Archive for November, 2012

Amalan Mudah, Ringan, Namun Besar Pahalanya

Tulisan ini saya [reblog] dari note kawan saya Yayan Muhammad Januar karena saya pikir kawan2 semua juga perlu tahu, agar bisa kawan2 amalkan di dalam kehidupan sehari-hari. semoga bermanfaat. 🙂

Pernah lihat bintang dilangit ?
sadarkah engkau bahwa… para penghuni surga melihat penghuni surga yang berada di ghurfah (tingkat atas) seperti mereka melihat bintang di langit (HR Muslim)

padahal surga ada 100 derajat (tingkatan) ??
pernahkah engkau mengira bahwa hanya mengorbankan sedikit sekali tenaga, sedikit sekali menit dari 1440 menit yang kita miliki sehari, dapat (Insya Allah) menaikkan derajat di surga?

Berikut adalah beberapa amalan yang mudah dan ringan untuk dilakukan, namun besar pahalanya, berdasarkan hadits yang shahih :

Pertama, membaca : subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ada dua kalimat yang dicintai oleh Allah, ringan di lisan, dan berat ditimbangan: (yaitu bacaan) subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim [Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, Mahasuci Allah Yang Mahaagung]” (HR. Al Bukhari)

Kedua, wudhu dengan sempurna dan membaca do’a, sebagaimana hadits berikut:
Dari Umar bin Khattab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, kemudian selesai wudlu dia membaca: asyhadu allaa ilaha illallah wa anna muhammadan abdullahi wa rasuuluh [aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya], maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Muslim)

Ketiga, menghadiri shalat jumat di awal waktu, dengan memperhatikan adabnya.
Dari Aus bin Aus Ats Tsaqafi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membasuh (kepalanya) dan mencuci (seluruh tubuhnya) di hari jum’at (mandi besar, ed.), lalu berangkat ke masjid pagi-pagi, dan dia mendapatkan khutbah dari awal, dia berjalan dan tidak naik kendaraan, dia mendekat ke khatib, konsentrasi mendengarkan khutbah dan tidak berbicara maka setiap langkahnya (dinilai) sebagaimana pahala puasa dan shalat malam selama setahun.” (HR. Abu Dawud, At tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Abu Zur’ah mengatakan: “Saya tidak pernah menjumpai satu hadits yang menceritakan pahala yang besar dengan amal yang sedikit yang lebih shahih dari hadits ini.”

Keempat, shalat dhuha dua rakaat
Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap ruas tulang kalian wajib disedekahi, setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bernilai sedekah, amar ma’ruf nahi munkar bernilai sedekah, dan semua kewajiban sedekah itu bisa ditutupi dengan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim & Abu Dawud)

Kelima, berdzikir di masjid setelah shubuh.
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk di masjid sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat maka dia mendapat pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna.” (HR. At Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Keenam, membaca Al Qur’an.
Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka dia mendapat satu pahala kebaikan. Dan setiap satu pahala itu dilipatkan menjadi 10 kali….” (HR. At Tirmidzi, At Thabrani dan dinilai shahih oleh Al Albani)

Ketujuh, Dari Ummul mu’minin yaitu Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha bahwasanya Nabi s.a.w. keluar dari rumahnya pada pagi hari ketika bersembahyang Subuh. Waktu itu Juwairiyah ada di dalam masjidnya. Kemudian beliau s.a.w. kembali setelah melakukan shalat Dhuha, sedangkan Juwairiyah duduk. Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Engkau masih tetap dalam keadaan di waktu tadi saya tinggalkan.” Juwairiyah menjawab: “Ya.” Nabi s.a.w. lalu bersabda: “Saya telah mengucapkan setelah meninggalkan engkau tadi empat macam kalimat, sebanyak tiga kali, andaikata kalimat-kalimat itu ditimbang dengan kalimat-kalimat yang engkau ucapkan sejak hari ini tadi, niscaya kalimat-kalimat yang saya ucapkan itu menang daripada yang engkau ucapkan.

Kalimat-kalimat itu ialah: “Subhanallaah wa bihamdihi, ‘adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatihi.”

