Archive for April, 2013

Orang Makassar?

SONGKOK TO BONE

Lagi-lagi saya dikira orang Makassar.

Waktu itu ketika saya hendak sholat Shubuh di Masjid Darud-Dakwah, Plesiran, saya berjumpa dengan seorang yang tidak saya kenal, anggap namanya Fulan. Saat berpapasan, Fulan menatap saya cukup lama. Saya yang bingung, hanya bisa tersenyum. Tiba-tiba si Fulan mulai menyapa,

Assalamu’alaikum…”, sapa Fulan sambil mengulurkan tangannya.

Wa’alaikumsalam...”, jawab saya. Saya pun segera menjabat tangannya.

“Orang Makassar, kak?”, tanya Fulan.

Saya kaget, kan, “Wah, bukan… hehe...”, jawab saya spontan, sambil senyum-senyum.

Setelah dipikir2, ternyata songkok ini yang membuat saya dikira orang Makassar. Tidak mengherankan memang, karena ini memang songkok asli Makassar, hadiah dari teman saya, kak Robbi, ketika pulang dari MTQ-MN Makassar tahun 2011 lalu.

***

Advertisements

Yuk, Sempurnakan Akhlak

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. :)

sempurnanya akhlak, sempurnanya iman. mari menjadi insan berakhlak. 🙂

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Bukhari)

Sebagai seorang muslim yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita tentu ingin meneladani akhlak beliau yang sempurna. Akhlak yang sempurna adalah bekal yang amat besar bagi untuk di akhirat kelak.

Berat di Timbangan

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan dari akhlak yang baik.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Iman yang Sempurna

“Kaum mukminin yang yang paling sempurna imannya ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Kedudukan yang baik di Hari Kiamat

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, dan orang yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. Bukhari)

Sesungguhnya seorang hamba dengan akhlak yang baik pasti dapat mencapai derajat akhirat yang agung dan tempat yang mulia, kendati ibadahnya lemah.” (HR. Thabrani, dengan sanad yang baik)

AKHLAK SEORANG MUSLIM

Ulama berkata tentang akhlak yang baik,

“Hendaknya seseorang banyaj merasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikannya, benar tutur katanya, sedikit bicara, banyak kerja, sedikit salahnya, sedikit berlebih-lebihan, berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, tenang, sabar, bersyukur, ridha, lembut, menepati janji, tidak meminta-minta, tidak melaknat, tidak menghina, tidak mengadu domba, tidak menggunjing, tidak gegabah, tidak dengki, tidak kikir, berwajah ceria, mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena-Nya, ridha karena-Nya, dan murka karena-Nya.”

Maa syaa-Allah, banyak sekali ya… semoga kita bisa mengamalkan semuanya… 😀

Sabar

Di antara akhlak baik orang muslim ialah sabar. Sabar ialah menahan diri terhadap apa yang dibencinya, atau menahan sesuatu yang dibencinya dengan ridha Allah ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah.” (QS. Luqman: 17)

“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang  telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 96)

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Begitupula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Luar biasa urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya itu baik, dan semua itu tidak dimiliki kecuali oleh orang mukmin. Jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, dan itu sangat baik baginya. Jika ditimpa cobaan, ia bersabar, dan itu sangat baik baginya.” (HR. Bukhari)

Tawakkal dan Percaya Diri

Tawakkal bagi seorang muslim adalah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tentram, dan keyakinan kuat bahwa apa yang dikehendaki Allah ta’ala pasti terjadi, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan Allah ta’ala tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik (Minhajul-muslim, hlm. 226)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

“Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakkal.” (At-Taghabun: 13)

Itsar dan Cinta Kebaikan

Di antara akhlak seorang muslim yang ia dapatkan dari ajaran islam dan keislamannya yang baik ialah itsar dan cinta kebaikan. Itsar ialah mendahulukan kepentingan saudara seakidah atas kepentingan pribadi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

“Dan kebaikan apa saja yang kalian perbuat untuk dirimu niscaya kalian memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil: 9)

Akhlak Adil dan Pertengahan

Allah subhanahu wa ta’ala mewajibkan keadilan dalam banyak firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl:90)

“Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS, Al-Hujurat: 9)

