Cintanya Para Pecinta

cinta-rasulullah1

Kisah-kisah para sahabat seringkali mengingatkan saya akan makna Cinta. Cinta yang tulus dan hakiki, Cinta yang mana tidak akan sempurna iman kita sebelum ia kita persembahkan untuk Allah dan Rasul-Nya. Cinta yang akan membawa kita menuju ridho Allah subhanahu wa ta’ala dan syafa’at manusia termulia.

“Tidak sempurna iman seorang di antara kamu sebelum ia lebih mencintai aku daripada mencintai ibu-bapaknya, anaknya, dan semua manusia” (HR Bukhari)

***

adalah sayyidina Abu Bakar ash-Shiqqiq ra., ketika bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi. kala itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di gua Tsur, beliau tertidur berbantalkan paha Abu Bakar ra.. Tiba-tiba seekor kalajengking menyengat kaki Abu Bakar ra.. Abu Bakar ra. tentu merasa kesakitan, tapi beliau berusaha sekuat tenaga menahan sakit, hingga mencucurkan air mata, jangan sampai pahanya bergerak. Beliau khawatir orang tercintanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terbangun. maasyaaAllaah..

***

sahabat Zaid bin Datsima ra. sama sekali tak gentar menghadapi ancaman kaum kafir karena begitu luar biasa kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu, ia disandera oleh kaum musyrik Makkah dan akan dibunuh. “Hari ini, tidakkah engkau berharap Muhammad akan bersama dengan kita sehingga kami dapat memotong kepalanya, dan engkau dapat kembali kepada keluargamu?” kata Abu Sufyan kepadanya.

“Demi Allah, aku tidak berharap sekarang ini Muhammad berada di sini, di mana satu duri pun dapat menyakitinya – jika hal itu menjadi syarat agar aku dapat kembali ke keluargaku,” jawab Zaid tegas. “Wah, aku belum pernah melihat seorang pun yang begitu sayang kepada orang lain seperti para sahabat Muhammad menyayangi Muhammad,” sahut Abu Sofyan.

***

begitupula sayyidina Umar bin Khatthab ra.. Suatu ketika beliau berkata, “Ya, Rasulullah. Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku.” Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tak seorang pun di antara kalian beriman, sampai aku lebih mereka cintai daripada jiwamu.”

“Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran kepadamu, aku mencintaimu melebihi kecintaanku kepada jiwaku sendiri,” sahut Umar spontan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menukas, “Wahai Umar, kini kamu telah mendapatkan iman itu.” (HR Bukhari).

***

ketika salah seorang sahabat ra. bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah datangnya hari kiamat?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Sahabat itu menjawab, “Saya tidak mempersiapkannya dengan banyak shalat, puasa, dan sedekah, tapi dengan mencintaimu dalam hati.” Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “InsyaAllah, engkau akan bersama orang yang engkau cintai itu.”

***

Suatu hari seorang sahabat hadir dalam suatu majelis bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku saya mencintaimu lebih dari mencintai nyawa, harta dan keluargaku. Jika berada di rumah, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu tak bersabar untuk dapat berjumpa denganmu. Bagaimana jadinya jika aku tidak menjumpaimu lagi, karena engkau pasti akan wafat, demikian juga aku. Kemudian engkau akan mencapai derajat Anbiya, sedangkan aku tidak?”

Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam. Tak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril as. menyampaikan wahyu, “Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka akan bersama orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik sahabat, dan itulah karunia Allah Yang Maha Mengetahui.” (QS An-Nisa : 69-70)

***

maasyaaAllah.. begitu besar kecintaan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kecintaan itu tertanam dalam kehidupan mereka. Cinta yang tak lekang oleh zaman, inilah sejatinya hakikat Cinta sehidup-semati. Cinta yang tulus di dunia, dan Cinta yang abadi di akhirat.

Sewajarnyalah jika kaum muslimin meneladani akhlaq beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya. semoga bulan maulid ini menjadi salah satu momentum bagi kita untuk lebih mengenal Nabi kita sayyidul-anbiyaa’ wal-mursaliin habiibunaa wa syaafi’unaa wa qudwatunaa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. wallaahul-musta’aan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s