Archive for April, 2016

Curhatan Istri: Suami-Pria yang pernah Mandiri

Banyak perbedaan antara seorang lelaki yang masih membujang dan telah beristri. Bedanya dulu dia sendiri, sekarang ada yang menemani. Tentu saja bukan itu maksudnya. Coba lihat pada diri masing-masing para lelaki ketika masih kuliah, hidupnya sederhana atau lebih tepat ala kadarnya. Ya kadang makan agak enak atau tidak makan. Apa saja bisa masuk ke dalam perut. Kehidupan seorang lelaki yang masih kuliah atau bahkan sudah bekerjapun tapi belum menikah membuatnya berjuang sendiri. Perjuangan untuk mencari makan ke warung, bersih-bersih kamar sendiri, mencuci, dan menyetrika baju sendiri (seringnya baju hanya dilipat dan ditaruh di bawah kasur biar rapi sendiri). Ya itulah perjuangan bagi seorang lelaki yang masih sendiri. Tapi kehidupan yang seperti itu seketika berubah drastis jikalau dia sudah menikah. Sepulang kerja, si suami sudah disambut oleh bau masakan yang enak. Dilahapnya dengan senyuman lebar tanpa susah payah pergi ke warung. Saat dia membuka lemari, semua pakaian sudah tersedia rapi dan wangi, padahal baru tadi pagi dilemparnya di keranjang pakaian kotor. Dulunya sebelum beristri, buka lemari, pakaian bersih (tidak ada di lemari), semuanya menumpuk di keranjang pakaian kotor. Walhasil baju dilumuri literan minyak wangi. Betapa bahagianya kan seorang suami?

Tentu saja hal ini juga terjadi pada suami saya. Saya yakin, suami saya dulunya pernah mandiri. Semuanya dikerjakan sendiri, mulai pekerjaan rumah sampai kebutuhan diri. Tapi sekarang setelah beristri, makanpun minta disiapin. Ya itu karena saya selalu menyediakan kebutuhannya setiap hari. Sampai tempat bajunya pun di lemari, dia tidak tahu. Mungkin ini suatu pembelajaran bagi saya bahwa suami sudah sepatutnya diajak terlibat dalam urusan rumah tangga. Kadang suami yang menyapu, mencuci, dan sedikit membantu memasak. Sesungguhnya kewajiban istri bukanlah seperti pekerja rumah tangga yang menyiapkan segalanya. Ini semua terhitung sedekah bagi istri, ketika ia membantu suaminya dalam mengatur urusan rumah tangga. Suami memberi nafkah berupa makanan kepada istri dan anak-anaknya, bukanlah beras dan lauk pauk mentah yang dimaksud. Sejatinya memberi nafkah makan adalah menyiapkan makanan yang siap disantap oleh istri dan anaknya. Artinya, si suami belanja kebutuhan pangan dan memasaknya, kemudian menyediakannya kepada keluarganya. Pun ketika suami memberi nafkah pakaian, itu bukan sekedar membelikan baju di toko, tapi membuatnya siap dipakai oleh istri dalam keadaan bersih dan rapi yang telah dicuci dan disetrika.

Di dalam agama Islam, kewajiban istri ialah memenuhi kebutuhan batin (seksual) suami dan menaati suami (yang sesuai dengan syariat). Namun, suatu kesempurnaan bagi seorang istri tatkala ia dapat menghormati suami, menyenangkan suami, dan membantu dalam urusan rumah tangga. Tak salah jika kita meneladani bagaimana rumah tangga putri Rasulullah ﷺ , yaitu Sayyidah Fathimah ra. Ialah wanita yang akan menjadi pemimpin para wanita kelak di akhirat. Sayyidah Fathimah ra. hidup dengan sederhana dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan tangan mulianya sendiri. Beliau niatkan semuanya ibadah karena Allah ﷻ. Oleh karena kesabarannya dan kelelahannya dalam mengurus rumah tangga, beliau menjadi wanita termulia di sisi Allah ﷻ. Dan sudah sepatutnya bagi kita para wanita akhir zaman untuk senantiasa memperbanyak amal ibadah kita, meski hanya di dalam rumah untuk mengurus rumah tangga. Sebagian ulama menyatakan bahwa wanita tidak diwajibkan untuk sholat di masjid, karena kamarnya lebih afdhol. Di dalam rumahnya terdapat ridho Allah ﷻ pada suaminya. Ketika seorang wanita yang menjadi istri sholehah bagi suaminya, maka dekatlah ia dengan surga Allah ﷻ. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, “Jika seorang wanita telah melaksanakan sholat fardhunya, menjalankan puasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan dia taat kepada suaminya, maka dia akan masuk ke dalam surga” (HR Bazzar dan Ahmad). Oleh karena itu, di dalam rumah bagi wanita ialah tempat yang paling afdhol untuk ia beribadah mencari ridho Allah ﷻ.

