Sholat Khusyu’, Bagaimana Caranya?

Inilah-Tuntunan-Rasulullah-Agar-Memperoleh-Sholat-Khusyu

sholat khusyu’ adalah impian semua orang mukmin. dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sholat itu adalah mi’raj nya orang-orang mukmin, yang artinya seolah kita bertemu dan berhadapan langsung, bahkan berkomunikasi dengan Sang Pencipta yaitu Allah subhanahu wa ta’ala, maasyaaAllah.

banyak sekali dalil baik di Al-Quran maupun as-Sunnah agar kita sholat dengan khusyu’. Seperti yang tertera di surah Al-Mukminun,

“Sungguh beruntunglah mereka yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya.” (QS. Al-Mukminun 23:1-2)

dan juga dalam hadits, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ingatlah kematian dalam sholatmu. karena sesungguhnya seseorang jika mengingat kematian di dalam sholatnya, niscaya dia akan bermaksud untuk memperbaiki sholatnya. dan lakukanlah sholat sebagaimana sholat seseorang yang tidak pernah mengira bahwa dia akan dapat melakukan selain sholat yang dilakukannya itu.” (HR. Thabrani)

dalam hadits yang lain,

“Jika engkau telah berdiri di dalam sholatmu, maka lakukanlah sholat sebagaimana sholat seorang yang akan meninggalkan dunia.” (HR. Ahmad)

“Apabila kalian melaksanakan sholat, maka janganlah terburu-buru dan datangilah sholat tersebut dengan tenang dan penuh hormat.” (HR. Bukhari)

Hujjatul-Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, menyebutkan enam aktivitas batin yang dapat menyempurnakan makna sholat, yaitu (1) kehadiran hati, (2) kefahaman, (3) ta’zhim, atau mengagungkan Allah, (4) haibah, atau segan, (5) roja’, atau berharap, dan (6) malu.

hal senada juga disampaikan oleh al-Habib Umar bin Hafizh rahimahullah, seorang ‘ulama besar abad ini yang sangat masyhur dan memiliki banyak murid di Indonesia dan belahan dunia lainnya. beliau menjabarkan enam point dari imam Al-Ghazali sebagai berikut,

  1. Hudurul Qolb atau hadirnya hati. hadirnya hati harus di latih terus-menerus. bila hati kemana-mana, paksa untuk kembali lagi, Insya Allah, hati akan terbiasa hudhur.
  2. Tafahhumul Ma’ani atau memahami arti atas apa yang kita katakan dan sedang kita lakukan.
  3. Al-ijlal watta’dzhim atau adanya rasa mengagungkan dan memuliakan kepada Allah SWT. Terkadang kita hadir hati, mengetahui arti, tapi tanpa pengagungan hal ini seperti seseorang yang memahami perkataan anak kecil tapi tidak terlalu menghiraukannya.
  4. Al-ijlal watta’dzhim ma’al Haibah. Hendaknya rasa memuliakan dan pengagungan tadi di iringi juga dengan rasa haibah (kewibawaan). Haibah adalah rasa takut yang timbul karena rasa mengagungkan. Takut sholat kita tidak di terima oleh Allah.
  5. Ar-Roja’ atau mengharap diterimanya sholat kita. Kuatnya harapan bahwa sholat kita di terima oleh Allah juga menjadi sebab dekatnya kita pada Allah serta mengharapkan mendapat balasan yang agung.
  6. Haya’ atau malu, yakni adanya rasa malu bahwasannya kita tidak menunaikan hak Allah dengan semestinya.

Lebih lanjut, al-Habib Umar mengatakan, “Jika enam kriteria ini terdapat padamu, maka sholatmu bisa di katakan sholat yang khusyu’.”

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang khusyu’ dalam sholat. Aamiin yaa Robbal-‘aalamiin.

Wallahu A’lam Bishawab.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s