Archive for the ‘ Islam ’ Category

Hakekat Rizki

Mungkin kita tak tahu dimana rizki kita..
Tapi rizki tahu dimana diri kita..
Dari lautan biru, bumi dan gunung..
Allah memerintahkannya menuju kita..
Allah menjamin rizki kita, sejak 4 bulan 10 hari kita dalam kandungan ibu..

Amatlah keliru bila rizki dimaknai dari hasil bekerja..
Karena bekerja adalah ibadah..sedang rizki itu urusanNya.

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji..
Yang mungkin esok akan ditinggal mati..
Mereka lupa bahwa hakekat rizki bukan apa yang tertulis dalam angka..
Tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rizki tak selalu terletak pada pekerjaan kita..
Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x Shafa dan Marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki bayinya..
Ikhtiyar itu perbuatan..
Rizki itu kejutan..

Dan jangan lupa..
Tiap hakekat rizki akan ditanya..
“Darimana dan untuk apa?”
Karena rizki adalah “hak pakai”
Halalnya dihisab..
Haramnya diadzab..

Maka, janganlah kita iri pada rizki orang lain…
Bila kita iri pada rizkinya, kita juga harus iri pada takdir matinya.
Karena Allah membagi rizki, jodoh dan usia ummat-Nya..
Tanpa bisa tertukar satu dan lainnya..

Jadi bertawakkal lah, ridho dengan ketentuan Allah, sehingga apapun itu kita akan merasa cukup dan penuh kenikmatan..

Wallahu A’lam..

Share via Whatsapp dari: KH. Khoirul Anwar Fathoni, Ponpes Al-Fath, Cilegon

 

sebab – akibat

Kawan2ku yang dirahmati Allah. Ketahuilah sesungguhnya pandangan mengenai ihwal sebab-akibat itu ada tiga macam:
Pertama, bahwa sebab pasti akan menghasilkan akibat. Maka jangan tertipu dengan pandangan seperti ini. Ini adalah pandangan orang2 kafir. Bilamana akibat tidak diperoleh, mereka akan berputus asa. mereka inilah yang menuhankan sebab dan meniadakan tuhan dalam setiap usaha mereka.
Kedua, bahwa sebab akan menghasilkan akibat dikarenakan kekuatan yg Allah berikan pada sebab tersebut untuk menghasilkan akibat. Pun pandangan seperti ini keliru. Ketahuilah bahwa tidak semua api dapat membakar, dan tidak semua pisau dapat memotong. Sebagaimana api tdk bisa membakar Nabi Ibrahim dan pisau tdk bisa memotong leher Nabi Ismail ‘alaihimaassalam.
Ketiga, bahwa akibat ada karena sebab yang mana akibat tersebut terjadi dengan seijin Allah swt. Ketahuilah pandangan inilah yang selamat, maka berpegang teguhlah. Berikhtiarlah untuk mengejar akibat, lalu bertawakkal. Di sinilah makna roja’ dan tawakkal. Syukur bilamana akibat baik yg didapat (sesuai harap) dan sabar bilamana tidak sesuai harap. Ketahuilah, sesungguhnya ketentuan Allah-lah yg terbaik. Karena Dia mahatahu apa yang kita tak tahu.

Wallahu a’lam.

Niat nikah

Niat nikahnya Syaikh Al-Arif Billah Ali bin Abi Bakr As-Sakron Rodliyallohu ‘Anhu (dikutip dari “Kitab Niat”):

niat nikah

Artinya:

“Saya niat menikah dan berpasangan karena cinta pada Allah ‘azza wa Jalla,dan berusaha untuk menghasilkan anak (keturunan) untuk berlangsungnya kehidupan manusia, dan saya niat karena cinta kepada Rosululloh shollallohu alaihi wasallam untuk memperbanyak hal yang membanggakan beliau, karena sabda beliau shollallohu alaihi wasallam:
“Menikahlah kalian, dan memperbanyaklah keturunan, karena sesungguhnya saya bangga dengan sebab kalian terhadap umat-umat (kelak) di hari kiamat”

Saya niat dengan pernikahan ini dan apa yang keluar dariku baik berupa ucapan dan perbuatan untuk tabaruk dengan doa anak sholih, dan mencari syafaat dengan kematian anak ketika masih kecil jika mati sebelum aku. Dan aku niat dengan pernikahan ini untuk membentengi diri dari syetan, memecah kerinduan, dan memecah bencana buruk, menundukkan pandangan, meminimalisir was-was (bisikan hati), dan saya niat memelihara kemaluan dari hal-hal yang keji.