Wallahul muwafiq ila aqwamith thoriq.

Mrs. Habibi Alisyahbana

Advertisements

Menjemput Jodoh

Hidup adalah sebuah pencapaian diri. Sedari dulu saya beranggapan bahwa hidup adalah pencapaian terhadap akademik, karier, dan pernikahan. Artinya, ketika sudah selesai sekolah, lalu kuliah, kerja, dan yang paling dinantikan ialah menikah. Untungnya bukan hanya saya seorang yang mempunyai cita-cita seperti ini, tapi semua orang pun melakukan hal demikian. Tentu saja yang demikian tidaklah salah. Namun, ada tahapan yang terkadang salah langkah. Dan yang pasti yang menjadi bahan tulisan kali ini adalah menikah. Sering kali dalam masa penantian (jodoh), kita disibukkan oleh “siapa dia” dan “cita-cita semu”. Maksud dari siapa dia adalah kita terlalu fokus dengan sosok yang kita idamkan. Dia harus berparas rupawan, berprestasi, berperilaku baik, dan kesempurnaan lainnya. Ini ada kaitannya dengan cita-cita semu yang bermakna bahwa kita mengharapkan jodoh yang sedemikian luar biasa tapi tak diiringi dengan usaha kita untuk menjadi luar biasa. Tapi, jangan salah sangka. Ada saja orang yang terlihat tak ada usaha dan kurang menawan, tetapi mendapat jodoh yang super sekali. Mungkin itu saya, hehe..

Ada cara untuk menjemput jodoh ialah dengan melupakan jodoh itu sendiri. Kita sibukkan diri untuk memperbaiki kualitas diri yang mencakup keimanan, ketaqwaan, dan ilmu. Berbicara keimanan dan ketaqwaan adalah memperindah hubungan kita dengan Allah ﷻ. Alangkah baiknya sebelum kita mengikatkan diri kepada seseorang, maka kita sambungkan tali cinta kepada Allah ﷻ dan Rasulullah  ﷺ terlebih dahulu. Dan yang terpenting kita mengaji (red duduk bersama guru mengkaji kitab) untuk meningkatkan pengetahuan ilmu kita, khususnya mengenai pernikahan. Kelak sebagai imam, kita sudah mampu membimbing keluarga dengan baik sesuai yang disyari’atkan. Kita sudah tahu benar mengenai hak dan kewajiban antara suami-istri dan yang berkaitan dengan rumah tangga lainnya. Bukannya kita sibuk kepoin si doi atau sibuk meracik jurus mendekatinya. Sudahlah serahkan segalanya kepada Allah ﷻ. Sudah tertulis namanya (jodoh), saat kita dulu ditiupkan ruh di dalam kandungan ibu. Jadi jangan khawatir tentang siapa dan kapan. Tugas kita adalah mempersiapkan diri kita sebaik mungkin, karena jodoh adalah cerminan diri. Tentu kita tidak mau, jodoh kita orang yang malas mandi seperti kita saat ini. Tapi, poin nya bukan di sana. Jodoh memang cerminan diri kita, tapi cerminan dalam kadar keimanan dan ketaqwaan kita. Ingin jodoh yang sholehah? Maka sholehkan dulu dirimu.

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"