Adab Murid terhadap Gurunya (2)

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Adab Murid terhadap Gurunya (1)”, sudah dijelaskan secara ringkas lima dari sepuluh adab seorang murid kepada guru, antara lain mendahulukan kesucian jiwa, mengurangi kesibukan duniawi, tidak bersikap sombong kepada guru, menjaga diri dari perselisihan, dan mengambil cabang2 ilmu yang terpuji.

Tulisan berikut bertujuan untuk melengkapi kesepuluh adab seperti yang telah disebutkan.

Keenam, hendaklah seorang murid tidak menekuni semua cabang ilmu sekaligus, melainkan menjaga urutannya dimulai dari yang paling penting. Karena apabila usia kita tidak mencukupi untuk mempelajari semua ilmu, maka kita telah mengambil ilmu yang paling penting dan menyempurnakannya. Para ulama sepakat bahwa ilmu yang paling penting ialah ilmu akhirat. salah satunya yang paling mulia sekaligus puncaknya ialah ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala (ma’rifatullah).

Ketujuh, hendaklah seorang murid tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya, karena ilmu itu tersusun secara berurut. Misalnya, kita harus mempelajari ilmu tentang bersuci (thaharah) terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu tentang shalat, dan sebagainya.

Kedelapan, hendaklah seorang murid mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Yang dimaksud di sini ialah dua hal: pertama kemuliaan hasil, dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu enjinering. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu enjinering adalah kehidupan yang fana. Dengan demikian ilmu agama lebih mulia.

Kesembilan, hendaknya tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mampercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Seorang murid hendaknya tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabuhi orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Karena tujuan sebenarnya menuntut ilmu ialah untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Ilmu apapun, jika ia bermaksud untuk mencari ridha Allah, pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh, hendaklah seorang murid mengetahui kaitan ilmu dengan tujuannya supaya dapat mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, yang penting daripada yang lainnya. Maksud “yang penting” ialah apa yang menjadi kepentingan kita, dan tidak ada yang menjadi kepentingan kita kecuali urusan dunia dan akhirat.

***

Wallaahu a’lamu,

Semoga kita dapat meneladani akhlak para penuntut ilmu yang telah dicontohkan oleh para ulama’ dan mampu mengamalkannya. Karena ilmu yang bermanfaat bukan yang banyak diketahui, melainkan yang banyak diamalkan.

Semoga bermanfaat. 🙂

Referensi:

Tazkiyyatun-nafs, Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali, yang disusun ulang oleh Sa’id Hawwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s