Nafkah Waktu

Sejak awal memasuki kehidupan rumah tangga alias menikah, saya berkomitmen untuk memprioritaskan waktu bersama keluarga di atas kepentingan lain. Semisal keluar dengan teman-teman kantor, atau sekedar keluar sendiri untuk “cari angin”.

Bagi saya, ada yang tak kalah penting dari kewajiban kita sebagai suami dalam memberi nafkah kepada istri dan keluarga. Selain nafkah lahir dan nafkah batin, ada nafkah waktu. Yap, kita perlu menginfakkan waktu kita untuk keluarga.

Nafkah lahir saya yakin teman-teman para suami ini sudah pada tahu. Bagi saya, nafkah lahir adalah nafkah yang terlihat secara fisik, misal kebutuhan dasar rumah tangga seperti tempat tinggal, makan, pakaian, pulsa, kuota internet, hape, dll.

Nafkah batin, para suami juga udah pada jago lah pasti. Hehe. Bagi saya, nafkah batin ialah peran suami dalam menghadirkan keharmonisan, memberikan ilmu dan teladan, serta menjaga nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupan berkeluarga.

Terakhir, nafkah waktu. Untuk nafkah jenis yang satu ini, barangkali tidak semua suami beruntung bisa memberikan ini untuk keluarganya. Saya menyadari banyak di luar sana teman-teman kita, para suami, yang harus berkorban menjemput rizkinya sampai ke luar negeri atau luar kota dan hanya bisa berjumpa keluarganya seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau bahkan lebih ekstrem lagi setahun sekali.

Oleh karenanya, kita yang bisa pulang tiap hari dan berkumpul bersama keluarga ini, musti banyak bersyukur. Karena nafkah waktu ini, bagi saya adalah yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Yaitu kehadiran kita sebagai suami dan sebagai ayah dari anak-anak kita untuk sekedar bercengkrama, memandangi wajah-wajah lucu mereka dari dekat, mengelus-elus lembut pipinya, mengambilkan mainan yang nggelundung di kolong kasur, nemenin anak-anak main, dan hal-hal positif lainnya. Nafkah waktu

Tapi, tapi, tapi, jaman sekarang kan ada video call? Bisa komunikasi, bisa lihat wajah, dll.?

Ya, nafkah lahir bisa tetap diberikan meski kita jauh. Nafkah batin, mungkin susah, meski ada yang bisa. Nafkah waktu, tidak akan bisa. Kita barangkali bisa bercanda dengan anak-anak kita lewat video call, tapi kita tidak merasakan kedekatan yang hakiki, saat mereka mungkin pengin nabok kita, atau kita pengin cubit pipi mereka karena gemes. Saya biasa nyebutnya “nabok online“, “cubit online“, atau yang lebih sering “cilukbaa online“. Hahaha. Bagaimanapun, itu semua tidak bisa mewakili aktivitas dan makna dari “nabok beneran“, “cubit beneran“, “dan cilukbaa beneran“.

Jadi, buat para suami yang beruntung bisa memberikan nafkah waktunya untuk keluarga, bersyukurlah dan maksimalkan. Bagi yang belum dapat kesempatan, bersabar ya, semoga Allah menjaga keluarga teman-teman dan kita semua. ^^

Anyway, ini opini pribadi saya, bagaimana menurut teman-teman?

***

One thought on “Nafkah Waktu

  1. Setuju bib, sepertinya akupun akan melakukan hal demikian, cuman gag kalah penting yang life balanced. Heheheh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s