Nasihat Cinta Imam Abu Hanifah

Kenal Imam Abu Hanifah? Ya, beberapa pasti sudah kenal.

Kenal Abu Yusuf? murid Imam Abu Hanifah? Nah loh, belum kenal kan. hehe. Memang Abu Yusuf bukan seorang ulama’ madzhab seperti gurunya tapi ia termasuk orang penting dalam cerita madzhab Hanafi.

Yang ingin saya angkat pada tulisan ini adalah, sebuah kisah yang cukup menarik dari Abu Yusuf kecil. Abu Yusuf kecil adalah anak yatim, ia hidup bersama ibunya. Ibunya selalu mengajak ia ke istana agar ia mendapat pekerjaan di sana dan mendapat harta. Tapi Abu Yusuf kecil ini “nakal”. Ia selalu kabur untuk pergi ke majlis Imam Abu Hanifah untuk belajar. Suatu ketika sang ibu pernah berkata kepada Abu Hanifah, “Anak ini seorang yatim, tidak memiliki apa-apa, kecuali makanan yang aku berikan untuknya dari hasil mesin tenun, sekarang Engkau telah membuatku susah, karena anakku telah menyukai majlismu.”

Apa jawaban Imam Abu Hanifah? Beliau menjawab dengan cukup santai, dan berkata dengan kalimat doa, “Kelak anak ini akan memakan Al-Faludzaj dan kacang tanah di atas piring emas.”

Suatu saat Imam Abu Hanifah memberi nasihat kepada Abu Yusuf, sebuah nasihat hidup yang sangat kuat sekali maknanya,

“Pertama-tama, carilah ilmu, lalu kumpulkanlah harta dari yang halal, kemudian menikahlah. Jika Engkau disibukkan mencari harta saat mencari ilmu, Engkau tidak akan mampu mencari ilmu, karena hartamu akan mendorongmu untuk membeli budak, lalu engkau disibukkan dengan urusan dunia.

Jangan sibukkan dirimu untuk mengurus istri sebelum engkau mendapatkan ilmu, karena kesempatanmu untuk belajar akan sirna, terlebih jika Engkau telah disibukkan dengan anak dan anggota keluargamu, lalu Engkaupun terpaksa mencari harta, bekerja, untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan meninggalkan aktivitas mencari ilmu.

Dahulukan mencari ilmu sa’at engkau masih muda, ketika hati dan perasaanmu masih kosong dari kesibukan lain. Lalu setelah itu, carilah harta hingga ia terkumpul padamu, jika Engkau sudah mempunyai harta, maka bolehlah Engkau memikirkan untuk segera menikah.”

Nasihat yang cukup mujarab dari seorang guru. Ketika ia sudah besar, dengan kehendak Allah ia benar-benar menjadi orang penting di istana seperti yang telah didoakan oleh Imam Abu Hanifah. Dengan ilmunya, ia diamanahkan menduduki kursi Qadhi Al-Qudhot (hakim tertinggi negara) pada masa khalifah Harun Al-Rasyid. Bukunya “Al-Kharraj”, juga menjadi rujukan raja Harun Al-Rasyid dalam mengatur ekonomi negaranya.

Maa syaaAllah… Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Abu Yusuf dan Imam Abu Hanifah ini. Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.rumahfiqih.com/

2 thoughts on “Nasihat Cinta Imam Abu Hanifah

  1. Kisahnya benar begini mas? Bukan apa-apa sih, tapi apakah dalam madzhab hanafi memang menghalalkan piring emas ya? Soalnya biasanya kisah-kisah juga membawa sebuah hikmah yang luas, yang berkaitan dengan pemikiran juga.

    Like

    1. Kurang tahu Zuh, senangkep saya itu hanya kiasan utk orang yang jabatannya tinggi. Jadi seakan2 seperti itu. Tidak tahu apakah pada zaman itu menggunakan piring emas atau tidak.
      Wallahu a’lam.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s