Selalu Ada yang Tertinggal

Selalu ada yang tertinggal..
Selalu saja ada yang tertinggal di meja..
Entah, tertinggal atau memang ditinggalkan..

Meja hotspot salah satu Himpunan Mahasiswa
Meja hotspot salah satu Himpunan Mahasiswa

menciptakan budaya membuang sampah pada tempatnya sepertinya tak semudah menciptakan budaya diskusi di himpunan, atau membudayakan sikap professionalisme. nyatanya, masih banyak orang2 (eh, mahasiswa) yang “hobi”nya meninggalkan sampah di sembarang tempat. meja, kursi, selasar, atau malah di dalam himpunan. miris melihatnya. apalagi jika terjadi di lingkungan saya sendiri. #aduuh, mahasiswa..

sempat terpikir oleh saya, memperbanyak tempat sampah di sekitar himpunan. tapi apakah tempat sampah yang jumlahnya lebih dari 3 buah dan berukuran cukup besar tidak cukup untuk menampung sampah? cukup kok. saya pikir sangat cukup, kecuali jika kita selesai mengadakan suatu event yang menghasilkan cukup banyak sampah, contoh Syukwis. tapi mengapa seolah masih kurang, seakan-akan sudah tidak bisa membuang sampah ke tempat sampah (jadi buang di meja). #aduuh, mahasiswa..

sempat kepikiran juga, bagaimana jika kita buat saja poster berwarna-warni (maksudnya mencolok agar mudah dibaca) bertuliskan “terimakasih untuk tidak membuang sampah di meja hotspot dan meja himpunan”, dan ditempel di beberapa sudut himpunan. tapi.. aneh juga ya? himpunan kita jadi seperti TK atau SD. TK.. mm.. bener sih, kita Te*nik Kimia, dan takutnya jadi seperti TK beneran. banyak tempat sampah, banyak tempelan, banyak warna. mau? 

yuk, sama2 berubah. bagaimana mungkin lingkungan kita bisa kondusif jika bukan kita sendiri yang mengubahnya. 🙂

saya yakin, kawan2 pasti sudah tahu apa itu sampah, karena pasti semua pernah lulus TK (Taman Kanak-Kanak). kawan2 juga sudah tahu bahwa sampah botol plastik itu tidak ramah lingkungan, karena PET susah terurai, dan baiknya didaur ulang. udah lah, saya yakin kawan2 sudah pinter dengan yang beginian. apalagi termo, mekflu, kinkat, polimer, dan lain-lain. saya menilai kawan2 jago2 lah. tapi sayang jika ke”jago”an itu tidak memberikan influence baik ke lingkungan. sayang banget. saya tidak ingin ilmu kita yang cukup tinggi ini (jiah) membuat kita semakin jauh dari kepedulian terhadap lingkungan. justru lingkungan yang membutuhkan kita untuk dapat mengubahnya menjadi lebih baik. 🙂 kita bisa kok.. asal bareng-bareng.. #ayoo.. mahasiswa..

“masih merasa mahasiswa kan? apa tanggungjawab kita sebagai mahasiswa?” pertanyaan ini yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya. tidak hanya terucap pas osjur saja. kita perlu membuat perubahan.

saya optimis, setelah tulisan ini saya post, dan dibaca, tidak ada lagi sampah di atas, bawah, maupun samping meja. baik meja hotspot maupun meja himpunan. saya percaya kawan2 (yang merasa anak him) sudah dewasa. 🙂

sekian, dan terimakasih.

*curhatan di sore yang sepi di himpunan. ditemani beberapa sampah botol dan tissue di atas meja yang tidak kunjung menyapa.

One thought on “Selalu Ada yang Tertinggal

  1. sesaat sebelum saya memposting ini, seseorang (yang patut kita contoh) mengambil satu2 sampah botol dan tisu, lalu membuangnya ke tempat sampah, tanpa kata2, tanpa butuh banyak orang tahu. 🙂 terimakasih mbak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s