Archive for August, 2013

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Tulisan kecil nan ringkas ini semoga bisa menjadi nasihat untuk para pendakwah (da’i dan da’iyah), di manapun dan kapanpun.

Dikatakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa ada 3 (tiga) sifat yang harus kita terapkan dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkar sulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah,

  1. Ilmu, yaitu hendaknya para da’i mengetahui (berilmu tentang) apa yang dia ajak kepadanya atau larang daripadanya. Boleh jadi ia mengajak kepada sesuatu yang disangka baik padahal itu buruk, atau melarang sesuatu yang sepatutnya tidak ia larang. Hal ini tidak layak terjadi. Oleh karena itu hendaknya ilmu lebih diutamakan daripada amal, termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar.
  2. Wara’, yaitu hendaknya berdakwah itu bukan ditujukan untuk mencari kedudukan atau kehormatan, menunjukkan kekuatan jasmani dan rohani, atau yang lainnya. Sifat wara’ yaitu kita beramal hanya karena Allah subhanahu wa ta’ala. 
  3. Akhlak Mulia, ia merupakan kunci dari ketiga sifat ini. Tanpa akhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berkesan, sekalipun da’i adalah seorang yang berilmu dan wara’. Salah satu bentuk akhlak mulia ialah bersabar. Bersabar merupakan sifat yang sangat penting, di kala amar ma’ruf nahi munkar dibalas dengan celaan dan cacian. Terdapat sebuah ungkapan dari Ibnu Taimiyah dalam hal bersabar ketika ber-amar ma’ruf nahi munkar. Beliau mengatakan, “jika kamu tidak bersabar, kamu akan mendapatkan 2 hal : pertama, kemungkinan kamu akan berhenti dalam mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran, hal seperti ini sudah banyak terjadi; kedua, pelaku kemunkaran melakukan kemunkaran yang lebih buruk lagi daripada kemunkaran yang pernah kamu cegah. Na’udzu billah. 

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika suatu saat beliau menyaksikan ada seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki masjid Nabawi lalu kencing di salah satu bagian masjid. para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera melemparkannya keluar dari masjid. namun tidak demikian sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda kepada para sahabat, “jangan, janganlah engkau menyekat kencingnya”. lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri badui tadi. beliau bersabda dengan penuh kelembutan,

“wahai orang badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat-red)“. melihat kelembutan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam badui tadi lantas berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur kencing tersebut. Beliau bersabda, “sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan”. –atau seperti yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Hadits shahih riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lainnya)

Masya-Allah, mulia sekali akhlak Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. saya yakin kita semua bisa mengambil hikmah dari kisah ini. semoga kita diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam menuntut ilmu, meluruskan niat, dan memperbaiki akhlak. hanya Dia-lah yang patut kita mintai pertolongan.

“Ya Allah bimbing akhlak kami agar seperti akhlak Nabi-Mu shallallahu ‘alaihi wa sallam.. aamiin..”


Disarikan dari tausyiah Al-Habib Ali Al-Jufri dengan tambahan secukupnya dari penulis.
Selengkapnya, dapat diakses di http://www.youtube.com/watch?v=tKP_ARA9-sY

Advertisements

Pembangunan dan Badminton

Rasanya akhir-akhir ini dunia semakin sempit. Eh, bukan, maksud saya pembangunan di kota Bandung, khususnya daerah sekitar kampus semakin marak. Orang-orang yang punya duit saling berlomba membangun kos-kosan. Bagaimana tidak, kos-kosan termasuk ladang usaha paling prospektif di daerah sekitar kampus selain kuliner, apalagi di masa-masa pergantian tahun ajaran seperti ini.

Di sini (Plesiran-red), kos-kosan murah dan “lumayan” bagus sangat diburu, khususnya bagi mereka yang tidak ingin berada jauh-jauh dari kampus tapi tetap mendapat tempat istirahat yang layak dengan harga terjangkau. Tapi sepertinya yang seperti ini sudah jarang. Para pemilik kos-kosan selain adu harga, juga adu kualitas. Sudah jarang yang mau menyediakan kos-kosan yang murah tapi “lumayan” bagus, atau sebaliknya, “lumayan” bagus tapi murah, hehe. Saya jadi bersyukur waktu itu (2 tahun silam), kami (BIUSers Kosan 24) bisa dapat kosan dengan harga yaah bisa dibilang terjangkau lah, dengan kualitas yang tidak kalah dengan kosan elit lainnya. Alhamdulillaah, kosan 24 ini juga sangat aman dari gangguan apapun, kecuali mbak Kun*i, hehe. 

salah satu masjid di daerah plesiran. kosan2 di sekitarnya, ukurannya kira2 setinggi masjid ini.

salah satu masjid di daerah plesiran. kosan2 di sekitarnya, ukurannya kira2 setinggi masjid ini.

Oke, kembali ke topik. Maraknya pembangunan seperti ini bisa dikatakan juga berdampak pada berkurangnya lahan hijau dan terbuka. Anggap saja lahan hijau punya kepentingan untuk menyediakan bahan untuk kita bernapas (oksigen-red) dan lahan terbuka untuk tempat main anak-anak dan mahasiswa. Kadang saya merasa kasihan kepada anak2 kecil di dekat kosan saya yang bermain rumah-rumahan di depan gerbang kosan, padahal di desa saya masih banyak lahan sangat luas di mana anak2 kecil bisa main layangan sambil lari-lari, juga bersepeda dan kejar-kejaran ke sana ke mari.