Saya niat dengan pernikahan ini untuk menenangkan dan mententramkan jiwa dengan duduk bersama, memandang, dan saling bersenda gurau, dan untuk menenangkan dan menguatkan hati dalam beribadah. Saya niat dengan pernikahan ini untuk mengosongkan hati dari mengatur rumah, dan menanggung kesibukan memasak, menyapu, menyiapkan tempat tidur, membersihkan wadah dan mempersiapkan sebab-sebab (bekal-bekal) hidup. 

Saya niat dengan pernikahan ini seperti apa yang telah di niatkan dalam pernikahan hamba-hambaMu yang sholih dan Ulama yang mengamalkan ilmunya.”

Diperoleh dari: Kumpulan Tanya Jawab Keagamaan – Pustaka Islam Sunni Salafiyah KTB.pdf

target di bulan maulid

Saya sangat bersyukur, malam tahun baru kemarin Allah menggerakkan hati saya untuk datang ke majelis maulid dan dzikir di ponpes alfath, asuhan kyai muda KH. Khoirul Anwar. Beliau adalah salah satu murid Alhabib Zain bin Sumaith, salah satu ulama hijaz yg saya kagumi keistiqomahan dan ilmunya. Dalam acara itu juga hadir KH. Mahdi Akbar dari Kalimantan. Beliau adalah kawan dekat KH. Khoirul anwar sekaligus senior ketika nyantri dulu. Beliau yang akan membawakan tausyiah pada acara ini.
Singkat cerita, acara yg dihadiri oleh ratusan jamaah ini berlangsung sangat khidmat, mulai dari pembacaan Ratib Alhaddad, maulid Simthuddurar, sampai berakhirnya tausyiah.

Salah satu poin tausyiah yang cukup mengena adalah ketika beliau menyampaikan bahwa di bulan Maulid (Rabi’ul-Awwal) pun kita perlu punya target sebagaimana target yang kita pasang di awal bulan Ramadhan. Kalau di bulan Ramadhan kita biasa menargetkan khatam Al-Qur’an sekian kali, atau bersedekah sekian, menghafal sekian, full tarawih, dll, maka di bulan Maulid jangan sampai kalah. Apa tutur beliau? “Maka di bulan Maulid yang mulia ini, hendaknya kita targetkan di bulan ini kita bisa bermimpi bertemu Baginda Nabi saw.” MaasyaaAllaah, bergetar hati saya, begitu lalainya kita selama ini tentang arti kerinduan kepada Nabi kita Muhammad saw. “Maka hendaknya kita perbanyak shalawat kepada beliau, kita hidupkan sunnah-sunnah beliau, kita tumbuhkan di dalam hati anak2 kita tentang kerinduan dan cinta kepada sosok agung Nabi Muhammad saw.” Begitu pentingnya rasa cinta dan rindu sehingga kata beliau, jangan sampai kita melakukan amalan-amalan sunnah tapi sama sekali tidak ada kerinduan untuk bertemu dengan Rasul saw. Pernahkah kita dengar kisah Sayyidina ‘Umar, yg oleh Nabi dikatakan belum sempurna imannya sebelum cintanya kepada Nabi lebih besar daripada keluarga yg dimilikinya bahkan dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Sudahkah tumbuh rasa cinta dan rindu kepada Nabi kita saw.? Sudahkah tercermin akhlak beliau di dalam perilaku kita? Perilaku anak-anak kita? Berapa banyak sunnah yang kita hidupkan?
Allaahu Akbar, sebuah nasihat yang sangat berharga bagi saya pada khususnya dan bagi kawan2 semua. Mudah-mudahan Allah memberi kita taufik agar kita semakin dekat dengan RasulNya sehingga kita mendapatkan syafaatul-‘uzhma nanti di hari Kiamat. Aamiin.
Wallaahu a’lam, semoga bermanfaat.

