Archive for April, 2014

Minum Spirulina Mahmud dan Menunggu Sidiq

bismillah.. semoga kita bisa meneladani bocah ini.. 🙂 keren pisan, bro!

Catatan Dahlan Iskan

Senin, 21 April 2014
Manufacturing Hope 124

Dua anak muda ini gigihnya bukan main. Mahmud dan Sidiq. Mahmud baru lulus dari Jurusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan Sidiq masih kuliah di Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang.

Dua bulan lalu, ketika saya bermalam di satu desa di pinggir hutan di pedalaman Wonogiri, Jawa Tengah, Mahmud nguber saya sampai ke desa itu. Senja amat mendung. Hujan renyai-renyai tidak kunjung berhenti. Di suasana senja yang dingin itu, Mahmud menyusul saya ke masjid desa.

Meski langit sudah gelap, saat magrib ternyata masih lama. Mahmud membuka laptopnya. Dengan berapi-api dia mendesak saya. “Pemerintah harus turun tangan. Jangan mengabaikan penemuan saya ini,” katanya.

Saya dengarkan terus penjelasannya yang bertubi-tubi itu. Ditonton orang-orang desa yang siap-siap berjamaah Magrib. Di mata yang mendengarkan penjelasan itu, pemerintah terkesan jelek sekali. Tidak membantu dan mengakomodasi penemuan seperti ini.

“Ini sangat menguntungkan, Pak Dahlan,” ujarnya. “Ayo, BUMN bantu dengan…

View original post 738 more words

Advertisements

Menjadi Manusia Terkaya…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Jauhilah hal-hal yang diharamkan maka kau menjadi manusia yang paling taat beribadah. Dan relalah atas apa yang telah diberikan oleh Allah untukmu, maka kau menjadi manusia terkaya… (Hadits riwayat at-Tirmidzi dan Ahmad, dari Abu Hurairah ra.)

Sang muallif kitab, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith, meletakkan hadits ini dalam bab Wara’. Beliau ingin menyampaikan bagaimana sifat wara’ itu dapat menjadikan seseorang semakin taat dalam beribadah dan memudahkan untuk bersyukur. 🙂

Wallaahu a’lamu.

______

Sumber: Thariqah ‘Alawiyah: Jalan Lurus menuju Allah, Jilid 2, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith. Diterjemahkan dari “al-Manhaj as-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah as-Sadah al-Ba’Alawi” oleh Ust. Husin Nabil. Penerbit Nafas, Tangerang Selatan.

Hikmah dari Sesepuh

Pada tanggal 28 Maret 2014, prodi Teknik Kimia ITB mengundang beberapa alumni yang telah atau sedang berkarya di salah satu perusahaan terbaik Indonesia, yaitu PT. Badak LNG. Para alumni ini berasal dari angkatan yang berbeda-beda. Beliau-beliau diundang untuk memberikan kuliah keprofesian Teknik Kimia di bidang LNG. Dari sekian banyak alumni yang diundang, salah satunya adalah pak RIJ. Soetopo. Menurut saya beliau sangat spesial, di antaranya adalah karena beliau mantan Dirut PT. Badak LNG yang pertama. Jadi, pada jaman beliaulah PT. Badak mulai dibangun. Mulai eksplorasi reservoir gas, babat hutan, ngebor, memasang pipa, mendirikan pabrik, sampai distribusi gas sehingga sampai kepada end user yang biasanya adalah pembangkit-pembangkit listrik. Bisa kita bayangkan seluas apa ilmu teknik kimia beliau, sesering apa beliau dihadang masalah, dan sekenyang apa beliau akan pengalaman2 dalam bekerja.

Oke, itu sekilas tentang pak RIJ. Soetopo. Yang ingin saya share di sini adalah salah satu hikmah kehidupan pak RIJ yang sempat saya dokumentasikan dalam notes HP saya. Kata beliau, ini adalah hikmah dari berpuluh2 tahun beliau menjalani segala macem hiruk-pikuk kehidupan. Saya jadi terpikir, mengapa tidak saya share saja kepada teman2? Tentu akan menjadi pelajaran bagi kita, generasi muda yang -mau tidak mau- akan menggantikan perjuangan generasi tua.

