Mengintip Sejarah Kodifikasi Al-Quran

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Sebagian besar dari kita mungkin sudah tahu, kapan dan bagaimana Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun tahukah kita bagaimana Al-Quran itu disusun padahal ia turun secara terpisah, antara satu ayat dengan ayat lainnya? Lantas, siapakah orang pertama yang menyusun Al-Quran sehingga ia ada seperti yang kita miliki saat ini?

Al Qur'an

Proses pencatatan, pengumpulan dan pembukuan Al-Quran dapat kita ringkas dengan istilah kodifikasi Al-Quran. Sebagian besar ‘ulama’ berpendapat, sejarah kodifikasi Al-Quran terjadi dalam tiga marhalah atau masa. Marhalah yang pertama ialah pada masa hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, marhalah kedua ialah pada masa khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan marhalah ketiga pada masa khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu.

Marhalah Pertama

Pada marhalah pertama, penjagaan Al-Quran sangat ditekankan pada hafalan oleh sahabat. Selain itu juga ditulis dengan alat tulis seadanya. Beberapa yang digunakan saat itu ialah pelepah kurma, batu tipis, tulang-tulang pipih, dan kulit binatang. Al-Quran ditulis oleh para penulis wahyu yang ditunjuk langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk menjaga keasliannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian menulis dari aku. Barangsiapa yang telah menulis dari aku selain Al-Quran hendaknya ia menghapusnya.” (HR. Muslim)

Perlu diketahui bahwa pada masa ini Al-Quran belum dihimpun dan disusun dalam satu mushaf meskipun pada saat itu sudah banyak sahabat yang menghafalnya. Terkait hal ini, Prof. Dr. Shalah Shawi menerangkan bahwa pada saat itu Rasulullah senantiasa menunggu turunnya wahyu dari satu waktu ke waktu yang lain. Beliau juga menunggu adanya nasikh (penghapusan) sebagian hukum-hukum atau bacaan Al-Quran. Alasan terakhir adalah agar susunan ayat-ayat Al-Quran masih dapat diubah apabila turun wahyu yang baru, karena beliau senantiasa mengisyaratkan tempat masing-masing ayat terhadap ayat-ayat yang lain.

Marhalah Kedua

Marhalah kedua ialah pada masa khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Pada masa ini terjadi perang Yamamah, yaitu suatu perang yang mengakibatkan para penghafal Al-Quran gugur. Akibat peristiwa tersebut ‘Umar radhiyallahu ‘anhu merasa khawatir akan kehilangan sebagian besar ayat-ayat Al-Quran akibat wafatnya para huffazh.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, ketika itu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata, “Sesungguhnya peperangan sengit terjadi di hari Yamamah dan menimpa para qurra’ (para huffazh). Dan aku merasa khawatir dengan sengitnya peperangan terhadap para qurra (sehingga mereka banyak yang terbunuh) di negeri itu. Dengan demikian akan hilanglah sebagian besar AlQuran.”

Khalifah abu bakar radhiyallahu ‘anhu mulanya ragu dan takut karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan ini sebelumnya. ‘Umar radhiyallahu ‘anhu senantiasa mengulang usulannya tersebut kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, hingga suatu saat Allah melapangkan dada Abu bakar untuk sependapat dengannya.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu lalu mengutus seorang shahabat untuk memanggil Zaid bin Tsabit. Beliau mengatakan,  “Engkau laki-laki yang masih muda dan cerdas. Kami sekali-kali tidak pernah memberikan tuduhan atas dirimu, dan engkau telah menulis wahyu untuk Rasulullah saw sehingga engkau selalu mengikuti Al-Qur`an, maka kumpulkanlah ia.”

Zaid radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Demi Allah seandainya kalian membebaniku untuk memindahkan gunung dari tempatnya, maka sungguh hal itu tidaklah lebih berat dari apa yang diperintahkan kepadaku  mengenai pengumpulan Al-Quran.”

Zaidpun berangkat untuk melaksanakan tugas mulia ini. Pengumpulan Al-Qur`an ini, ia lakukan tidak berdasarkan hafalan para huffazh saja, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu apa yang tertulis di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lembaran-lembaran Al-Quran tersebut tidak diterima, kecuali setelah disaksikan dan dipaparkan di depan dua orang saksi yang menyaksikan bahwa lembaran ini merupakan lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengambil selembarpun kecuali jika lembaran itu diperoleh secara tertulis dari salah seorang sahabat dan ayat di dalamnya harus dihafal oleh salah seorang dari kalangan sahabat.