Artinya : “Maha Suci Allah dan dengan mengucapkan puji-pujian padaNya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, sesuai dengan keridhaan ZatNya, seberat timbangan ‘arasyNya dan sepanjang kalimat-kalimatNya.” (Riwayat Muslim)

Kedelapan, shalat berjama’ah di masjid.
Dari Abu Umamah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang keluar dalam keadaan suci, menuju masjid untuk melaksanakan shalat jama’ah maka pahalanya seperti pahala seperti orang yang sedang haji dalam keadaan ihram.” (HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh Al Albani)

Kesembilan, berdzikir ketika terbangun dari tidur (nglilir -bhs. jawa)
Dari Ubadah bin Shamit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang terbangun (nglilir) ketika tidur malam kemudian dia membaca: laa ilaha illallahu wahdahu laa syarikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir. Alhamdulillah, wa subhanallah, wa laa ilaha illallah wallahu akbar wa laa haula wa laa quwwata illa billah [tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata tiada sekutu bagiNya, milikNyalah seluruh kerajaan, milkNyalah segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Segala puji milik Allah, Mahasuci Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, Allah Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah] kemudian dia beristighfar atau berdo’a maka akan dikabulkan. Jika dia berwudhu kemudian shalat dua rakaat maka shalatnya diterima.” (HR.  Bukhari & Abu Dawud)

Kesepuluh, Shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh.
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Kesebelas, membaca shalawat.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan memberikan shalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan sepuluh kesalahan, dan diangkat sepuluh derajat.” (HR. An Nasa’i, shahih)

Kedua-belas, menjawab adzan dan membaca do’a setelah adzan.
Dari Jabir bin Abdillah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendengarkan adzan kemudian dia membaca do’a: Allahumma rabba hadzihid da’watittammah washshalatil qa’imah, ati muhammadanil wasilata wal fadhilah wab’ats-hu maqamam mahmudanilladzi wa’adtahu [Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna dan shalat wajib yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Bangkitkanlah beliau ke tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.] maka dia berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

Ketiga-belas, membaca dzikir setiap pagi dan sore. Diantara dzikir yang disyariatkan adalah membaca : subahanallah wa bihamdihi‘’
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca: ‘subahanallah wa bihamdihi‘ seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim)

Keempat-belas, mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak orang lain untuk melakukan kesesatan dan maksiat maka dia mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

Kelima-belas, rajin beristighfar.
Dari Ibn Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang rajin beristighfar maka Allah akan berikan jalan keluar setiap ada kesulitan, Allah berikan penyelesaian setiap mengalami masalah, dan Allah berikan rizki yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud, hasan lighairihi)

Selamat mengamalkan.

[Ammi Nur Baits]

PS:
1. Jangan lupa Allah lebih menyukai amalan yang (walaupun) sedikit tapi konsisten, daripada banyak tapi tidak langgeng (hanya awal-awal saja).
2. Maksud dzikir adalah mengingat, bagaimana dengan komat-kamit saja tapi pikiran melayang kemana-mana? Apakah termasuk mengingat? silahkan dipikirkan.
3. silahkan boleh dicek lagi hadist nya-karena kebanyakan copasan dari internet.

wallahu a’lam.

Advertisements

Kembali untuk Berkarya

Libur kuliah tidak membuat kami hanya ingin bersantai
Libur kuliah juga tidak membuat kami enggan untuk berkarya
Ketika kami kembali ke tanah kelahiran
Ketika itu pula kami ingin membuat perubahan
Perubahan yang mengubah peradaban
Perubahan yang menginspirasi segala macam perubahan…

Apa yang bisa kita lakukan untuk Banyuwangi? Itulah pertanyaan besar yang ada di benak kami. #AksiIndonesiaku

Sore itu kami (saya-Habibi, Yudha, Inda, Galuh, Lafiona dan Dini) berkumpul di alun-alun kota. Membuat suatu diskusi mengenai hal apa yang bisa kami persembahkan sebagai alumni pelajar banyuwangi. Tepat sekali saat itu adalah bulan Ramadhan. Bulan yang kami yakini bahwa Allah akan melipatgandakan pahala untuk ummatnya yang berbuat kebaikan. Dari diskusi panjang ini, kami putuskan, kami akan mengadakan acara “Santunan dan Buka Bersama dengan 333 Anak, Yatim, Piatu, dan Dhu’afa’ se-kota Banyuwangi”. Dari sinilah kisah kami dimulai. #AksiIndonesiaku