Bait-bait hikmah itu adalah,

Orang yang paling celaka adalah orang yang kaya tapi bodoh,
Orang yang paling beruntung adalah orang yang miskin tapi pintar,
Orang yang paling TOP hebat adalah orang yang kaya dan pintar,
Namun pintar saja tidak cukup, harus juga cerdik,
Yang lebih baik lagi adalah orang yang pintar, cerdik, dan tekun…

Berasa mahal banget ini hikmah dari beliau. Semoga kita bisa meneladani beliau dalam hal ketekunan dalam bekerja, kesabaran, dan ketegasannya dalam mengambil keputusan. Kita doakan juga empunya yang punya bait, semoga pak RIJ dikaruniai sehat, rejeki lancar, dan selalu berada dalam jalan kebaikan. Aamiiin.

Wallaahu a’lamu. Semoga bermanfaat. 🙂

Sama dengan Iblis

Muslimedianews.com ~ Pernah suatu kali Syekh Sya’rawi berbicara dengan seseorang yang ingin membunuh orang yang sedang melakukan maksiat. Orang itu berkata. “Syekh, menurut saya orang-orang itu berada dalam maksiat, (mereka sedang berada) di dalam tempat yang banyak khamar. Saya rasa mereka harus diberi hukuman.”

Syekh Sya’rawi berkata, “Lalu apa yang akan kamu perbuat?”

“Saya akan meledakkan bom bunuh diri di tempat mereka dan tentunya hal itu akan menyelesaikan semua permasalahan ini.”

“Oke, ada satu hal yang ingin saya tanyakan. Jika kamu melakukan bom bunuh diri di hadapan mereka, lalu mereka mati dalam keadaan maksiat. Mereka pergi ke mana?”

“Tentu saja mereka akan masuk ke dalam neraka.”

“Berarti tujuan kamu dan iblis sama. Memasukkan mereka orang yang bermaksiat ke dalam neraka.”

ya Allah… Ini sebuah perkataan yang sarat dengan makna. Seharusnya orang itu berdakwah kepada orang-orang yang berada dalam kemaksiatan dengan akhlak yang baik sehingga mereka bisa keluar dari kemaksiatan tersebut, bukannya malah menyegerakan mereka untuk masuk ke dalam neraka.

Oleh sebab itu, tidak ada satupun Risalah yang diutus untuk berbuat seperti ini tapi sebaliknya, Allah memerintahkan agar kita mengeluarkan orang yang berbuat salah dari kegelapan menuju cahaya.

Syekh Usama Sayyid Al-Azharia
Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=I2Akg6PV0oE via Suara Al Azhar

Untukmu para Penuntut Ilmu

al-Habib 'Umar bersama para santri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

al-Habib ‘Umar bersama para santri Lirboyo, Kediri, Jawa Timur

Muslimedianews ~ Tarim. Dalam rangka mempererat ukhuwah islamiyyah, Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL) Yaman pada Minggu malam (30/3/2014) mengadakan acara silaturrahim ke kediaman (maktab) al-Musnid al-Allamah al-Habib ‘Umar bin Hafidz, salah satu tokoh ulama Kota Tarim dan dai internasional.

Dalam pertemuan yang diikuti oleh sekitar 35 orang itu, Habib ‘Umar menguraikan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan oleh para penuntut ilmu (thalibul ilmi). Beberapa nasehat yang beliau sampaikan diantaranya adalah:

