Menjemput Jodoh

Hidup adalah sebuah pencapaian diri. Sedari dulu saya beranggapan bahwa hidup adalah pencapaian terhadap akademik, karier, dan pernikahan. Artinya, ketika sudah selesai sekolah, lalu kuliah, kerja, dan yang paling dinantikan ialah menikah. Untungnya bukan hanya saya seorang yang mempunyai cita-cita seperti ini, tapi semua orang pun melakukan hal demikian. Tentu saja yang demikian tidaklah salah. Namun, ada tahapan yang terkadang salah langkah. Dan yang pasti yang menjadi bahan tulisan kali ini adalah menikah. Sering kali dalam masa penantian (jodoh), kita disibukkan oleh “siapa dia” dan “cita-cita semu”. Maksud dari siapa dia adalah kita terlalu fokus dengan sosok yang kita idamkan. Dia harus berparas rupawan, berprestasi, berperilaku baik, dan kesempurnaan lainnya. Ini ada kaitannya dengan cita-cita semu yang bermakna bahwa kita mengharapkan jodoh yang sedemikian luar biasa tapi tak diiringi dengan usaha kita untuk menjadi luar biasa. Tapi, jangan salah sangka. Ada saja orang yang terlihat tak ada usaha dan kurang menawan, tetapi mendapat jodoh yang super sekali. Mungkin itu saya, hehe..

Ada cara untuk menjemput jodoh ialah dengan melupakan jodoh itu sendiri. Kita sibukkan diri untuk memperbaiki kualitas diri yang mencakup keimanan, ketaqwaan, dan ilmu. Berbicara keimanan dan ketaqwaan adalah memperindah hubungan kita dengan Allah ﷻ. Alangkah baiknya sebelum kita mengikatkan diri kepada seseorang, maka kita sambungkan tali cinta kepada Allah ﷻ dan Rasulullah  ﷺ terlebih dahulu. Dan yang terpenting kita mengaji (red duduk bersama guru mengkaji kitab) untuk meningkatkan pengetahuan ilmu kita, khususnya mengenai pernikahan. Kelak sebagai imam, kita sudah mampu membimbing keluarga dengan baik sesuai yang disyari’atkan. Kita sudah tahu benar mengenai hak dan kewajiban antara suami-istri dan yang berkaitan dengan rumah tangga lainnya. Bukannya kita sibuk kepoin si doi atau sibuk meracik jurus mendekatinya. Sudahlah serahkan segalanya kepada Allah ﷻ. Sudah tertulis namanya (jodoh), saat kita dulu ditiupkan ruh di dalam kandungan ibu. Jadi jangan khawatir tentang siapa dan kapan. Tugas kita adalah mempersiapkan diri kita sebaik mungkin, karena jodoh adalah cerminan diri. Tentu kita tidak mau, jodoh kita orang yang malas mandi seperti kita saat ini. Tapi, poin nya bukan di sana. Jodoh memang cerminan diri kita, tapi cerminan dalam kadar keimanan dan ketaqwaan kita. Ingin jodoh yang sholehah? Maka sholehkan dulu dirimu.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"

%d bloggers like this: