Muncar dan Air Limbah (1)

#sebelum membaca berita di surat kabar RADAR BANYUWANGI

terinspirasi dari tulisan sebelumnya, yaitu Limbah Udang = Pengawet?, gara-gara banyak menulis kata udang… ikan… udang… ikan, saya jadi ingat Muncar. Muncar adalah salah satu daerah di Banyuwangi yang terkenal sebagai kawasan penghasil dan pengolah ikan terbesar di Jawa timur. Karena postingan sebelumnya nyinggung-nyinggung tentang masalah limbah, terlintas dalam pikiran saya : kalau di Muncar sana penanganan limbahnya seperti apa ya? hmm.. penasaran.

Akhirnya saya browsing2, dan nemu beberapa berita tentang Muncar (ternyata eksis juga di dunia maya, hehe…). Nemu berita bagus. Ada juga yang memprihatinkan, tapi lebih banyak. Yang memprihatinkan dulu deh :

  • Dari dulu, sampai saat ini masih belum ada Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL di kawasan Muncar. Padahal sudah belasan tahun pabrik di kawasan ini beroperasi. Lalu air limbahnya diapakan? Di sini tertulis “air limbah rata-rata dialirkan lewat pipa ke muara sungai dengan kondisi yang masih keruh dan bau.” Sedih.
  • Bukan industri besar aja rupanya yang menyebabkan pencemaran, industri kecil2pun iya. Ada sekitar 100-an pabrik kecil yang juga membuang limbah mereka langsung ke selokan atau sungai. >> Pantesan, beberapa tahun yang lalu, ketika terjadi hujan dan angin kencang, seluruh kawasan Muncar bau ikan. Pasti karena “aroma” limbah yang terbawa angin. Hiii…
  • Akibat dari pencemaran yang terus menerus, sungai… laut… semua tercemar, produksi ikan kini menurun drastis. “Sekarang ikan sudah susah didapat…” kata salah satu nelayan, yang saya kutip dari website Bappeda Jawa Timur.

Huft. Apakah anda sudah merasa prihatin. Saya sih prihatin kalau seperti ini kondisinya. Agar tidak berlarut-larut dalam keprihatinan, yuk mari kita lihat kabar baiknya.

  • Saat ini sejumlah pabrik sedang dalam proses membangun IPAL. Kata salah satu humas PT. Sumbar Yala Samudra, pak Supriyadi, bahkan dalam hitungan bulan, pengurusan dokumen bisa selesai dan IPAL bisa segera dibangun. Kita doakan saja.
  • Di sisi lain, Kementrian Lingkungan Hidup telah memberikan bantuan unit IPAL komunal senilai Rp 30 miliar untuk kawasan ini. subhaanallaah, mantep.
  • Bukan hanya unit IPAL, pak Menteri juga member bantuan berupa tempat sampah terpilah serta mesin pencacah plastic untuk membantu pemerintah kabupaten serta masyarakat Muncar dalam mengatasi masalah sampah. TWO THUMBS! >> tapi yang ini keluar dari topik.

Satu kata. Alhamdulillaah. Sekarang Muncar diperhatikan. Dan memang begitu seharusnya. Saat ini Muncar menjadi kawasan penghasil ikan terbesar di Jawa Timur, makanya harus terus ditingkatkan kualitasnya.

Oke. coba kita nyambung lagi limbah udang. Sebagai putra Banyuwangi yang sedang belajar di Teknik Kimia, saya melihat potensi yang besar di sini, mengingat pasti banyak limbah padat di kawasan Muncar yang berasal dari industri pengolahan udang. Pasti sudah bisa ditebak. Yup, mendirikan pabrik chitin dan chitosan. Selain menyelesaikan permasalahan limbah padat, juga bernilai ekonomi tinggi. Komoditas ekspor gitu loh. Haha.

Baiklah… ini baru mimpi, cita-cita kecil yang muncul dari mahasiswa yang (mm…) idealis. Meski bukan sesuatu yang “wah“, tapi menurut saya bagus kalau bisa terwujud. Semoga pak Anas (bupati Banyuwangi) membaca ini. hehe. Banyuwangi kudu bisa maju pak, industrinya, agar “orang2 hebat”nya tidak kemana-mana.

we are waiting for the sunrise… 🙂

sumber :

Advertisements
  1. tapi berita tadi sore yang saya lihat di redaksi Trans 7 menunjukkan kalo IPAL ditolak oleh warga muncar. Jadi saat ini limbah yang dibuang tanpa proses penguraian itu semakin buruk keadaannya.

    • ya, setahu saya juga dulu ditolak.. sekarang ditolak lagi? wah2, harusnya memang diedukasi warganya. coba baca juga “Muncar dan Air Limbah (2)”.. seinget saya disitu ada faktanya.. 😦

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"

%d bloggers like this: