Archive for September, 2013

Jalur Kuning yang Spesial

Reblogged from : http://twbsm09.tumblr.com/day/2013/09/26

Pernah ke Kota Bandung? Pernah jalan-jalan di trotoarnya? Kalaupun pernah mungkin anda akan dikejutkan oleh inovasi yang satu ini. Karena sebelumnya belum pernah ada di Bandung. Hehe. Mari kita simak saja tulisan di bawah ini.

Beberapa bulan belakangan ini Kota Bandung mulai ditata, dipercantik. Terutama jika melihat beberapa trotoar yang diperluas, gorong-gorong tempat mengalirnya air juga diperdalam dan di benahi. Namun ada satu hal yang mengusik hati saya yaitu adanya lantai yang menyusun trotoar ini. awalnya saya berpikir itu merupakan jalur sepeda, namun rasanya bukan, karena jalur berwarna kuning yang berada di trotoar ini terlalu kecil untuk dijadikan lintasan sepeda.

jalur kuning di trotoar Kota Bandung

jalur kuning di trotoar Kota Bandung

Awalnya saya mengabaikan jalur warna kuning tersebut. namun keingintahuan saya akan warna kuning di jalur pedestrian di kota bandung yang lagi gencar-gencarnya di bangun dan dibenahi ini muncul lagi, dan akhirnya saya menemukan jawabanya.

Ternyata jalur yang berwarna kuning yang mungkin beberapa dari kalian sering melihatnya ketika naek angkot, atau berjalan di trotoar itu merupakan Tactile Paving. Ini merupakan lantai dengan desain  khusus. fungsinya adalah memberikan jalur khusus bagi para tuna netra atau orang yang memiliki gangguan penglihatan agar dapat menikmati ruang publik  serta dapat berjalan ditrotoar seperti orang pada umumnya.

Pejalan kaki di atas trotoar

Pejalan kaki di atas trotoar

Jalur ini banyak digunakan terutama dinegara-negara yang sudah memiliki layanan publik bagi penyandang cacat yang cukup baik seperti Autralia, Jepang,Amerika Serikat dan beberapa negara lainya. artinya kota Bandung sudah mulai peduli dengan pemanfaatan ruang publik bagi warganya, bukan hanya orang pada umumnya, namun juga sudah memberikan hak-hak kepada penyandang tuna netra untuk merasakan ruang publik, dengan di pasangnya tactile paving di trotoar-trotoar kota Bandung.

Namun sayang, pemasangan ini tak diimbangi oleh kesadaran atau pengertian dari beberapa warga . Sehingga tidak jarang kita jumpai jalur kuning ini dijadikan tempat parkir, tempat untuk berjualan dan beberapa tempat yang menghalangi fungsi jalur ini sebagai mana mestinya.

wah, sayangnya masih ada parkir liar di trotoar

wah, sayangnya masih ada parkir liar di trotoar

Sejatinya, kita harus mulai sadar dan menghargai hak-hak orang lain, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Memberikan hak pejalan kaki, seperti halnya anda yang memiliki kendaraan yang diparkir, pejalan kaki pun menginginkan tempatnya tidak direbut oleh kendaraan yang diparkir sembarangan.

Niat baik pemkot Bandung untuk memberikan fasilitas kepada tuna netra untuk bisa menikmati ruang publik pun harus kita dukung, agar menjadikan Kota Bandung, kota yang bersahabat bagi semua warganya.  Dan untuk semua kota di Indonesia yang telah mulai memasang fasilitas ini, dan mulai membenahi kotanya. marilah kita menjaganya, merawatnya dan mencintainya. karena Kota tanpa warganya yang sadar akan kotanya, hanya akan menjadi ruang yang kumuh dan hampa.

Advertisements

Hikmah dari Buah Limau

buah limau

buah limau

Kawan2 lebih suka memberi atau diberi sesuatu? Oke, ada sebagian yang lebih suka memberi dibandingkan diberi. Tapi bagaimana kita mau menolak jika kita diberi sesuatu oleh orang lain? Ya, kan? Ya.. mungkin yang dirasa kurang baik adalah meminta-minta. Yakni meminta-minta sesuatu yang sebenarnya kitapun bisa mendapatkannya tanpa meminta. Lantas, bagaimana sikap kita ketika menerima pemberian dari orang lain? Apakah kita lihat dulu apakah sesuatu itu bagus atau tidak? mahal atau tidak? kita sukai atau tidak? si pemberi ikhlas atau tidak? Haha, pasti macem-macem lah ya, tiap orang beda-beda. Baiklah, sekarang mari kita bandingkan dengan sikap junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menerima pemberian orang lain.

***

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa biji buah limau sebagai hadiah untuk baginda. Sungguh bagus buahnya. Siapa yang melihat pasti terliur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seulas demi seulas dengan tersenyum.

Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulas pun limau itu diberikan kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus makan. Setiap kali dengan senyuman, hinggalah habis semua limau itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda. Para sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu.

Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan,

“Tahukah kamu, sebenarnya buah limau itu terlalu masam sejak kali pertama saya merasakannya. Kiranya kalian ikut makan, saya takut ada di antara kalian yang akan mengernyitkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya takut hatinya akan tersinggung. Karena itulah saya habiskan semuanya.”

***

MasyaAllah.. sedemikian indah akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak memperkecil-kecilkan pemberian seseorang biarpun benda yang tidak baik, dan dari orang bukan Islam pula. Diceritakan, wanita kafir itu pulang dengan hati yang kecewa. Mengapa? Sebenarnya dia bertujuan ingin mempermainkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dengan hadiah buah limau yang masam itu. Sayangnya rencananya tidak berhasil berkat kemuliaan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Semoga kita dapat meneladani akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulai dari bagaimana menghargai perasaan sesama, murah senyum, hingga bertutur dengan cara yang paling baik dan hikmah. Wallahu a’lam bishshowab.

Tentang Sanad

Bismillah.. Saya menemukan sebuah artikel menarik tentang sanad. Apa itu sanad? Nah, mari kita belajar langsung dari salah seorang ahli sanad*, Syeikh Nuruddin Al-Banjari. Oke, mari kita simak.