Seorang muslim hendaknya berbuat adil dalam segala hal hingga menjadi akhlak yang tidak terpisahkan darinya. Hasilnya, keluarlah darinya ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan yang adil dan jauh dari kezhaliman. Ia menjadi orang yang adil, tidak tertarik pada hawa nafsu, tidak condong kepada syahwat, dan tidak cinta dunia. Oleh karena itu ia berhak mendapat cinta Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan (amanah) yang diberikan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Adapun pertengahan, maka lebih umum daripada adil, dan pertengahan inilah yang mengelola seluruh persoalan orang muslim dalam hidupnya. Pertengahan ialah jalan tengah di antara yang berlebih-lebihan dan sembrono yang keduanya merupakan sifat tercela. Pertengahan dalam ibadah ialah bersih dari sikap berlebih-lebihan dan sembrono. Contoh pertengahan dalam infaq ialah tidak berlebih-lebihan dan tidak pula pelit, namun pertengahan di antara keduanya. Allah ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Al-Furqan: 67)

Pertengahan dan istiqomah ialah saudara kembar. keduanya ialah akhlak yang mulia, karena akhlak itulah yang membuat orang muslim tidak melanggar batasan-batasan Allah ta’ala, membangkitkannya untuk melaksanakan ibadah-ibadah fardhu, dan mengajarkan kesucian kepadanya hingga ia merasa cukup dengan apa yang dihalalkan oleh Allah ta’ala.

Cukuplah kemuliaan bagi orang-orang yang istiqomah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Sumber: Minhajul-Muslim, Abu Bakr Jabir Al-Jazairi

Masih Ada Harapan

masih ada harapan.. :)

masih ada harapan.. 🙂

ya Allah.. ternyata di balik keterpurukan ini, masih ada harapan dari luar sana..
di balik kelemahan ini, masih ada yang berpikir bahwa diri ini kuat..
di balik kebodohan ini, masih ada yang mengira bahwa diri ini pandai..
di balik keterbatasan ini, masih ada yang husnuzhzhon bahwa diri ini bisa segalanya.. seperti yang mereka kehendaki..

apakah ini salah hamba, yakni tidak mengenali potensi diri sendiri?
apakah ini pertanda hamba telah lalai dan zholim terhadap diri hamba sendiri?
apakah ini pertanda dari-Mu bahwa sebenarnya diri ini bisa menjadi seperti yang mereka pikirkan?

astaghfirullaah.. ampuni dosa2 hamba-Mu yang lemah, bodoh, lagi terbatas ini ya Allah..
tuntun hamba menuju jalan yang baru, jalan yang ditempuh oleh hamba-hamba-Mu yang beriman lagi Engkau cintai..

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.” (Al-Baqarah: 186)

Satu Cinta

cinta ini perlu dijaga

cinta ini perlu dijaga

Sungguh cinta dari manusia tidak ada apa-apanya, memang kadang indah, enak dirasa, lembut, membuat diri yakin akan kedudukan di hadapan manusia, membuat diri ini bangga, namun ketahuilah, cinta yang demikian tidak akan berarti tanpa cinta dari-Nya.

ya Allah, jangan Engkau gelincirkan kami pada cinta selain cinta dari-Mu. jangan engkau lenakan kami dengan cinta selain cinta untuk-Mu. dan jangan Engkau biarkan kami menaruh cinta selain cinta kepada-Mu.

Ya Allah, cintai kami, maka Engkau akan menjaga kami dari kehidupan dunia yang begitu menggoda.

Ya Allah, cintai kami, maka Engkau akan menjadikan kami termasuk ke dalam hamba-Mu yang shalih.

“Allah memberikan dunia pada yang Dia cintai dan yang Dia benci. Tetapi Dia tidak memberikan (kesadaran ber) agama, kecuali pada yang Dia cintai. Maka barangsiapa diberi (kesadaran ber) agama oleh Allah, berarti ia dicintai oleh-Nya.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Ya Allah, cintai kami, maka Engkau akan menjadikan kami faham dalam agama.

Ya Allah, cintai kami, maka Engkau akan menjadikan kami sosok yang lembut lagi tenang, serta bijaksana.

“Jika Allah menginginkan kebaikan penghuni satu rumah, maka Dia masukkan kelembutan.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim, dan At-Tirmidzi)

Ya Allah, cintai kami, maka Engkau akan memudahkan kami dalam melakukan ketaatan.

Ya Allah, cintai kami, maka Engkau akan menyulitkan kami ketika ingin melakukan maksiat. sulit sekali.

Ya Allah, cintai kami, maka Engkau akan menutup umur kami dengan amal shalih. husnul-khotimah.

“Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memaniskannya.” Sahabat bertanya, “Apa itu memaniskannya, ya Rasulullah?” Ia berkata, “Dia akan memberikan ia petunjuk untuk melakukan kebaikan saat menjelang ajalnya, sehingga tetangganya akan meridhainya -atau ia berkata- orang sekelilingnya.” (HR. Al-Hakim)

Ya Allah, cintai kami…

Sungguh tidak ada cinta yang paling kami rindukan, kecuali cinta dari-Mu…

Adab Murid terhadap Gurunya (2)

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta'ala.

dalam menuntut ilmu, bukan pujian, harta, atau kekuasaan tujuan utama kita. melainkan ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul “Adab Murid terhadap Gurunya (1)”, sudah dijelaskan secara ringkas lima dari sepuluh adab seorang murid kepada guru, antara lain mendahulukan kesucian jiwa, mengurangi kesibukan duniawi, tidak bersikap sombong kepada guru, menjaga diri dari perselisihan, dan mengambil cabang2 ilmu yang terpuji.

Tulisan berikut bertujuan untuk melengkapi kesepuluh adab seperti yang telah disebutkan.

Keenam, hendaklah seorang murid tidak menekuni semua cabang ilmu sekaligus, melainkan menjaga urutannya dimulai dari yang paling penting. Karena apabila usia kita tidak mencukupi untuk mempelajari semua ilmu, maka kita telah mengambil ilmu yang paling penting dan menyempurnakannya. Para ulama sepakat bahwa ilmu yang paling penting ialah ilmu akhirat. salah satunya yang paling mulia sekaligus puncaknya ialah ilmu mengenal Allah subhanahu wa ta’ala (ma’rifatullah).

Ketujuh, hendaklah seorang murid tidak memasuki suatu cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya, karena ilmu itu tersusun secara berurut. Misalnya, kita harus mempelajari ilmu tentang bersuci (thaharah) terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu tentang shalat, dan sebagainya.

Kedelapan, hendaklah seorang murid mengetahui faktor penyebab yang dengannya ia bisa mengetahui ilmu yang paling mulia. Yang dimaksud di sini ialah dua hal: pertama kemuliaan hasil, dan kedua kekokohan dan kekuatan dalil. Hal ini seperti ilmu agama dan ilmu enjinering. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan yang abadi sedangkan hasil ilmu enjinering adalah kehidupan yang fana. Dengan demikian ilmu agama lebih mulia.

Kesembilan, hendaknya tujuan murid di dunia adalah untuk menghias dan mampercantik batinnya dengan keutamaan, dan di akhirat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan meningkatkan diri untuk bisa berdekatan dengan makhluk tertinggi dari kalangan malaikat dan orang-orang yang didekatkan (muqarrabin). Seorang murid hendaknya tidak bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan, harta, dan pangkat, atau untuk mengelabuhi orang-orang bodoh dan membanggakan diri kepada sesama orang yang berilmu. Karena tujuan sebenarnya menuntut ilmu ialah untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Ilmu apapun, jika ia bermaksud untuk mencari ridha Allah, pasti ilmu itu akan bermanfaat baginya dan mengangkat derajatnya.

Kesepuluh, hendaklah seorang murid mengetahui kaitan ilmu dengan tujuannya supaya dapat mengutamakan yang tinggi lagi dekat daripada yang jauh, yang penting daripada yang lainnya. Maksud “yang penting” ialah apa yang menjadi kepentingan kita, dan tidak ada yang menjadi kepentingan kita kecuali urusan dunia dan akhirat.

***

Wallaahu a’lamu,

Semoga kita dapat meneladani akhlak para penuntut ilmu yang telah dicontohkan oleh para ulama’ dan mampu mengamalkannya. Karena ilmu yang bermanfaat bukan yang banyak diketahui, melainkan yang banyak diamalkan.

Semoga bermanfaat. 🙂

Referensi:

Tazkiyyatun-nafs, Intisari Ihya’ Ulumuddin Al-Ghazali, yang disusun ulang oleh Sa’id Hawwa.

Adab Murid terhadap Gurunya (1)

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

salah satu sebab masuknya ilmu ialah adab murid terhadap gurunya.

