiqomah mengamalkan thariqah yang kita pegang. Sehingga kita akan sampai kepada Allah robbul ‘izzati. Wallaahu a’lam.

sumber: http://www.ashakimppa.blogspot.com/

Ketika Perut Rasulullah SAW Berbunyi

Suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallama Menjadi imam sholat. Para sahabat yang menjadi makmum di belakangnya mendengar bunyi gemercik menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh Rasulullah bergeser antara satu sama lain.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai sholat, ”Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, apakah Anda sakit?” Namun Rasulullah menjawab, ”Tidak. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.”

Mendengar jawaban ini Umar bin khatab melanjutkan pertanyaannya, ”Lalu mengapa setiap kali engkau menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…”

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya,Rasulullah pun mengangkat jubahnya.

Para sahabat amat terkejut. Terlihatlah perut Manusia yang dimuliakan Allah ini, Dan Ternyata perut Rasulullah yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil untuk menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali tubuh Rasulullah bergerak.

Umar memberanikan diri berkata, ”Ya Rasulullah! Adakah bila engkau menyatakan lapar dan tidak punya makanan, lalu kami hanya akan tinggal diam?”

Rasulullah menjawab dengan lembut,

”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu ini. TETAPI APAKAH YANG AKAN AKU JAWAB DIHADAPAN ALLAH NANTI,APABILA AKU SEBAGAI PEMIMPIN, MENJADI BEBAN BAGI UMMATNYA..??”

Para sahabat yang mendengar hanya tertegun menderaikan air mata. Rasulullah melanjutkan, ”Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah Allah buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”

SEBARKAN BERITA INI,
Betapa cintanya Rasulullah kepada umatnya.

Semoga kelak di akhirat nanti kita mendapatkan Syafa’atul Udzmah di Yaumil Qiyamah nanti..dan kita di kukuhkan keimanan serta keIslaman kita agar terus meneladani dan mencintai beliau.
اللهم اجعلنا من احباب المصطفى
يارب صل علي محمد وافتح من الخير كل مغلق
اللهم صل وسلم وبارك على الحبيب المصطفى وعلى آله وصحبه اجمعين

AAMIIN YA RABBAL ‘AALAMIIN…..

~  Habib Quraish Baharun ~

 

sumber:
http://www.majelisrasulullah.org/ketika-perut-rasulullah-berbunyi/

Syahadat Akhir Hayat

ASY-SYAIKH MUHAMMAD MUTAWALLI ASY-SYA’RAWI

Salah satu anak Syekh Mutawali Sya’rawi pernah bercerita mengenang mendiang ayahnya ketika sakaratul maut:

“Ketika malaikat maut hendak mencabut nyawa ayahku, saya, kerabat dan orang-orang yang mencintai beliau berada disisinya. Saya mendekat dan berkata, “ucapkan kalimat syahadat, yah. Ucapkanlah kalimat. syahadat, syekh”. Ayah berkata, “aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah”.
“sempurnakanlah syahadatnya, yah” pintaku “aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah” ucap ayahku masih sama, belum sempurna.

“ucapkan dengan sempurna kalimat syahadatnya, yah” pintaku ke tiga kali. Tiba-tiba kami mendapati beliau menunjuk ke salah satu arah dalam ruangan dan berkata, “dan aku bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah”.

***

dinukil dari sebuah postingan di grup Facebook “Majelis Ahbabur Rasul (MAR)”

Teladan Sempurna

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya  jasad manusia termulia :) meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim 'alaih.

kubah hijau, masjid nabawi. tempat dimakamkannya jasad manusia termulia 🙂 meski telah wafat ratusan tahun yang lalu, namun engkau tetap hidup di hati kami. allaahumma shalli wa sallim ‘alaih.

iseng buka twiter, tiba-tiba nemu kultwitan bagus, yaitu kultwit dari KH. A. Mustofa Bisri, atau yang akrab disapa gusmus (akun @gusmusgusmu <– monggo difollow). langsung saja, monggo disimak. 🙂

***

BismiLlãhirRahmãnirRahïm…

Pedoman umat Islam itu, ‘secara teori’ ialah Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. ‘Secara praktik’: PERILAKU Pemimpin Agungnya itu. Kenapa?

Nabi Muhammad SAW menerima wahyu2 Qur’an dan melaksanakannya. Nabi Muhammadlah orang pertama yang mempraktikkan Qur’an.

Sayyidatina ‘Aisyah ra menyebut “Kãna khuluquhu ‘l-Qur’an;”, Perilaku Rasulullah SAW adalah Qur’an. Istilahnya, ‘Qur’an berjalan’.

Tak peduli keturunanmu. Tak peduli kebangsaanmu. Tak peduli ilmumu. Tak perduli kedudukanmu. Tak peduli fasihmu. Tak peduli citramu..