  1. Bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. karena bisa menuntut ilmu di pesantren yang notabene Ahlussunnah wal Jama’ah dan dapat melanjutkan menimba ilmu di Kota Tarim yang merupakan kota ilmu dan ulama. Di kota yang penuh berkah ini, banyak dijumpai para habaib dan alim ulama yang sanad keilmuannya bersambung sampai kepada Rasulullah Saw. Lebih jauh lagi, jumlah ulama di Tarim tidak hanya sebatas hitungan jari. Akan tetapi mencapai bilangan ribuan.
  2. Seorang penuntut ilmu harus rajin bangun malam (qiyamullail).
  3. Seorang pencari ilmu harus mempunyai etika yang baik (akhlaqul karimah).
  4. Urgensi menebarkan rasa cinta kasih (al-mahabbah) dan persaudaraan (al-ukhuwah) kepada seluruh umat manusia secara umum, umat Islam secara khusus dan Ahlussunnah wal Jama’ah secara lebih khusus (akhash).
  5. Menghormati ulama dan para guru (masyayikh) yang telah membimbing kita.
  6. Bagi penuntut ilmu, hendaknya selalu menjadikan al-Quran sebagai pegangan hidup, baik dengan membacanya, menghayati makna kandungannya dan merepresentasikannya dalam kehidupan nyata.
  7. Cermat (tahqiq) serta serius dalam memahami kalam ulama yang tertuang dalam teks (matan) kitab. Memahami kalam ulama secara utuh, tidak sepotong-potong. Habib Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri pernah mengatakan: “Barangsiapa yang menguasai matan (teks) sebuah kitab dengan sempurna, maka ia pasti mendapatkan berbagai disiplin keilmuan.”

Acara silaturrahim pada malam itu diakhiri dengan ijazahan sanad ilmu dari al-Habib ‘Umar bin Hafidz kemudian dilanjutkan dengan shalat ‘Isya berjamaah di Masjid Ahlul Kisa’, Darul Musthofa. (Kontributor: Muhammad Zainal Fanani, santri dan mahasiswa Univ. al-Ahqaff)

Sumber: http://www.muslimedianews.com/2014/04/nasehat-habib-umar-bin-hafidz-untuk.html#ixzz2xcRPSZZF

Rahasia Keutamaan Lapar

tulisan ini juga sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “kail itu bernama kenyang”.

tentang kenyang, Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Jauhilah oleh kalian kekenyangan karena itu adalah beban dalam kehidupan dan baunya busuk dalam kematian.” Luqman berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jika lambung sudah penuh, pikiran menjadi tidur, hikmah tak mampu berbicara, dan anggota badan menjadi malas beribadah.”

Dalam Taurat dinyatakan, “Bertakwalah kepada Allah dan jika engkau kenyang, ingatlah orang-orang yang lapar.”

Sahal bin Abdillah mengatakan, “Tidak datang kebaikan pada Hari Kiamat, suatu amal kebajikan yang lebih baik daripada meninggalkan makan berlebihan dalam rangka meneladani perilaku makan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ia menambahkan, “Hikmah dan ilmu diletakkan dalam kelaparan, sedangkan kemaksiatan dan kebodohan dalam kekenyangan.”

Manfaat lapar

Ada banyak sekali, nih, manfaat lapar yang dirangkum rapi oleh al-Habib ‘Umar, yaitu sebagai berikut:

Pertama, lapar bisa membersihkan hati, menyalakan bakat, dan menghidupkan mata batin. Asy-Syibli mengatakan, “Setiap kali aku lapar karena Allah, aku senantiasa melihat di dalam hatiku ada sebuah pintu hikmah dan ibrah yang terbuka, yang sebelumnya belum pernah kulihat.”

Kedua, lapar melembutkan hati dan menjernihkannya. Hati yang lembut dan jernih akan membawa pada kenikmatan beribadah dan tersentuh oleh dzikir. Al-Junaid rahimahullah mengatakan, “Ada seseorang yang menempatkan kantong berisi makanan di dadanya, kemudian dia ingin mendapatkan manisnya munajat. Bagaimana mungkin?”

Ketiga, lapar melahirkan ketundukan dan melenyapkan kedurhakaan. Seseorang tidak bisa melihat keagungan dan kemahakuasaan Tuhan selama belum pernah menyaksikan kehinaan dan kelemahannya sendiri.

Keempat, lapar mengingatkan pada cobaan dan adzab Allah. Orang yang kenyang biasanya melupakan orang yang lapar. Nabi Isa ‘alaihissalam pernah ditanya, “Mengapa engkau lapar, padahal di tanganmu terdapat perbendaharaan bumi?” Ia menjawab, “Aku takut kenyang sehingga lupa kepada orang yang lapar.” Jadi, lapar bisa melahirkan sifat welas, dermawan, dan iba kepada sesama makhluk Allah.