Said Hawwa menuliskan dalam bukunya, “Tazkiyyatun-nafs”, sebuah intisari “Ihyaa’ ‘Uluumud-diin” yang ditulis oleh Imam Al-Ghazali, bahwa murid memiliki adab dan tugas (wazhifah) lahiriyah yang banyak terhadap gurunya. Beliau menyusunnya menjadi sepuluh bagian:

Pertama, hendaknya seorang murid mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlaq . dan keburukan sifat. Karena pada dasarnya ilmu adalah ibadahnya hati, shalatnya jiwa, dan peribadatannya bathin kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana shalat yang merupakan tugas anggota badan yang zhahir (tampak) , tidak sah kecuali menyucikan yang zhahir itu dari hadats dan najis. Demikian pula ibadah batihin yang menyemarakkan hati dengan dengan ilmu tidak sah kecuali setelah kesuciannya dari berbagai kotoran akhlaq dan najis-najis sifat.

Kedua, mengurangi keterikatannya dengan kesibukan dunia, karena ikatan-ikatan itu menyibukkan dan memalingkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah sekali-kali tidak mennjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” (Al-Ahzaab: 4)

Jika pikiran terpecah, maka tidak akan bisa mengetahui berbagai hakikat. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu tidak akan memberikan kepadamu sebagiannya sebelum kamu menyerahkan kepadanya seluruh jiwamu. Jika kamu telah memberikan seluruh jiwamu kepadanya tetapi ia baru memberikan sebagiannya kepadamu maka kamu berarti dalam bahaya.” Pikiran yang terpencar pada berbagai hal yang berserakan adalah seperti sungai kecil yang airnya berpencar kemudian sebagiannya diserap tanah dan sebagian lagi menguap sehingga tidak ada yang terkumpul dan sampai ke ladang tanaman.

Ketiga, tidak bersikap sombong kepada orang yang berilmu dan tidak bertindak sewenang-wenang terhadap guru. Penuntut ilmu hendaknya bersikap tawadhu’ kepada gurunya dan mencari pahala dan ganjaran dengan berkhidmat kepadanya. Di antara bentuk kesombongan terhadap guru ialah sikap tidak mau mengambil manfaat (ilmu) kecuali dari orang-orang besar yang terkenal, padahal sikap ini merupakan kebodohan. Oleh sebab itu dikatakan, “Ilmu enggan terhadap pemuda yang congkak. Seperti banjir enggan terhadap tempat yang tinggi.” Ilmu tidak bisa didapat kecuali dengan tawadhu’ dan menggunakan pendengaran (berkonsentrasi). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendegnarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “di antara hak seorang guru ialah kamu tidak banyak bertanya kepadanya, tidak merepotkannya dalam dalam memberi jawaban, tidak mendesaknya apabila ia malas, tidak memegangi kainnya apabila ia bangkit, tidak menyebarkan rahasianya, tidak menggunjing seseorang di hadapannya, dan tidak mencari-cari kesalahannya; jika ia tergelincir maka kamu terima alasannya. Kamu juga harus menghormatinya dan memuliakannya karena Allah ta’ala selama ia tetap menjaga perintah Allah, dan tidak duduk di hadapannya sekalipun kamu ingin mendahului orang dalam berkhidmat memenuhi keperluannya.”

Keempat, orang yang menekuni ilmu pada tahap awal harus menjaga diri dari mendengarkan perselisihan di antara manusia, baik apa yang ditekuninya itu termasuk ilmu dunia ataupun ilmu akhirat, karena hal ini akan membingungkan akal dan pikirannya dan membuatnya putus asa dari melakukan pengkajian dan tela’ah mendalam. Maka pertama kali ia harus menguasai satu jalan yang terpuji dan memuaskan kemudian setelah itu baru mendengarkan berbagai madzhab (pendapat).

Kelima, seorang penuntut ilmu tidak boleh meninggalkan suatu cabang ilmu yang terpuji, atau salah satu jenis ilmu, kecuali ia harus mempertimbangkan matang-matang dan memperhatikan tujuan dan maksudnya. Jika usianya mendukung, maka ia hendaknya berusaha mendalaminya, tetapi jika tidak maka ia harus menekuni yang paling penting di antaranya dan mencukupkan diri dengannya. Karena ilmu pengetahuan itu saling mendukung dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya.

Ilmu-ilmu “syar’iyah” dengan berbagai tingkatannya bisa membawa hamba berjalan kepada Allah atau membantu perjalanannya dalam batas tertentu. Ilmu-ilmu ini memiliki beberapa manzilah (tingkatan) yang tersusun sesuai dengan jauh dan dekatnya tujuan. Para pelaksana dan penegaknya (quwwam) merupakan para penjaga “syari’ah” yang tak ubahnya seperti para penjaga perbatasan dan pos-pos medan pertempuran. Masing-masing memiliki tingkatan tertentu dan mendapatkan pahala di akhirat sesuai dengan tingkatannya tersebut, apabila dimaksudkan untuk mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

***

Demikianlah,

Apakah kita sudah menyucikan hati kita dari berbagai penyakit hati? Riya’, ‘ujub, sombong? | Karena menuntut ilmu itu ibadahnya hati.