Hakikat Cinta

Sungguh cinta dari manusia tidak ada apa-apanya, memang kadang indah, enak dirasa, lembut, membuat diri yakin akan kedudukan di hadapan manusia, membuat diri ini bangga, namun ketahuilah, cinta yang demikian tidak akan berarti tanpa cinta dari-Nya.

ya Allah, jangan Engkau gelincirkan hamba pada cinta selain cinta dari-Mu. jangan engkau lenakan hamba dengan cinta selain cinta untuk-Mu. dan jangan Engkau biarkan hamba menaruh cinta selain cinta kepada-Mu.

Ya Allah, cintai hamba, sehingga Engkau akan menjaga hamba dari terlena dengan kehidupan dunia.

Ya Allah, cintai hamba, sehingga Engkau ridhoi hamba untuk menjadi hamba-Mu yang shalih.

“Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran ber) agama, kecuali pada yang Dia cintai. Maka barangsiapa diberi (kesadaran ber) agama oleh Allah, berarti ia dicintai oleh-Nya.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Keutamaan Ilmu dan Ulama’

sumber ilmu

Ilmu dan orang yang berilmu memiliki tempat yang istimewa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Allah mengangkat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu di antara kalian beberapa derajat.” [QS. Al-Mujadilah : 11]
“Katakanlah : Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya yang bisa mengambil pelajaran hanya ulul-albaab.” [QS. Az-Zumar : 9]

Begitupula Nabi saw. yang memposisikan ilmu sebagai sesuatu yang paling penting dalam beragama. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.” [Muttafaqun ‘alaih]
“Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan menjadikannya paham dalam (urusan) diin/agama.” [HR. Bukhari dari Mu’awiyah ra.]
“Dan sesungguhnya keutamaan ahli ilmu dan ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama dan bintang-bintang. Dan sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang melimpah.” [HR. Abu Dawud, ini adalah lafadznya. Juga diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan Ibnu Maajah dari Abu Darda’ ra., dan riwayat ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban]

Diriwayatkan dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

“Kematian seribu ahli ibadah, yang shalat di malam hari dan shaum di siang hari jauh lebih ringan dibandingkan kematian seorang ahli ilmu yang memahami apa-apa yang dihalalkan dan diharamkan Allah.”

Diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah ra. dan Abu Darda’ ra. berkata,

“Satu bab ilmu yang kami pelajari lebih kami cintai daripada seribu rakaat shalat sunnah.”

Sufyan Bin ‘Uyaynah ra. juga berkata,

“Tidak ada yang lebih baik yang diberikan kepada orang setelah kenabian, kecuali ilmu dan pemahaman terhadap diin.”

Salah seorang imam madzhab, sang pembaharu di masanya, Imam Asy-Syafi’i rhm. berkata,

“Menuntut ilmu lebih baik daripada shalat sunnah.”
“Siapa yang menghendaki dunia, maka gapailah dengan ilmu, siapa yang menghendaki akhirat, maka gapailah dengan ilmu.”

Lantas, apa yang dimaksud dengan ilmu? Seorang imam ahli hadits pengarang Kitab Fathul-Baari bisyarah Shahih Bukhori, Al-Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rhm., berkata,

“dan yang dimaksud dengan al-ilmu: Ilmu syar’i yang bermanfaat untuk mengetahui kewajiban mukallaf dari perkara diin-nya, baik urusan ibadah maupun mu’amalah. Serta ilmu tentang Allah, sifat-sifat-Nya, dan kewajiban kita terhadap urusan tersebut, dan mensucikan-Nya dari kekurangan. Adapun semua itu berputar pada tafsir, hadits, dan fiqh.” [Fathul-Baari 1/141]

“siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memberikannya sebuah jalan ke Jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang alim dimintai ampunan dari langit dan bumi.”

***

Sumber:
– Kitab Al-Jaami’ fii Thalabil-‘Ilmi Asy-Syariif
– Mukaddimah Kifayatul-akhyar

Melaksanakan Sholat vs Mendirikan Sholat

Melaksanakan sholat itu berbeda dengan mendirikan sholat. Sholat sendirian di rumah belum termasuk dalam kategori mendirikan sholat. Berbeda dengan sholat di masjid berjamaah.