Bila kelakuanmu bertentangan dengan perilaku Rasulullah SAW ~kalau pun engkau mengaku muslim~ bukan saja engkau muslim yang buruk;

lebih dari itu engkau telah mencemarkan agama dan nabimu. FattaqiLlãh! Takwalah kepada Allah!

Maka teruslah berusaha memahami Qur’an dan jangan berhenti mempelajari SIERAH dan SYAMAIL, riwayat hidup dan perilaku, nabimu.

Terutama bila engkau terlanjur dianggap ‘pemimpin Islam’ oleh masyarakat. Kelakuanmu tdk hanya disimak, bahkan diikuti oleh banyak orang.

Pelajari dan berusahalah mengikuti sunnah Pemimpin Agungmu yang mulia budi pekertinya (Q. 68: 4), yang lemah lembut, tidak kasar dan kejam (Q. 3: 159), yang penuh kasih sayang, penuh perhatian, dan welas asih. (Q. 9: 128).

Sekian. Wallahu a’lam. AstaghfiruLlãal ‘Azhïm filqauli bilã ‘amal. Wal’afwu minkum.

Mohon maaf, bila Anda merasa kunasihati. Sebenarnya ini aku sedang menasihati diriku sendiri; sebagaimana dlm sajakku “Nasihat Ramadan.”

***

alhamdulillaah. 🙂 semoga nasihat beliau ini bisa kita amalkan. yuk, kita jadikan Rasulullah saw  teladan utama dalam hidup kita. menjadi teladan dalam beragama, dalam hidup bermasyarakat, keluarga, dan berbangsa serta bernegara. semoga Allah memberikan kita taufik untuk mengikuti jejak beliau saw. aamiiiin. semoga bermanfaat.

Kisah Wanita Shalihah: Zuhud

Sebuah kisah penuh hikmah dari buku “Bidadari Bumi” karangan Ustadzah Halimah Alaydrus. Saya kopas untuk sekedar sharing, semoga semakin banyak orang yang bisa mengambil hikmah dari kisah ini. Selamat membaca, semoga bermanfaat.  🙂

***

bidadari-bumi

Sebagai upaya menambah materi pelajaran dari apa yang kudapat di Daruzzahro, aku mengambil les privat dari ustadzah Maryam, puteri Habib Ali Masyhur, mufti Tarim saat ini. Beliau adalah seorang ustadzah yang aktif bergerak dalam bidang dakwah dan juga mengajar di Darulfaqih, sebuah madrasah khusus puteri yang ada di Tarim ini juga. Aku belajar memahami tentang hadits-hadits Rosulullah SAW dari beliau seminggu sekali.

Sore ini beliau mengupas hadits:

“Zuhudlah (hilangkanlah dari hatimu kecintaan) terhadap harta dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah (hilangkan dari hatimu keinginan) terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya engkau akan dicintai mereka.”

Ustadzah Maryam kemudian menjelaskan padaku arti zuhud dan gambarannya dalam praktek kehidupan manusia. Seperti keteladanan Nabi Muhammad SAW yang lebih memilih untuk mengganjal perutnya dengan batu karena menahan lapar dan rela tidur di atas tikar usang daripada selalu kenyang dan hidup dalam kenyamanan. Atau seperti Nabi Isa AS yang sampai hari beliau diangkat ke langit tak pernah memiliki rumah sebagai tempat tinggal. Begitu juga para hamba-hamba Allah yang memilih untuk meninggalkan kesenangan dunia demi meraih kebahagiaan akhirat.

Aku jadi tertarik dan bertanya, “Ustadzah, masih tersisakah di zaman sekarang ini orang yang bersikap zuhud, sementara godaan untuk mementingkan dunia sedemikian beratnya?”

“Tentu masih ada” jawab beliau.

“Di dunia ini masih akan selalu ada hamba-hamba pilihan Allah yang memahami untuk apa mereka diciptakan, mereka menyadari hakikat dunia yang esok atau lusa akan mereka tinggalkan. Mereka berhasil meyakinkan diri bahwa tak ada yang akan mereka bawa ketika masuk kubur nanti kecuali kain kafan, dan bahwa dunia yang tampak menyenangkan ini hanya akan menyisakan hisab yang panjang. Mereka sungguh orang-orang yang pandai, tak mau senang sesaat namun kemudian membawa petaka yang maha berat. Tak menginginkan kebahagiaan sebentar tetapi membawa penyesalanberkepanjangan.

Sejenak beliau diam dan minum segelas air putih di hadapannya lalu beliau melanjutkan penjelasannya.

“Pertanyaanmu tadi mengingatkanku akan kejadian kemarin, ketika aku sedang berada di madrasah Darulfaqih pada jam istirahat. Kala itu aku sedang berada di ruang kantor dengan beberapa orang guru, tiba-tiba seorang anak remaja memanggilku dan memintaku mendekat, aku lalu mengajaknya menepi di sudut ruangan untuk berbicara dengannya.”