***

Syeikh Nuruddin Al-Banjari

Syeikh Nuruddin Al-Banjari

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad adalah sesuatu yang penting. “Menurut ulama salaf, sanad dianggap sebagai bagian dari agama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarok,” jelas KH. Muhammad Nuruddin Al-Banjari. Alumni Universitas al-Azhar asy-Syarif, Mesir ini sendiri dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak sanad. Bukan hanya di bidang hadits, tapi setiap kitab yang dipelajarinya, sanadnya bersambung kepada pengarang kitab tersebut.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad adalah sesuatu yang penting. “Menurut ulama salaf, sanad dianggap sebagai bagian dari agama sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Mubarok,” jelas KH. Muhammad Nuruddin Al-Banjari. Alumni Universitas al-Azhar asy-Syarif, Mesir ini sendiri dikenal sebagai ulama yang memiliki banyak sanad. Bukan hanya di bidang hadits, tapi setiap kitab yang dipelajarinya, sanadnya bersambung kepada pengarang kitab tersebut.

Nuruddin punya banyak sanad, karena ia termasuk orang yang senang belajar secara talaqqi(langsung dibawah bimbingan seorang guru) kepada para ulama yang memiliki sanad. Ada sekitar 35 ulama kenamaan yang pernah menjadi gurunya sewaktu ia belajar di Mekkah dan Mesir. Diantara ulama itu antara lain Syeikh Al-Allamah Hasan Masshath yang mendapat gelar Syeiku-ul-ulama’ rahimahullah, Syeikh Al-Allamah Muhamad Yasin Al-Fadani rahimahullah yang mendapat julukan Syeikhul Hadits Wa Musnidud Dunya, Syeikh Ismail Usman Zien rahimahullah yang digelar Alfaqih Ad-Darrakah, Syeikh Abd. Karim Banjar hafizohullah, Syeikh Suhaili Al-Anfenani, As-Sayyed Mohd. Alwi Al-Maliki, Syeikh Said Al-Bakistani dan sebagainya.

Tradisi sanad itu sekarang ini oleh Nuruddin diakui lemah karena orang lebih senang belajar secara instant. Sedang belajar secara talaqqi itu memerlukan kesabaran tersendiri. “Sekarang ini maunya serba cepat dalam mencari ilmu,” katanya lagi. Padahal menurutnya, para ulama dulu sangat sabar mencari ilmu. Mereka rela berlama-lama belajar kepada seorang ulama sampai tamat. Bukan hanya itu mereka juga harus mempersiapkan mental yang kuat ketika misalkan harus disuruh atau dibentak oleh sang guru. “Kalau anak sekarang dibentak langsung lari,” jelasnya. Berikut wawancaranya yang pernah dimuat majalah Hidayatullah yang dikutip oleh InpasOnline.com

Tradisi mencari ilmu dengan menjaga sanad sudah amat langka saat ini, bagaimana komentar ustadz?

Sebenarnya tradisi itu masih ada di pesantren-pesantren kita. Hanya saja para santri tidak menanyakan sanad kitab yang dipelajarinya. Mereka tidak peduli melalui siapa saja mendapatkan pengetahuan tentang kitab itu, hingga sampai kepada penulisnya. Bisa juga karena si kiai tidak terlalalu memperhatikan masalah itu. Atau mereka memang belum sempat mendapatkan ijazah tentang periwayatan kitab tersebut. Di Indonesia, ulama yang memperhatikan sanad itu masih bisa dihitung jari. Apalagi setelah wafatnya Syeikh Yasin Al-Fadani, sebagai seorang musnid. Setelah itu tidak ada lagi ijazah, yang dampaknya kita tidak tahu ilmu yang pelajari sampai kepada siapa snadnya.

Pengalaman Ustadz sendiri, dalam memperoleh sanad?

Seingat saya, sewaktu belajar di Makkah tahun 80-an, saya mengkaji kitab dengan cara talaqqi, istilahnya dari kulit ke kulit (dari sampul awal hingga sampul akhir). Nah, setelah itu kita diijazahi. Dengan begitu saya tahu membaca Shahih Al-Bukhari dari guru saya, fulan bin fulan, hingga terus sampai kepada Imam Al-Bukhari.

Apa sebenarnya fungsi dari sanad sendiri?

Ini terkait dengan masalah tradisi para ulama salaf ketika hendak memberi syarah terhadap sebuah hadits. Kita harus tahu siapa orang yang mensyarah hadits, memberi komentar, atau khasiyah (catatan kaki). Sebab banyak orang bisa memahami sebuah hadits tapi tidak bisa mengungkapkan dan tidak tepat memaknainya. Inilah sebagian manfaat, min fawaidi at talaqi, supaya kita memaknai hadits itu tepat, walau tidak dijamin 100 persen. Tapi insyaallah dengan talaqqi, pemahaman kita tidak akan lepas dari maksud dan tujuan penulis. Jadi bisa kita katakan al haqiqah ala ma’na shohih.

Kalau begitu, apa dampak negatif jika belajar tanpa didampingi seoarang guru?

Kalau dulu yang namanya syeikh takharuj amat menentukan sekali. Dari periwayatan ilmunya bisa diketahui sejauh mana pemahamannya. Akan tetapi jika belajar melalui majalah, internet, cd atau televisi, sulit diukur pemahamannya. Tapi sudah berani berfatwa sehingga sekan-akan ia siap menjawab semua masalah dalam satu waktu. Mungkin di Indonesia hal ini menjadi masalah karena orang-orang terlalu berani berfatwa. Ini berbeda dengan tradisi para salafuna as shalih. Jika ada pertanyaan, maka masing-masing saling menunjuk. Bukan kerana tidak mengerti, akan tetapi mereka amat hati-hati. Sebab jangan-jangan ada yang lebih pandai dan lebih berilmu. Kita sekarang hubbu tashadur, pingin berada di depan. Kadang-kadang hal-hal yang di luar bidangnya sudah berani berfatwa.

Apa akibat bagi orang yang bukan bidangnya tapi sudah berani berfatwa?

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidina Ibnu Umar disebutkan bahwa orang yang paling berani mengeluarkan fatwa adalah orang yang menjerumuskan diri ke neraka jahanam. Ajra’ukum ala al fatwa, ajra’ukum ala nari jahanam. Oleh karena itu para sahabat saling tadafuk (mempersilahkan yang lain) dalam fatwa. Kalau dalam fatwa mereka seperti itu, tapi kalau dalam ibadah mereka akan berlomba-lomba. Jika masalah fatwa ayakfihi ghoiruhu (menyukupkan dengan orang lain). Misalkan Ibnu Abi Laila bertanya kepada Abu Hanifah, tapi beliau menyuruh orang tersebut bertanya kepada Zufar. Oleh Zufar disuruh tanya kepada Sofyan At Tsauri. At Tsauri menyuruh bertanya kepada Abu Hanifah.

Akhlak seperti ini sudah sedikit di negeri ini. Banyak orang yang dari segi usia, ilmu dan pengalaman masih mudah, tapi sudah berani berfatwa. Bukan hanya itu, ia juga seenaknya memvonis orang lain mubtadi’ (orang yang berbuat bid’ah), dhaal (sesat) dll. Padahal mencela mukmin itu fasiq, apalagi mengkafirkan, sibabul mukmin fusq. Anehnya yang ia sesatkan itu masih dalam batas khilafiah.

Pengalaman Ustadz berguru kepada beberapa ulama di Mesir?

Kalau di Mesir biasanya masyayikh yang pakai jubbah yang mengalamai belajar secara talaqqi kepada para masayikh sebelumnya di masjid Al Azhar, yang dinamakan al jami’ bukan al jami’ah. Syaikh Muntashir pada waktu itu kalau mengajar tafsir hanya membawa mushaf saja, tidak pernah pakai kitab. Demikian juga Syeikh Sya’rawi tidak pegang Al Qur’an. Orang yang mengajilah yang membawa Al Qur’an. Beliau-beliau ini tidak membawa tafsir karena sudah hafal.

Bagi orang yang tidak pernah talaqi, dia tidak akan merasakan pancaran nur saat bertemu dengan masyayikh. Ada kiai yang menyuruh baca sekali, dua kali, dan tiga kali, tapi dia tidak menerangkan. Nah, kadang tanpa keterangan itu santri bisa paham sendiri.Bagaimana ustadz melihat para pencari ilmu saat ini?Adab mahasiswa terhadap para dosen sudah tidak ada. Ijlal (memulyahakan) masyayih juga tidak ada. Juga penghargaan terhadap karya dan penulis para ulama tidak ada. Itu yang kita rasakan.

Pada jaman saya di Mesir, sudah ada mahasisiwa yang meminta dosennya berhenti, “duktur kifayah ba’ah, dza sa’atain kholas “ (Pak dosen, sudah cukup. Ini sudah dua jam, kapan berhentinya!). Inilah yang menyebabkan faktor keberkahan ilmu itu lenyap. Jadi keberkahan ilmu itu tidak diindikasikan dari bisa menulis atau tidak bisa ceramah, atau bisa terjun ke masyarakat. Kalau sekedar itu siapa saja bisa melakukannya. Akan tetapi yang namanya keberkatan ilmu itu berhubungan dengan kehidupan. Ia betul-betul mengawal perjalanan hidup.

Jadi, sebelum menyuruh, kita harus sudah disuruh dan mengerjakan. Sebelum melarang, kita harus sudah tingalkan. Inilah namanya dakwah bil hal itu yang pengaruhnya cukup kuat. Kadang ada sebuah masalah yang sudah dijelaskan, dikupas dengan tuntas, tapi tidak tidak berdampak apa-apa. Orang berbicara tasawuf, tapi ia meninggalkan tasawuf . Lain hal dengan ulama-ulama terdahulu. Kadang hanya dijelaskan dan disuruh baca, atau sekedar. Ini yang saya rasakan dengan syaikh Isamil, syaeik Yasin dan syeikh Hasan Masyat yang tidak sama mengajarnya dan sedikit penjelasanyya. Tapi alhamdulillah kawan-kawan yang di Makkah semuanya menjadi kiai, khususnya yang berada di Madura.

Bisa dikatakan bahwa hanya bertemu dengan guru sudah membantu sebuah pamahaman?

Sering kali kita belum bertanya ternyata sudah mendapat jawaban. Ada yang ingin kita tanyakan tentang malabis (masalah pakaian), adab naum, adab al aql (makan), adab al masyi (berjalan), jilsah (duduk) atau ibadah. Kadang kita sudah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan, akan tetapi dengan duduk saja sudah memahami keterangan guru. Saya rasa sudah jarang ada ulama yang memiliki ittishal ruhi (hubungan ruh), itishal batin (hubungan batin), dan mampu memperolah jawaban pertanyaan-pertanyaannya tanpa harus bertanya terlebih dahulu.

Contohnya, syaikh Abu Hasan Ali An Nadawi adalah ulama paling bebal dan susah memahami sesuatu. Suatu ketika kebetulan orang tua guru beliau sakit sehingga pengajian hendak diliburkan. Melihat hal itu syeikh Abu hasan berkata kepada gurunya, ”Syeikh ngajar saja, biar persoalan orang tua saya yang nangani”. Akhirnya Abu Hasan ini yang merawat orang tua gurunya. Di saat pengajian selesai dan si gruru masuk ruangan, ia melihat Abu Hasan membersihkan kotoran orang tuanya yang sedang buang air. Akhirnya si syeikh meneteskan air mata dan mengucapkan barakallah fik (semoga Allah memberkatimu) dan mendoakannya. Akhirnya, seperti diceritakan sendiri oleh syeikh Abu Hasan Ali An Nadawi bahwa sejak itu pikirannya menjadi terbuka, sehingga para ulama Mesir terkagum-kagum dengan tulisan An Nadwadi dan karya-karyanya. Padahal beliau masih berumur 19 tahun. Diantaranya yang kagum adalah Syeikh Yusuf Qaradhawi, As Sya’rawi, dan Sayyid Qutub.

Orang tua biasanya kasihan dengan kesehatan fisik kita. Tapi guru itu kasihan dengan ilmu kita. Sehingga kalau kita belajar dengan seorang guru, maka ilmu akan lebih mudah diserap dan berdampak. Ilmu terserap tidak hanya karena pengajian kita, tapi doa dan munajat para guru. Dalam buku-buku ulama klasik biasanya tertulis, i’lam hadaniya Allah wa iyakum (ketahuilah, semoga Allah memberi hidayah kepada saya dan diri kalian). Itu doa untuk pembaca kitab, nah mana aja majalah yang seperti itu?Apakah talaqqi terlalu susah, sehingga banyak yang lari dengan membaca buku sendiri?Gak susah juga, mungkin karena para masyayih sekarang tidak ada waktu untuk meluangkan diri mengajar dengan tradisi seperti itu. Yang bisa seperti itu biasanya adalah kiai-kiai zuhud, yang merasa cukup dengan keadaan apa adanya. Sedang bagi kiai yang hidupnya harus menyesuaikan keadaan, tidak ada waktu untuk itu. Masayikh–masayikh ana di Mekkah itu keperluannya sudah dipenuhi. Sehingga itu tidak hanya menyumbangkan ilmu, tapi juga materi. Ngaji di sana digaji, gimana gakbetah? Kalau pas zakat setiap guru memberi 500 real. Kalau lima guru saja sudah hampir 3000 real atau 7 juta. Nah sekarang mana ada masyayikh seperti itu.

Sekarang malah sebaliknya, santri yang dikuras. Jadi sudah susah ditemukan seorang syeikh yang memiliki waktu untuk talaqqi, padahal kalau dulu sampai imla’ hadits. Imam Yahya Ibnu Ma’in itu punya harta besarnya satu milyar dirham. Semuanya diinfaqkkan untuk mencari ilmu, hingg sandal saja tidak punya. Jadi dulu duit dihabiskan untuk ilmu, kalau sekarang sebaliknya, ilmu untuk cari uang.

Sumber: http://www.inpasonline.com

***

Semoga bisa menjadi pencerahan bagi kita semua. Saya yakin kita pasti menginginkan belajar ilmu agama pada ‘ulama2 yang otentik, tidak lagi kepada sembarang guru apalagi Syeikh Google Al-Browsingi. Begitupula, dalam membaca kitab kita harus belajar pada guru yang pernah belajar kitab itu pada gurunya, hingga nyambung kepada penulis buku. Semoga usaha kita dalam menuntut ilmu diberikan ganjaran oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

*) ahli sanad = orang yang memiliki sanad

Selektif : Jalan yang Lurus

Tulisan ini saya peroleh dari http://www.habaib.net dengan judul asli “Selektif dalam Memilih Ulama'”, ditulis oleh Ustadz Taufiq bin ‘Abdul Qadir Assegaf. Berikut tulisan beliau.

***

Assalamualaikum wr.wb.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita.

Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikutip oleh Al-Imam Al-Ghozali rahimahullah dalam kitab beliau Ihya ‘Ulumuddin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Artinya: “Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu’an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud.” (HR Ibnu ‘Asyakir dari Jabir RA)

Ilmu itu ibarat pedang. Jika pedang itu dibawa oleh Sayyidina Umar radhiyallahu ‘anhu, maka pedang akan sangat bermanfaat dalam melindungi muslimin serta menegakkan agama Allah. Namun jika pedang ini dibawa oleh Abu Jahal, maka pedang justru akan sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Begitu juga ilmu. Jika ilmu didapat dari orang yang baik, maka ilmu akan bermanfaat. Namun apabila ilmu yang sama didapat dari orang-orang yang tak bertanggungjawab, maka ilmu justru akan berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

Ilmu ibarat air yang turun dari langit. Apabila air diserap oleh pepohonan yang rindang atau buah-buahan yang lezat, maka air itu akan memberikan manfaat yang bisa dinikmati hasilnya. Tetapi apabila air yang turun justru diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang berbahaya seperti ganja, opium dsb maka air ini justru akan merugikan kesehatan dan berdampak negatif bagi masyarakat. Begitu pula ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat namun ilmu tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh orang-orang yang baik. Terkadang “ilmu yang mulia itu justru diterima oleh orang-orang yang tidak baik. Akibatnya tak jarang ilmu ini justru disalah gunakan untuk kepentingan dunia belaka. Oleh karena itu kita harus barhati-hati dalam mencari ilmu. Selain harus memilih-milih ilmu yang akan kita pelajari, hal yang tak kalah penting adalah selektif kepada orang yang akan kita jadikan panutan dalam mendapatkan ilmu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada kita kriteria ulama yang layak dan aman untuk kita jadikan sebagai panutan dan kita nobatkan sebagai guru religius dalam menuntun kehidupan kita.

Pertama,
Adalah ulama yang menuntun kita dari keragu-raguan menuju keyakinan

Dalam berguru hendaknya kita harus senantiasa mengacu pada orang-orang yang mampu membuat kita semakin mantap dan yakin dengan aqidah kita, yaitu Islam ala ahlussunah wal jama’ah. Jangan sekali-kali berguru pada ulama yang justru membuat keragu-raguan pada keyakinan kita. Sikap serampangan dan asal-asalan dalam memilih guru akan menimbulkan sikap fanatisme berlebihan yang akan membuat kita tidak obyektif dalam menilai sebuah kebenaran. Pada akhirnya kita akan ikut apa pun yang diutarakan oleh sang guru meski ternyata bertentangan dengan keyakinan yang telah kita akui kebenarannya. Oleh karena itu pilihlah ulama yang mampu membawa keyakinan kita menjadi semakin kuat.

Kedua,
Adalah ulama yang menuntun kita dari dari kesombongan menuju ketawadhu’an

Inilah kriteria kedua yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memilih ulama. Para Ulama menerangkan bahwa sifat kibr (kesombongan) yang paling rendah adalah ketika merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Kesombongan memang merupakan sikap yang sangat tercela. Bahkan seseorang yang masih menyisakan kesombongan di hatinya walau hanya satu bji sawi saja, maka ia haram untuk memasuki surga Allah subhanahu wa ta’ala. Disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya masih menyimpan kesombongan walau pun hanya sebiji sawi.” (HR. Abu Ya’la)

Karena sifat ini jugalah maka ‘azazil (asal-usul iblis) yang sudah beribadah ribuan tahun diusir oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari surga. Ketika diperintahkan untuk menghormat kepada Nabi Adam, ia enggan untuk melakukan perintah itu. Ia beranggapan bahwa dirinya lebih mulia karena ia diciptakan dari api yang bersinar terang, sedangkan Adam hanyalah makhluk yang tercipta dari tanah yang kotor dan diinjak-injak oleh siapa saja. Sebagai akibat dari penolakan ini iblis diusir dari surga dan menjadi makhluk terkutuk untuk selamanya. Jika Iblis yang sudah beribadah ribuan tahun saja terkutuk seketika akibat kesombongannya, lantas bagaimana dengan kita yang ibadahnya masih sangat sedikit?