Sholat berjamaah di masjid termasuk kategori mendirikan sholat, karena di dalamnya terdapat banyak keutamaan ketimbang sholat sendirian. Ada usaha untuk pergi ke masjid, berdiam di masjid, ada usaha untuk mengejar ketinggalan jamaah, menunggu sholat, menyempurnakan wudhu’, merapatkan saf, mengikuti gerakan imam, dan beberapa keutamaan lain.

Dikutip dari pengajian Shahih Bukhari bersama Syekh Yusri Rusydi Jabr

***

Sumber: http://ruwaqazhar.com/2013/12/11/melaksanakan-salat-dan-mendirikan-salat.html

Nasihat Guru Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu buku yang berisi biografi Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili

Salah satu guru dari Syekh Abul Hasan asy-Syadzili adalah Syekh al-Quthub al-Ghouts Sayyid Abu Muhammad Abdus Salam bin Masyisy al-Hasani, rodhiyAllahu ‘anhu, seorang wali Quthub saat itu pengganti Syekh Abdul Qadir Al-Jilani.

Pada suatu hari dikatakan oleh Syekh Abdus Salam kepada beliau (Syekh Abul Hasan), “Wahai anakku, hendaknya engkau semua senantiasa melanggengkan thoharoh (mensucikan diri) dari syirik. Maka, setiap engkau berhadats cepat-cepatlah bersuci dari ‘kenajisan cinta dunia’. Dan setiap kali engkau condong kepada syahwat, maka perbaikilah apa yang hampir menodai dan menggelincirkan dirimu.”

Berkata pula Syekh Abdus Salam, “Pertajam pengelihatan imanmu, niscaya engkau akan mendapatkan Allah; Dalam segala sesuatu; Pada sisi segala sesuatu; Bersama segala sesuatu; Atas segala sesuatu; Dekat dari segala sesuatu; Meliputi segala sesuatu; Dengan pendekatan itulah sifat-Nya; Dengan meliputi itulah bentuk keadaanNya.”

Di lain waktu guru beliau, rodhiyallahu ‘anhu, mengatakan, “Semulia-mulia amal adalah empat disusul empat : KECINTAAN demi untuk Allah; RIDHO atas ketentuan Allah; ZUHUD terhadap dunia; dan TAWAKKAL atas Allah.

Kemudian disusul pula dengan empat lagi, yakni MENEGAKKAN fardhu-fardhu Allah; MENJAUHI larangan-larangan Allah; BERSABAR terhadap apa-apa yang tidak berarti; dan WARO’ menjauhi dosa-dosa kecil berupa segala sesuatu yang melalaikan”.

Asy-Syekh juga pernah berpesan kepada beliau, “Wahai anakku, janganlah engkau melangkahkan kaki kecuali untuk Allah, sesuatu yang dapat mendatangkan keridhoan Allah, dan jangan pula engkau duduk di suatu majelis kecuali yang aman dari murka Allah. Janganlah engkau bersahabat kecuali dengan orang yang bisa membantu engkau berlaku taat kepada-Nya. Serta jangan memilih sahabat karib kecuali orang yang bisa menambah keyakinanmu terhadap Allah”.

***

Pun, setelah berguru sekian lama, dan tiba saatnya berpisah, Syekh Abul Hasan meminta wasiat terakhir dari sang Guru. “Wahai Tuan Guru yang mulia, berwasiatlah untukku.”Asy-Syekh pun kemudian berkata, “Wahai ‘Ali, takutlah kepada Allah dan berhati-hatilah terhadap manusia. Sucikanlah lisanmu daripada menyebut akan keburukan mereka, serta sucikanlah hatimu dari kecondongan terhadap mereka. Peliharalah anggota badanmu (dari segala yang maksiat, pen.) dan tunaikanlah setiap yang difardhukan dengan sempurna. Dengan begitu, maka sempurnalah Allah mengasihani dirimu.”

