Kenal Diri

siapa diri kita? ya kita sendiri yang harus mencari tahu.
siapa diri kita? ya kita sendiri yang harus mencari tahu.

Temen2 pernah merasa sangat putus asa sampe (kepikiran) hampir bunuh diri?
mm.. bunuh diri terlalu parah. bagaimana kalau minder, pernah? temen2 mungkin pernah berkata, “saya kok gini2 aja sih, gak bisa pinter kaya temen2 yang lain”?
atau barangkali pernah merasa paling sempurna? merasa diri kita yang paling baik, paling dermawan, paling pinter, paling alim? “heheh, temen2 gue gitu2 aja ya, masih belum pinter juga, hukum termo dua aja kagak tahu sampe sekarang”.

wah kalau sudah gini gawat, temen2. kalau saya boleh bilang, kita sudah tidak mengenali lagi diri kita sendiri. kenapa begitu?

Ya, sebenarnya kita bisa menghindari itu kalau kita mau mengenali diri kita ini seperti apa. Seperti apa contoh orang yang mengenali dirinya? yang sederhana aja deh, para pelawak di TV. kalau dipikir2 tampang mereka kadang gak ganteng2 banget, suara cempreng, dan seperti gak punya malu. kenapa mereka bisa ‘sukses’? Ya, mereka mengenali dirinya, tidak cukup hanya itu, mereka mengenali potensi yang ada dalam dirinya. mau dipaksa jadi penyanyi, susah, mungkin hanya akan menjadi harapan kosong, tidak cocok dengan potensinya. untuk dunia hiburan/lawak mereka mungkin sangat cocok, terlebih lagi mereka bisa berkembang di situ.

Begitu pula kita. akan berbeda orang yang mengenali dirinya dengan baik, dan yang sebaliknya, acuh dengan dirinya sendiri. orang yang mampu mengenali dirinya, akan mampu memetakan : ini potensi saya, ini kelemahan saya, ini yang harus saya kembangkan, ini yang harus saya jaga, ini tidak boleh tampak, dan kalau ada masalah dengan diri saya, saya harus bisa mencari solusinya. enak bukan? untuk satu kegiatan yang bertujuan mengembangkan potensi, kita bersemangat. kita akan banyak bersyukur dengan mengenali karunia yang telah diberikan Allah kepada kita. kita tidak sombong, karena kita tahu banyak orang yang lebih baik daripada kita, tidak juga minder karena kita tahu kita punya potensi yang tidak ada pada diri orang lain. kita tidak pernah putus asa, karena dibalik keterbatasan diri ini, pastilah ada hikmah, karena Allah tidak akan membiarkan diri kita hina, lemah, dan rapuh terhadap ujian. ah, indah sekali.

bagaimana dengan orang yang acuh? kebanyakan orang yang acuh (sepengamatan saya) tidak tahu ke mana arah hidupnya. mereka senang ikut2an, mudah terpengaruh lingkungan. mending kalau lingkungannya baik, kalau tidak? gawat pokoknya. terkadang mereka melakukan pekerjaan yang bahkan tidak mereka suka, akhirnya mengekang diri mereka sendiri. mereka sering putus asa dalam keterbatasannya, kadang terlalu bersemangat karena merasa mampu- padahal dirinya memiliki keterbatasan, minder akan kelemahannya, dan sombong dengan kelebihannya. mereka kurang mentadabburi tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada dalam diri mereka. begitulah, mereka tak bisa memilih mana yang baik untuk dirinya, dan mereka tak mampu menolak mana yang berbahaya bagi dirinya. ya, seakan semuanya hanya hawa nafsu yang menggerakkan. mereka hampir seperti boneka. semoga kita tidak seperti itu, na’uudzu billaahi min dzaalik.

Amirul Mukminin Ali radhiyallaahu ‘anhu pernah mengatakan,

Obatmu terdapat dalam dirimu,
namun kau tidak menyadarinya.
Penawarmu berasal dari dirimu,
namun kau tidak mengetahuinya.
Engkau mengira dirimu satu benda yang kecil,
padahal dalam dirimu termuat alam yang besar.

Mahasuci Allah yang menciptakan kita tanpa kekurangan sedikitpun. Yang pasti perlu kita sadari adalah ilmu kita tidak akan sebanding dengan Ilmu-Nya. Se-merasa tidak sempurna bagaimanapun- diri kita, di sisi Allah itulah ketentuan-Nya yang terbaik. Hanya kita saja yang belum mampu merasakan kesempurnaan penciptaan-Nya.

“Telah Kami ciptakan manusia itu dalam sebaik-baik bentuk.” (QS. At-Tiin: 4)

Semoga kita tidak lagi menjadi orang yang minder, gampang stress, putus asa, ah itu bukan muslim yang kuat namanya. Muslim yang kuat dan keren itu yang percaya diri dalam kebenaran, dan percaya diri dalam menolak kebathilan. #tamparan buat diri saya sendiri. perlu bukti tentang definisi ini? cari sendiri di surat Ali-imron, hehe. Wallaahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s