Kami hadir sebagai fasilitator, memfasilitasi donatur2 besar, kawan2 SMA, dan masyarakat umum untuk bisa berbagi dengan mereka yang ada di panti asuhan, maupun di jalan-jalan perkotaan. Juga sebagai inspirator dan motivator, kami ingin menginspirasi kawan2 alumni yang lain agar tidak melupakan tanah kelahirannya, dan memotivasi lingkungan agar tumbuh jiwa2 ingin berkarya. Karena ini acara pertama kami, dan belum pernah ada acara serupa sebelumnya, maka tantangan kami adalah bagaimana menghimpun massa alumni sebanyak-banyaknya, mengumpulkan donasi, dan memberikan persembahan sebaik-baiknya untuk generasi-generasi setelah kami. well, tantangan pertama dan kedua, bolehlah, untuk jangka pendek. Tapi yang ketiga adalah tanggungjawab kami untuk jangka panjang. Persembahan apa? Moral. Kami berharap bisa memberikan tauladan yang baik untuk generasi-generasi masa depan Banyuwangi. #AksiIndonesiaku

Tidak mudah, sobat, dalam mewujudkannya. Dalam waktu kurang dari dua pekan, kami harus mengumpulkan donasi, mempublikasikan ke masyarakat Banyuwangi, hingga menjaring anak2 yatim, piatu, dan dhu’afa’, mulai dari panti hingga jalan2 perkotaan. Dengan tanpa putus asa, kami terus berjuang, kami harus disiplin terhadap timeline yang telah kami tetapkan, mencapai target anggaran, dan mengejar apapun yang bisa kami kejar untuk mewujudkan acara besar ini. karena kami yakin, di balik usaha kami selalu ada Allah yang senantiasa menolong kami, mempermudah jalan kami. #AksiIndonesiaku

H-2! Target anggaran telah tercapai, tempat telah tersedia, dan data anak2 yatim, piatu, dan dhu’afa’ telah kami dapatkan. Waktu bersih yang kami habiskan untuk mempersiapkan acara ini kira-kira hanya 10 hari. Waktu yang kami kira sangat singkat untuk sebuah acara besar yang baru pertama kali diselenggarakan oleh komunitas mahasiswa alumni Banyuwangi. H-1, donasi masih terus bertambah, hingga hari H. Alhasil, lebihbanyak sesuatu yang kami bisa persembahkan untuk kebaikan anak2 yatim, piatu, dan dhu’afa’. Kami sangat bersyukur karena usaha kami ini mendapat respon positif dari semua pihak, baik donatur, peserta, dan lingkungan alumni sendiri. #AksiIndonesiaku

Overall, Alhamdulillaah, acara perdana kami ini bisa terselenggara dengan lancar. Rasa terimakasih yang besar kami haturkan untuk semua pihak yang telah membantu kami. #AksiIndonesiaku

senyuman mereka, senyuman kami

Yudha sedang memberikan motivasi kepada adik2, semangat!!

Sobat Lintas, banyak sekali pembelajaran yang kami dapatkan. Kami sadar, untuk mewujudkan suatu perubahan, tak cukup hanya sebatas wacana. Wacana tak akan berdampak besar kecuali jika terwujud. Untuk mewujudkannya dibutuhkan usaha yang luar biasa. Tapi itu semua tidak mustahil ketika kami bergerak bersama-sama. Begitu pula kita, generasi muda Indonesia. tanpa gerakan kita yang massive dan bersama-sama, akan sulit terwujud “Indonesia lebih baik” yang kita harap-harapkan. So, tetap beraksilah untuk bangsamu, tetap beraksilah untuk Indonesiamu! #AksiIndonesiaku

Tuliskan pula kisahmu, ikuti kompetisi blog http://www.lintas.me. Salam aksi!

You’re the next generation of Banyuwangi! Let’s grow with us!

Kisah Mas Yudi

Senin sore 19/11, tepatnya setelah technical meeting antara para peserta training entrepreneur dan mbak Una, saya mengobrol dengan mas Yudi. Meskipun baru 2 bulanan usahanya berjalan, tapi saya kira perjuangan beliau cukup keren, and it’s inspiring me to be stronger. Maka dari itu saya ingin share kisah beliau agar kawan2 juga terisnpirasi. 🙂 Well, simak kisah di bawah ini.

Selayang Pandang

Tentang mas Yudi. Beliau adalah orang yang biasa2 saja, tidak neko-neko. Beliau adalah keturunan dari seorang ayah yang berasal dari Toraja (Sulawesi) dan ibu yang berasal dari Kediri (Jawa Timur), tapi beliau lebih lama hidup di Toraja. Itulah mengapa ketika saya tanya “berarti bisa bahasa Jawa, mas?”, beliau jawab “mm.. ngerti sih”. Sekarang beliau berusia 30 tahun, tinggal di Bandung dengan istri dan anaknya, dan beliau adalah owner dari rumah makan “Ayam Goreng Kalasan Mbak Lia”. Pas ngobrol, beliau selalu memanggil kami dengan kata “mas” meskipun notabene beliau yang lebih tua. Mungkin ini salah satu pernghormatan beliau pada lawan bicaranya.

Ayam Goreng Kalasan. What is it?

Ayam goreng kalasan ialah ayam yang digoreng dengan parutan kelapa. Rasanya kurang lebih rada2 manis gitu katanya. Sambelnya, beliau ambil dari resep khas jawa timur. Beliau bilang, sambel bawang. “sambel bawang itu yang kaya gimana mas?” tanya saya. “cabe, bawang putih, disiram pake minyak goreng panas”, simpel.

Lika-liku Hidup

Beliau dulunya adalah pekerja kantoran 9 to 5 (kerja dari jam 9 sampai jam 5 sore) dengan gaji sekian (sebut saja X). awalnya sebelum memiliki anak, gaji X ini cukup untuk mas Yudi dan istri. Namun semua berubah setelah beliau memiliki anak. Dari sinilah perjuangan mas Yudi dimulai.

Untuk menghidupi anak dan istrinya ternyata gaji X yang didapatkannya dari kantor tidak cukup. Hingga beliau harus pinjam dari sana-sini untuk menutup kekurangan. “saya tuh gaji sekian (X) mas, untuk makan anak sekian (Y) mas, tapi utang saya sekian (Z) mas”, kata beliau saat bercerita pada kami. X, Y, Z, adalah ekspresi tangan beliau saat menunjukkan jumlah. Jumlah X < Y < Z. jadi intinya gaji saja tidak cukup untuk memberi makan anak dan istri, apalagi mambayar utang. “sejak saat itu bingung saya mas, harus bagaimana…”

Karena mas Yudi dan istrinya passionnya kuliner (saya lihat begitu), mereka akhirnya memutuskan untuk mencari penghasilan lain selain dari kantor. Dan keputusan itu ialah berjualan ayam goreng kalasan.

Bersama sang istri, beliau membuat ayam goreng kalasan. Menjualnya bagaimana? Karena beliau belum memiliki warung/kios sendiri, jadi beliau menitipkannya pada warung teman. Beliau bilang pada temannya, “nih, saya titip ayam saya, jualin, terserah mau di mark up jadi berapa, dari saya Rp5000,00.”

Begitulah. Laku satu, dua, tiga… besoknya begitu lagi, empat, lima… kadang sepi, kadang laris. Keuntungan dari berjualan ayam goreng kalasan ini ternyata masih kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan membayar utang. Padahal waktu beliau telah terporsir untuk bekerja kantor dan memasak ayam goreng. “jadi tambah bingung saya mas, waduh..”

Satu lagi yang membuat beliau tambah bingung adalah… semenjak berjualan ayam goreng ini beliau sering dimarahi atasan karena sering telat masuk kantor. Maklum, mungkin beliau capek, mungkin macet pas nganterin ayam goreng, mungkin ketiduran, dan lain-lain. Akhirnya lama-lama beliau semakin tidak enak sama atasannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Keputusan yang Berat

Tidak gampang mengambil keputusan sebesar itu. Tapi karena mungkin sudah pilihan beliau dan istrinya serta tekad untuk memulai perjuangan baru sudah bulat, hal ini bisa saja terjadi. Alhasil, hidup beliau bisa dikatakan semakin sengsara. Penghasilan berkurang, tapi utang semakin bertambah. Sedih sekali. Mungkin, inilah resiko dari memilih, right? Baik-buruknyaharus diterima dengan lapang dada.

ATM (Amati, Tiru, Modifikasi)

Yang membuat saya kagum adalah beliau tidak menyerah. Malah semakin kreatif. “di Pasteur ada juga Ayam Goreng Kalasan mbak Eli, ramenya gak ketulungan, sampe antri orang-orangnya, saya jadi penasaran tuh sama resep rahasianya”, kata beliau berapi2. “akhirnya, karena penasaran, saya paksa untuk makan di sana rutin sama istri saya. yaah, seminggu dua kali lah… lumayan buat meneliti resep, kebetulan lidah saya sama istri saya lumayan tajem…” lanjut beliau. “jadi, tiap makan di sana, saya tebak2 tuh, resepnya, pake ini gak ya? Pake itu gak ya? Dan saya coba2 bikin di rumah. Kalo rasanya masih belum sama, saya balik lagi. Makan lagi di sana…”

Seminggu berlalu, dua minggu… tiga minggu… sebulan… beliau belum nemu juga resepnya. Lama2 beliau semakin penasaran. Kebetulan beliau sudah agak “ngebro” (baca : akrab) dengan juru masak (sebut saja koki) yang ada di warung mbak Eli, saking seringnya makan di sana. Dan kebetulan juga mbak Elinya sedang ke luar kota katanya. Iseng nih beliau nanya ke si koki, “mas, init uh resepnya apa sih, kok bisa enak?”

Dengan tidak sadar dan memang Allah telah mengcreate ceritanya seperti ini, si koki membocorkan resep rahasianya kepada mas Yudi. Bla-bla-bla… dengan tanpa dosa si koki terus bercerita tentang resep dan cara masaknya. “ooo.. berarti ga pake bahan ini ya, mas?” tanya mas Yudi sesekali. “ga pake, mas. Harusnya pakenya ini..” jawab si koki. Dan seterusnya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana situasi obrolannya. Tapi saya pikir, obrolan mas Yudi dan si koki ini sepertinya lebih seru dibandingkan obrolan sekelompok mahasiswa tentang suatu inovasi teknologi. Haha 😀

Semakin cerah saja strategi mas Yudi untuk meniru ayam goreng kalasan mbak Eli. Setelah puas mengobrol dengan si koki, dicobanya resep yang beliau dapatkan bersama istrinya di rumah. And actually, this is it! Ketemu resepnya! Rasanya pas sama persis dengan ayam goreng kalasan yang dijual di sana. Beliau semakin percaya diri, semakin tidak sabar untuk memperbesar produksi ayamnya. Dengan asumsi bahwa lidah orang bandung telah cocok dengan rasa ayam goreng kalasan mbak Eli, dan dengan harapan bahwa “edisi” yang ini akan lebih laris dari sebelumnya.

Tapi tunggu! Kopi-paste namanya kalau begini. “saya ga mau copy-paste, mas. Jadi PR saya, kalo ada  pertanyaan : ‘bedanya sama ayam goreng mbak Eli apa?’ nah, itu musti bisa dijawab, mas.” Beliau berpikir… sampai akhirnya nemu juga suatu ide. “Sekarang sudah ada bedanya, mas. Ayam goreng kalasan saya, itu ada taburannya di akhir2, sebelum disajikan ke pelanggan, di ayamnya mbak Eli gak ada… itu aja sebenernya, mas..” kata mas Yudi. Haha, saya pikir, bener juga. Gini2, mas Yudi ini ternyata mengaplikasikan teori ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi).

Cobaan dan Godaan

Perjalanan bisnis baru mas Yudi ini masih belum mulus. Ada saja cobaan yang beliau hadapi. Pernah suatu saat ketika rumah makan beliau sepi, beliau tidak memiliki cukup uang untuk membayar cicilannya ke bank. Rumah makannya didatangi orang-orang bank, bahkan hingga adu mulut. “kan sudah saya bilang, warung saya sedang sepi, jadi masih belum cukup uangnya. Kalau pas rame, saya selalu tepat waktu, kan?” itu kata2 yang saya ingat ketika beliau sedang berusaha mempertahankan argumennya.

Ada lagi cobaan yang beliau hadapi ketika karyawannya (baca : koki) keluar dari pekerjaannya. Sudah dua kali seperti itu. Ketika beliau bertanya pada karyawannya, ternyata mereka pergi gara2 rumah makannya terlalu sepi, sehingga mereka jenuh. Istilah sekarang “gabut” atau gaji buta. Sampai2 beliau mencari orang2 terdekatnya seperti tetangga untuk menggantikan karyawannya yang pergi. Untunglah beliau sangat sabar.

Selain cobaan, ada pula godaan. Ada suatu godaan yang rada menggelitik menurut saya. Suatu saat ada satu orang yang sering sekali makan di tempatnya. Mirip dengan apa yang beliau lakukan dahulu, ketika beliau sering makan di Ayam Goreng Kalasan mbak Eli untuk mencari resep rahasianya. Ya, benar, pelanggan ini lama2 tanya-tanya juga tentang resep Ayam goreng kalasan buatan mas Yudi. Bedanya, dia bertanya pada mas Yudi langsung, bukan pada si koki. “saya takut dia mau nyuri resep saya juga…” begitu kata mas Yudi. “tapi saya gak pelit, mas. Saya bagi aja resepnya, urusan nanti dia yang lebih laku, ya urusan dia sama Tuhan…hehe…” lanjut beliau.

Ternyata benar, menurut cerita beliau, pelanggan tadi sempat berjualan ayam kalasan juga, tapi tidak lama, setelah itu beralih pada bisnis yang lain. “berarti bener, mas, tiap orang ada bagiannya masing-masing…” kata beliau tenang. Sepertinya hati beliau lega sekarang.

It’s Time to Learn more

Beruntung beliau bertemu dengan pak Muslim, yang membawa beliau masuk training batch-1 di LPiK ini. beliau sangat bersemangat karena beliau yakin ini akan menambah pengetahuannya tentang bisnis, dan tentu akan menjadi bekal untuk perjuangan selanjutnya. Tetap semangat mas Yudi!!! Semoga bisnis sampean lancar. Rumah makannya rame, dan bisa buka banyak cabang suatu saat nanti. J

“Oya, kapan2 saya main ke tempat mas Yudi ya… tapi gratis… hehe”, pernah saya nyeletuk seperti itu di tengah2 obrolan (nada bercanda, sih. Tapi hati serius, haha). “oo… ya silakan, mas, silakan..”, jawab mas Yudi mantap. “sipp lah…”

semoga bermanfaat, kawan. 😀 (hbb)

11 Renungan Ketika Mendapati Musibah

This article reblogged from www.rumaysho.com

Pernahkah kawan2 merasa ditimpa musibah atau cobaan? Kehilangan harta benda, orang yang amat kita sayangi, atau bahkan kehilangan jabatan? Pernahkah, ketika musibah atau cobaan itu datang, kita hanya berkeluh kesah, seakan tidak menerima kenyataan, dan sangat menginginkan sesuatu yang telah hilang itu kembali?

Ketahuilah kawan, bahwa tidak ada gunanya kita berkeluh kesah. Musibah atau cobaan yang datang kepada kita bukan untuk diratapi, tapi direnungkan. Bukankah Allah memberikan musibah atau cobaan hanya kepada orang-orang yang Ia percaya akan mampu mengatasinya?

“Tidaklah Allah membebani seseorang di luar kemampuannya, ” (QS. Al-Baqarah : 286)

dan bukankah Allah menguji seseorang, hanya untuk meninggikan derajatnya?

Hal-hal berikut insya Allah bisa menjadi bahan renungan ketika kita mendapati musibah atau cobaan. Dan merenungkannya, musibah akan terobati, kita akan sabar dan mengharap pahala dari sisi Allah.

  1. Renungkanlah bahwa manusia dan hartanya semuanya milik Allah, semuanya hanya titipan di sisi kita.
  2. Setiap orang akan kembali pada Allah dan akan meninggalkan dunia.
  3. Allah akan memberi yang semisal dan yang lebih baik bagi yang telah hilang.
  4. Ingatlah bahwa mengeluh dan menggerutu hanya menambah derita, bukan menghilangkan musibah.
  5. Jika mau bersabar dan yakin semuanya kembali pada Allah, maka itu lebih besar pahalanya dibanding dengan tidak sabar.
  6. Berkeluh kesah hanya membuat musuh kita senang dan membuat Allah murka.
  7. Sabar dan mengharap pahala itu lebih besar ganjarannya daripada mengharap yang telah hilang itu kembali.
  8. Jika kita ridho terhadap musibah, Allah pun senang dengan sikap kita. Sebaliknya jika kita benci, Allah pun akan murka.
  9. Ketahuilah bahwa Allah yang menurunkan musibah Maha Hakim dengan hikmah yang ia beri, Penuh Rahmat dengan kasih sayang yang ia beri. Allah tidaklah menimpakan cobaan untuk membinasakan hamba, bahkan untuk menguji seberapa kuat imannya.
  10. Musibah itu datang untuk menhindarkan diri kita dari penyakit jelek yaitu ujub dan sombong.
  11. Ingatlah bahwa mending merasakan pahit di dunia namun dapat merasakan lezatnya kehidupan akhirat.

Kesebelas renungan ini diringkas dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad, penjelasan tentang petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengobati musibah. Semoga Allah memberikan kita kesabaran ketika menghadapi setiap musibah atau cobaan. Aamiin. 🙂

— oOo —

Like and share this article! Semoga semakin banyak saudara/i kita yang berbuat kebaikan karena dakwah kita. 🙂

Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. (HR Muslim)

Menyambut Bulan Muharram

Alhamdulillaah, tak terasa kita telah berada di penghujung bulan Dzulhijjah, sekaligus penghujung tahun 1433 H. Ya, kita akan memasuki bulan Muharram tahun 1434 H. #ini mah anak kecil juga tahu, hehe

Lalu, sebagai muslim yang baik, apa yang harus kita lakukan?

(a) Menunggu jam 12 malam lalu merayakannya dengan petasan dan kembang api.
(b) Muhasabah, banyak beristighfar, dan berdo’a untuk kemuliaan di tahun berikutnya.
(c) Nothing.

Yap! Pilihan Anda benar, jawabannya adalah yang (b). kita bukan orang-orang yang menghambur-hamburkan dunia untuk hal yang sama sekali tidak bermanfaat dunia-akhirat, kita juga bukan orang-orang yang hanya diam, tidak peka terhadap jalannya peradaban. Betul?

Pertanyaan selanjutnya, mengapa jawaban (b) dianggap benar? mengapa – sebagai muslim – kita harus bermuhasabah, banyak beristighfar, dan berdo’a ketika akan memasuki bulan Muharram? Apa yang membuat bulan Muharram begitu istimewa?

Seperti yang sudah kita tahu, bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam, yaitu ketika Rasulullah saw bersama ummat muslimin pertama kali berhijrah dari Makkah menuju Madinah. Oleh karena itu, sangatlah penting menjadikan pergantian tahun ini sebagai momentum untuk muhasabah terhadap hal-hal yang telah kita lakukan dan membuat perencanaan ke depan yang lebih baik lagi. Sebuah momentum perubahan dan perbaikan sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw demi terwujudnya kebangkitan Islam.

Tentang kemuliaan Muharram, hal ini sudah banyak dijelaskan dalam dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits. Salah satunya ialah, ia merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Nabi saw juga menjelaskan dalam sabdanya,

“Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wait! Mengapa disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang jahiliyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan ketaatan.” (lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At-Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At-Tafasir)

Selain disebut sebagai bulan haram, Muharram juga disebut syahrullah atau bulan Allah. Pada bulan ini, tepatnya pada tanggal 10 Muharram, Allah swt menyelamatkan para Rasul sebelum Nabi saw dari musuh-musuh dan penentang-penentangnya. Sehingga ummat terdahulu memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai rasa syukur atas pertolongan Allah. Puasa pada tanggal 10 Muharram ini dinamakan puasa ‘Asyura.

Nah, hal-hal terkait puasa ‘Asyura : apa itu hari ‘Asyura? dari mana asalnya anjuran berpuasa? dan apa keutamaan dari balik puasa ‘Asyura? selengkapnya bisa kunjungi link di bawah ini,

‘Asyura : Tanggal 10 yang Spesial

Wallaahu a’lam. Semoga bermanfaat. 🙂 (hbb)

Referensi :

http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/keutamaan-bulan-muharram.htm

Share this article! Semoga semakin banyak saudara kita yang berbuat kebaikan karena dakwah kita. 🙂

Barangsiapa menyeru (mengajak) kepada petunjuk, baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tidak berkurang pahala mereka sedikitpun. (HR Muslim)

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Deanmu goes blogging

Welcome to my little notes friend

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"