Fiqh Prioritas (2)

<< lanjutan dari Fiqh Prioritas (1)

jangan sampai mudharat mengalahkan maslahat
jangan sampai mudharat mengalahkan maslahat

Fiqh Pertimbangan (muwazanah)

peran terpenting yang dilakukan oleh fiqh pertimbangan ialah :

  1. memberikan pertimbangan antara berbagai kemaslahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang disyari’atkan
  2. memberikan pertimbangan antara berbagai bentuk kerusakan, mudharat, dan kejahatan yang dilarang oleh agama
  3. memberikan pertimbangan antara maslahat dan kerusakan, antara kebaikan dan kejelekan apabila dua hal yang bertentangan ini bertemu satu sama lain

Prinsip-prinsip Pertimbangan

dalam melakukan pertimbangan, kita perlu tahu 3 hal ini :

  • dharuriyyaat, ialah sesuatu yang kita tidak bisa hidup kecuali dengannya
  • hajjiyyaat, ialah kehidupan memungkinkan tanpa dia, tetapi kehidupan itu mengalami kesulitan dan kesusahan
  • tahsiinaat, ialah sesuatu yang dipergunakan untuk menghias atau mempercantik kehidupan, dan seringkali kita sebut dengan kamaliyyaat (pelengkap)

tentang Maslahat

secara umum, maslahat artinya kepentingan. bagaimana kita mengelola kepentingan?

  1. mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang baru diduga adanya, atau masih diragukan
  2. mendahulukan kepentingan yang besar atas kepentingan yang kecil
  3. mendahulukan kepentingan sosial atas kepentingan individual
  4. mendahulukan kepentingan yang banyak atas kepentingan yang sedikit
  5. mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan yang sementara dan insidental
  6. mendahulukan kepentingan inti dan fundamental atas kepentingan yang bersifat formalitas dan tidak penting
  7. mendahulukan kepentingan masa depan yang kuat atas kepentingan kekinian yang lemah

tentang Mudharat

mudharat adalah lawan dari maslahat, yaitu bahaya. dalam memutuskan suatu perkara, juga perlu ada analisis bahaya. bagaimana prinsipnya?

  1. tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan
  2. suatu bahaya sedapat mungkin harus disingkirkan
  3. suatu bahaya tidak boleh disingkirkan dengan bahaya yang sepadan atau yang lebih besar
  4. bahaya yang lebih ringan, dibandingkan dengan bahaya lainnya yang mesti dipilih, boleh dilakukan
  5. bahaya yang lebih ringan boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang lebih besar
  6. bahaya yang bersifat khusus boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang sifatnya lebih luas dan umum

Mudharat vs Maslahat

nah, bagaimana jika mudharat dan maslahat bertemu?

“menolak kerusakan harus didahulukan atas pengambilan manfaat.”

kaidah ini kemudian disempurnakan dengan kaidah lain yang dianggap penting :

  • kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh kemaslahatan yang lebih besar
  • kerusakan yang bersifat sementara diampuni demi kemaslahatan yang sifatnya berkesinambungan
  • kemaslahatan yang sudah pasti tidak boleh ditinggalkan karena ada kerusakan yang baru diduga adanya

***

oke, demikianlah yang saya dapatkan mengenai Fiqh Prioritas. mungkin ini baru secuil, sehingga kita perlu belajar lebih banyak lagi. semoga bermanfaat. wallaahu a’lamu bish-showaab.

oiya, takut belum kebayang, apa perlunya kita belajar fiqh prioritas, insya Allah ada beberapa contoh kasus yang saya tulis di kotak komentar di bawah, semoga kita bisa berdiskusi bersama.

2 thoughts on “Fiqh Prioritas (2)

  1. contoh kasus 1 (kemarin sempat di lempar juga ke peserta) :

    Joni seorang aktivis di salah satu unit pembinaan Islam. pada tingkat kedua, joni mulai terlibat dalam kegiatan himpunan dan menjadi salah satu tokoh penggerak himpunan. pada tingkat ketiga ia diminta untuk aktif di Lembaga Dakwah Kampus pusat sebagai pengurus karena kemampuan yang dimilikinya. di saat yang sama ia juga dijadikan salah satu calon ketua Lembaga Dakwah Jurusan. perlu diketahui, di himpunan sendiri tidak ada aktivis dakwah lain yang bisa bergaul sebaik Joni. ke mana joni sebaiknya memutuskan aktivitas selanjutnya?

    a. himpunan
    b. LDK pusat
    c. LD jurusan

    Like

  2. contoh kasus 2

    dalam sejarah kebangsaan Indonesia pernah ada niatan untuk menjadikan Piagam Jakarta sebagai landasan konstitutional. Akan tetapi, para pendiri bangsa memutuskan untuk mengganti kalimat syariah Islam dalam piagam jakarta dan menjadi Pancasila sebagaimana yang kita tahu sekarang. Bagaimana fiqh prioritas memandang situasi yang dihadapi saat ini dan amal apa yang harus dilakukan umat islam untuk menegakkan syariah Islam dalam kehidupan masyarakat?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s