Lanjut asy-Syekh lagi, “Jangan engkau memperingatkan kepada mereka, tetapi utamakanlah kewajiban yang menjadi hak Allah atas dirimu, maka dengan cara yang demikian akan sempurnalah waro’mu.” “Dan berdoalah wahai anakku, ‘Ya Allah, rahmatilahlah diriku dari ingatan kepada mereka dan dari segala masalah yang datang dari mereka, dan selamatkanlah daku dari kejahatan mereka, dan cukupkanlah daku dengan kebaikan-kebaikanMu dan bukan dari kebaikan mereka, dan kasihilah diriku dengan beberapa kelebihan dari antara mereka. Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah atas segala sesuatu Dzat Yang Maha Berkuasa.”’

***

FYI. Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili adalah pendiri Thariqah Syadziliyyah. Seusai berguru, dakwah beliau dimulai di Kota Syadzilah, tempat beliau dilahirkan. Kemudian beliau ber’uzlah untuk mendekatkan diri kepada Allah selama beberapa tahun di bukit Zaghwan. Dan kembali lagi ke masyarakat sebelum akhirnya melanjutkan dakwahnya di Tunis dan Mesir. Keadaan di Mesir sangat mendukung sehingga dakwah beliau sangat berkembang. Banyak ulama’ besar yang dihasilkan, salah satunya adalah Sulthonul ‘Ulama Sayyid asy-Syekh ‘Izzuddin bin Abdis Salam, rahimahullah. 

Hingga kini thariqah Syadziliyyah termasuk salah satu thariqah yang tetap tumbuh subur, karena dikenal sebagai thariqah yang termudah dalam hal ilmu dan amal, ihwal dan maqam, ilham dan maqal, serta dengan cepat bisa menghantarkan para pengamalnya sampai ke hadirat Allah SWT. Di samping juga terkenal dengan keluasan, keindahan, dan kehalusan doa dan hizib-hizibnya.

Terakhir, semoga Allah subhanahu wa ta’ala menganugerahi kita istiqomah mengamalkan thariqah yang kita pegang. Sehingga kita akan sampai kepada Allah robbul ‘izzati. Wallaahu a’lam.

sumber: http://www.ashakimppa.blogspot.com/

Belajar dengan Guru

Syeikh Ali Jum'ah

Syeikh Ali Jum’ah

Belajar dengan guru adalah metode belajar paling ideal untuk memperoleh ilmu.Mari kita simak penuturan Syeikh Ali Jum’ah (salah satu ulama’ al-Azhar, mantan mufti Mesir) dari situs “Suara Al-Azhar” berikut ini:
Ilmu yang benar harus memiliki sanad riwayah, sanad dirayah dan sanad tazkiah. Sebab ilmu bukan hanya sekedar maklumat saja tetapi ketika seseorang belajar dengan guru di sana dia akan diajari adab talaqqi, adab menyampaikan ilmu, adab jika terjadi perbedaan, adab kepada ulama dan adab percaya diri.
Orang-orang yang tidak belajar dengan guru akan mudah terjebak dengan kesalahan terutama jika terjadi perbedaan pendapat. Lebih dari itu orang-orang tersebut bisa mengatakan “Jika Kamu tidak sependapat dengan saya berarti kamu lawan saya”. Dan hal inilah yang memperlebar jurang pembatas antara umat Islam.
Mari lihat sahabat nabi dan salafus saleh. Mereka berbeda pendapat tetapi tetap saling mendengarkan dan saling menghormati.
Syekh Ali Jum’ah
Mantan Mufti Mesir
Hikmahnya adalah belajar dengan guru memiliki faedah yang amat besar. Selain belajar ilmu, kita juga belajar adab. Adab terhadap ilmu, juga adab terhadap yang punya ilmu. Saya ucapkan selamat menuntut ilmu buat kawan2 semua. 🙂

Belajar dari Batu

Entah kenapa kali ini saya tertarik untuk menulis tentang “batu”. Yes, in javanese we call it “watu”. so, ada apa dengan batu?

tidak bisa kita pungkiri barangkali, kalau Indonesia ternyata tidak hanya ada 2 musim seperti kata guru-guru geografi kita. ternyata ada banyak sekali musim. bulan april-oktober musim kemarau, oktober-april musim hujan, februari-maret musim duren, maret-entah kapan musim rambutan, termasuk juga musim batu yang sedang kita alami beberapa bulan terakhir ini.