Kelima, lapar bisa mematahkan nafsu untuk berbuat maksiat dan menundukkan nafsu penyeru kepada keburukan (ammarah bis-su’). ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan, “Bid’ah pertama yang terjadi sesudah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kenyang.” Dzun Nun mengatakan, “Setiap kali aku kenyang, aku senantiasa bermaksiat atau mempunyai niat untuk melakukannya.”

Keenam, lapar bisa menahan kantuk dan memudahkan untuk beribadah malam.

Ketujuh, lapar memudahkan seseorang untuk tekun beribadah. Dengan menahan lapar, seseorang tidak akan disibukkan oleh urusan jual-beli makanan, memasak, dan bolah-balik ke kamar mandi. Sari as-Saqathi mengatakan, “Aku melihat Ali al-Jurjani mempunyai sawiq (bubur dari tepung gandum) dan ia memakannya tanpa kuah. Lalu kutanyakan kepadanya, ‘Apa yang membuatmu melakukan ini?’ Ali menjawab, ‘Antara mengunyah roti dan menyantap sawiq ada selisih waktu sebanyak 70 bacaan tasbih. Aku sendiri sudah 40 tahun tidak mengonsumsi roti.’” MasyaAllah, lihatlah bagaimana beliau mengatur waktunya agar waktu ibadahnya tidak berkurang hanya karena mengunyah roti.

Kedelapan, lapar bisa menyehatkan badan dan mencegah datangnya penyakit, karena lambung adalah habitat bagi berbagai penyakit.

Kesembilan, sedikit makan meringankan biaya hidup. Betul begitu, wahai para penerima beasiswa? Hehe.

Kesepuluh, sedikit makan memungkinkan seseorang untuk menyedekahkan kelebihan makanan sehingga pada Hari Kiamat nanti ia akan dinaungi oleh sedekahnya.

Lalu, Bagaimana caranya mengekang nafsu makan?

Beberapa nasihat untuk para murid (orang yang menempuh jalan menuju Allah) dan penuntut ilmu (kita nih) terkait dengan perut, dan bagaimana caranya mengekang nafsu makan.

Nasihat pertama, hendaknya kita mengonsumsi makanan yang halal. Beribadah dengan mengonsumsi makanan yang haram sama seperti mendirikan bangunan di atas gelombang air laut.

Nasihat kedua, hendaknya kita menyedikitkan porsi makan dan berlatih secara bertahap untuk mengurangi porsi makan. Ada beberapa tingkatan dalam hal ini. Tingkatan pertama yaitu tingkatan tertinggi, mengembalikan porsi makan sesuai yang seharusnya, yaitu sekadar untuk menyangga badan. Ini adalah tingkatan orang-orang shadiqin (orang-orang yang keimannya tidak diragukan lagi). Tingkatan kedua, yaitu mengurangi porsi makan menjadi setengah mudd, atau sekitar satu potong roti dan secuil. Umar radhiyallahu ‘anhu biasa makan dengan porsi tujuh atau sembilan suapan. Tingkatan ketiga, mengurangi porsi makan menjadi satu mudd, yaitu kira-kira dua potong roti dan setengahnya. Tingkatan keempat, mengembalikan porsi makan menjadi lebih dari satu mudd hingga satu mann. Satu mann kira-kira setara dengan 2 pound atau 907 gram. Ada pula tingkatan kelima, yang tidak jelas porsinya, dan karenanya sering disalahartikan. Yaitu hendaknya kita makan jika sudah benar-benar merasa lapar, dan segera berhenti ketika kita sudah merasa tidak lapar. Dan tanda bahwa kita benar-benar lapar adalah bilamana kita tetap makan walaupun tidak ada lauk.

Nasihat ketiga, terkait dengan waktu makan dan lamanya penundaan. Orang-orang pada tingkatan tertinggi bisa menahan lapar hingga tiga hari atau bahkan lebih. Orang-orang pada tingkatan kedua bisa menahan lapar selama dua hingga tiga hari. Adapun mereka yang berada pada tingkat ketiga hanya makan sekali dalam sehari.

