Kisah Hidrogen dan Oksigen

Ada sebuah kisah menarik dari Pak Bermawi (salah satu dosen FTI) ketika beliau memberikan kuliah pengantar Proyek Rekayasa Interdisiplin hari Rabu (28/8) pekan lalu di aula timur ITB. Ketika itu materi yang beliau sampaikan adalah tentang “berpikir sistem”, yaitu bagaimana kita memandang suatu permasalahan dengan “lensa” sistem (tidak secara independen). Adapun yang dinamakan “sistem” adalah kumpulan elemen-elemen yang berhubungan dan diorganisasikan dalam satu kesatuan untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga ada setidaknya tiga unsur penting dalam sebuah sistem, yaitu elemen/komponen, hubungan/interaksi, dan tujuan.

Oke, itu sebagai mukadimah saja. Ketika berbicara tentang betapa pentingnya hubungan/interaksi antar elemen dalam suatu sistem, pak Bermawi memberikan satu kisah yang cukup menarik. Mmm.. Sebelum itu mari saya jelaskan sedikit, bahwa jika elemen-elemen dalam suatu sistem tidak berinteraksi maka tak ubahnya seperti populasi. Ya, populasi elemen-elemen. Maka interaksi antar elemen dalam sistem menjadi sangat penting.

Baiklah, begini kisahnya. Seperti yang kita tahu bahwa gas hidrogen (H2) dan oksigen (O2) memiliki sifat yang identik dengan pembakaran/api. Hidrogen sangat mudah terbakar, sedangkan oksigen merupakan salah satu syarat terjadinya proses pembakaran. Sekali lagi, keduanya sangat identik dengan api. Namun apa yang terjadi ketika keduanya berinteraksi? Yap, benar.. Hidrogen dan oksigen bisa beraksi membentuk H2O atau kita mengenalnya sebagai air. Sebagai hasil interaksi, air memiliki sifat yang amat berbeda jauh dari sifat unsur-unsur penyusunnya. H2 dan O2 sangat identik dengan api, mudah meledak dan terbakar, sedangkan H2O bersifat dapat memadamkan api.

kristal air zam-zam
kristal air zam-zam (sumber: http://www.dakwatuna.com)

Begitulah, maaf jika mungkin cara saya membawakan cerita kurang menarik seperti aslinya. Intinya, interaksi elemen2 dalam suatu sistem itu sangat penting untuk mencapai suatu tujuan. Begitupula dalam suatu kelompok, atau tim. Bukan tim namanya jika hanya mengikuti satu orang ketua sedangkan yang lainnya pasif. Sehingga tidak mustahil jika pepatah mengatakan dalam suatu tim tidak lagi 2+2=4, tapi bisa jauh lebih besar dari itu. Artinya, kolaborasi ide dan hasil berpikir antar elemen dapat menghasilkan “sesuatu” yang luar biasa jika dibandingkan dengan berpikir secara pasif dan independen. (hbb)

One thought on “Kisah Hidrogen dan Oksigen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s