Dikatakan dalam sebuah syair:

Tawadhu’ lah, niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air, padahal dia sangat tinggi
Dan janganlah seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit, padahal dia sama sekali tidak berharga

Orang tawadhu’ ibarat bintang yang terlihat di dasar jernihnya air di tengah malam, meski dia berada tinggi di angkasa. Sedangkan orang yang sombong adalah ibarat asap yang selalu mengangkat dirinya padahal dirinya sama sekali tidak berharga.

Oleh karena itu marilah kita berhati- hati dalam menjaga sikap ini dan mencari guru yang bisa mengantarkan kita menuju ketawadhu’an.

Ketiga,
Adalah ulama yang menuntun kita dari permusuhan menuju perdamaian (kepedulian)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergelar Al-Mu’allim (sang guru). Beliaulah guru bagi setiap insan. Namun gelar itu tidak serta- merta membuat beliau acuh dan berlaku seenaknya. Beliau mempunyai kepedulian yang sangat tinggi kepada para umatnya. Hal ini bisa kita buktikan saat para sahabat kelaparan. Beliaulah yang menyiapkan makanan untuk mereka dan beliaulah yang terakhir menikmati sajian itu. Bahkan ketika beliau merasakan pedihnya sakaratul maut, beliau dengan segera meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan kepada beliau separuh rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya.

Begitulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sikap panutan sejati. Oleh Karena itu hendaknya kita selalu bersikap seperti beliau dan selalu berguru kepada orang alim yang memiliki kepedulian kepada kaum muslimin. Orang alim yang mengajarkan kita sikap tanggap dan kritis terhadap keadaan, bukan ulama yang suka mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka.

Keempat,
Adalah ulama yang menuntun kita dari riya menuju ikhlas

Ada dua syarat penting yang harus kita penuhi agar ibadah kita diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Syarat pertama adalah yang berhubungan dengan hukum-hukum dzohir seperti bagaimana syarat dan cara mengerjakan ibadah dengan baik dan benar sesuai cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syarat kedua adalah keikhlasan mengerjakan semua amalan itu semata- mata karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Ibadah yang kita lakukan adalah ibarat surat yang akan kita kirim kepada saudara kita. Agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan sempurna, maka kita harus benar-benar memperhatikan isi yang termuat di dalam surat itu. Tidak cukup itu saja. Setelah semua pesan kita catat dengan benar, maka kita juga harus teliti dalam menuliskan alamatnya. Meski isinya benar akan tetapi alamatnya salah, maka surat itu akan sia-sia.

Begitu pula ibadah yang kita lakukan. Walau seluruh bacaan dan cara-cara mengagungkan Nama Allah subhanahu wa ta’ala sudah benar, namun jika semua itu kita kerjakan bukan untuk menggapai ridha Allah subhanahu wa ta’ala melainkan untuk mendapat pujian, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu marilah kita pelajari betul-betul sikap ikhlas ini agar ibadah yang kita kerjakan diterima Allah subhanahu wa ta’ala. Carilah ulama yang mengajarkan kita makna keikhlasan, bukan ulama yang suka berpura-pura demi kepentingan dunia belaka.

Kelima,
Adalah ulama yang menuntun kita dari ketamakan menuju sifat zuhud

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk pilihan Allah yang semua permintaannya pasti dikabulkan, tak terkecuali dalam masalah kekayaan. Jikalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mau, maka beliau akan menjadi orang terkaya dalam sejarah dunia. Suatu hari Malaikat Jibril menawarkan kepada beliau untuk menjadikan semua barang yang beliau pilih menjadi emas, termasuk gunung sekali pun. Akan tetapi beliau menolak karena bukan itu yang beliau minta. Nabi paham bahwa semua itu sangat rendah harganya dan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu beliau hanya meminta agar dapat merasakan lapar dalam sehari dan kenyang di hari berikutnya.

Demikianlah sikap hidup yang di­contohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada segenap umatnya. Beliau siap hidup miskin padahal beliau mampu untuk menjadi orang terkaya. Bagaimana dengan kita?

Demikianlah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mem­berikan pentunjuk kepada kita tentang kiat memilih ulama. Jangan sampai kita salah dalam mengambil ilmu yang mulia ini. Walau semua bersumber kepada Ra­sulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi jika kita salah mengambilnya, boleh jadi ilmu ini akan terkontaminasi oleh berbagai kotoran.

Inilah salah satu tujuan diadakannya haul. Dalam acara ini kita disuguhi nasihat- nasihat dan teladan para salafimassholih. Merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala. Merekalah yang telah berhasil menjalani ujian di atas dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengikuti langkah mereka agar kita menjadi manusia-manusia yang beruntung seperti mereka.

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (Al-An’am: 90)


Sumber: Majalah Cahaya Nabawiy

Cowo VS Suami

Saya kebetulan nemu syair (mm, tulisan) bagus nih, boleh lah saya post di sini barangkali ada pembaca setia blog saya yang butuh hiburan untuk mengobati kegalauannya, hehe (canda kok). Berikut syairnya, silakan dihayati dan direnungkan. 🙂

*************************************
SIAPA YANG BILANG COWO, SUAMI LAGI!
*************************************
Kalau seorang cowo memuji pacarnya, lebay namanya
Kalau seorang suami memuji istrinya, pahala namanya

Kalau seorang cowo nraktir pacarnya, pamrih namanya
Kalau seorang suami nraktir istri dan anaknya, sedekah namanya

Kalau seorang cowo pegangan tangan dengan pacarnya, dosa namanya
Kalau seorang suami pegangan tangan dengan istrinya, terhapus dosa-dosa keduanya
dari setiap ujung jarinya

Kalau seorang cowo mati demi mempertahankan cinta dengan pacarnya, konyol namanya.
Kalau seorang suami mati demi mempertahankan kehormatan istrinya, syahid namanya.