Tapi yang paling menyedihkan adalah ketika menyaksikan teman kosan saya bermain badminton di dalam koridor kosan, tepatnya di depan kamar B3, B5, B6, dan B7 (tentu teman2 tidak perlu tahu posisi kamarnya di mana, hehe). Fotonya bisa dilihat di bawah ini. Sebenarnya teman saya tidak setuju fotonya saya pajang, tapi karena wajahnya tidak begitu terlihat, jadi tidak mengapa (teman2 bisa tebak sendiri). Selain teman saya (yang ada di foto, dan yang ada di samping saya pas saya ngefoto), saya ternyata tertarik ikut bermain juga pada babak kedua. Sayang, saya tidak bisa mengambil foto diri saya sendiri pas saya melakukan smash, haha (pasti keren).

tampak salah satu pemain sedang mengembalikan smash lawannya. eiits.

Taburan Senyum Banyuwangi Berbagi | #RPC2013 #review

Oleh: Fitari Anggraini

Masih ingat dengan acara BuBer dan Santunan 333 Anak Yatim, Piatu, dan Dhu’afa’ tahun lalu? Atau kalian bagian dari acara tersebut? Tahun ini acara tersebut dilanjutkan namun dengan variasi berbeda. Nama garis besar kegiatannya adalah Ramadhan Penuh Cinta 2013. Ramadhan Penuh Cinta 2013 memiliki serangkaian acara, salah satunya yaitu Banyuwangi Berbagi. Banyuwangi Berbagi adalah sebuah kegiatan sosial yaitu berbagi sembako kepada kaum dhu’afa’. Tahun ini, Banyuwangi Berbagi dilaksanakan di Desa Sumbernanas, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.

***

Setelah bingkisan yang akan dibagikan selesai dikemas, para panitia bersepakat tanggal 29 juli pukul dua siang berkumpul di rumah Anggra, PJ (penanggungjawab) Banyuwangi Berbagi.  Kami semua sudah harap-harap cemas sekaligus bahagia karena kabarnya medan yang akan ditempuh lumayan terjal. Panitia putra berangkat menggunakan motor. Sedangkan panitia putri mayoritas naik truk, hanya sebagian saja yang naik motor. Dengan bacaan basmalah kami pun berangkat.

Sesuai dengan dugaan awal, perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang tidak biasa. Kami sempat berteriak histeris dikarenakan 2 hal, jalan terjal meliuk-liuk dan pemandangan yang “subhanallah”, indah sekali. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu kurang lebih 40 menit.  Sampai di lokasi sambutan warga Sumbernanas begitu hangat. Kami disambut dengan lagu dan tarian islami.

Senyum sumringah penuh harap para janda tua dhu’afa’ yang sudah mengantri di kursi hijau panjang menyambut kedatangan kami. Setelah semua persiapan usai, acara pun dimulai. Semua pengisi acara sore itu adalah murni dari warga setempat. Pembagian sembako pun dimulai. Haru bahagia terlihat saat ucapan terimakasih yang begitu mendalam terlontar dari bibir nenek tua ketika menerimanya. Tak lupa kalimat Alhamdulillah akan syukur yang telah Allah berikan juga berulang kali mereka ucapkan. Selain pembagian sembako pada janda tua, ada juga dua anak yatim yang menerima bingkisan alat-alat keperluan sekolah.

kegiatan pembagian sembako

kegiatan pembagian sembako

bingkisan untuk anak yatim

bingkisan untuk anak yatim

Sambil menunggu  waktu berbuka, kami bermain dengan adik-adik kecil. Kuis kecil-kecilan dengan bingkisan bagi yang bisa menjawab menimbulkan ekspresi lucu baik dari peserta maupun penonton. Gelak tawa yang tulus itu mengantarkan kita pada syahdunya adzan maghrib. Dengan penuh rasa syukur kami pun menyeruput air putih untuk menghilangkan dahaga. Kejutannya tak berhenti disitu saja, kami tercengang saat melihat ancak sepanjang 6 meter di depan mata kita. Nasi hangat, kerawu, tumis pakis, tahu tempe serta ayam goreng sudah melambai-lambai ingin disantap.  Acara buka bersama warga sekitar pun menghangatkan tubuh yang sedang kedinginan terserang hawa dingin Desa Sumbernanas.

ancakan :D

ancakan 😀

ancakan :D

ancakan 😀

Sebenarnya kami masih ingin menikmati malam di desa itu, lambaian selamat tinggal mereka mengisyaratkan rasa penuh terimakasih dan ingin jumpa di lain waktu jika Allah mengijinkan. Rupanya malam itu benar-benar mencekam karena tidak ada satu lampu pun yang menerangi hutan jalan pulang. Namun cahaya taburan bintang jauh lebih mengagumkan dibanding lampu neon sekalipun. Di tengah-tengah canda tawa kita mengulang serunya pengalaman tak terlupakan itu. Lagi-lagi kami dibuat tercengang dengan pemandangan lampu-lampu di pinggir laut Selat Bali. Subhanallah, indah sekali. 🙂

Berbekal dari pengalaman ini, kami mendapatkan sebuah hikmah. Bahwa yang terpenting bukan besarnya jumlah rupiah yang dapat kami berikan namun besarnya hati akan kerinduan berbagi yang membuat kepuasan hati terasa sempurna.

***

Salam hangat kami,
Ikatan Alumni Pelajar Banyuwangi (IAPB)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"