Apakah kita masih sibuk dengan berbagai macam urusan dunia? | Karena pikiran yang terkonsentrasi itu lebih mudah menerima berbagai hakikat ilmu.

Apakah kita pernah – atau bahkan sering – bersikap sombong kepada guru kita? Ustadz? Dosen, mungkin? Atau orang-orang yang pernah mengajarkan kepada kita suatu ilmu? | Karena ilmu itu enggan kepada penuntut ilmu yang sombong.

Apakah kita sering berselisih terhadap suatu ilmu sedangkan kita tidak tahu dasarnya? Atau berselisih tentang suatu hal sedangkan kita belum mendalaminya? | Karena ilmu itu perlu dimantapkan sebelum mendengar berbagai perselisihan.

Apakah kita telah menuntut ilmu-ilmu yang terpuji, yang memiliki tujuan akhir ridha Allah subhanahu wa ta’ala? Atau masih berputar pada ilmu yang tidak jelas maksud dan tujuannya? | Karena menuntut ilmu yang terpuji merupakan sebab kita mendapat pahala yang besar di akhirat kelak.

Beristighfarlah, sesungguhnya Allah maha pengampun dosa, lagi maha penyayang. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi saya dan para pembaca.  🙂

Lima Tips Menghafal Al-Quran dari Al-Ghamidi

Syekh Saad Al-Ghamidi. Beliau salah satu imam Masjidil Haram.

Syekh Saad Al-Ghamidi. Beliau salah satu imam Masjidil Haram.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menghafal kitab suci Alquran merupakan hal yang paling mulia. Selain memiliki banyak keutamaan di akhirat, Allah juga berjanji akan meninggikan derajat mereka yang hafal Alquran dibanding para hamba-Nya yang lain.

Imam Masjid Nabawi, Syaikh Sa’ad Al Ghamidi memberikan lima tips yang harus diperhatikan bagi penghafal Alquran. Tips tersebut harus diperhatikan, khususnya bagi orang yang sama sekali tak bisa berbahasa Arab. Pertama, harus mempunyai tujuan yang jelas. “Teman-teman Indonesia harus memiliki tujuan yang jelas, apa tujuan antum menghafal Alquran,” katanya, Ahad (31/3) malam.

Kedua, ujar Sa’ad, harus ada lembaga yang menyelenggarakan program menghafal Alquran. Lembaga ini berfungsi untuk mengkoordinasi mereka yang ingin menghafal Alquran agar nantinya tidak patah dan berhenti di tengah jalan.

Ketiga, harus ada metode yang digunakan dan tak asal begitu saja. Jika memang ingin sungguh-sungguh, maka mesti ada metode yang dipakai. “Metode yang digunakan harus efektif dan bisa digunakan bagi seluruh kalangan. Sebab, kemampuan masing-masing orang dalam menghafal berbeda-beda. Ada yang bisa menghafal satu halaman per hari, namun ada juga yang hanya bisa menghafal satu ayat saja per hari,” jelasnya.

Keempat, harus ada mu’allim (guru) yang menjadi rujukan dan mempunyai kemampuan membaca Alquran dengan baik dan benar. “Jadi mu’allimharus dilihat juga, apakah bacaannya fasih? Apakah hafalan Alqurannya baik? Apakah dia bisa menjadi qudwah (tauladan) dari kepribadian dan akhlaknya? Jadi memang diperlukan seleksi yang ketat dalam menentukan mu’allim itu,” jelas Syaikh.

Kelima, harus ada follow-up setelah menyelesaikan hafalan Alquran. Jadi, mereka yang telah merampungkan hafalan Alquran mereka tidak dibiarkan begitu saja. “Bagi sebahagian madrasah Tahfidz Alquran hanya menfokuskan santrinya bagaimana mencetak para hafiz Quran. Namun yang tak kalah pentingnya, apa yang akan mereka lakukan setelah mereka menjadi hafiz Quran?” paparnya.

Reporter : Hannan Putra
Redaktur : Mansyur Faqih

sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/04/01/mkl35r-lima-tips-hafal-alquran-dari-imam-masjidil-haram

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"