Sob, hanya 5 menit akad nikah, tapi bisa mengubah
yang asalnya haram jadi halal
yang asalnya dosa jadi pahala
yang asalnya susah jadi berkah

Semoga semua lelaki dan wanita pandai menjaga dirinya
Bersabar sebelum waktunya
Dan yang pasti, moga segera mendapatkan jodoh terbaik di waktu yang terbaik
di tempat terindah yang diridhoi-Nya
Aamiin


Setia Furqon Kholid
Inspirasi buku “Jangan jatuh Cinta! Tapi Bangun Cinta”

The Next Silver Medal

Saya sangat bersyukur telah diberikan kesempatan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bisa masuk ke Sabuga (Sasana Budaya Ganesha) ITB untuk menyaksikan penutupan Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2013, tadi siang sampai mendekati pukul setengah empat (07/9). Rasanya seperti kembali ke masa-masa SMA dulu ketika saya juga mengalami hal serupa, waktu itu (kalau tidak salah) di JI EXPO Jakarta. Ya, benar, saya jadi merasa muda kembali. Perasaan berdebar-debar, seakan-akan saya yang akan dapat medali, harap, dan haru jadi satu. Seruu, lebih seru dari penutupan pas jaman saya dulu (2009).

***

SMAN 1 Glagah, mungkin hanya sedikit orang yang tidak asing lagi dengan nama ini, adalah salah satu SMA di Banyuwangi berusia cukup tua. Dulu bukan SMAN 1 Glagah namanya, tapi SMAN 1 Banyuwangi, karena belum ada SMA lain di Kabupaten Banyuwangi. Mungkin setelah banyak SMA-SMA lain yang berdiri di tiap kecamatan, begitu pula di kota Banyuwangi sendiri, SMAN 1 Banyuwangi lalu berubah namanya menjadi SMAN 1 Glagah. Penamaan ini didasarkan pada kecamatan tempat SMA itu berdiri (Kec. Glagah, Giri, Genteng, dll).

SMAN 1 Glagah (atau Smansa) mulai menunjukkan taringnya di kancah OSN Tingkat Nasional pada tahun 2007, dua tahun di atas angkatan saya. Sebelum itu, belum satupun siswa Smansa yang mampu tembus hingga tingkat Nasional. Salah satu perwakilan Banyuwangi dari  Smansa yang berhasil tembus pada tahun 2007 adalah mbak Kia. Mbak Kia berhasil mempersembahkan medali perak OSN yang pertama untuk Smansa di Bidang Kimia. Masih segar di ingatan saya, waktu itu mbak Kia dipanggil maju pada saat upacara bendera Hari Senin. Waktu itu saya masih kelas satu dan tidak tahu OSN itu apa.

Setelah era mbak Kia, adalah era Mas Bagus dkk. Mas Bagus berhasil menjuarai OSN Tingkat Kabupaten Bidang Kimia. Sayangnya, mas Bagus tidak tembus ke OSN Tingkat Nasional. Pada tahun 2008, Smansa tidak mendapat medali.

Selanjutnya adalah era Tita dkk, termasuk saya. Tita adalah adiknya mbak Kia. Pada tahun 2009 ini Smansa (boleh dibilang) merajai OSN Tingkat Kabupaten Bidang Kimia. Bagaimana tidak, Juara 1, 2 dan 3 dibabat semua. Juara 1 diraih oleh teman saya, Tita Maulida (sekarang Kedokteran Unair), juara 2 juga diraih oleh teman saya, Dicky Nanda (sekarang Kedokteran Unud), dan juara 3 diraih oleh saya sendiri (sekarang Teknik Kimia ITB). Selain Kimia, seinget saya Smansa juga juara 1 Bidang Komputer (Fahmi, Teknik Informatika ITS), juara 2 Bidang Fisika (Febi Saiful, Farmasi Unair) , serta juara 2 dan 3 Bidang Matematika (Erwin, Kedokteran UGM, dan Gunung, Kebendaharaan Negara STAN). Alhamdulillah, pada tahun ini Smansa kembali mengirim perwakilan untuk OSN Tingkat Nasional, kali ini dua orang siswa, yaitu saya dan Gunung, sekaligus satu-satunya (eh, dua-duanya) perwakilan dari Banyuwangi.

Inilah puncaknya. Sayang beribu sayang, tahun ini tidak ada pembinaan dari dinas pendidikan provinsi (tidak seperti tahun-tahun sebelumnya), sehingga kami berangkat dengan ilmu seadanya. Apa yang kami pelajari juga sepertinya sangat minim yang terserap karena sistem pembinaan yang tidak optimal. Mungkin ini pelajaran agar kami tidak sombong, barangkali (wallahu a’lam), kami berdua ditakdirkan tidak mendapat medali. Pada tahun 2009, Smansa kosong medali lagi.

Setelah era Tita, adalah era Khosy dkk. Saya lupa tahun 2010 ini ada berapa siswa yang berhasil menjuarai OSN Tingkat Kabupaten. Seingat saya tahun ini juga tidak ada yang lolos ke OSN Tingkat Nasional. Pada tahun ini giliran SMAN 1 Genteng yang unjuk gigi. Satu medali perak berhasil dibawa pulang oleh salah satu siswanya bernama Zainul (Sekarang di Teknik Kimia ITB). Intinya, pada tahun 2010, lagi-lagi Smansa kosong medali.

Tahun 2011 adalah era Kautsar dkk. Pada tahun ini ada dua siswa Smansa yang lolos ke OSN Tingkat Nasional. Masing-masing mewakili Bidang Kimia (Kautsar, Kimia Unair) dan Bidang Fisika (Ricky, Teknik Perminyakan ITB). Kedua siswa ini tergolong cukup sukses. Keduanya berhasil membawa pulang medali perak untuk Bidang Kimia, dan emas untuk Bidang Fisika. Salut! Setibanya di Banyuwangi, keduanya langsung diarak keliling Smansa dan sebagian daerah di Banyuwangi.

