Archive for the ‘ Kaligrafi ’ Category

OA ITB 2013 | Road to MTQ MN 2013 Padang

OA atau Olimpiade Al-Quran, merupakan suatu event dua tahunan yang diselenggarakan oleh sekelompok mahasiswa, untuk menjaring mahasiswa2 yang memiliki potensi besar untuk mengikuti MTQ Nasional. OA yang telah diselenggarakan selama bertahun-tahun ini (saya lupa dari tahun berapa), selain sebagai ajang seleksi calon kontingen, juga sebagai ajang syiar Al-Qur’an di kampus ITB. Terasa sekali suasana syiarnya, ketika di beberapa sudut kampus terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari para qaarii’, belum lagi bacaan ayat2 dari para haafizh, tausyiah dari para da’i, dan lain-lain, sedangkan di hari2 biasa jarang sekali menemukan suasana seperti ini.

OA ITB 2013 kali ini, diselenggarakan untuk mempersiapkan kontingen ITB pada MTQ mahasiswa Nasional 2013 yang insya Allah akan dilaksanakan di Padang, Sumatera Barat (semoga saya bisa berangkat ke sana. aamiin..^^). Jumlah pendaftarnya cukup banyak, sekitar 250 orang. Yang datang pas hari H, biasaa lah.. pasti lebih kecil dari itu. hehe. Tapi alhamdulillah, seperti yang kami (para panitia-red) duga sebelumnya, OA kali ini berhasil menjaring beberapa mahasiswa yang memiliki potensi luar biasa. Tidak usah saya sebut lah ya, saya pribadi menilai ini adalah suatu peningkatan dari OA tahun sebelumnya. Dari sini jadi terlihat, bahwa dari tahun ke tahun, jumlah “santri” yang masuk ITB semakin bertambah (ini kesimpulan kasar ya. hehe :D). Yaa, sekasar apapun, semoga ini menjadi bekal yang baik untuk MTQ Mahasiswa Nasional tahun ini.

#roadtoITBJuaraUmumMTQPadang \ 😀 /

Begitulah, 🙂 saya sebenarnya tidak ingin cerita panjang lebar, hanya ingin share beberapa dokumentasi pribadi saya saat OA kemarin. Semoga teman2 yang tidak ikut atau tidak bisa datang dapat merasakan aura2 ke-Al-Quranan-nya.

pembukaan OA, sekaligus peresmian UPTQ Salman

pembukaan OA, sekaligus peresmian UPTQ Salman

suasana di cabang lomba tilawah dan tartil

suasana di cabang lomba tilawah dan tartil

cabang kaligrafi akhowat

cabang kaligrafi akhowat

cabang kaligrafi ikhwan

cabang kaligrafi ikhwan

cabang kaligrafi ikhwan juga

cabang kaligrafi ikhwan juga

cabang fahmil-quran (cerdas cermat al-quran)

cabang fahmil-quran (cerdas cermat al-quran)

satu lagi, sebenernya ini yang terpenting, haha.. Foto Panitaa… 😀

panitia OA ITB 2013 #narsis

panitia OA ITB 2013 #narsis

Soft-launching : Habs-Calligraphy

Seni kaligrafi islam merupakan salah satu produk budaya Islam yang patut dijaga dan diwariskan. Pengembangan dan peningkatan mutu juga diperlukan untuk memberi nilai tambah (added value) pada seni kaligrafi tersebut. Di dunia yang serba modern ini, tak ayal seni konvensional seperti kaligrafi islam perlahan mulai terkubur oleh mewahnya dunia desain digital. Oleh karenanya, Habs-Calligraphy hadir dengan mengusung konsep “harmony in difference”, yang memadukan antara dua kesenian berbeda, seni kaligrafi islam dan seni desain digital.

