Sepenggal Kisah tentang Coklat

Siapa mau coklat?

Siapa mau coklat?

Siapa yang tidak suka coklat? Saya yakin semua orang suka coklat, yaa mungkin sebagian kecil saja yang tidak suka coklat. Buat yang suka coklat, berarti sama dengan saya, buat yang gak suka, kita tetep temen lah ya.. hahaha..

***

Kembali ke topik. Tadi saya mendapat kuliah dari Pak Susanto, salah satu ahli coklat. Saya tidak tahu beliau sekarang bekerja di mana, intinya beliau ahli dan cukup berpengalaman di bidang percoklatan.

Di awal kuliah, beliau menceritakan sejarah coklat. Coklat berasal dari bagian utara Amerika Selatan, atau tepatnya di Negara Meksiko. Jauh sebelum pak Christopher Columbus datang. Nah barulah setelah pak Columbus datang ke Meksiko, mengenal coklat, dan membawanya ke Spanyol, coklat mulai dikenal di wilayah eropa. Tahun 1600an coklat sudah mulai dikenal di Inggris, Itali, Belanda, Jerman, dan Swiss. Coklat ini bahkan dikenal lebih dahulu ketimbang kopi dan teh. Coklat sampai di Indonesia karena dibawa oleh penjajah Belanda dan ditanam di pulau Jawa, dan beberapa tempat lain di Indonesia seperti Sulawesi.

Kenapa coklat jaman sekarang ini begitu berharga? Jawabnya, memang ternyata dari dulu seperti itu. Jauh sebelum terkenal di daratan eropa sana, coklat memiliki dua fungsi, sebagai makanan dan sebagai alat tukar seperti uang kita sekarang. Sebagai contoh, pajak. Mereka membayarnya dengan biji-biji coklat. Kalau jaman sekarang, mungkin coklat bisa menjadi hadiah yang sangat berharga ya.. Hehe.

Coklat banyak tumbuh di daerah beriklim tropis seperti Indonesia, Brazil, Ekuador, Pantai Gading, Ghana, Malaysia, dan sekitarnya. Namun tanaman coklat tumbuh paling besar di benua Afrika. Tiga negara dengan produksi coklat tertinggi di Afrika adalah Pantai Gading, Ghana, dan Kamerun. Selain merajai produksi biji coklat di benua Afrika, Pantai Gading juga merajai produksi biji coklat dunia. Pada tahun 2005 produksinya mencapai 38% dari total produksi biji coklat dunia. Urutan kedua Ghana dengan angka 21%, ketiga Indonesia dengan angka 13%. Sisanya jauh di bawah itu.

produksi biji coklat dunia pada 2005

produksi biji coklat dunia pada 2005

Berarti Indonesia punya potensi dong? Betul sekali. Sebagai produsen ketiga terbesar seharusnya kita bisa turut mengendalikan aliran kas dunia yang bersumber dari perkebunan-perkebunan coklat. Nyatanya, harga biji coklat Indonesia (bisa dikatakan) adalah yang (aduh, gak tega sebenarnya mengatakan ini) paling rendah jika dibandingkan dengan harga biji coklat pantai gading, misalnya. Harga biji coklat pantai gading sekitar 3,5 dollar/kilogram sedangkan biji coklat kita tidak sampai satu dollar/kilogram. Padahal kualitas lemak coklat Indonesia diakui sebagai lemak coklat yang paling bagus sedunia. Ironis sekali bukan?

Emang kenapa bisa murah gitu? Begini ceritanya. Di Indonesia, biji coklat sebagian besar dijual sebagai biji kering non-fermentasi. Biji kering non-fermentasi ini harganya memang rendah dibandingkan dengan biji coklat fermentasi. Kata pak Susanto, dulu sempat diadakan sosialisasi kepada para petani coklat di Sulawesi sana agar memfermentasi dahulu biji coklat yang dipanen, tapi nampaknya gagal total. Pada masa awal setelah sosialisasi, para petani mau melakukan fermentasi, tapi lambat laun fermentasi mulai ditinggalkan. Para tengkulak/pemborong juga sepertinya tidak merasa diuntungkan dengan proses fermentasi ini, karena harganya pasti lebih mahal dari biji kering biasa. Petani juga merasa proses fermentasi ini malah menghambat pemasukan dana segar tiap harinya. Proses fermentasi biji coklat membutuhkan waktu kurang lebih 5 hari, artinya hampir dapat dipastikan dalam 5 hari mereka tidak mendapat penghasilan. Kata bapaknya lagi, hal seperti ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Di Ghana saja, pemerintah mengistruksikan biji coklat yang dijual harus sudah terfermentasi, dan alhasil Ghana bisa meraup devisa yang luar biasa besarnya dari biji coklatnya. Di samping itu kualitas biji coklat Ghana terkenal yang paling bagus dan yang paling mahal di dunia.

Yaah,, demikianlah sepenggal kisah tentang coklat yang saya tahu. Semoga para insinyur pangan di negeri ini (khususnya saya sendiri) tidak mudah lengah sedangkan negeri ini memiliki potensi yang luar biasa dahsyatnya. Wassalam, semoga bermanfaat.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Serambi Pikiran Saya

entrance of my mind

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"

%d bloggers like this: