Menghargai Uang

time is money (waktu adalah uang)

ingat kata2 ini? kenapa “uang”?

ya, karena menurut pepatah inggris, uang paling berharga. menunjukkan bahwa waktu itu sangat berharga. bagaimana dengan yang satu ini?

waktu adalah pedang

nah, loh. yang ini lebih aneh lagi, tapi tentu ada maksudnya. pedang itu tajam, dan bisa membunuh siapapun dengan sekali tebas. waktu? membunuh juga, hanya saja tidak kelihatan. orang yang menyia-nyiakan waktu akan sama dengan orang yang membunuh dirinya sendiri, menghancurkan kesempatan2nya yang amat berharga.

kembali pada uang. apakah uang itu penting? boleh jadi penting, karena segala macam transaksi kita menggunakan uang. tapi apakah itu yang terpenting?

uang1

di suatu sore hari di LPiK-ITB… saya mendapat satu quote yang cukup mencerahkan… dari Pak Budi Rahardjo tepatnya, salah satu dosen di jurusan Informatika, sekaligus seorang entrepreneur IT yang cukup (bukan hanya cukup, tapi sangat) berpengalaman. beliau sangat sederhana, tapi kisah hidupnya luar biasa! 🙂

Jangan sekali-kali menghargai uang

begitu beliau bertutur di sesi2 akhir presentasi. yang saya lihat, meskipun beliau seorang entrepreneur, tapi beliau tidak menjadikan uang nomor satu. ini yang saya salut. beliau lebih memilih melakukan sesuatu sesuai passionnya daripada dibayar mahal tapi melakukan sesuatu yang bukan passion.

This isn’t my path! ini bukan jalan saya! ini bukan passion saya!

ini yang beliau katakan ketika mendapat tawaran yang tidak sesuai passionnya. beliau pernah ditawari jadi menteri, kerjasama dalam bisnis boyband, dan lain-lain (cukup banyak pokoknya), tapi tetap saja, No! bukan ini passion saya, uang berapapun saya tidak mau!

***

ngomong2 tentang uang, ada cerita yang menarik dari beliau, bahwa uang (rezeki-red) itu bukan kita yang “mengendalikan”. 🙂

pernah suatu hari ketika pak Budi mendapatkan uang Rp750.000,00, entah dari mana (saya lupa), beliau didatangi seorang temannya yang membutuhkan uang untuk pengobatan. kalau tidak salah, orang tuanya sedang sakit dan butuh banyak biaya. mau bagaimana lagi, uang yang baru saja beliau dapatkan terpaksa harus beliau sedekahkan seluruhnya untuk membantu temannya itu. dan… habis sudah Rp750.000,00.

belum selesai ceritanya. suatu hari beliau dipanggil oleh temannya yang lain. “Pak Budi, ini honor pak Budi dari mengajar beberapa waktu lalu”. “hah, honor?” jangankan honor, beliau saja lupa kapan pernah mengajar. pas dihitung2, ternyata tepat Rp750.000,00. sama persis dengan jumlah yang beliau sedekahkan. #tidakusahbilangWOW 😀

semoga cerita di atas cukup menggambarkan bahwa uang bukan yang terpenting. ia hanya hiasan, penghargaan bagi mereka yang ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam bekerja.

Jadi, kalau boleh saya menyimpulkan :

  1. Bekerjalah sesuai passion, karena itu salah satu yang sebab ikhlas, dan selalu bersemangat, apapun yang terjadi. dan satu lagi : insya Allah dapat membuat kita semakin ahli.
  2. Jangan sampai keinginan menjadi entrepreneur itu hanya karena orientasi pada uang. karena uang bukan yang terpenting dibandingkan network atau pertemanan. uangpun bukan sumber kebahagiaan dunia dan akhirat.
  3. percayalah bahwa Allah-lah yang senantiasa mengatur rezeki kita, dengan begitu hati kita akan menjadi tenang dan pekerjaan kita diberkahi.

tiga saja saya kira cukup. semoga teman2 bisa mengambil hikmahnya. 🙂

***

#SPESIAL untuk pak Budi (dibaca atau tidak), mohon maaf pak, barangkali ada yang kurang tepat ceritanya. hehe. saya hanya ingin cerita dan nasehat pak Budi menjadi inspirasi dan pelajaran juga bagi teman2 yang lain. Semoga dilancarkan kuliahnya dan diberkahi usahanya, pak. Aamiin. Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s