Dari Pesisir Hingga ke Tanah Suci

tidak saya sangka siang itu (ahad, 10/11) kami (saya dan sahabat saya, Amiril TA’10) dipertemukan dengan seorang nenek yang memberikan cukup banyak cerita dan pelajaran kepada kami. meski sebenarnya tujuan utama kami adalah survei, tapi lumayan dapat tausyiah juga (alhamdulillaah). sayangnya saya lupa nama beliau, hehe. beliau tinggal di desa waruduwur, sebuah desa yang tidak jauh dari pesisir kota cirebon, beberapa kilometer ke arah selatan dari pelabuhan kota cirebon. rumah beliau sangat sederhana, berdinding kayu. ukurannya pun tidak terlalu besar, yaa, kira-kira hampir 20-an meter persegi.  di depan rumah beliau terdapat halaman kecil tempat orang-orang membuat perahu, mungkin di antara orang-orang itu anaknya dan sebagian lagi orang lain. di sisi samping rumah, terdapat ruang gilingan sekaligus gudang penyimpanan hasil gilingan. tidak kami sangka bangunan ini menyimpan begitu banyak cerita, menjadi saksi bisu perjuangan sang nenek semenjak beliau tinggal di situ.

IMG_5914
mesin penggiling milik sang nenek
IMG_5915
gudang penyimpanan hasil gilingan

sang nenek rupanya sudah tinggal di rumah ini sekitar tahun ’83 (kalau tidak salah denger, wah, kita masih jadi apa ya? hehe), di saat limbah cangkang rajungan dan kerang masih belum bernilai. semenjak itu beliau bermatapencaharian sebagai pengumpul limbah cangkang rajungan dan kerang dari beberapa industri pengalengan.

karena memang belum bernilai, seringkali beliau mendapat cibiran tidak enak dari orang-orang sekelilingnya, bahwa limbah seperti itu tidak akan bisa dijual, gak laku, dan mengumpulkan serta mengeringkannya adalah pekerjaan yang cuma buang-buang waktu saja.

kalau kita yang mengalami seperti itu, kira-kira bagaimana ya? wah, mungkin kita sudah terdemotivasi. tapi tidak dengan nenek yang satu ini, beliau tetap teguh dengan pendiriannya. walapun beliau juga pernah menangis sesekali karena tidak kuat menahan cibiran orang di sekelilingnya. nyatanya usaha beliau ini masih bertahan sampai sekarang.

waktu berganti, dunia berputar, lama-lama limbah cangkang rajungan semakin dibutuhkan. perlahan, cangkang rajungan nenek ini mulai ada yang mencari. laku. untuk mengembangkan usahanya, sang nenek juga menerima pesanan. berapapun jumlahnya, beliau siap menyediakan asal sesuai dengan keinginan konsumen.

“dulu ya dik, saya diejek-ejek jualan cangkang rajungan, saya sampe nangis. eh sekarang kebalik, malah orang-orang banyak yang nyari..”, cerita sang nenek kepada kami.

sang nenek sedang bercerita masa-masa perjuangannya dulu
sang nenek sedang bercerita masa-masa perjuangannya dulu

lambat laun usaha sang nenek semakin pesat. jaringan konsumen semakin luas. dan tentu semangatnya semakin bertambah. beliau ternyata juga punya HP (wah, tidak disangka), punya buku catatan tempat menulis pesanan atau nomor konsumen yang mungkin belum tersimpan di HP. sudah maju sekali, pikir saya. ketika ditanya berapa rata-rata jumlah pesanan, beliau menjawab, “gak tentu dik, kalau pesen 1 ton, ya nggiling 1 ton. pesen 2 ton ya nggiling 2 ton.. pokoknya tergantung yang pesen..”. harga jual cangkang rajungan giling dari nenek ini tergolong murah, sekitar Rp2.300,00 sampai Rp2.500,00 per kilogram.

ketika usahanya mulai naik daun, pada tahun … (saya lupa) akhirnya sang nenek mendaftarkan diri untuk berangkat haji. dengan izin Allah, sang nenek benar-benar bisa naik haji kira-kira dua tahun setelah beliau mendaftar. maasyaaAllah. tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk memberangkatkan hamba-Nya yang memiliki tekad. nenek ini telah membuktikannya. 🙂

bagaimana dengan kita, kawan. apakah tekad kita sudah setinggi nenek ini? hiks. 😥

yang saya salut adalah meskipun pas-pasan, nenek ini selalu bersyukur. beliau bersyukur meski tidak bisa hidup mewah, tidak seperti pengusaha lainnya yang bisa punya rumah gede, mobil bagus, baju bagus, dan blablabla yang bagus-bagus, ah, yang penting menurut beliau sehat, bahagia, bisa beribadah dengan tenang, itu sudah cukup. toh, nenek ini juga tidak hidup sendiri, ada anak-anak dan tetangga-tetangga yang sangat menghormati beliau.

sang nenek, saya, cangkang rajungan giling, dan galon air minum
sang nenek, saya, dan cangkang rajungan (giling dan yang masih utuh)

sang nenek, dan orang-orang yang bekerja di depan rumah beliau baik sekali kepada kami. sebelum kami pulang, sang nenek memberikan kami oleh-oleh berupa sampel2 hasil gilingan. waah. kami diberi sampel cangkang kerang dan cangkang rajungan. alhamdulillaah. terimakasih ya nek.

belum puas dengan hanya menggiling cangkang, sang nenek ternyata juga menanam kerang sendiri di laut sana. dengan membentangkan tambang sekedar untuk tempat kerang menempel. “lima bulan sekali panennya, dik.. nanti kalau sudah panen dikabari biar main ke sini lagi..” begitu kata sang nenek. kami hanya bisa menjawab, “insyaAllah nek..”.. 🙂 

setelah semua beres. kami berpamitan pulang. tidak lupa kami meminta doa kepada sang nenek agar lomba yang kami jalani ini lancar dan bisa menang. siapa tahu doa nenek ini lebih mudah maqbul dibandingkan kami, hehe.

“assalamu’alaikum nek, pak, makasih banyak..”

di dalam hati saya masih terngiang, ternyata di luar sana masih ada orang-orang yang lebih rindu akan berjumpa dengan Tuhannya, dibandingkan pendosa seperti saya ini. semoga saya bisa mencontoh nenek ini dalam banyak hal. banyak syukur, sederhana, berjiwa entrepreneur, dan mengutamakan kepentingan akhirat dibandingkan kepentingan dunia. 🙂

wallahu a’lam. semoga bermanfaat. silakan dishare kalau mau.

—-
jum’at, 15 November 2013 @Lab. Tekanan Tinggi, Lab. Teknik Reaksi Kimia dan Katalis, Labtek X, Institut Teknologi Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s