Adab Murid terhadap Gurunya (1)

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.
salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

Said Hawwa menuliskan dalam bukunya, “Tazkiyyatun-nafs”, sebuah intisari “Ihyaa’ ‘Uluumud-diin” yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, bahwa murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak terhadap gurunya. Beliau menyusunnya menjadi sepuluh bagian:

Pertama, hendaknya seorang murid mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq . dan keburukan sifat. Karena pada dasarnya ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya bathin kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir (tampak) , tidak sah kecuali menyucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batihin yang menyemarakkan hati dengan dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah sekali-kali tidak mennjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzaab: 4)

Jika pikiran terpecah, maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya.” Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi menguap sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Penuntut ilmu hendaknya bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Di antara bentuk kesombongan terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal, padahal sikap ini merupakan kebodohan. Oleh sebab itu dikatakan, “Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.” Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendegnarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta’ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat, karena hal ini akan membingungkan akal dan pikirannya dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela’ah mendalam. Maka pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika usianya mendukung, maka ia hendaknya berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan itu saling mendukung dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

Ilmu-ilmu “syar’iyah” dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa manzilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya tujuan. Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga “syari’ah” yang tak ubahnya seperti para penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan pahala di akhirat sesuai dengan tingkatannya tersebut, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Demikianlah,

Apakah kita sudah menyucikan hati kita dari berbagai penyakit hati? Riya’, ‘ujub, sombong? | Karena menuntut ilmu itu ibadahnya hati.

Apakah kita masih sibuk dengan berbagai macam urusan dunia? | Karena pikiran yang terkonsentrasi itu lebih mudah menerima berbagai hakikat ilmu.

Apakah kita pernah – atau bahkan sering – bersikap sombong kepada guru kita? Ustadz? Dosen, mungkin? Atau orang-orang yang pernah mengajarkan kepada kita suatu ilmu? | Karena ilmu itu enggan kepada penuntut ilmu yang sombong.

Apakah kita sering berselisih terhadap suatu ilmu sedangkan kita tidak tahu dasarnya? Atau berselisih tentang suatu hal sedangkan kita belum mendalaminya? | Karena ilmu itu perlu dimantapkan sebelum mendengar berbagai perselisihan.

Apakah kita telah menuntut ilmu-ilmu yang terpuji, yang memiliki tujuan akhir ridha Allah subhanahu wa ta’ala? Atau masih berputar pada ilmu yang tidak jelas maksud dan tujuannya? | Karena menuntut ilmu yang terpuji merupakan sebab kita mendapat pahala yang besar di akhirat kelak.

Beristighfarlah, sesungguhnya Allah maha pengampun dosa, lagi maha penyayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan para pembaca.  🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s