Waduh, Kita tingkatan berapa dong? Wkwkwk. T_______T

Nasihat keempat, terkait dengan jenis makanan dan lauknya. Makanan yang paling baik adalah (yang terbuat dari) sari gandum (kalau di Indonesia mungkin beras yang paling mahal); yang sedang adalah (yang terbuat dari) sya’ir (kalau ini beras kualitas menengah); dan yang paling rendah adalah (yang terbuat dari) sya’ir yang masih kasar (yang ini mungkin beras sembako, yang paling murah harganya). Jenis lauk yang paling baik adalah daging dan manisan (dari samin dan madu); yang paling rendah adalah garam dan cuka; dan yang sedang adalah lemak (hewani atau nabati) tanpa daging.

Siapa yang senantiasa mengonsumsi jenis makanan dan lauk yang paling baik, berarti jiwanya terbiasa dengan kenikmatan, sehingga ia menyukai kelezatan dunia dan berusaha mendapatkannya, lalu hal itu menyeretnya pada kemaksiatan. Ketahuilah, salah satu ibadah yang paling utama adalah melawan hawa nafsu dan meninggalkan kenikmatan.

Wallahu a’lam, meskipun kopas, setidaknya ada nasihat dan ilmu yang akhirnya kita tahu.Semoga Allah memberi kita semuasehat sehingga bisa mengamalkannya dan istiqomah. Nas’alullaha al-‘afiyah wa al-istiqomah. Aamiin. 🙂

Dikutip dari:

al-Habib ‘Umar bin Hafizh, “Amal Pemusnah Kebaikan”, Noura Books, Jakarta, 2013

Kail itu Bernama “Kenyang”

Tulisan ini sedikit melanjutkan tulisan sebelumnya tentang pintu-pintu setan masuk ke dalam hati manusia, salah satu yang telah disebutkan adalah kenyang, sekalipun kenyang dari makanan yang halal dan bersih.

Al-Habib ‘Umar bin Hafizh rahimahullah mengatakan,

“sesungguhnya kenyang bisa menguatkan nafsu, padahal nafsu adalah senjata bagi setan.”

Dikisahkan bahwa suatu ketika iblis menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakariya ‘alaihimassalam. Lantas Nabi Yahya ‘alaihissalam melihat berbagai macam kail yang dibawa iblis. Beliau lalu bertanya, “Hai Iblis, apa gerangan kail-kail itu?” Iblis menjawab, “Ini adalah ragam nafsu yang kuhantamkan kepada anak-cucu Adam.” Nabi Yahya ‘alaihissalam kembali bertanya, “Lalu adakan salah satu kail itu pada diriku?” Iblis menjelaskan, “Mungkin engkau kekenyangan sehingga membuatmu berat untuk mengerjakan shalat dan berdzikir.” Nabi Yahya ‘alaihissalam bertanya lagi, “Adakah yang lain?” Iblis menjawab, “Tidak.” Kemudian Nabi Yahya ‘alaihissalam mengatakan, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi memenuhi perutku dengan makanan.” Lalu iblis membalas, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi menasehati seorang Muslim.”

kucing, kalau udah kenyang, gamau makan lagi tuh, masa kita kalah? hehe.  (sumber gambar: kamal-alfasya.blogspot.com)

kucing aja ga mau makan lagi tuh, kalau udah kenyang. kita bisa lah ya, lebih baik dari kucing? 🙂
(sumber: kamal-alfasya.blogspot.com)

Diriwayatkan dari Miqdad, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Tidak ada wadah yang diisi penuh oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Kalau memang ia tidak bisa untuk tidak memenuhi perutnya, sepertiga bagian adalah untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga lagi untuk napasnya.”

(HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, an-Nasa’I, Ibnu Hibban, Ahmad, ath-Thabrani, al-Baihaqi, dan al-Hakim. Menurut al-Hakim, isnad hadits ini shahih. Adapun menurut at-Tirmidzi, kualitas hadits ini hasan shahih)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"