“Ustadzah, aku harap ustadzah berkenan menjadi saksi untuk ibuku.”

Aku mendengarkannya dengan lebih serius. “Saksi atas apa nak?”

“Ibuku sepanjang hidupnya tak memiliki apapun kecuali 2 buah baju. Satu ia kenakan sementara yang lain ia cuci. Ia juga hanya memiliki 2 buah kerudung, mukena, sepasang sandal, sebuah sisir, cermin, piring, al-Qur’an, tasbih dan sejadah. Dia tak memegang satu senpun uang, tak memiliki perhiasan, rumah, barang, atau perabot apapun. Di masa tuanya beliau tinggal dengan kakak tertuaku. Apabila ada yang memberinya uang maka di hari itu pula uang tersebut dishodaqohkan. Dan ketika beberapa hari yang lalu seseorang memberinya hadiah selembar kain, beliau berkata, ‘Jika umurku sampai Ramadhan nanti, jahitkan kain ini untuk baju sholatku sebagai pengganti mukena yang lama. Namun jika tidak, tolong berikan kepada orang yang lebih membutuhkannya sebelum kalian meletakkan jenazahku ke dalam kain kafan.’”

Anak remaja di hadapanku menunduk, dia menyembunyikan air matanya yang perlahan menetes sebelum akhirnya kemudian berkata,

“Ustadzah” panggilnya lirih.

“Ibuku meninggal tiga hari yang lalu… kuharap ustadzah berkenan menjadi saksi bahwa beliau telah berhasil menjalani kehidupan seperti yang diinginkannya. Karena setiap kali aku protes dengan caranya menolak harta dunia dia selalu saja berkata,

‘Tahukah kau nak?.. cita-citaku adalah termasuk kelompok orang yang diceritakan Nabi Muhammad SAW bahwa saat proses hisab masih berlangsung, dan shirothol mustaqim masih dibentangkan, ada sekelompok orang yang telah menanti Nabi di pintu-pintu surga, hingga malaikat bertanya,

‘Siapakah kalian yang berada di sini padahal proses hisab masih berlangsung dan belum selesai?’

‘Kami adalah sekelompok orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang keluar dari dunia seperti kami masuk ke dalamnya. Tak ada yang harus dihisab dari kami..’ jawab mereka.

Anakku, aku ingin keluar dari dunia ini tanpa membawa apapun kecuali sekedar yang aku perlukan untuk bertahan hidup sehingga tak harus ada proses hisab yang panjang menantiku di depan.’

Begitu selalu jawab ibuku dan dia berhasil menjalani hidupnya tepat seperti yang dia mau. Aku bercerita padamu agar engkau kelak berkenan manjadi saksi kebaikannya” kata remaja itu mengakhiri ceritanya..”

Aku takjub mendengar cerita ustadzah Maryam dan kagum luar biasa pada wanita yang beliau ceritakan itu.

Betapa sederhana hidup sesungguhnya… ya sangat sederhana, andai kita tidak menganggap penting sesuatu yang sebenarnya memang tidak penting. Harta dunia yang karenanya banyak orang berlomba hingga mau berbuat apapun untuk meraihnya, pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja.

Hidup ini sederhana saja sebenarnya.. Kita sendirilah yang membuat sesuatu menjadi lebih rumit. Cinta dunia seringkali mengelabui kita dari memahami makna hidup yang sesungguhnya.

Tarim 2000

Sumber: Bidadari Surga, 9 Kisah Wanita Shalihah, karangan Ustadzah Halimah Alaydrus

Sama dengan Iblis

Muslimedianews.com ~ Pernah suatu kali Syekh Sya’rawi berbicara dengan seseorang yang ingin membunuh orang yang sedang melakukan maksiat. Orang itu berkata. “Syekh, menurut saya orang-orang itu berada dalam maksiat, (mereka sedang berada) di dalam tempat yang banyak khamar. Saya rasa mereka harus diberi hukuman.”

Syekh Sya’rawi berkata, “Lalu apa yang akan kamu perbuat?”

“Saya akan meledakkan bom bunuh diri di tempat mereka dan tentunya hal itu akan menyelesaikan semua permasalahan ini.”

“Oke, ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Jika kamu melakukan bom bunuh diri di hadapan mereka, lalu mereka mati dalam keadaan maksiat. Mereka pergi ke mana?”

“Tentu saja mereka akan masuk ke dalam neraka.”