yang ingin disampaikan oleh Habs-Calligraphy adalah kesederhanaan dalam modernisasi, demi terciptanya keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan

produk pertama (yang (masih) sangat sederhana) dari Habs-Calligraphy

Habs-Calligraphy ini terbentuk karena hobi. Hobi saya adalah seni rupa dan desain. Jika melihat masa kecil saya, dari kecil saya suka menggambar, ketika SMP saya mulai belajar kaligrafi islam, dan sekarang saya mulai menyukai dunia desain. Akhirnya, daripada tidak terlampiaskan, saya lampiaskan saja ke sini. Bikin merek. Dan jadilah Habs-Calligraphy ini. Semoga Habs-Calligraphy bisa menghasilkan banyak karya dan menyentuh hati para penikmatnya. 🙂 (hbb)

Ragam Gaya, Kaidah Goresan dan Kriteria dalam Kaligrafi Islam

Menurut Ibnu Muqlah, dikutip dari buku ‘Seni Kaligrafi Islam’ karangan Drs. H.D. Sirojuddin AR M.Ag, bahwa bentuk kaligrafi al-Quran barulah dianggap benar jika memenuhi lima kriteria sebagai berikut:

1. Tawfiyah (tepat), yaitu huruf harus mendapatkan usapan goresan sesuai dengan bagiannya secara utuh, baik lengkungan, kejuran, dan bengkokan.

2. Itmam (tuntas), yaitu setiap huruf harus diberikan ukuran yang utuh, baik panjang, pendek, tebal dan tipis.

3. Ikmal (sempurna), yaitu setiap usapan goresan harus sesuai dengan kecantikan bentuk yang wajar, baik gaya tegak, terlentang, memutar dan melengkung.

4. Isyba’ (padat), yaitu setiap usapan goresan harus mendapat sentuhan pas dari mata pena (nib pen) sehingga terbentuk keserasian. Dengan demikian tidak akan terjadi ketimpangan, satu bagian tampak terlalu tipis atau kelewat tebal dari bagian lainnya, kecuali pada wilayah-wilayah sentuhan yang menghendaki demikian.

5. Irsal (lancar),yaitu menggoreskan kalam secara cepat dan tepat, tidak tersandung atau tertahan sehingga menyusahkan, atau mogok di pertengahan goresan sehingga menimbulkan getaran tangan yang pada akhirnya merusak tulisan yang sedang digoreskan.

Lebih lanjut, Ibnu Muqlah merumuskan semua potongan huruf dalam standar huruf alif yang digoreskan dalam bentuk vertikal, dengan ukuran sejumlah khusus titik belah ketupat yang ditemuka mulai dari atas hingga kebawah (‘amadiyyan, vertex to vertex), dan jumlah titik tersebut pusparagam sesuai dengan bentuknya, dari lima sampai tujuh titik. Standar lingkaran memiliki radius atau jarak yang sama dengan alif. Kedua standar alif dan lingkaran terebut digunakan juga sebagai dasar bentuk pengukuran atau geometri. Inilah yang disebut dengan rumusan atau kaligrafi berstandar (al-khat al-mansub) sesuai dengan kaidah yang baku dan menjadi standarisasi pedoman penulisan kaligrafi murni.

Penguasaan atas rumusan ini butuh waktu adaptasi yang cukup lama. Oleh karenanya, ketekunan untuk selalu coba dan mencoba walau kesalahan kerap kali ditemukan merupakan dinamika penguasaan khat. Usaha ini harus terus dilakukan sehingga bisa teradaptasi langsung, baik bayangan bentuk rumus, bentuk huruf, titik, skala garis, dan sebagainya. Coba perhatikan gambar berikut ini.

Adapun tata letak yang baik (husn al-wad’i), menurut Ibnu Muqlah menghendaki perbaikan empat hal, antara lain:

1. Tarsîf (rapat dan teratur), yaitu tepatnya sambungan satu huruf dengan yang lainnya. Coba perhatikan contoh berikut ini.

Contoh gaya khat sulus diatas disusun dengan kerapatan yang teratur, seimbang jarak antar huruf, sesuai dengan ukuran kaidah baku yang dijadikan standarisasi penulisan resmi.

Selanjutnya, coba perhatikan contoh gaya khat kufi diatas. Jarak, bentuk, kerapatan, kelenturan, dan potongan hurufnya disusun sama persis, simetri, dan proporsional.

