Rezeki, Sudah Ada yang Mengatur

Saya baru saja pulang dari masjid Al-Hidayah, Kebon Bibit, seusai acara Mata’. Karena sudah agak siang, sekitar pukul sebelas lebih dikit, jadinya saya juga sudah agak lapar. Kebetulan sekali pas perjalanan pulang ada seorang bapak2 berjualan rujak buah (seperti yang banyak terlihat di sekitar ITB) di tepi pertigaan. wah, pas sekali. 😀

Saya berhenti. Mesin motor saya matikan juga. Bapaknya terlihat sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Baru buka lapak, sepertinya.

“udah buka pak?”, saya tanya. “iya dek, udah”, jawab bapaknya sambil tersenyum.

“mau, deh pak, satu aja”, akhirnya saya pesan. memang sudah agak lama saya tidak makan rujak jenis ini, makanya pengin. Hehe.

Sambil bapaknya membuat rujak untuk saya, saya mengajak bapaknya ngobrol. Pertanyaan pertama saya muncul karena saya penasaran apakah buah yang ada di box habis dalam sehari, sedangkan bapaknya mangkal di jalan yang bukan menjadi pusat keramaian. Bukan saya mikir macem2 ya..

“buah segini habis pak, dalam sehari?”, saya melempar pertanyaan.

“alhamdulillaah selalu habis, dek”, jawab bapaknya santai. Saya jadi ikut senang. Alhamdulillaah..

Sayangnya saya masih tidak percaya. “masa sih pak? kayaknya di sini sepi”, sahut saya.

“ya gitu, dek. Rezeki ada aja jalannya. Udah ada yang ngatur. Dulu aja bapak sempet jualan di deket indomaret depan sana, sepi, jadi kurang laku. Pernah juga bapak jualan di depan Unisba, tapi sepi juga, padahal keliatannya di sana lebih rame dari sini. Yang paling laku malah pas bapak jualan di sini. Yaudah jadinya di sini aja ”, jawab bapaknya santai. 

JLEB! seperti tertusuk pisau buah rasanya. baru kali ini saya menemukan pedagang dengan mindset berasaskan ma’rifatullah seperti ini. subhaanallaah. 🙂 jawabnya santai sih, tapi menusuk.

“beneran seharian di sini, pak?”, saya masih penasaran. “iya.. bener”.

“ini dek, dibungkus kan?” | “eh, makan sini aja, pak. Saya sedang ingin menikmati suasana di sini sambil makan rujak. Hehe..”, sekarang malah saya yang jawabnya sambil senyum2. 😛

Setelah saya menerima sepiring kecil rujak buah dari bapaknya lengkap dengan sambelnya, saya langsung duduk di atas motor untuk makan. Pas saya mulai makan rujaknya, ternyata teori bapaknya benar. Pertama, ada mbak2 datang, bersama cowoknya atau (mungkin) saudaranya. Kemudian datang lagi satu orang dengan tujuan yang sama, membeli rujak. iyalah. mana mungkin beli android. haha, canda. dan setelah itu berdatangan lagi beberapa orang. 🙂

ketika saya makan, semakin banyak yang berdatangan. subhanallaah. 🙂

Saya yang sedang menikmati rujak sambil memandangi fenomena yang terjadi di sekeliling, merasa ikut senang. yaah.. siapa lagi yang menuntun bapaknya jualan di sini, kalau bukan yang Maha Memberi Rezeki. Tempat sepi seperti ini ternyata (dengan izin Allah) malah membuat dagangan bapaknya lebih laku, dan menjadi kurang laku pas pindah ke tempat yang lebih ramai. Subhaanallaah.

sejauh ini, nangkep kan, maksud saya?

That’s it. Salah satu pelajaran berharga yang daya dapat hari ini. Suatu pelajaran tentang ma’rifatullaah, kali ini saya belajar tentang sifat Allah “Ar-Razzaaq”, yaitu Yang Maha Memberi rezeki. Semoga semua pedagang memiliki mindset seperti ini suatu saat nanti. sehingga tidak akan ada lagi pedagang yang curang, ninggalin sholat gara2 dagang, dan makan harta riba’, insya Allah. sungguh indah dunia ini jadinya.

… dan Allah adalah sebaik-baik Pemberi Rezeki” (QS. Al-Jumu’ah : 11)

Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran untuk diri kita masing-masing. Semoga kawan2 mendapat hikmahnya. Silakan dishare, insya Allah bisa menjadi amal baik kita semua. 🙂 (hbb)

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Relativinity

because infinity is relative, and therefore i slipped.

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

Muamallat Nuswantara

gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo - baldatun toyibatun wa robbun ghofur

kacakusam

Tentang Ide yang Hidup Abadi

Aneka Khas Banyuwangi

This WordPress.com site is the cat’s pajamas

SMILE

happiness is precious

Galuh Dewi Lestari

Everything about me and you ^^

Indarto Matnur

Try to be Nice Person

adprakoso

Share knowledge, More knowledge

Media Islam - MMN Press

Berita Dunia Islam, Kajian Ilmiah dan Info Terkini

Husain

Merasakan Rasa, Memaknai Makna

@kucing_majelis

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Ustadmukhlis's Blog

Selamat Datang

Muhammad Assad

Entrepreneur | Author | Speaker | Trainer | Traveler

.. reflection for self-acceleration ..

A Simple Life Note for Self-Reflection

Sirah Muhammad Rasulullah SAW

"Shollu 'Alan Nabiy Muhammad"