“Berarti tujuan kamu dan iblis sama. Memasukkan mereka orang yang bermaksiat ke dalam neraka.”

ya Allah… Ini sebuah perkataan yang sarat dengan makna. Seharusnya orang itu berdakwah kepada orang-orang yang berada dalam kemaksiatan dengan akhlak yang baik sehingga mereka bisa keluar dari kemaksiatan tersebut, bukannya malah menyegerakan mereka untuk masuk ke dalam neraka.

Oleh sebab itu, tidak ada satupun Risalah yang diutus untuk berbuat seperti ini tapi sebaliknya, Allah memerintahkan agar kita mengeluarkan orang yang berbuat salah dari kegelapan menuju cahaya.

Syekh Usama Sayyid Al-Azharia
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=I2Akg6PV0oE via Suara Al Azhar

Untukmu para Penuntut Ilmu

al-Habib 'Umar bersama para santri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

al-Habib ‘Umar bersama para santri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

Muslimedianews ~ Tarim. Dalam rangka mempererat ukhuwah islamiyyah, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Yaman pada Minggu malam (30/3/2014) mengadakan acara silaturrahim ke kediaman (maktab) al-Musnid al-Allamah al-Habib ‘Umar bin Hafidz, salah satu tokoh ulama Kota Tarim dan dai internasional.

Dalam pertemuan yang diikuti oleh sekitar 35 orang itu, Habib ‘Umar menguraikan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu (thalibul ilmi). Beberapa nasehat yang beliau sampaikan diantaranya adalah:

  1. Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. karena bisa menuntut ilmu di pesantren yang notabene Ahlussunnah wal Jama’ah dan dapat melanjutkan menimba ilmu di Kota Tarim yang merupakan kota ilmu dan ulama. Di kota yang penuh berkah ini, banyak dijumpai para habaib dan alim ulama yang sanad keilmuannya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Lebih jauh lagi, jumlah ulama di Tarim tidak hanya sebatas hitungan jari. Akan tetapi mencapai bilangan ribuan.
  2. Seorang penuntut ilmu harus rajin bangun malam (qiyamullail).
  3. Seorang pencari ilmu harus mempunyai etika yang baik (akhlaqul karimah).
  4. Urgensi menebarkan rasa cinta kasih (al-mahabbah) dan persaudaraan (al-ukhuwah) kepada seluruh umat manusia secara umum, umat Islam secara khusus dan Ahlussunnah wal Jama’ah secara lebih khusus (akhash).
  5. Menghormati ulama dan para guru (masyayikh) yang telah membimbing kita.
  6. Bagi penuntut ilmu, hendaknya selalu menjadikan al-Quran sebagai pegangan hidup, baik dengan membacanya, menghayati makna kandungannya dan merepresentasikannya dalam kehidupan nyata.
  7. Cermat (tahqiq) serta serius dalam memahami kalam ulama yang tertuang dalam teks (matan) kitab. Memahami kalam ulama secara utuh, tidak sepotong-potong. Habib Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri pernah mengatakan: “Barangsiapa yang menguasai matan (teks) sebuah kitab dengan sempurna, maka ia pasti mendapatkan berbagai disiplin keilmuan.”

Acara silaturrahim pada malam itu diakhiri dengan ijazahan sanad ilmu dari al-Habib ‘Umar bin Hafidz kemudian dilanjutkan dengan shalat ‘Isya berjamaah di Masjid Ahlul Kisa’, Darul Musthofa. (Kontributor: Muhammad Zainal Fanani, santri dan mahasiswa Univ. al-Ahqaff)

Sumber: http://www.muslimedianews.com/2014/04/nasehat-habib-umar-bin-hafidz-untuk.html#ixzz2xcRPSZZF

Go Cacao Go Indonesia

Go Cacao Go Indonesia for IChEC 2014

vote Go Cacao Go Indonesia for IChEC 2014

Bismillaah…

kawan-kawan blogger yang saya cintai 😀 .. bukan blogger aja sih, follower, yang lagi baca, ataupun yang cuma mampir..
yuk, ikut dukung ide kami, untuk memperjuangkan biji kakao sebagai komoditas unggulan Indonesia dalam menghadapi AEC 2014. AEC? cari di google aja ya.. hhe..

dukung poster kami yang berjudul Go Cacao Go Indonesia untuk memenangkan Poster Competition Indonesia Chemical Engineering Challenge (IChEC) 2014, dengan cara:

ketik: bit.ly/dukung-coklat di address bar, tekan enter, tunggu sampai keluar poster seperti di atas,
nikmati sebentar, lama juga boleh,
lalu klik tombol like (y)

Sipp!! dukungan kawan2 sangat berarti bagi kami, doakan juga semoga kami bisa menang ya.. 🙂
Kami ucapkan terima kasih banyaak..
Hatur nuhuun..
Arigatou gozaimasu..
Jazaakallaah.. semoga Allah membalas kawan2 dengan kebaikan
matur nuwuun..
dan matur tengkyuu.. hhe..

Regards,

Tim

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"