di tempat tinggal saya sekarang-cilegon, pedagang batu sudah merajalela. coba bayangkan, beberapa bulan yang lalu saya hanya liat pedagang batu di pojok2 pasar kota. sekarang, maasyaaAllaah, jangankan di pasar, di jalanan kampung pun banyak pedagang yang buka lapak. ada yang baru buka, ada pula yang modifikasi dari lapak sebelumnya (yang tadinya lapak jahitan, sekarang jadi lapak batu, hoho, tapi ini real, bro). sampe segitunya ya, saya berani menebak ini akan sama seperti musim-musim sebelumnya. yang seumuran sama saya, pasti pernah mengalami musim ikan louhan. atau musim bunga anthurium.

saya jadi ingat jaman dulu, ngerawat ikan louhan sampe gede, pas udah gede, ternyata musimnya udah habis. yaah. waktu berlalu, tiba-tiba ikannya sakit, mungkin sudah tua. Nah, daripada mati jadi bangkai, akhirnya di”sembelih” sama ibu saya dan dijadikan pepes. hiks. maaf ya ikaan.

atau musim bunga anthurium, kita biasa menyebutnya gelombang cinta #aseek, kenapa gak gelora cinta aja ya? haha. dulu ada yang harganya sampe jutaan rupiah. lama kelamaan orang-orang banyak yang punya. yang awalnya harganya mahal, lama-lama turun. sekarang, siapa yang masih nyari bunga gelombang cinta? sepertinya sudah tidak ada.

saya kira musim batu juga akan sama. wallaahu a’lam. ketika semua orang sudah punya batu yang bagus-bagus, maka batu yang bagus-bagus akhirnya menjadi tidak spesial lagi. karena tidak spesial, harga akan turun. dan ujung-ujungnya koleksi batu kita terbengkalai begitu saja. lekang oleh zaman meski tak lapuk oleh waktu.

tapi di balik itu semua, yang terpenting adalah: jangan sampai kita terlalu terlena sehingga kita lalai. lalai apa? macem-macem. nggosok batu barangkali, sampai menunda atau bahkan lupa sholat (na’uudzu billaah). tiap ketemu orang bukan salam yang diucap, tapi “wiii bagus amat batunya bro, beli di mana?” atau “bro, gue punya batu baru nih, kalimaya asli.”  ketika biasanya setelah sholat, ngaji, malah nggosok batu lagi. masih mending, barangkali ada yang baru bangun tidur, gapake mandi, langsung batu yang diinget, gosok lagi gosok lagi, sampe lupa sarapan.

kalau kata pak kyai kemarin, jangan sampe batu digosok-gosok sampe mengkilap, bening, tapi hati kita sendiri lupa “digosok”. digosok dengan apa? dengan banyak beristighfar kepada Allah, dengan banyak dzikir, sholawat. batu ketika terkena kotoran langsung digosok biar kinclong lagi. tapi ketika kita melakukan dosa, kita lupa menggosok hati kita dengan banyak istighfar. kita sibuk menggosok batu, tapi tidak sibuk menggosok hati agar terbebas dari sifat sombong, dengki, iri, hasud, dan semacamnya. wal’iyaadzu billaah.

dari batu kita bisa mengambil pelajaran. semakin indah batu, semakin mengkilap, semakin langka, semakin dicintai orang bukan? dan harganya pasti tinggi. sama dengan hati kita, semakin bening, semakin rutin dibersihkan dari dosa-dosa, semakin khusyu’, akan semakin dicintai, insyaaAllaah. bukan hanya oleh orang atau makhluk, tapi juga Yang Menciptakan hati. 🙂

Wallaahu a’lam.

Batu kalimaya termasuk salah satu yang menurut saya paling indah. Maha Suci Allah yang menciptakan batu jenis ini beserta semua warnanya. Tidakkah kita berfikir bahwa batu ini diciptakan agar kita semakin memahami akan keagungan-Nya? (sumber: www.embacincin.com)

Batu kalimaya termasuk salah satu yang menurut saya paling indah. Maha Suci Allah yang menciptakan batu jenis ini beserta semua warnanya. Tidakkah kita berfikir bahwa batu ini diciptakan agar kita semakin memahami akan keagungan-Nya? (sumber: http://www.embacincin.com)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"