2. Ta’lîf (tersusun), yaitu menghimpun setiap huruf terpisah (tunggal) dengan lainnya dalam bentuk wajar dan indah. Coba perhatikan contoh diatas, bentuk-bentuk tiap huruf gaya sulus diatas tidak ditulis dengan bentuk yang berbeda, melainkan sama semuanya, baik bentuk, tebal tipis, tinggi dan lebarnya. Keseragaman 3 huruf ha/ jim yang terletak di tengah kanan, bawah, dan kiri menimbulkan kesan keindahan atas karakter bentuk huruf tersebut. Begitu juga 4 huruf lam alif.

3. Tastîr (selaras, beres), yaitu menghubungkan suatu kata dengan yang lainnya sehingga membentuk garisan yang selaras letaknya bagaikan mistar (penggaris). Coba perhatikan contoh sulus diatas, bagaimana 3 huruf lam alif disusun sejajar. Atau lihat berikut ini.

Pada contoh gaya diatas susunan antar huruf bagian bawahnya selaras diatas garis mistar, dan rapi.

4. Tansîl (bagaikan pedang atau lembing kerena indahnya), yaitu meletakkan sapuan-sapuan garis memanjang yang indah pada tiap huruf sambung. Coba lihat contoh berikut ini.

Pada contoh khat diwany diatas, sapuan atau goresan huruf sin pada kalimat syarîfah di baris awal, kepala kaf tunggal, akhir dan tengah di baris tengah, begitu juga di baris bawah tampak memanjang seperti sabetan pedang, indah, tetapi semua bentuknya wajar.

Semua keindahan itu dapat disusun dengan proporsional, bentuk yang wajar, dan indah jika memenuhi kriteria penulisan yang diakui. Berikut ini adalah contoh kaidah khat naskah yang banyak sekali digunakan dalam penulisan manuskrip atau teks-teks resmi, yang diakui oleh khattat Indonesia pada umumnya sebagai langkah awal penguasaan kaidah huruf. Jika rumusan/ kaidah gaya huruf ini telah dikuasai, gaya huruf khat yang lain mudah dikuasai juga.

Pada bagian atas dan bawah, terdapat kesamaan bentuk kepala ‘ain mulai dari atas potongan atas, tengah, dan bawah. Kesamaam bentuk itu disebabkan kemampuan ulung khattat Muhammad Syauqy yang telah menjadi master kaligrafi Turki. Begitu juga bentuk huruf-huruf yang lainnya.

Adapun pada kolom tengah, merupakan kaidah naskhi yang terdiri dari benuk-benuk varian kaf. Sedangkan kolom tengah bagian bawah, merupakan bentuk varian huruf mim. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kriteria penulisan menjadi prinsip utama yang harus dikuasai khattat, kemudian mengaplikasikannya pada tiap gaya khat tersendiri.

Sumber : http://goresanyusuf.blogspot.com/2009/07/ragam-gaya-kaidah-goresan-dan-kriteria.html

Maqam Kaligrafi dalam Seni Rupa

Pembicaraan tentang seni kaligrafi telah sampai ke tingkat yang sangat bergemuruh. Dimulai dari sejak ayat-ayat Alquran pertama yang berkenaan dengan ‘perintah baca tulis’ sampai masa-masa paling kiwari saat aksara telah beradaptasi dan jadi bagian yang lebih integral dengan ragam garapan seni rupa moderen.

Di zaman pertengahan Islam, seni kaligrafi diajarkan di institusi-institusi pendidikan khusus yang bernama Madrasah Tahsin al-Khutut Al-‘Arabiyah sebagai subyek kurikulum wajib. Para pelajar berbakat yang prospektif dan menonjol memperoleh pelajaran spesial dari para master kaligrafi. Sejak itu, kaligrafi berkembang pesat dan dtuangkan dalam rupa-rupa garapan di aneka media untuk menyalin mushaf Alquran, naskah transaksi dan dokumen, monumen arkeologis, dekorasi interior, iluminasi perabotan rumah, sarana-sarana advertensi, dan lukisan-lukisan di muka media yang lain.

