Fiqh Prioritas (1)

penting nih, apalagi untuk kawan2 aktivis kampus. bagaimana cara kita menentukan prioritas, dibahas di sini. ngomong2 fiqh prioritas sepenting apa sih?

menentukan pilihan, gampang-gampang susah, banyak pertimbangan
menentukan pilihan, gampang-gampang susah, banyak pertimbangan

berikut sedikit catatan yang saya rangkum dari slide pemateri tentang Fiqh Prioritas, pada acara Mata’ Day Jum’at kemarin. semoga bisa membuka wawasan kawan2 semua, dan menjadi manfaat untuk ke depannya.

***

Definisi

Yusuf Al-Qardhowi berkata,

“yang saya maksud dengan istilah tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu dan diterangi oleh akal.”

Prinsip Prioritas Amal

mana yang harus kita dahulukan? perkara ini, atau perkara itu? ini prinsipnya.

  1. mendahulukan hal-hal yang fardhu atas hal-hal yang sunnah,
  2. mendahulukan fardhu ‘ain atas fardhu kifayah,
  3. mendahulukan fardhu kifayah yang tidak ada orang yang mengerjakannya atas fardhu kifayah yang sudah ada orang yang mengerjakannya,
  4. mendahulukan fardhu ‘ain yang paling penting atas hal-hal yang kurang penting, dan
  5. mendahulukan urusan yang sudah mendesak atas urusan yang masih longgar waktunya

Hadits tentang Prioritas

diriwayatkan dari ‘Amr bin Abasah ra. berkata bahwa ada seorang lelaki, yang pernah berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Wahai Rasulullah, apakah islam itu?”
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah, dan selamatnya kamu muslim dari lidah dan tanganmu.”
lelaki itu bertanya lagi, “manakah islam yang paling utama?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iman.”
lelaki itu bertanya lagi, “apa pula iman itu?”
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah mati.”
lelaki itu bertanya lagi, “manakah iman yang paling utama?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “berhijrah.”
lelaki itu bertanya lagi, “apakah yang dimaksud dengan berhijrah itu?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “engkau meninggalkan kejelekan.”
lelaki itu bertanya lagi, “manakah hijrah yang paling utama?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “jihad.”
dia bertanya lagi, “apakah yang dimaksud dengan jihad itu?”
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “hendaklah engkau memerangi orang-orang kafir apabila engkau berjumpa dengan mereka.”
dia bertanya lagi, “jihad mana yang paling utama?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “jihad orang yang mempersembahkan kuda dan darahnya.”

Prioritas dalam Kehidupan Shahabat, Tabi’in, dan Ulama’

#satu Ibnu ‘Umar meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang beriman yang tetap bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka adalah lebih baik daripada orang yang tidak mau bergaul dengan mereka dan tidak bersabar atas gangguan mereka.”

#dua sebagian ‘Ulama’ mengatakan, “meninggalkan larangan lebih penting daripada melakukan perintah.” mereka mengeluarkan pernyataan itu berdasarkan dalil hadits shahih yang disepakati keshahihannya, yang disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Arba’in-nya dan juga disebutkan dalam syarh Ibnu Rajab dalam Jami’-nya, yaitu :

“apabila aku melarangmu dari sesuatu, maka jauhilah dia; dan apabila aku memerintahkanmu tentang suatu perkara maka kerjakanlah dia sesuai dengan kemampuanmu.”

#tiga Hasan Al-Banna pernah mengeluarkan fatwa ketika beliau ditanya oleh orang-orang yang berselisih pendapat mengenai shalat tarawih : apakah dilakukan 20 rakaat seperti yang dilakukan di Al-Haramain dan tempat-tempat lain, dan seperti yang masyhur dalam madzhab yang empat; ataukah dilakukan 8 rakaat, sebagaimana yang dianjurkan oleh para ‘ulama salaf? saat itu, semua penduduk desa yang bertanya pada Syaikh Hasan Al-Banna nyaris saling baku hantam karena persoalan ini.

Syaikh Hasan Al-Banna memberikan pandangan kepada mereka bahwa sesungguhnya shalat tarawih itu hukumnya sunnah, sedangkan persatuan umat islam itu hukumnya wajib.

>> bersambung ke Fiqh Prioritas (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s