Pada tahun 2012, Smansa kembali sepi medali. Pada tahun ini perwakilan dari Banyuwangi di Tingkat Nasional hanya dari SMA tetangga, SMAN 1 Giri. Waktu itu SMAN 1 Giri mengirimkan satu siswanya untuk bertanding di Bidang Astronomi. Sayangnya medali belum bisa diraih.

Tahun ini adalah era Wahyu Orphan dkk. Meski hanya berhasil juara 3 OSN Tingkat Kabupaten Bidang Kimia, ternyata kemampuannya tidak bisa diremehkan. Wahyu menunjukkan taringnya di perhelatan OSN Tingkat Provinsi dengan menjadi juara 1 OSN Tingkat Provinsi sekaligus lolos ke OSN Tingkat Nasional. Pada tahun ini sepertinya juga tidak ada pembinaan dari dinas pendidikan provinsi. Apadaya, Wahyupun belajar privat kepada Pak Jatmiko, salah satu pembimbing OSN Kimia Smansa, dan diprivat pula oleh Kautsar yang pernah mendapatkan medali perak pada OSN dua tahun sebelumnya. Jerih payahnya akhirnya membuahkan hasil, meski pada awalnya tidak menargetkan medali, tapi Wahyu berhasil menyabet medali perak dalam OSN Tingkat Nasional tahun 2013 ini.

Bukan main senangnya Pak Jatmiko. Senyum beliau merekah setelah menerima SMS dari dewan juri bahwa Wahyu mendapatkan medali perak.

Bukan main senangnya Pak Jatmiko. Senyum beliau merekah setelah menerima SMS dari dewan juri bahwa Wahyu mendapatkan medali perak.

Waah, pokoknya senang sekali. Kebetulan saya dan Pak Jatmiko menyaksikan langsung pengumuman pemenang sekaligus penyerahan medali di acara penutupan OSN 2013 ini. Alhamdulillaah. Pada tahun ini, tambahan satu medali perak lagi untuk Smansa di Bidang Kimia.

DSC00211

Wahyu Orphan (kiri) bersama Pak Jatmiko (kanan) selaku pembimbing OSN Kimia SMAN 1 Glagah Banyuwangi

Wahyu dan medalinya

Wahyu dan medalinya

Bagusnya, pada tahun ini, SMAN 1 Giri berhasil meraih medali perunggu di Bidang Astronomi atas nama siswa yang sama dengan tahun sebelumnya (2012). Alhamdulillaah. Sepertinya ini menjadi medali pertama SMAN 1 Giri di perhelatan OSN ini. Kami sebagai alumni tetangganya (SMAN 1 Glagah), ikut senang, karena ini artinya SMA-SMA di Banyuwangi sudah mulai bangkit dan saling berlomba untuk meraih prestasi setinggi-tingginya.

***

Selamat! Saya ucapkan kepada SMAN 1 Glagah dan SMAN 1 Giri, atas prestasi yang telah diraih. Semoga ini menjadi momen yang penting untuk meningkatkan prestasi di tahun yang akan datang, baik di OSN maupun kompetisi lainnya. Bagaimanapun, saya sangat bangga dengan almamater saya, yaah, meskipun tidak banyak yang bisa saya persembahkan.

Semangat juga! untuk para guru yang senantiasa bermandi keringat dalam membimbing siswa2nya dalam mengarungi kompetisi ini. Semoga tahun depan lebih banyak lagi siswa dari Banyuwangi khususnya SMAN 1 Glagah yang membawa pulang medali dan menebar nama harum Banyuwangi dan SMAN 1 Glagah di kancah Nasional, atau bahkan Internasional. Aamiin. (hbb)


Ditulis dengan tinta senyum dan pena kebahagiaan di atas kertas kebanggaan

Salam,
Habibi Alisyahbana, IAPB

Semangat Prestatif Banyuwangi Berprestasi | #RPC2013 #review

Long-long ago.. sudah hampir satu bulan yang lalu tepatnya, acara ini berlangsung. Seharusnya sudah saya posting beritanya pada pekan-pekan yang lalu, ternyata tidak sempat. Yasudah, sekarang saja.

Sudah familiar kan dengan Banyuwangi Berprestasi? Oke, saya anggap lupa, saya ulang ya, hehe. Banyuwangi Berprestasi merupakan salah satu dari tiga rangkaian acara Ramadhan Penuh Cinta 2013 yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Pelajar Banyuwangi atau (lebih terkenal dengan) IAPB. Acara ini ditujukan untuk para siswa-siswi SMA yang ada di Banyuwangi (meskipun baru sebagian SMA saja) agar mereka yang tidak mampu namun memiliki prestasi bisa mendapat fasilitas pendidikan yang layak seperti siswa-siswi lain yang tergolong mampu. Salah satu yang bisa kita berikan adalah paket Bimbingan Belajar untuk tiga peserta terbaik. Program ini diawali dengan seleksi berkas. Berkas yang diseleksi antara lain biodata (CV), esai, dan piagam penghargaan/bukti prestasi. Kalau saya tidak salah ingat, alhamdulillah ada 80an berkas yang masuk ke panitia, yang dikirim oleh siswa-siswi dari berbagai SMA di Banyuwangi. Dari proses seleksi berkas ini diambil 10 peserta terbaik yang akan mengikuti tahapan selanjutnya. Yup, tahapan selanjutnya adalah pembinaan. 

Tahap pembinaan diselenggarakan pada hari Kamis (01/8) berlangsung selama setengah hari, mulai siang hingga menjelang maghrib. Materi yang diberikan adalah tentang leadership, entrepreneurship, dan presentation skill. Sayangnya, pemateri leadership tidak bisa datang.

materi bp1

materi bp2

materi bp3

Para finalis sangat bersemangat mengikuti pembinaan ini. Beberapa dari mereka aktif bertanya dan berdiskusi dengan pemateri. Good.. good. Oiya, hampir lupa, dari 10 finalis ini 3 orang berasal dari SMAN 1 Glagah, 3 orang dari SMAN 1 Banyuwangi, 2 orang dari SMAN 1 Rogojampi, dan 2 orang lagi dari MAN Banyuwangi. Di akhir tahap pembinaan ini para finalis diberikan tugas studi kreatif dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh Banyuwangi sesuai dengan passion mereka, sekaligus membuatnya dalam bentuk presentasi. Tahap penilaian tugas dan presentasi dilakukan pada hari Sabtu (03/8).