Yang lebih penting di sini, selain telah sejak lama masuk ke dalam lingkup seni rupa, kecenderungan minat dan perkembangan kaligrafi yang pesat bukan semata “pelarian” dari larangan menggambar di periode awal Islam sebagai satu-satunya alasan fiqhiyah, melainkan karena kedudukannya yang dianggap melebihi maqom seni menggambar landscape yang juga sangat populer di dunia Islam. Lebih jauh, kaligrafi diangkat sebagai art of Islamic art (seninya seni Islam) karena fungsinya sebagai bahasa visual dari ayat-ayat suci.

Kaligrafi juga sangat fleksibel dan lebih mampu menerjemahkan pemikiran abstrak (untuk itu kaligrafi disebut pula seni abstrak atau seni tawhid) untuk tujuan-tujuan apresiasi dan ekspresi. Agaknya, kaligrafi yang dirasakan oleh para khattat dan pelukis “mempunyai pelbagai kemungkinan untuk membentuk huruf-huruf sebagai penafsiran garis yang bersambungan”, memberikan daya tarik tersendiri kepada para seniman.

Huruf adalah lambang bunyi. Bila bunyi-bunyi digabungkan, maka makna pun timbul. Sebab itu pula kaligrafi disebut lisan al-yadd (lidahnya tangan), karena dengan tulisan itulah tangan berbicara. Dalam pelbagai metafora, kaligrafi juga dilukiskan sebagai kecantikan rasa, duta akal, penasihat pikiran, senjata pengetahuan, penjinak saudara dalam pertikaian, pembicaraan jarak jauh, penyimpan rahasia dan rupa-rupa masalah kehidupan, ringkasnya”kaligrafi adalah ruh di dalam tubuh” seperti dikatakan sebagian ulama. Pesan yang sama timbul dari sebuah karya seni rupa: ada sesuatu yang digoreskan, unsur garis, dan pesan-pesan.

Sangat jelas, meskipun pada awalnya sederhana, kaligrafi Islam sat ini tidak cukup dianggap hanya sebagai unsur tambal, pelengkap, atau penghias sebuah lukisan semata, melainkan telah benar-benar jadi “jasad dari ruh” seni rupa. Terlebih dengan munculnya beberapa perubahan ekstrim yang kerap hadir di lapangan kaligrafi Arab waktu-waktu terakhir (yang melahirkan kaligrafi kontemporer mengikuti arus perkembangan seni rupa kontemporer dunia).

Cara lain mendekatkan kaligrafi ke unsur (dan jadi bagian dari) seni rupa adalah kenyataan hasil usaha para mpu kaligrafi (yang dimotori Ibnu Muqlah dari Baghdad) untuk menorehkan huruf dengan senantiasa mengikuti prinsip-prinsip desain yang mencakup: kontras, balans, proporsi, ritme (irama) dan kesatuan (unity).

Dalam istilah yang sedikit berbeda, Ibnu Muqlah mengungkapkan prinsip-prinsip desain kaligrafi sebagai berikut: taufiyah (selaras), itmam (tuntas, unity), ikmal (sempurna, perfect), isyba’ (parallel, proporsi), dan irsal (lancar). Prinsip-prinsip ini sebenarnya tidak jauh dari tatacara penulisan yang ideal sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw kepada Abdullah ibn Umar:

“Wahai Abdullah, renggangkanlah jarak spasi, susunlah huruf-huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi dalam bentuk-bentunya, dan berilah setiap huruf hak-haknya.”
Ketergantungan pada prinsip geometri dan aturan keseimbangan (yang disebut al-khat al-mansub alias kaligrafi berstandar) pada gaya-gaya khat klasik seperti Naskhi, Sulus, Diwani, Farisi, Kufi, Rayhani, dan Riq’ah, hingga aliran “pembebasan” dari prinsip baku dalam gaya-gaya kontemporer (yaitu kaligrafi kontemporer tradisional, figural, ekspresionis, simbolis, dan abstrak) masih saja berada dalam pagar prinsip seni rupa, karena aturan dan teknik pengerjaannya tidak semata terletak pada teknik penulisan (atau tidak hanya selesai pada huruf), tetapi juga pada pemilihan warna, bahan tulisan, medium, hingga pena atau kuas sebagai instrumen tulisan, bahkan biasanya sampai pemilihan ayat yang harus sesuai dengan pesan-pesan lukisan secara keseluruhan.

Kesempurnaan syarat-syarat tersebut semakin menegaskan hakikat kaligrafi yang harus tampil indah fisik dan batin atau pesan-pesan yang dikandungnya, seperti dinyatakan khattat Yaqut Al-Musta’simi:

“Kaligrafi adalah ilmu ukur spiritual yang lahir via perabot kebendaan.”

Dengan penyebarannya yang meluas di kalangan seniman dan individu, atau melalui media pameran, artefak, dan lembaga-lembaga, seni kaligrafi semakin mantap menempatkan dirinya dalam nuansa seni rupa klasik dan moderen yang terus berkembang di seluruh dunia.

SUMBER : http://sirojuddinar.blogspot.com/2008/11/maqom-kaligrafi-dalam-seni-rupa.html

Menulis Kalimat Basmalah

Alhamdulillah, saya kemarin sempet browsing kemana2 dan dapet video tutorial ini. Video ini saya dapat dari website Pondok Pesantren Kaligrafi Lemka, yaitu tentang menulis kalimat basmalah dengan khat tsuluts. Lumayan buat kita-kita yang masih belajar kaligrafi, insya Allah menambah banyak ilmu. Check it out!

Menulis Basmalah 1



Menulis Basmalah 2



Menulis Basmalah 3



Semoga bermanfaat.(hbb)

Mengenal Seni Kaligrafi Islam

Ungkapan kaligrafi sebenarnya diambil dari kata Latin “kalios” yang berarti indah, dan “graph” yang berarti tulisan atau aksara. Dalam bahasa Arab tulisan indah berarti “khath” sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “calligraphy”. Jadi secara keseluruhan bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari seni menulis berdasarkan nilai-nilai estetika, dan dipadukan dengan rasa seni yang terkandung dalam hati setiap penciptanya. Oleh sebagian ulama’ disebutkan, “khath dalam tulisan itu ibarat ruh dalam diri manusia“.

Ada beberapa khat dalam kaligrafi Islam, yang sudah tertentu kaidah2nya. Antara lain ialah khat naskhi, tsuluts, diwani, diwani-jali, kufi, riq’ah, dan farisi. Masing-masing khat tersebut telah memiliki kaidah tersendiri mengenai keserasian antar hurufnya, cara merangkai, sentakan, bahkan jarak sepasi juga harus diperhitungkan dengan serasi.

contoh khat tsuluts

contoh khat diwani-jali

Dengan adanya keberagaman khat dalam kaligrafi Islam, berpadu dengan jiwa seni dari para kaligrafer, kini seni kaligrafi menjadi banyak diminati untuk digunakan sebagai dekorasi masjid, bahan lukisan, dan bahkan perlombaan seperti MTQ.

Seiring perkembangan jaman pula, seni kaligrafi tak hanya hadir dalam bentuk kaligrafi klasik, yang harus sesuai sepenuhnya dengan kaidah2 yang ada, seperti contoh di atas. Namun kini telah hadir lukisan kaligrafi, sebagai bentuk lain ekspresi seniman lukis dalam menyampaikan maksud, pesan, dan nasehatnya. Dalam lukisan kaligrafi, kaidah2 yang digunakan bebas, dan tidak terpaku pada satu khat tertentu, jadi maksud yang disampaikan bisa tergambar pula pada lekuk-lekuk huruf arab yang digoreskan di atas kanvas.

contoh lukisan kaligrafi

Nah, sekarang tinggal bagaimana seni kaligrafi ini terus dan terus berkembang, baik sebagai ungkapan estetika, maupun syiar agama Islam. So, generasi kita sekarang nih, jangan sampai lengah, jangan segan belajar kaligrafi Islam. Yok, sama2 belajar, karena “keindahan Islam itu tidak hanya dirasakan lewat ibadah, tapi juga seni“. Maju terus kaligrafer Indonesia! 🙂 (hbb)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"