Mushaf-mushaf yang telah terkumpul lalu disimpan di rumah khalifah Abu bakar radhiyallahu ‘anhu hingga beliau wafat. Mushaf-mushaf ini kemudian dipindahkan dan disimpan di rumah khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu hingga beliau wafat. Terakhir, mushaf-mushaf ini disimpan di rumah ummul-mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha sesuai wasiat dari khalifah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

’Ali radhiyallahu ‘anhu bercerita tentang Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu terkait pengumpulan Al-Quran ini, ia berkata, “Manusia yang paling besar jasanya terhadap al-quran ialah Abu bakar. Semoga rahmat Allah untuk Abu bakar, dialah yang pertama kali mengumpulkan kitab Allah subhanahu wa ta’ala.”

Marhalah Ketiga

Marhalah ketiga ialah pada masa khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu. Pada masa ini kaum muslimin mulai banyak yang berselisih tentang Al-Quran. Disebutkan bahwa di wilayah-wilayah yang baru dibebaskan, sahabat nabi yang bernama Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu terkejut melihat adanya perbedaan dalam membaca Al-Quran hingga satu kaum mengkafirkan yang lain. Hudzaifah melihat penduduk Syam membaca Al-Quran dengan bacaan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Irak. Begitu juga ia melihat penduduk Irak membaca Al-Quran dengan bacaan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sebuah bacaan yang tidak pernah didengar oleh penduduk Syam. Perbedaan bacaan tersebut juga terjadi antara penduduk Kufah dan Bashrah.

Dalam shahih Bukhari disebutkan, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu segera mendatangi khalifah ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sadarkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Quran sebagaimana perselisihan antara Yahudi dan Nasrani.”

‘Utsman radhiyallahu ‘anhu menerima usulan tersebut. Ia lalu mengirimkan orang untuk meminjam mushaf kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha untuk disalin.  Ia memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalinnya ke dalam beberapa mushaf.

Setelah selesai disalin, khalifah ‘Utsman dan para sahabat kemudian berijtihad untuk menyusun Al-Quran sesuai dengan nash yang ia dapatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ para sahabat.

Mushaf yang telah tersusun kemudian dicopy dan dikirimkan tujuh kota, yaitu Makkah, Syam, Yaman, Bahrain, Bashrah, Kufah dan Madinah. Mushaf inilah yang dikenal dengan mushaf ‘Utsmani. Khalifah lalu memerintahkan kepada seluruh negeri agar umat muslim menggunakan mushaf ‘Utsmani. Ia juga memerintahkan semua mushaf yang bertentangan dengan mushaf  ‘Utsmani dibakar.

‘Utsman radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Manusia diwajibkan untuk memakai mushaf ini saja, supaya tidak ada perpecahan dan perselisihan.”

Al-Quran Senantiasa Terjaga

Allah subhanahu wa ta’ala telah menjamin bahwa siapapun, meski manusia dan jin berkumpul, mereka tidak akan bisa membuat yang serupa dengan Al-Quran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa AlQuran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.’” (Al-Isra’: 88)

Jangankan satu Al-Quran, sepuluh surat, satu surat, atau bahkan satu ayat tak seorangpun yang mampu membuatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat-surat yang lain,

Bahkan mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat AlQuran itu, Katakanlah: (Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surah-surah yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar.’” (Hud: 13)

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang AlQuran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal AlQuran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.(Al-Baqarah: 23)

Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. (Ath-Thur: 34)

Demikianlah, tidak perlu diragukan lagi bahwa Al-Quran yang sampai kepada kita sekarang adalah benar-benar yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasul-Nya, tidak kurang dan tidak bertambah sedikitpun. Kita harus yakin bagaimanapun upaya kaum kafir berusaha mengubah isi dan merusak kandungan Al-Quran, Allah tetap menjamin bahwa Al-Quran akan tetap terjaga hingga hari kiamat. Semoga pengetahuan yang sedikit ini dapat meningkatkan iman kita kepada kitab Allah subhanahu wa ta’ala.

Referensi

Al-Quranul-karim.
Naik, Zakir; Shawi, Shalah; dan Subh, S. A. M., “Mereka bertanya islam menjawab”, Penerbit AQWAM, Solo, 2012.
Ceramah Ustadz Abdullah Shaleh Hadrami, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s