Curhatan Istri: Suami-Pria yang pernah Mandiri

Banyak perbedaan antara seorang lelaki yang masih membujang dan telah beristri. Bedanya dulu dia sendiri, sekarang ada yang menemani. Tentu saja bukan itu maksudnya. Coba lihat pada diri masing-masing para lelaki ketika masih kuliah, hidupnya sederhana atau lebih tepat ala kadarnya. Ya kadang makan agak enak atau tidak makan. Apa saja bisa masuk ke dalam perut. Kehidupan seorang lelaki yang masih kuliah atau bahkan sudah bekerjapun tapi belum menikah membuatnya berjuang sendiri. Perjuangan untuk mencari makan ke warung, bersih-bersih kamar sendiri, mencuci, dan menyetrika baju sendiri (seringnya baju hanya dilipat dan ditaruh di bawah kasur biar rapi sendiri). Ya itulah perjuangan bagi seorang lelaki yang masih sendiri. Tapi kehidupan yang seperti itu seketika berubah drastis jikalau dia sudah menikah. Sepulang kerja, si suami sudah disambut oleh bau masakan yang enak. Dilahapnya dengan senyuman lebar tanpa susah payah pergi ke warung. Saat dia membuka lemari, semua pakaian sudah tersedia rapi dan wangi, padahal baru tadi pagi dilemparnya di keranjang pakaian kotor. Dulunya sebelum beristri, buka lemari, pakaian bersih (tidak ada di lemari), semuanya menumpuk di keranjang pakaian kotor. Walhasil baju dilumuri literan minyak wangi. Betapa bahagianya kan seorang suami?

Tentu saja hal ini juga terjadi pada suami saya. Saya yakin, suami saya dulunya pernah mandiri. Semuanya dikerjakan sendiri, mulai pekerjaan rumah sampai kebutuhan diri. Tapi sekarang setelah beristri, makanpun minta disiapin. Ya itu karena saya selalu menyediakan kebutuhannya setiap hari. Sampai tempat bajunya pun di lemari, dia tidak tahu. Mungkin ini suatu pembelajaran bagi saya bahwa suami sudah sepatutnya diajak terlibat dalam urusan rumah tangga. Kadang suami yang menyapu, mencuci, dan sedikit membantu memasak. Sesungguhnya kewajiban istri bukanlah seperti pekerja rumah tangga yang menyiapkan segalanya. Ini semua terhitung sedekah bagi istri, ketika ia membantu suaminya dalam mengatur urusan rumah tangga. Suami memberi nafkah berupa makanan kepada istri dan anak-anaknya, bukanlah beras dan lauk pauk mentah yang dimaksud. Sejatinya memberi nafkah makan adalah menyiapkan makanan yang siap disantap oleh istri dan anaknya. Artinya, si suami belanja kebutuhan pangan dan memasaknya, kemudian menyediakannya kepada keluarganya. Pun ketika suami memberi nafkah pakaian, itu bukan sekedar membelikan baju di toko, tapi membuatnya siap dipakai oleh istri dalam keadaan bersih dan rapi yang telah dicuci dan disetrika.

Di dalam agama Islam, kewajiban istri ialah memenuhi kebutuhan batin (seksual) suami dan menaati suami (yang sesuai dengan syariat). Namun, suatu kesempurnaan bagi seorang istri tatkala ia dapat menghormati suami, menyenangkan suami, dan membantu dalam urusan rumah tangga. Tak salah jika kita meneladani bagaimana rumah tangga putri Rasulullah ﷺ , yaitu Sayyidah Fathimah ra. Ialah wanita yang akan menjadi pemimpin para wanita kelak di akhirat. Sayyidah Fathimah ra. hidup dengan sederhana dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tangan mulianya sendiri. Beliau niatkan semuanya ibadah karena Allah ﷻ. Oleh karena kesabarannya dan kelelahannya dalam mengurus rumah tangga, beliau menjadi wanita termulia di sisi Allah ﷻ. Dan sudah sepatutnya bagi kita para wanita akhir zaman untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah kita, meski hanya di dalam rumah untuk mengurus rumah tangga. Sebagian ulama menyatakan bahwa wanita tidak diwajibkan untuk sholat di masjid, karena kamarnya lebih afdhol. Di dalam rumahnya terdapat ridho Allah ﷻ pada suaminya. Ketika seorang wanita yang menjadi istri sholehah bagi suaminya, maka dekatlah ia dengan surga Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Jika seorang wanita telah melaksanakan sholat fardhunya, menjalankan puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan dia taat kepada suaminya, maka dia akan masuk ke dalam surga” (HR Bazzar dan Ahmad). Oleh karena itu, di dalam rumah bagi wanita ialah tempat yang paling afdhol untuk ia beribadah mencari ridho Allah ﷻ.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thoriq.

Mrs. Habibi Alisyahbana

Advertisements
  1. MaasyaaAllaah, istriku … ❤ :')

    • kusuma
    • May 8th, 2016

    subhanAllah…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"

%d bloggers like this: