Sebuah Perumpamaan

Saya menemukan sebuah perumpamaan yang cukup indah untuk kawan-kawan renungkan. Perumpamaan yang diberikan oleh Habib Munzir Al-Musawa atas pertanyaan mengenai apakah kita ini (sebagai manusia) layaknya wayang yang digerakkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala?

Allah subhanahu wa ta’ala Maha Menentukan dan Maha Mengatur, tidak seorangpun bisa lepas dari aturan Allah subhanahu wa ta’ala, namun aturan Ilahi itu juga disertai kebebasan, namun kebebasan yang terikat dengan ketentuan.

Mudahnya seperti ini : Kita menginap di rumah teman. Teman kita (sebagai pemilik rumah) telah menyiapkan ruangan untuk kita, menyiapkan makanan di dapur, selimut di kamar, air panas di kamar mandi, dan telepon di ruang tamu, maka kita boleh memanfaatkan yang kita inginkan. Kita bisa makan, tidur, mandi air hangat, dan sebagainya. Namun kita tak akan menemukan makanan di kamar tidur, karena pemilik rumah sudah menyiapkannya di dapur dan bukan di ruangan lainnya, kita dapat mandi air hangat namun kita tak akan mendapatkannya di ruangan tamu, karena sang pemilik rumah telah menyiapkannya di kamar mandi, kita dapat menelepon siapa saja, namun pemilik rumah tak menyediakan untuk kita sarana hubungan SLI dan fax di telepon yang kita gunakan, maka bagaimanapun kita tak akan bisa menggunakannya untuk SLI dan Fax karena sarana tak tersedia dari pemilik rumah.

Nah.. demikian pula kita dengan Allah subhanahu wa ta’ala, Allah telah menyediakan segalanya dan menentukan segalanya, namun kita bisa memilih mana yang kita pilih, namun yang kita pilihpun tak bisa melebihi apa yang telah ditentukan-Nya. Misalnya di rumah tadi sang pemilik hanya menyiapkan satu ember air hangat, maka kita tak akan mendapat lebih dari itu kecuali dengan izin dan keinginan pemilik rumah.

***

Demikianlah, sekarang tinggal kita yang menentukan, apakah kita masih mau seenaknya saja menjalani hidup ini? semau kita? yang penting kita suka? Tidak kawan.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyempurnakan Islam, telah menyempurnakan syariatnya. Yang apabila kita berjalan di atasnya sesuai yang telah diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kita akan selamat di dunia dan di akhirat. Sungguh, Allah telah menunjukkan kita jalan yang baik lagi sempurna. Akankah kita bersyukur dengan berjalan di atasnya, ataukah kita kufur karena berjalan seenaknya? na’udzubillah min dzalik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang diberikan petunjuk oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

“Sungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Ada yang bersyukur, dan ada pula yang kufur.” (Al-Insan : 3)

“Dan katakanlah Muhammad, kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Barangsiapa menghendaki beriman, hendaklah dia beriman. Dan barang siapa menghendaki kafir, biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka minta pertolongan (minum), mereka akan di beri air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi : 29)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s