Hari Sabtu, para finalis datang dengan membawa “amunisi”nya masing-masing. Mereka yang membawa file presentasi berpresentasi menggunakan infokus, sedangkan yang lainnya ada yang berpresentasi menggunakan kertas bergambar, ada pula yang hanya dengan lisan. Waah, keren. Mau tahu bagaimana gaya para finalis ini berpresentasi? Yuk, kita lihat foto-foto di bawah ini.

1

2

3

4

Pak Sucahyo, finalis, dewan juri, dan beberapa panitia.

Pak Sucahyo, finalis, dewan juri, dan beberapa panitia.

Meskipun para finalis ini memiliki waktu hanya 2 hari untuk studi dan membuat presentasi, tapi dari performa mereka terlihat bagaimana mereka sangat bersemangat mengikuti kegiatan ini. Semoga semangat prestatif (dan kreatif) ini tetap berlanjut di hari-hari berikutnya. Saya yakin dengan adanya peran aktif siswa-siswi kreatif seperti mereka, Banyuwangi akan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Kita do’akan saja. Aamiin.. 🙂

Pagi sampai siang para finalis presentasi, sorenya langsung keluar pengumuman. Tiga siswa terbaik dipilih untuk menerima paket Bimbingan Belajar dari PRIMAGAMA, yaitu senilai 1jt, 750rb, dan 500rb rupiah. Pengumuman siswa terbaik dilakukan di tengah-tengah acara ketiga kami, yaitu Buka Bersama dan Santunan 555 Anak Yatim, Piatu, dan Dhu’afa’ se-Banyuwangi. Pemberian hadiah secara simbolis dilakukan oleh Pak Sucahyo selaku pembina IAPB, saya selaku Ketua umum, dan kawan saya Intan selaku penanggungjawab program Banyuwangi Berprestasi. Seperti biasa, setelah penyerahan hadiah selesai, kami berfoto. hehe. Kali ini MC (Lina dan Pipit), dan beberapa panitia juga ikut foto.

6

Saya pikir, cerita tentang Banyuwangi Berprestasi hanya sampai di sini. Pada edisi selanjutnya, saya (atau kami) akan bercerita tentang acara Buka Bersama dan Santunan 555 Anak Yatim, Piatu, dan Dhu’afa se-Banyuwangi, termasuk kisah suka-duka kami, tenang-panik, senyum-mewek, dan segala macemnya. Semoga kawan-kawan tetap setia (dan tidak bosan) membaca tulisan-tulisan saya ya, meskipun kadang membosankan, hehe..

Untuk adik-adikku alumni Banyuwangi Berprestasi angkatan #1, tetaplah berprestasi, tetaplah bersemangat dalam meniti cita-cita kalian.

Percayalah bahwa karya sekecil apapun, akan mampu membawa perubahan jika kita mau mewujudkannya. InsyaAllah.. (hbb)

Salam hangat kami,
Ikatan Alumni Pelajar Banyuwangi (IAPB)

Kisah Hidrogen dan Oksigen

Ada sebuah kisah menarik dari Pak Bermawi (salah satu dosen FTI) ketika beliau memberikan kuliah pengantar Proyek Rekayasa Interdisiplin hari Rabu (28/8) pekan lalu di aula timur ITB. Ketika itu materi yang beliau sampaikan adalah tentang “berpikir sistem”, yaitu bagaimana kita memandang suatu permasalahan dengan “lensa” sistem (tidak secara independen). Adapun yang dinamakan “sistem” adalah kumpulan elemen-elemen yang berhubungan dan diorganisasikan dalam satu kesatuan untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga ada setidaknya tiga unsur penting dalam sebuah sistem, yaitu elemen/komponen, hubungan/interaksi, dan tujuan.

Oke, itu sebagai mukadimah saja. Ketika berbicara tentang betapa pentingnya hubungan/interaksi antar elemen dalam suatu sistem, pak Bermawi memberikan satu kisah yang cukup menarik. Mmm.. Sebelum itu mari saya jelaskan sedikit, bahwa jika elemen-elemen dalam suatu sistem tidak berinteraksi maka tak ubahnya seperti populasi. Ya, populasi elemen-elemen. Maka interaksi antar elemen dalam sistem menjadi sangat penting.

Baiklah, begini kisahnya. Seperti yang kita tahu bahwa gas hidrogen (H2) dan oksigen (O2) memiliki sifat yang identik dengan pembakaran/api. Hidrogen sangat mudah terbakar, sedangkan oksigen merupakan salah satu syarat terjadinya proses pembakaran. Sekali lagi, keduanya sangat identik dengan api. Namun apa yang terjadi ketika keduanya berinteraksi? Yap, benar.. Hidrogen dan oksigen bisa beraksi membentuk H2O atau kita mengenalnya sebagai air. Sebagai hasil interaksi, air memiliki sifat yang amat berbeda jauh dari sifat unsur-unsur penyusunnya. H2 dan O2 sangat identik dengan api, mudah meledak dan terbakar, sedangkan H2O bersifat dapat memadamkan api.

kristal air zam-zam

kristal air zam-zam (sumber: http://www.dakwatuna.com)

Begitulah, maaf jika mungkin cara saya membawakan cerita kurang menarik seperti aslinya. Intinya, interaksi elemen2 dalam suatu sistem itu sangat penting untuk mencapai suatu tujuan. Begitupula dalam suatu kelompok, atau tim. Bukan tim namanya jika hanya mengikuti satu orang ketua sedangkan yang lainnya pasif. Sehingga tidak mustahil jika pepatah mengatakan dalam suatu tim tidak lagi 2+2=4, tapi bisa jauh lebih besar dari itu. Artinya, kolaborasi ide dan hasil berpikir antar elemen dapat menghasilkan “sesuatu” yang luar biasa jika dibandingkan dengan berpikir secara pasif dan independen. (hbb)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"